Dengan sedikit menjinjit, ia melangkah ke dalam kamarnya. Ketika ia memutar gagang pintu kamarnya, tiba-tiba lampu kamar tamu dinyalakan.
“Dari mana kamu, Nak?” Ana dengan wajah sendu menanyakannya.
“Ah, mama! Maya…..” jawabnya gugup sambil menghindari tatapan mata Ana.
“Maya dari mana jam segini? Jawab mama?” desak Ana, membuat Maya hanya menunduk, tak sanggup beradu pandang.
“Maya…dari rumah Sherly, Ma” sahutnya terbata-bata.
“Dari rumah Sherly? Kamu sedang tidak membohongi mama kan?”
“Tidak, Ma. Sumpah,” ujarnya sambil mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya ke atas.
“Mana ponselmu? Mama ingin menelfon Sherly untuk pastikan.”
“Ah, Mama. Benaran kok, Ma! Tidak usah ditelefon lagi. Jam segini Sherly sudah tidur. Jangan diganggu lagi,” kata Maya memohon.
“Kamu minum, Nak?” tanya Ana sambil melotot.
“Hanya sedikit, Ma. Kita rayain ulang tahunnya Sherly, Ma. Jadi kita minum sedikit,” jawabnya masih dalam keadaan gugup dan berusaha menunduk.
“Iya, sudah! Mama percaya sama kamu. Tapi tolong jangan keluar malam lagi, Nak! Mama khawatir sama kamu. Kamu itu wanita, Maya. Tak baik keluyuran malam-malam,” ujar Ana yang sudah bisa mengontrol emosinya dan berkata dengan lembut.
“Iya, Ma! Maafkan Maya ya, Ma. Maya janji tidak akan pernah keluyuran lagi tiap malam. Tidak akan pernah. Trust me, ya Ma,” ujarnya sambil memeluk erat wanita paruh baya yang melahirkan dan membesarkan dirinya seorang diri, tanpa ayah biologisnya.
“Maya masuk ya, Ma. Sudah mengantuk sekali. Mau tidur dulu,” pamitnya seraya melepaskan pelukannya dari Ana.
“Makan dulu sebelum tidur, Nak. Besok kamu harus kerja. Bukankah esok hari senin?”
“Terima kasih, Ma. Maya sudah makan. Selamat malam. Have a nice dream, Ma,” ucapnya sambil mengecup lembut pipi mamanya yang hanya dibalas dengan anggukan oleh Ana.
‘Maya sudah benar-benar berubah. Sejak kapan dia begini ya, Allah? Aku seperti kehilangan Maya yang dulu,’ bisik wanita paruh baya ini dalam hati lalu beranjak masuk ke dalam kamarnya. Dicobanya untuk merebahkan tubuhnya yang sudah agak lemah karena beberapa malam ini tidak bisa tidur dengan nyenyak karena mengkhawatirkan sang putri yang mulai berubah.
Sementara di kamarnya, Maya melucuti semua pakaian yang ia kenakan, membuangnya asal, meraih bathrobe dan berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Sejenak dia merasa jijik dengan tubuhnya. Dia memandang tubuhnya dicermin yang ada di dalam kamar mandinya. Segelintir rasa ngeri merasuk dalam jiwanya, dia telah kehilangan kehormatannya. Akankah dia hamil dengan hanya sekali tidur dengan pria asing itu? Berbagai pertanyaan mulai memenuhi otaknya.
Setelah Maya melakukan mandi wajib walau sudah tengah malam, memakai baju tidurnya dan langsung merebahkan dirinya diranjangnya yang tidak terlalu besar. Hati dan pikirannya sudah buntung sama sekali. Saat ini dia berada di puncak masalah yang dia sendiri tidak tahu seperti apa ke depannya.
Bagaikan maka buah simalakama, tak makan mati, makan pun mati. Lelahnya berpikir membuat Maya jatuh ke alam mimpi.
Sementara itu dikamar tidur sebuah night club, seorang pria tampan tampak menggeliat dari tidurnya. Pria itu tertidur tanpa mengenakan sehelai benang pun di badannya yang kekar.
‘Di mana aku? Ini bukan kamarku,’ decaknya bingung seraya mengucek matanya.
Dia terduduk dan memandang dirinya sendiri sambil mengingat-ingat kejadian semalam. Terlintas di benaknya saat dia melucuti pakaian seorang gadis.
‘Kenapa ini bisa terjadi? Di mana dia sekarang?’ tanyanya pada diri sendiri.
Dengan tergesa-gesa dia memakai kembali pakaiannya, meraih ponsel dan kunci mobilnya yang diletakkan di atas nakas di samping ranjang itu dan bergegas keluar dari kamar itu.
‘Ah sial, sudah hampir jam tujuh pagi. Ini hari pertamaku masuk kantor. Dasar wanita sialan, bisa-bisanya dia menjebakku seperti ini,’ umpatnya sambil berjalan ke arah mobilnya yang diparkirkan di halaman night club itu.
‘aku tak boleh terlambat di hari pertamaku masuk kantor. Bisa-bisa aku dicap sebagai pemimipin yang tidak bertanggung jawab,” batinnya seraya memasukkan gigi mobilnya dan menancap gas menuju kediamannya.
*
Kringg…. Kringg… kringgg…
Jam weker yang sengaja disetel dan disimpan di atas nakas itu membangunkan Maya dari alam mimpinya. Dengan mata yang berat, Maya memaksakan diri untuk bangun. Hari ini ada pergantian Chief Executive Officer di kantornya. Kabar ini telah beredar dua minggu yang lalu. Namun demikian belum ada yang mengetahui identitas calon chief baru, dan ini adalah hari terakhir chief lama akan tergantikan posisinya.
Maya sedikit memaksakan dirinya untuk bangun dari ranjangnya, namun dia merasa ada sedikit keganjalan pada dirinya. Permainannya semalam dengan pria asing bernama Xander itu masih menyisakan sedikit rasa ngeri dan tidak nyaman di bagian selangkangannya.
‘Ah, inikah rasanya ditiduri oleh pria? Humm…. Apakah dia sudah terbangun dari tidurnya?’ batinnya sambil merenung.
Tok….tok…… tok……
‘Maya, May….” Suara Ana yang memanggilnya dari balik pintu membuyarkan lamunannya.
“Iya, Ma,” sahutnya malas.
“Kalau sudah mandi, sini sarapan. Katamu hari ini ada pergantian chief dikantormu, kamu harus berangkat lebih awal lho.”
“Maya baru mau bangun, Ma! Belum mandi,” jawabnya sembari beranjak turun dari ranjangnya.
“Maya, ini sudah jam berapa? Kamu bisa telat lho, Nak! kamu mau dimarahin?” ujar Ana seraya membantu Maya membereskan tempat tidurnya. Sudah menjadi kebiasaan putri semata wayangnya, kalau telat bangun, mamanyalah yang akan membantu membereskan kamarnya.
“Maya, kenapa pakaianmu dibuang asal begini? Sejak kapan mama ajarin kamu hal seperti ini? Sudah mulai minum-minum dan ini apa….?”
Ana menghentikan celotehannya kala hidungnya menghirup bau parfum maskulin yang sangat berbeda dengan aroma parfum yang biasa dipakai putrinya.
Sementara itu Maya tanpa menghiraukan celotehan mamanya, bergegas masuk ke dalam kamar mandi pribadinya yang berada di kamarnya dan mengguyur tubuhnya dengan air dan menyabuni dengan sabun favouritenya.
“Maya, ini aroma parfum siapa? Sejak kapan kamu suka aroma parfum maskulin?” selidiki Ana, memandang lekat ke wajah putrinya.
“Ma, sudahlah. Maya bukan anak kecil lagi. Sudah, mama keluar, ya! Maya mau ganti baju dulu.”
“Segera keluar untuk sarapan kalau sudah selesai,” pinta Ana sambil berlalu ke meja makan dan menunggu Maya untuk sarapan.
Setelah kelar sarapannya, gadis itu segera meraih tas dan kunci mobilnya untuk segera bergegas menuju tempat kerjanya yang biasanya memakan waktu tiga puluh menitan kalau jalanan tidak sedang macet.
“Ma, Maya berangkat ya!” pamitnya.
“Hati-hati ya, Nak,” jawab Ana sambil tersenyum simpul. Wanita paruh baya ini masih menyimpan sejuta tanya di benaknya. Putri semata wayangnya yang dia didik seorang diri, susah payah membanting tulang demi menghidupi dirinya dan menyekolahkannya hingga meraih gelar sarjana dan kini telah menjabat sebagai seorang sekretaris di sebuah perusahaan ternama di kota ini, mulai berubah akhir-akhir ini.
*To be continued....