"Kalau begitu, boleh saya catat apa pesanan anda?" Shivani sudah siap dengan memo dan bulpoinnya. Dia bertanya kepada Leo juga untuk menghentikan basa basi dengan Kristian. Meski dia pernah melihat Kristian telanjang, tapi mereka tidak pernah seakrab itu. Mereka jauh dan asing satu sama lain.
"Kamu bekerja di sini?" Leo menutup buku menunya. Namun bukan menu yang akan di pesan yang dia katakan, dia justru menanyakan hal yang sifatnya pribadi kepada Shivani.
"Iya, Tuan. Seperti yang anda lihat." Shivani masih dengan kesabarannya. Tamu lain sudah menunggu untuk di layani namun Leo terus saja membuang waktunya yang berharga. Setiap detik adalah uang. Itu adalah motivasinya sejak Mama meminta dirinya untuk mengurus Restauran yang berada di Pusat Kota. Dia menjadi seorang kapitalis yang tidak hanya gi-la kerja, namun juga gi-la uang.
"Kamu tidak terlihat seperti seorang pelayan." Leo memberikan tatapan penuh selidik kepada Shivani. Selain pakaian Shivani berbeda dengan pelayan lain, Shivani juga tampak tidak melayani sepenuh hati para tamunya. Itu membuatnya merasa kalau Shivani bukanlah pelayan.
Tapi itu masih spekulasi semata.
Sebelum dia mencari tau lebih dalam lagi, dia tidak akan berani menyimpulkan apapun.
"Benarkah?" Shivani menoleh ke arah lain untuk melihat para pegawainya. Dan setelah mengamati sesaat, perbedaan antara dirinya dan para pekerjanya memang cukup kontras. Selain dari segi penampilan dan pakaian, cara kerja mereka tampak lebih cepat, kesopanan dan keramahan mereka juga tampak natural.
Pantas, Leo mencurigai dirinya.
Ternyata di banding para pegawainya, dia bisa di katakan sangat amatir.
"Tentu, apa kamu tidak belajar dari para seniormu?" Leo meremehkan Shivani dengan melirik beberapa pelayan cekatan yang menurutnya adalah senior dimana Shivani harus belajar banyak dari mereka.
"Jadi, kamu menjadi pelayan di sini? Kenapa? Apa kamu membutuhkan uang?" Kristian yang semula hanya diam, buka suara. Dia tidak tahan dengan kata kata Leo yang seolah mengajak Shivani turun ke jalan untuk tawuran. Pria itu, selalu saja kasar dan tidak bisa sedikit lebih lembut kepada seorang gadis.
"Seperti yang kamu lihat." Shivani merentangkan tangan untuk menunjukan tubuhnya yang kurus. "Aku bangkrut. Aku tidak punya uang. Aku miskin. Sedangkan aku masih harus bertahan hidup. Aku membutuhkan uang. Jadi aku memutuskan untuk bekerja di sini." Ucapnya dengan nada penuh penekanan. Dia menjadi miskin jelas karena Kristian menggesek habis uangnya yang
tersimpan dalam Kartu Kredit. Padahal, jelas jelas Kristian mengenal Leo dengan sangat baik. Membuatnya yakin kalau Kristian tidak mengeluarkan banyak sumber daya untuk mengorek informasi tentang Leo.
Intinya adalah dia sudah di tipu dan penipunya adalah Kristian.
Pria itu..
Memang kapitalis sejati.
"Astaga! Jadi kamu bangkrut?' Kristian bangkit dari duduknya, lalu dia meletakkan tangannya pada bahu gadis itu.
Shivani mengangguk pelan. Bangkrut karena kamu.
Kristian terkekeh di dalam hati saat melihat tatapan mengancam dari Shivani. Mungkin sekarang gadis itu sudah menyadari sudah di tipu olehnya. "Dari pada bekerja di sini, lebih baik kamu bekerja di club malamku. Aku akan menjadikan dirimu penari telanjang dan kamu akan kaya raya dalam waktu singkat. Bagaimana?" Kristian bertanya dengan kesungguhan.
"Waow.. ide yang bagus." Shivani nyaris menginjak kaki Kristian saat memberikan penawaran itu kepadanya. "Tapi, aku lebih senang bekerja di sini meski aku tidak terlihat seperti pelayan." Shivani mengulang apa yang Leo katakan untuk menyindir pria itu meski jelas jelas dia sedang berbicara dengan Kristian.
"Baiklah! Itu adalah keputusan mu. Tapi hubungi aku kalau kamu berubah pikiran." Kristian duduk kembali di kursinya. Namun dia tidak melanjutkan makannya. Dia lebih memilih menopang dagu sembari memandang Leo dan Shivani secara bergiliran.
"Aku yakin tidak akan berubah pikiran." Nada suara Shivani naik setengah oktaf. "Lagi pula, semahal apapun bayarannya, aku tidak mau telanjang di depan banyak orang." Meski dia tau kalau Kristian hanya bercanda, namun karena sudah telanjur kesal akibat di bohongi, dia memiliki semacam dendam tersendiri kepada Kristian. Jadi, apapun yang Kristian katakan, terlepas dari sebenar apapun itu, itu akan tetap salah di matanya.
"Tidak perlu marah, aku hanya berkata, hanya menawarkan, siapa tau kamu tertarik untuk menjadi kaya dalam hitungan jam. Kalau kamu tidak tertarik ya sudah." Kristian meraih gelas berisi air putih, lalu dia meneguknya sedikit dengan gaya elegan. Pembawaannya seperti Fir'aun yang berhati kejam, berperagai buruk namun tampak seksi dan menawan.
Shivani menggelengkan kepala, tidak menanggapi lagi. Sebagai gantinya, dia menoleh ke arah Leo. "Apa anda sudah memutuskan menu apa yang akan anda pesan, Tuan? Aku akan pergi ke meja lain kalau anda belum menemukan pilihan." Shivani sudah memutuskan akan membuat perhitungan nanti dengan Kristian. Sekarang dia akan mengurus Leo terlebih dahulu.
"Aku memesan Seafood crepe dan mixed grilled seafood spesial." Tanpa melihat menu, Leo sudah hafal dengan menu yang cukup menarik perhatiannya. Sebenarnya bukan menunya yang menggugah hati, namun pelayannya yang sudah mencuri perhatiannya sampai dia tidak bisa memikirkan hal lain lagi.
"Baiklah." Shivani mencatat cepat menu pesanan Leo. " Maaf, apa ada yang lain lagi?"
"Air putih saja."
"Baik. Tunggu sebentar dan kami akan menyajikan menu pesanan anda." Shivani membungkukkan badan. "Permisi." Setelahnya dia pamit undur diri.
"Kamu memesan dua menu dengan bahan dasar seafood?" Kristian bertanya setelah Shivani pergi dari hadapannya. Dia tidak tau kenapa Leo melakukan ini? Maksudnya alasan kenapa Leo memesan menu yang nyaris sama di Restauran yang baru di masuki, bukankah itu aneh? Atau.. mencurigakan?
"Memang sama sama seafood, namun penyajiannya berbeda." Leo menjelaskan menggunakan alasan paling logis yang sekiranya bisa di tangkap oleh otak kecil Kristian. "Seafood crepe berisi crepe filled with prawn, squid and fish in a creamy mushroom sauce served with mashed potatoes and Greek salad. Sedangkan mixed grilled seafood spesial berisi grilled fillet snapper, tuna, prawn, squad, vegetable, chip or rice, garlic butter. Begitu kira kira penjelasan singkatnya." Leo menambahkan.
Tidak masuk akal kalau Leo berkata hanya ingin membuat Shivani terkesan. Jadi dia hanya bisa menggunakan itu sebagai alasan.
"Dari mana kamu tau?" Kristian bingung mendengar kata kata dalam intonasi cepat yang Leo ucapkan. Pria itu seolah sengaja menumbuhkan akar kuadrat di otak kecilnya. Kondimen masakan? Siapa peduli? Yang penting dia makan dan kenyang. Urusan komposisi, bahan baku, dan cara penyajiannya biar saja chef yang mengurusnya.
"Aku membacanya di dalam buku menu. Memangnya kamu tidak melihat dan hanya asal memesan? Tentu saja. Bukankah kamu suka melihat sesuatu berdasarkan sampulnya? Dan ini.. benar benar menggambarkan karakter dun-gumu." Leo tidak berniat menghina, namun saat ada celah, dia tidak sengaja memasuki ranah itu. Jadi, jangan salahkan kata kata spontan yang terlontar begitu saja dari mulutnya. Karena berdasarkan realitanya, itu hanya reaksi atas aksi yang Kristian lakukan.
"Haish." Kristian mendesis. "Jangan bicarakan itu! Bahas yang lain saja." Kristian sudah selesai dengan makanannya. Sekarang saatnya dia untuk mengganggu Leo.
"Pembicaraan apa yang menurutmu menarik?" Leo berceletuk secara refleks.
"Gadis itu contohnya."
"Em?"
"Gadis itu!" Kristian menunjuk ke arah kepergian Shivani. "Kamu tau siapa namanya? Tau tidak?"
"Bicara soal gadis itu, aku bertemu dengannya sebanyak tiga kali secara tidak sengaja." Leo mulai memikirkan pertemuan tidak sengaja mereka yang sejujurnya cukup aneh. Sekali dua kali mungkin masih wajar. Namun kalau sampai tiga kali rasanya sudah di luar nalar. Kesannya terlalu di paksakan. Entah dia yang memaksakan, entah gadis itu, atau justru takdir?
Entahlah. Dia tidak begitu percaya takdir. Namun dia percaya kalau ada peluang yang di ciptakan oleh salah satu individu. Namun anehnya, semakin banyak bertemu dengan gadis itu, dia merasa semakin tertantang. Dia seolah terpikat dan detak jantungnya selalu saja tidak terkendali.
Di antara teman temannya yang lain, entah itu sesama pengusaha atau hanya sekedar teman main, dia adalah orang yang terhitung sulit untuk tertarik dengan seorang gadis. Namun agaknya, perasaannya terketuk saat melihat gadis itu untuk pertama kalinya. Dan untungnya, pertemuan pertama itu mengantarkan pada pertemuan pertemuan yang lain seperti saat ini. Memberikan sedikit peluang untuknya memahami kenapa selalu ada pertemuan pertemuan itu.
Kristian mengerutkan kening. Sudah ada tiga pertemuan? "Benarkah?"
Leo mengangguk. "Iya. Aku tidak sengaja bertemu dengannya karena ada seorang pria paruh baya menabrak mobilku. Pria itu turun dari mobil untuk meminta maaf dan memberikan kompensasi, dan saat itu untuk pertama kalinya aku melihat gadis itu." Leo masih ingat betul wajah Shivani saat menempel pada Ayahnya saat pria tua itu mengetuk kaca mobilnya. Orang yang asing namun segala sesuatu tentang gadis itu terasa akrab dalam pandangan.
"Bolehkah aku mengatakannya sebagai jodoh?" Tanya Kristian.
"Tidak!" Leo buru buru menyanggah. "Aku tidak terima kalau kamu mengatakan pertemuan itu sebagai jodoh, tapi kalau kamu mengatakannya sebagai takdir, hati nuraniku masih bisa mencecapnya." Jodoh? Yang benar saja. Orang harus mengenal sangat lama dan harus berbicara sangat dalam, baru bisa mengatakan mereka jodoh atau tidak.
Bukankah awal dari toxic relationship adalah karena ketimpangan kepribadian pasangan? Misal, orang yang berwatak keras dan suka mengontrol berhadapan dengan orang tipe suka mengalah. Bahkan perkenalan yang sudah bertahun tahun pun bisa melewatkan detail itu, apalagi yang baru melihat? Yang baru bertemu? Yang baru menyapa?
"Baiklah, aku akan menyebutnya takdir kalau kamu lebih menyukai kata itu." Kristian malas berdebat. Leo dengan segala filosofinya seringkali membuatnya perlu berpikir ekstra untuk mencerna setiap katanya. "Tapi, ngomong ngomong tentang gadis itu, apa kamu tau siapa namanya? Jangan bilang kalau kamu tidak tau?"
"Mungkin.. Shivani?"
"Bukan mungkin, tapi namanya memang Shivani."
"Oh, begitu." Leo pikir gadis itu berbohong. Menggunakan nama samaran atau apa, tapi siapa sangka kalau ternyata namanya memang Shivani?
Kristian mendekatkan sedikit wajahnya kepada Leo. "Dan dia pernah melihatku telanjang." Kristian merendahkan suaranya.
"Em? Apa?" Leo bertanya di sertai gemuruh di dalam hati. Meski sebenarnya dia tidak ingin marah, tapi tidak tau kenapa da-danya terasa panas saat mendengar penuturan Kristian yang memprovokasi.
Si-al!
Sejak kapan dia begitu peduli dan ingin tau tentang seorang gadis? Seperti bukan dirinya saja.
"Eh, maksudku, lalu?" Leo buru buru mengganti pertanyaannya. Dari apa menjadi lalu.
"Lalu dia mendekat ke arahku." Ucap Kristian semakin memprovokasi.
Mendengar ini tubuh Leo semakin tegang. Tangannya mengepal. Cerita e*****a macam apa ini? Kenapa Kristian yang menceritakan, justru dia yang berdebar?
"Semakin dekat, dekat dan plak.." Kristian memperagakan gaya menampar menggunakan tenaga dalam saat mencontohkan apa yang Shivani lakukan terhadapnya. "Dia menampar dan membuat wajah tampanku merah dengan gambar tangan yang menempel. Gadis itu cukup bru-tal. Kalau kamu ingin mendekatinya, sebaiknya kamu berhati hati." Kristian tau kalau Leo menyukai tantangan. Jadi, semakin menarik seseorang, Leo akan merasa semakin terpikat. Meski itu hanya rasa penasaran sesaat dan tidak pernah berubah menjadi perasaan mendalam, namun setidaknya Leo tetaplah pria normal meski sedikit pemilih.
"Uh.. bukankah itu cukup menyakitkan?" Leo menunjukkan tampang konyolnya saat imajinasi e*****a yang sudah Kristian bangkitkan, redup seketika saat mengetahui kalau ternyata Shivani menampar Kristian dengan keras. Pantas saja Shivani menolak dirinya pada malam itu, ternyata Shivani memang sulit di dekati? Dan sekarang dia mengerti alasan kenapa hasratnya untuk mendekati Shivani kian besar, yaitu karena Shivani adalah gadis baik baik yang semakin menolak justru semakin menantang.
Belum sempat Kristian menanggapi, Shivani lebih dulu muncul. "Permisi Tuan Tuan." Ucapannya menghentikan ocehan para pria yang pastinya tidak bermanfaat.
Mendengar suara Shivani, Kristian dan Leo menghentikan perbincangan mereka seketika. Mereka sedang membicarakan Shivani, tidak lucu kalau Shivani mendengarnya.
"Ini pesanan anda." Shivani meletakkan dua piring hidangan dan segelas air putih di atas meja. "Silahkan di nikmati! Semoga anda menyukainya." Selesai berkata, Shivani segera undur diri. Dan kembali ke ruangannya.
Shivani menutup pintu ruangannya rapat. Dia terhuyung lalu terduduk di atas sofa. Dia merasa tidak aman dengan tatapan pria itu yang terkesan mengancam dan mengintimidasi. Sejujurnya itu membuatnya takut.
Mata itu..
Mata indah yang dengannya dia biasa melihat keindahan cinta. Mata indah yang dulu adalah miliknya, sekarang sudah tidak ada lagi. Semua terasa jauh meninggalkan. Dan dunianya seketika menjadi redup.
Leo bukanlah Raiden.
Dan Raiden juga bukan Leo.
Seharusnya dia menyadari kenyataan itu.
Semirip apapun Leo dengan Raiden dalam pandangannya, mereka tetap bukan orang yang sama. Meski sesuatu milik Raiden menempati tubuh Leo, hakikatnya mereka tetap berbeda. Leo tetaplah Leo. Orang yang tidak mungkin dia kendalikan untuk tetap bersamanya, untuk menemani hari harinya menggantikan Raiden.
Terlebih, bersama dengan Leo, tidak membuat Shivani merasa lebih baik, dia justru semakin tertekan dan depresi. Melihat Leo seperti dia melihat Raiden. Mendekati Leo seperti dia mendekati raiden. Dan bersama Leo seperti dia bersama Raiden.
Sungguh ironi.
Shivani melepas sepatunya, lalu dia menekuk kakinya di atas sofa. Setelah itu dia menyembunyikan wajahnya di sana.
Dia merasa tertekan tiap kali memikirkan Raiden.
Dan setiap kali dia memikirkan Raiden, dia selalu teringat Leo.
Itu pula yang membuat dia bimbang.
Ada rasa ingin mendekati Leo, namun pada sisi yang lain dia seperti harus menjauhi Leo. Dia benar benar mengalami apa yang di sebut sosial dilema.
Beberapa saat baru dia menaikan kepala, lalu dia memijit pelan kepalanya yang berdenyut nyeri. Dia sakit kepala lagi. Migrain. Dan rasanya seperti di tusuk tusuk. Namun karena sudah terbiasa, dia tidak lagi mempermasalahkan. Dia hanya perlu minum obat dan dia akan sembuh.
"Sayang, ada apa denganmu? Apa kamu tidak enak badan? Atau kepalamu sakit lagi?" Mama yang menerobos masuk ke ruang kerja Shivani dan mendapati gadis itu duduk di atas sofa tanpa memakai sepatu, dia menjadi sangat khawatir. Putrinya ini memang menderita sakit kepala sebelah sejak masuk ke perguruan tinggi. Meski sudah menjadi hal yang biasa untuk Shivani, namun itu tetap tidak wajar menurutnya.
Mendengar suara ini, Shivani tersenyum kecil. Dia tidak menyangka Mama akan datang dan mengejutkannya karena kedatangan wanita itu benar benar pada situasi yang tidak tepat. Dia sedang tidak baik baik saja dan itu cukup sulit untuknya berpura pura tersenyum.
"Aku baik baik saja. Hanya sedikit lelah karena tadi turut membantu saat Restauran sedang ramai." Shivani membumbui kalimatnya dengan sedikit kebohongan karena dia tidak ingin Mama khawatir.
Mama meletakkan pan-tatnya di atas sofa, lalu dia mengusap pelan rambut Shivani. "Jangan terlalu memaksakan diri. Kita masih bisa menambah pegawai supaya kamu tidak perlu repot membantu mereka." Mama mencoba memberikan solusi.
"Aku tidak memaksakan diri. Aku memang menyukainya. Menyukai saat menyambut para tamu dan mencatat pesanan mereka." Setidaknya pekerjaan itu masih lebih baik dari pada harus duduk menghadap laptop untuk mengerjakan pembukuan harian. "Ngomong ngomong, apa Mama sengaja datang ke sini untuk melihat putri cantikmu dengan pakaian seformal itu?" Mama mengenakan dress yang panjangnya sampai lutut, blazer, wedges, serta tas tangan berbahan kulit yang warnanya cukup mencolok. Itu cukup formal untuk Mama yang biasa mengenakan pakaian santai.
Mama tersenyum lembut. "Tidak. Aku akan pergi menemui Tante Mirna. Dan sebelum ke sana, aku mampir untuk melihatmu, untuk melihat kinerjamu dan untuk melihat sebaik apa keadaanmu." Ucapnya sembari melihat jam tangan yang melingkar pada pergelangan tangannya.
"Apa Mama akan berangkat sekarang?" Shivani bertanya setelah melihat Mama tampak tidak tenang karena terus terusan melihat jam tangan.
"Iya."
"Kalau begitu, aku akan mengantarmu." Shivani mengenakan sepatunya terlebih dulu sebelum akhirnya berdiri. Dia mengulurkan tangan. "Ayo, Ma. Aku akan mengantar sampai depan." Tambahnya.
Mama menganggukkan kepala sembari menerima uluran tangan dari putri kesayangannya. Setelah itu mereka berjalan bersisian keluar dari ruang kerja, mereka menyapa beberapa pegawai, dan mereka baru menghentikan langkah kaki mereka saat sudah berada dua langkah di depan pintu masuk.
Mama mencium dahi Shivani. "Santai dan jangan memaksakan diri, okey?"
Shivani tersenyum tipis. "Pasti."
"Kalau begitu, aku pergi dulu." Mama membuka pintu mobil dan bergegas masuk.
"Hati hati." Shivani melambaikan tangan sebelum mobil Mama benar benar meninggalkan Restauran. Setelahnya, dia menghela nafas panjang dan kembali ke ruangannya.
Semua kejadian itu tidak luput dari perhatian Leo yang masih duduk di balik meja. Mulai dari Shivani berjalan bergandengan dengan wanita itu, saat Shivani di cium oleh wanita itu, bahkan terakhir saat Shivani melambaikan tangan saat mobil wanita itu melaju pergi.
"Percayalah, wanita itu adalah Ibu Shivani." Kristian berceletuk setelah melihat Leo tak berkedip saat mengawasi dua wanita yang baru saja menunjukkan kasih sayang yang nyata di depan semua orang.
"Iya," Leo juga tau.
Namun, bukan itu yang mengganggu pikirannya, selain Shivani tidak tampak seperti orang yang kekurangan uang, Shivani juga memakai outfit yang harganya tidak bisa di katakan murah. Bukankah itu menunjukkan kalau Shivani berasal dari keluarga kaya? Lantas kenapa Shivani mau repot dengan terjun secara langsung melayani banyak orang seperti ini?
"Fiuh." Leo menghela nafas panjang.
Dia benci mengakui ini. Namun, dia memang harus mengakui kalau kekagumannya kepada Starla, agaknya semakin tinggi.