TMP ~ Nonsense

2118 Words
Malam hari. Club malam. BRAAK. "Kamu berhutang penjelasan kepadaku!" Shivani menerobos masuk ke dalam ruang kerja Kristian yang pernah dia masuki sebelumnya. Dia akan membuat perhitungan dengan pria yang sudah mencari perkara dengannya. Membohonginya, menjebaknya, dan menguras semua uang yang dia dapat dengan susah payah adalah sebuah kejahatan yang harus di mintai pertanggung jawabannya. Bermodal nekat, Shivani datang ke club malam. Dia menerobos masuk ke dalam ruang terkutuk dimana dia pernah melihat pria itu telanjang. Biar saja meski konsekuensinya adalah dia akan melihat yang lebih buruk dari sekedar pria telanjang. Namun, sesaat dia terpaku. Dia linglung saat melihat sosok yang berada di dalam sana bukankah Kristian. Shivani mengerjapkan mata. Apa apaan ini? Kenapa yang berada di sana bukan Kristian melainkan.. Leo? Si-alan! Shivani mengumpat dengan tangan yang perlahan mengepal. Dia tidak tau dosa apa yang sudah dia lakukan hari ini sampai membuat dia begitu si-al harus bertemu dengan Leo lagi. Ini adalah pertemuan ke tiga untuknya. Atau.. ke empat? Entahlah. Dia malas memikirkan permasalahan itu. Lagi pula, yang harus dia fokuskan saat ini bukanlah masalahnya, melainkan solusinya. Jadi, jangan pikirkan hal lain. Pikirkan saja cara untuk kabur dari sini kalau masih sempat. Leo menaikkan sebelah alisnya saat melihat kejadian aneh yang tertangkap penglihatannya. Gelas wine dalam genggaman sedikit bergetar. Dia cukup terkejut, tidak! Dia sangat terkejut dengan pemandangan di depan mata yang lagi lagi terasa menipu. Detak jantungnya berdebar hebat. Dalam benaknya dia bertanya tanya, kenapa detak jantungnya selalu bereaksi seperti ini? Sejujurnya, sedikit sulit untuknya mengendalikan diri. Apa lagi saat penampilan gadis di depannya begitu indah. Mengenakan gaun pendek di atas lutut, berbelahan da-da rendah, serta tali gaun yang melilit leher membuat tubuh gadis itu begitu menggoda saat lampu remang ruang kerja Kristian menyinarinya. Belum lagi rambut yang di gulung ke belakang dengan menyisakan beberapa helai rambut yang menjuntai di depan telinga menjadi penanda kalau wajah gadis ini begitu paripurna. Leo menelan ludah dengan susah payah. Tangannya terulur untuk meletakan gelas wine di atas meja. Tatapannya tajam meneliti gadis itu dari ujung kaki sampai ujung kepala. Dari semuanya, tidak ada satupun kekurangan yang Shivani tunjukkan. Semua sempurna dan tertata rapi sesuai porsinya. Hanya saja, dia sedikit linglung saat mendapati kalau pria yang Shivani cari bukanlah dirinya, melainkan Kristian. Kenapa? Kenapa gadis itu datang larut malam dan mencari Kristian? Shivani memutar bola matanya sembari meringis menunjukkan deretan giginya yang tertata rapi dan bersih. "Maaf, sepertinya aku salah memasuki ruangan." Hanya itu yang bisa dia ucapkan saat situasi tidak berpihak kepadanya. Situasi dimana tidak memberikan sebuah keberuntungan, situasi yang justru memberikan kesi-alan dan ketidakadilan. Leo diam. Dia tidak mengatakan apapun meski tatapannya tidak lepas dari sosok cantik itu. Melihat ekspresi datar yang Leo tunjukkan, Shivani merasa sedikit lega. Pria itu tidak menanggapi, berarti kemungkinannya adalah pria itu sedang mabuk dan tidak mengenali dirinya. Itu bagus karena kebetulan dia sedang tidak ingin berurusan dengan pria itu. "Baiklah, kalau begitu, aku permisi." Shivani membungkukkan sedikit badannya sebagai rasa terima kasih karena Leo sedang mabuk. Dan berkat hal itu, dia selamat. Selesai. Shivani mengusap da-da. Dia membalikkan badan hendak pergi. Namun, baru satu langkah dia berjalan, tiba tiba.. BRAAK. Shivani membulatkan mata saat menyadari kalau tangan kekar seseorang dengan gesit mendorong pintu sampai pintunya tertutup kembali. Tidak hanya itu, tangan pria itu bahkan mengungkung dirinya di antara tubuh pria itu dan pintu. Membuat dia benar benar terjebak. Leo memiringkan sedikit kepalanya, lalu dia berbisik tepat di telinga Shivani. "Siapa yang mengizinkan kamu pergi? Em? Dan dari mana kamu mendapat keberanian sebesar itu untuk meninggalkan ruangan ini tanpa persetujuanku?" Melihat wajah gadis itu dari samping, dia merasa detak jantungnya tidak bisa lagi di kendalikan. Dia maju sedikit sampai da-danya benar benar bersentuhan dengan punggung Shivani. Meski ini bukan yang pertama untuknya merasa asing dengan dirinya sendiri, namun saat da-danya bersentuhan dengan punggung Shivani, sebuah perasaan seketika menghentak. Perasaan akrab, perasaan dekat, perasaan pernah memiliki, perasaan rindu.. dia merasakannya, benar benar merasakannya. Tubuh Shivani menegang sempurna saat merasakan hembusan nafas pria itu mengenai telinganya. Tidak hanya itu, dia bahkan nyaris meledak saat punggungnya bersentuhan dengan da-da pria itu. Detak jantung milik Raiden, dia merasakannya. Sangat dekat. Dekat sekali. Perasaan ini.. Shivani menyentuh da-danya. Ini adalah rasa dimana Raiden memeluk dirinya erat dari belakang. Perasaan familiar yang dia pikir tidak akan pernah merasakannya lagi setelah semua yang terjadi, setelah Raiden meninggal, setelah Raiden tertidur lelap di bawah timbunan tanah, setelah Raiden berhasil sampai ke sisi Tuhan, akhirnya dia merasakannya lagi. Namun sangat di sayangkan, perasaan ini justru datang dari Leo, pria yang ingin dia jauhi, pria yang tidak ingin dia provokasi, pria yang sekuat hati dia hindari, siapa sangka bisa menciptakan perasaan hangat seperti ini? Membuat dirinya sulit melepaskan diri dari pesonanya, sulit melepaskan diri dari kehangatannya meski dia sudah meronta dan berlari sekuat tenaga. Pada akhirnya, dia luluh juga. Shivani menundukkan kepalanya. "Leo, biarkan aku pergi." Dia tidak sanggup. Tidak sanggup berdekatan dengan Leo, rasanya seperti dia berdekatan dengan Raiden. Dan itu membuat perasaannya kacau, berantakan, luluh lantak, dan nyaris dia menangis karena detik ini bisa merasakan kehangatan Raiden meski dalam konteks yang berbeda. "Jawab satu pertanyaan dan aku akan membiarkanmu pergi." Leo kembali berbisik di telinga Shivani. Suaranya rendah. Satu tangannya di turunkan kemudian dia gunakan untuk menyentuh punggung gadis itu. Setelahnya, tangannya turun ke bawah menyusuri lekuk tubuh indah dengan gerakan slow motion seolah dia adalah aktor yang sedang memerankan tokoh pria yang sedang menggoda wanitanya. Shivani menahan nafas saat merasa udara di sekitar menipis. Sentuhan jemari Leo yang menyusuri tubuh bagian belakangnya membuatnya hampir terbuai. Dia menginginkannya. Menginginkan sentuhan ini. Namun, sentuhan dari Raiden, bukan sentuhan dari Leo. Shivani membalikan tubuh sampai da-danya bersentuhan dengan tubuh bagian depan milik Leo. Jarak mereka sangat dekat. Saking dekatnya bahkan nyaris tidak ada jarak lagi. "Katakan!" Suara Shivani bergetar. Dia menutupi segala rasa saat di hadapkan dengan seorang pria berwajah tampan bak Dewa dalam mitologi Yunani. Leo dengan kemeja putih yang tidak di kaitkan kancing bagian atasnya, yang lengannya di gulung nyaris siku, dengan celana bahan dan jam tangan mewah yang melingkar pada pergelangan tangan kirinya, membuat dirinya, tidak! Mungkin semua gadis juga akan jatuh hati saat di hadapkan dengan sosok tampan seperti ini Menurutnya, itu reaksi yang wajar. Manusiawi. Reaksi natural dan sangat normal saat seorang gadis melihat pria tampan dengan otot kekar yang tersembunyi dengan baik di balik kemejanya. Leo kembali menelan ludah saat merasakan bulatan besar itu menempel padanya, itu membuat lehernya tercekat. Namun meskipun sudah tau kalau akibatnya dia akan hor-ny, tapi dia masih tidak menyerah. Semakin menantang gadis itu, dirinya justru semakin bersikeras untuk mendapatkannya. Tangannya terangkat untuk membelai wajah Shivani yang di d******i raut arogan. Dia menyusuri wajah cantik itu, turun ke leher, dan tangannya baru berhenti saat sampai pada belahan da-da gadis itu. "Kenapa kamu mencari Kristian?" Adalah pertanyaan paling sederhana yang dia sangat ingin tau jawabannya. Haruskah dia mengatakan kalau dia cemburu? Tapi atas dasar apa? Itu tidak lucu karena mereka bahkan tidak sedekat itu. Namun, bohong kalau dia berkata tidak cemburu. Sudah berkali kali dia memikirkan. Dan setiap kali dia menghajar pikirannya menggunakan realita untuk menyadarkan bahwa pemikirannya salah, namun seketika itu juga pikirannya selalu menampik realita itu dengan berbagai macam alasan dan opini yang membuat semua realita yang ada, tenggelam begitu saja. Dia tidak akan membohongi dirinya sendiri. Dia hanya akan menutupinya sembari dia mencari tau alasan kenapa rasa dari Shivani begitu manis meski dia belum mencecapnya, belum merasakannya, belum mencicipi dan belum menikmatinya. Itu aneh, tidak rasional and nonsense. Shivani terperanjat. Dia menatap Leo tanpa kedip. Mencoba mencari tau ke kedalaman mata pria itu, namun dia tidak menemukan apapun. Leo tampak sangat tenang, santai namun menipulatif. Dia mendorong sedikit tubuh Leo menggunakan cara yang paling mudah, yaitu menempelkan telapak tangannya pada da-da pria itu. "Kamu mabuk." Ucapnya pelan. Bau alkohol yang tercium dari mulut Leo, sudah cukup di jadikan bukti kalau Leo sedang tidak sadar. Pria itu.. mabuk. "Aku tidak mabuk." Leo menyanggah pernyataan Shivani menggunakan suara lembut dan hati hati. Shivani memiringkan sedikit kepalanya. "Oh ya?" "Ya." Leo mengangguk. "Jadi, jawab saja! Setelah itu, mungkin aku akan melepaskanmu. Leo mengatakan kata 'mungkin' di dalam hati. Melepaskan Shivani? Tidak semudah itu. Pertanyaan Leo tentang kenapa dia mencari Kristian, terasa tidak aman. Dia tidak tau harus beralasan apa. Mencari Kristian pada larut malam bukankah itu terasa tidak masuk akal? Kalau dia berkata dia datang hanya untuk menyapa, apakah Leo akan percaya? Mustahil. Si-al! Kemana juga perginya Kristian? Dia pikir jam segini Kristian pasti berada di ruangannya, tapi siapa sangka kalau niatnya untuk membuat perhitungan dengan Kristian gagal total. Tidak hanya gagal, dia bahkan harus terjebak di sini bersama Leo. "Kenapa tidak menjawab?" Tangan Leo sudah berada di atas da-da Shivani. Hanya tinggal sedikit dan dia sudah berhasil meremasnya. Namun dia tidak melakukannya. Mengingat karakter Shivani yang keras kepala dan bru-tal, harga diri dan tubuh adalah nomor satu dan yang terpenting di banding hanya sekedar untuk memberikan jawaban atas pertanyaan sederhana darinya. Shivani menggigit bibir bawahnya saat merasakan tangan Leo sudah siap mere-mas da-danya. Tidak! Tidak boleh! Leo tidak boleh menyentuhnya. Tidak satu incipun. "Karena aku membutuhkan sedikit penjelasannya." Shivani menjawab dengan fasih seolah apa yang dia katakan tidak mengandung sedikitpun kebohongan. Pada nyatanya, kedatangannya memang untuk beberapa penjelasan. Leo mengerutkan kening. "Penjelasan semacam apa?" Insting prianya mengatakan kalau Shivani datang untuk melakukan sesuatu dengan Kristian. Tapi tidak untuk tidur bersama. Mungkin untuk melakukan hal lain yang dia sendiri masih tidak tau apa itu. "Kamu sudah berjanji hanya satu pertanyaan. Dan aku tidak akan menjawab lebih dari itu." Shivani merasa menang dalam hal ini. Dia tidak suka di tindas. Apa lagi, yang menindasnya adalah seorang tidak tau malu yang masih bisa hidup sampai sekarang setelah mengambil sesuatu milik Raiden. Ada satu sisi yang mengatakan kalau dia harus membenci. Namun, ada sisi lain yang mengatakan kalau dia harus memaafkan? Jadi, apakah dia harus membenci atau harus memaafkan? "Oh sh-it!" Leo mundur satu langkah. Dia adalah pria yang selalu menepati ucapannya. Namun, kali ini dia tidak akan menepatinya. Dia akan membuat rencana lain untuk menahan gadis itu supaya tetap di sisinya. Untuk menghentikan gejolak di dalam da-da yang berhasil memaksa dirinya untuk menahan dan tidak membiarkan Shivani pergi. Shivani tersenyum, dia mengulurkan tangan untuk membuka pintu. Namun, Leo menahan dirinya dengan memegang erat pergelangan tangannya. Gerakan itu membuat dia menoleh. "Temani aku minum, hanya sebentar." Selesai berkata, Leo melepaskan pegangan tangannya dari pergelangan tangan gadis itu, kemudian dia berjalan ke arah sofa dan mendudukkan diri di sana. Tangannya terulur untuk meraih gelas, dan begitu gelas berhasil di raih, dia meneguk beberapa teguk isinya. Shivani terpaku dengan mata tanpa kedip mengawasi siluet pria yang sudah duduk dengan nyaman di atas sofa. Dia menghela nafas panjang. Dia ingin pergi dan sekarang dia mendapatkan kesempatan itu, tapi tidak tau kenapa, instingnya mengatakan kalau dia harus duduk dan menemani pria itu barang sejenak. Dia menghela nafas panjang sebelum akhirnya melangkah mendekat dan duduk di samping pria itu. Tangannya meraih gelas kosong lalu menuangkan sedikit wine ke dalamnya. "Apa kamu tau kemana Kristian pergi?" Selesai bertanya, dia meminum wine miliknya sampai kandas. Rasa pahit dan harum seketika menyebar di dalam mulut. Sensasinya adalah yang cukup dia inginkan meski seringkali dia menghindarinya. Leo menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa. "Entahlah, dia tidak ada saat aku datang." Leo juga baru datang dan duduk sekitar sepuluh menit sebelum Shivani datang dan mengejutkannya. Shivani masih merasa perlu untuk menemui pria itu. Namun kalau keberadaan Kristian saja tidak jelas, bagaimana dia bisa membuat perhitungan? Leo menoleh ke samping dimana Shivani duduk di sebelahnya. "Apa kamu tau?" "Tau apa?" Shivani kembali meraih botol dan menuangkan wine ke dalam gelasnya. "Penampilanmu ini bisa membuat orang lain gagal memahami." Leo menyuarakan apa yang dia rasakan. Hanya berdekatan saja sudah berhasil membuat detak jantungnya tidak normal. Apa lagi saat melihat tubuh Shivani begitu terekspos, seketika miliknya melonjak hebat di dalam celana. "Oh ya?" Shivani jelas tau kemana arah pembicaraan Leo. Itu jelas menargetkan tubuhnya. Menargetkan penampilannya. Leo mengangguk. "Iya." "Apa kamu juga demikian?" Shivani bertanya penuh selidik. Dia berpakaian seperti ini bukan sengaja untuk menggoda para pria, dia hanya menyukainya. Sudah, itu saja. "Jujur.. iya." Mendengar jawaban jujur dari Leo, Shivani tertawa. "Apa gadis yang kemarin masih belum cukup? Apa kamu masih membutuhkan yang lain? Aku bisa membantumu mencarikan gadis yang lebih muda, yang lebih menggoda, yang lebih s*****l, yang lebih cantik, atau mungkin lebih hebat di atas ranjang dari pada gadis itu. Kamu hanya perlu mengatakan mau yang seperti apa dan aku akan membawanya ke hadapanmu dalam sepuluh menit." Shivani serius dengan ucapannya. Dia berbaik hati mencarikan gadis untuk Leo tiduri adalah suatu perkembangan dalam hubungan. Ucapan Shivani membuat Leo terkekeh. Sebegitu ingin menghindarkah Shivani dari dirinya sampai rela memberikan gadis lain untuk dia nikmati? Sayangnya, dia bukan pria seperti itu. "I'm sorry, bit-ch, but I'm not that kind of man."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD