Kristian keluar dari mobilnya.
Dia melangkah masuk ke dalam club sembari menyapa beberapa pegawai yang dia lewati. Dia baru saja kembali dari club malam milik Oka setelah mendapat pesan singkat kalau beberapa teman lama berkumpul di sana. Ada Julian juga. Namun sayang, Julian hanya datang sendiri, tanpa Leo.
Kemana perginya pria itu?
Tiba di depan ruang kerjanya, tangannya terulur untuk membuka pintu. Dan..
"Ada apa dengan gadis itu?" Kristian masuk ke ruang kerjanya dan mendapati Shivani terbaring di atas sofa. Dia hanya pergi tidak kurang dari dua jam, namun saat dia kembali, tidak hanya ada Leo di sana, namun ada Shivani juga.
Pantas Leo tidak datang ke club malam Oka, ternyata Leo berada di sini?
"Minum terlalu banyak." Leo menjawab singkat. Tangannya terulur untuk meletakan gelas di atas meja. "Dia menunggumu. Dia bilang, dia perlu penjelasan." Hanya itu yang Shivani katakan sebelum gadis itu benar benar mabuk.
Kristian mengerutkan kening. "Penjelasan? Penjelasan apa?" Kristian menunjukkan wajah polosnya. Dia pikir, Shivani terlalu gegabah dengan buru buru melabrak dirinya. Seharusnya, tunggu suasana sedikit tenang, dan baru mereka bahas masalah waktu itu. Tapi agaknya, Shivani benar benar tidak sabaran.
Leo mengedikkan bahu. "Entahlah, aku tidak tau. Dia tidak banyak bicara." Leo sudah berusaha mencari tau, namun mabuknya Shivani sedikit berbeda. Gadis itu tidak meracau, menjerit, mengumpat atau berjalan ke sana ke mari mencari masalah, gadis itu justru tidak sadarkan diri dengan mata tertutup rapat tanpa berkata apapun.
"Oh, begitu." Syukurlah kalau Shivani tidak mengatakan apapun kepada Leo, atau mereka berdua, Shivani dan dirinya benar benar akan tamat. "Tapi kamu tidak melakukan apapun, kan?" Kristian mencoba mengalihkan pembicaraan dengan mencari topik pembicaraan yang lebih aman.
"Melakukan apa?" Leo bertanya dengan suara datar.
"Misalnya.. sesuatu yang tidak bermoral?" Kristian dapat menebak kalau tidak ada hal aneh yang terjadi di antara dua orang itu. Selain Leo bukan pria yang sembarang sentuh, pria itu juga memiliki semacam prinsip hidup dengan otoritas yang tidak bisa di langkahi oleh sembarang orang. Leo tidak pernah jatuh cinta, mungkin?
Kalau begitu, lantas kenapa dia masih bertanya kalau dia sudah mengetahui jawabannya?
Jawabannya cukup sederhana, kenapa dia bertanya seperti itu adalah karena dia ingin membuat semuanya mudah, aman dan terkendali. Dia mengkhianati Leo demi Shivani. Sedangkan Shivani membutuhkan informasi darinya untuk dekat dengan detak jantung dan penglihatan Leo. Tidak mungkin dia tidak menyanggupinya setelah dia mengetahui
kalau rasa cinta Shivani teramat besar untuk kekasihnya yang sudah meninggal.
Dan sebagai manusia normal, pintu hatinya jelas terketuk setelah mendengar cerita lengkap versi Shivani yang cukup tragis.
"Apa aku terlihat seperti seorang pria yang tidak bermoral?" Leo bertanya. Ujung matanya melirik Shivani yang tidur lelap di sampingnya. Gadis itu meringkuk seperti bayi. Gaun yang di kenakannya tersingkap, da-danya yang bulat mengintip dan itu membuat Shivani tampak luar biasa dan s*****l.
Sejujurnya, dia memang bukan pria bermoral seperti yang dia katakan atau seperti yang orang lain pikir. Dia bahkan menahan hasratnya sekuat tenaga untuk tidak menyentuh tubuh Shivani. Sangat berusaha. Bukan karena dia adalah pria bermoral, namun karena dia tidak mau merusak dan tidak mau menambah masalah dengan orang baru. Sudah. Itu saja.
"Bukan itu maksudku." Kristian mendudukkan diri di balik meja kerjanya. "Kamu tertarik, tentu saja. Kamu tergoda, jelas. Kamu b*******h, sudah pasti. Tapi alasan kenapa kamu tidak melakukannya, alasan kenapa kamu tidak menyentuh Shivani bukan dalam konteks moral atau tidak bermoral, kamu hanya tidak memiliki kapasitas untuk melakukannya." Itu yang berada dalam otak Kristian sejauh ini. Kapasitas Leo mungkin berada pada taraf aman sampai sehorny apapun seorang Leo, Leo tidak akan pernah melakukan tindakan yang bukan atas kesepakatan bersama.
"Iya. Aku tidak akan mengambil kesempatan dalam kesempitan," meski kesempatan itu sudah ada di depan mata. Statement yang dia sendiri bahkan tidak yakin dirinya bisa melakukan dan bisa mematuhinya saat bersama Shivani. Karena statement itu rasanya hanya berlaku untuk orang lain, dan Shivani tidak termasuk dalam lingkup 'orang lain' itu.
"Kamu begitu percaya diri dengan kalimat itu dan seharusnya kamu juga peduli." Kristian melihat raut keengganan yang Leo tunjukkan melalui gelagat aneh yang sebelumnya tidak pernah Leo perlihatkan. Namun meski tidak terdeteksi atau memang karena sengaja di sembunyikan, keengganan itu jelas sekali wujudnya karena berhasil tertangkap pengamatannya. "Kamu seolah tidak rela melepas jas yang kamu kenakan untuk menutupi tubuh Shivani. Terlepas dari semua itu, sebenarnya kamu tidak rela melepas pakaian mu karena takut pakaian itu akan kotor, atau kamu tidak rela kalau tubuh indah Shivani tertutupi?" Pertanyaan yang paling tepat di ajukan kepada Leo sepertinya pertanyaan yang ke dua.
"Apa kamu pernah melihat aku melepas pakaian untuk kemudian aku pakaikan kepada seorang wanita? Seharusnya kamu sudah tau jawabannya." Leo yang arogan tidak mungkin menyerah dengan mudah. Dia tidak akan mengakui kekalahan mengingat watak keras kepala yang dia miliki.
"Sejauh ini kamu memang tidak pernah melakukan hal seperti itu," ucap Kristian. "Kalau begitu, kalau kamu memang tulus membantu, kalau kamu memang berjiwa sosial tinggi, kalau kamu memang berhati mulia, antar gadis itu pulang! Kembalikan ke orang tuanya secara baik baik tanpa membuat keributan!" Kristian menekankan kata perkata yang dia ucapkan. Dia serius dengan ucapannya dan tidak ada keraguan sama sekali. Dia ingin Leo mengantar Shivani pulang, itu adalah intinya.
Terlebih, Shivani mabuk parah, sementara dia sendiri harus pulang ke rumah dalam waktu lima belas menit, jadi tidak aman kalau dia meninggalkan Shivani sendirian di dalam ruang kerjanya meski sebenarnya ada ranjang yang sedikit lebih nyaman di banding tidur di sofa. Tapi, tetap saja dia tidak ingin menginapkan anak gadis orang. Nanti di sangkanya dia mucik-ari, dan kalau itu sampai terjadi, akan semakin repot urusannya.
"Pertama, dia datang ke sini sendiri. Dan ke dua, dia datang untuk mencarimu. Jadi, itu adalah tanggung jawabmu untuk mengantarnya, bukan aku." Leo menolak dengan bahasa halus. Dia merasa mengantar Shivani bukan hal yang baik. Bukan karena dia tidak peduli, namun apapun sebutannya.. poinnya adalah dia tidak bisa berdekatan dengan gadis itu lebih lama lagi.
Pertama, jantungnya bisa meledak kapan saja kalau tidak segera menjauh. Dan ke dua, penglihatannya serasa aneh saat melihat siluet Shivani. Mereka asing, namun dia merasa akrab. Mereka begitu jauh, namun dia merasa dekat. Tubuhnya, penglihatannya, dan bahkan perasaannya seolah mengenal Shivani dengan sangat baik.
Itu juga yang membuat dirinya takut.
Dia takut dengan angan angannya sendiri, dia takut dengan imajinasinya yang liar dan kemana mana, dia takut dengan perasaannya, dia takut dengan penglihatannya, dan dia takut dengan dirinya sendiri karena dia yakin kalau dirinya bermasalah. Entah itu otaknya atau tubuhnya, yang jelas dia bermasalah.
"Bukannya aku tidak mau, tapi aku harus pulang sebelum Papa membunuhku. Dia memberiku waktu lima belas menit dan oh sh-it!" Kristian mengumpat saat melihat jam tangan mewah yang melingkar pada pergelangan tangan kirinya. "Waktuku hanya tersisa dua belas menit lagi. Kalau begitu, aku akan pulang sekarang. Kamu bisa tinggalkan dia di sini kalau kamu keberatan mengantarnya, baringkan saja dia di atas ranjangku atau apapun itu, aku akan menjemputnya nanti, yang jelas aku harus pergi sekarang." Kristian bangkit dari duduknya. Dia meraih jaket yang melingkar pada kursi kerjanya, lalu dia segera memakainya.
Leo menoleh ke arah Shivani. Dia sendiri saja sulit untuk menahan godaan yang luar biasa meski Shivani hanya berbaring dan diam seperti ikan mati. Bagaimana kalau itu adalah orang lain? Bagaimana kalau ada orang yang tiba tiba menerobos masuk dan melihat keadaan Shivani yang seperti ini? Atau bagaimana kalau Kristian menyentuh Shivani saat tidak dalam pengawasannya?
Dirinya sendiri saja dia meragukannya. Lantas bagaimana dengan Kristian, apa lagi orang lain?
Ini tidak bisa di biarkan.
"Aku pikir meninggalkan Shivani di sini bukan hal yang baik," lebih tepatnya tidak aman. Leo menyuarakan sedikit sarannya.
"Kamu takut orang lain akan menerobos masuk ke dalam ruangan ku dan mendapati Shivani yang seperti ini lalu berbuat a*u-sila, begitu?" Kristian mendekat ke arah Leo. "Tidak semua pria sebajingan dirimu, Bung." Ucapnya sembari menepuk pelan bahu Leo dengan makna ejekan. Tidak! Lebih tepatnya adalah tidak semua pria sebajingan dirinya, karena Leo sangat berbeda dengan pria yang kebanyakan satu frekuensi dengannya. Jadi, sudah jelas yang bang-sat di sini bukanlah Leo, melainkan dirinya.
Leo terkekeh. "Apa kamu tidak salah bicara? Bukankah kata kata itu seharusnya untuk dirimu sendiri?" Leo tau kalau maksud Kristian adalah sebuah provokasi. Apakah dia berani mengantar Shivani dan bertemu dengan keluarganya? Atau apakah dia akan jadi pengecut dengan meninggalkan gadis itu di sini sendirian? Itu adalah maksud tersembunyi dari kata kata yang Kristian lontarkan kepadanya. Memiliki makna yang sama, hanya pelafalannya saja yang berbeda.
"Sudahlah!" Kristian mengibaskan tangan. "Aku akan mencari tau alamatnya dan akan ku kirimkan padamu." Selesai berkata, Kristian melangkah keluar dari ruang kerjanya. Dia cukup sibuk sampai saat hari sudah larut, dimana dia seharusnya berisitirahat, dia justru masih harus kembali ke kediaman utama keluarganya.
Leo menggelengkan kepala saat sosok Kristian menghilang di balik pintu. Dia tidak mungkin meninggalkan Shivani sendirian di sini. Dia tidak sekejam itu. Namun lagi lagi.. ini bukan tentang mau tidak mau, tentang sanggup tidak sanggup, tentang mulai atau tidak mulia, tapi ini tentang kesehatan hatinya, tentang psikis dan mentalnya.
"Fiuh." Leo menghela nafas panjang. Dia melepas jas yang dia kenakan lalu dia menggunakan jas itu untuk menyelimuti tubuh Shivani. Dia tidak tau sampai batas mana dia sanggup bertahan. Namun, kalau keadaan benar benar terdesak, mungkin dia perlu meminta orang lain untuk memadamkan api yang membakarnya.
Ting.
Leo mengambil hpnya yang berbunyi.
Mendapati nama Kristian yang tertera pada layar, dia buru buru membuka isi pesannya. Merupakan alamat lengkap Rumah Shivani.
Tanpa menunggu lagi, dia bergegas menggendong tubuh Shivani dan membawanya pergi.
------•
--•
Di dalam Mobil.
Untuk urusan hati, dia memang bisa di katakan dun-gu. Tidak ada pengalaman. Tidak ada kemampuan. Namun kalau da-danya terus berdebar begini, dia juga menjadi bingung.
Dia tidak tau apa dan kenapa.
Kenapa jantungnya berdebar hebat?
Apa jatuh cinta memang begini?
Leo menyentuh da-danya. Terasa menyesakkan setiap melihat gadis itu. Terasa ingin memiliki setiap kali ada pertemuan di antara mereka. Seperti rumor yang menyebar dengan cepat, perasaannya juga demikian, menyebar begitu cepat tanpa dia bisa mengendalikannya.
Perasaan itu seolah sudah menyebar melalui setiap tetes darahnya. Menyulitkan dan membuatnya sulit untuk tidak memikirkan Shivani.
Wajah arogannya.
Wajah cantiknya.
Wajah dinginnya.
Penolakan demi penolakan yang gadis itu lakukan, bukannya membuat dia marah, dia justru semakin termotivasi. Hasr-at untuk memiliki Shivani juga kian besar.
Leo menoleh ke samping. Di perhatikannya lekat sosok itu.
Kenapa gadis itu begitu memikatnya?
Apa yang spesial dari diri gadis itu sampai dia berubah menjadi pria yang tidak tau malu?
Terasa mencekam saat membayangkan betapa gigih Shivani menolak dirinya yang beberapa gadis bahkan bersedia menyerahkan diri mereka dengan cuma cuma.
Bukankah seharusnya dia senang karena untuk pertama kalinya dia menginginkan seorang gadis? Namun apakah dia juga harus senang karena untuk pertama kalinya juga dia tidak di inginkan?
Beberapa saat berkendara, Leo menghentikan mobilnya setelah tiba di depan sebuah Rumah yang seharusnya adalah rumah Shivani. Dia melihat kembali layar hpnya untuk memastikan, dan berdasarkan alamat yang Kristian kirim, seharusnya iya.
Leo turun dari mobilnya, lalu dia berjalan ke arah pintu untuk membangunkan si pemilik Rumah.
Tok tok tok.
Dia menunggu sejenak sembari mengawasi sekeliling.
Setelah di lihat dan di amati, ternyata rumah ini cukup besar dan di bangun di atas lahan yang luas. Tampak menyenangkan dengan taman kecil di depan rumah dengan berbagai jenis bunga mawar yang menghiasi.
Tanaman bunganya juga cukup indah dan terawat dengan baik. Namun, dia tidak yakin Shivani yang melakukannya, tidak mungkin gadis itu yang merawat bunga bunga ini. Pasti orang lain. Pasti.