003 Hari pertama kerja

1120 Words
“Ma, Maya berangkat ya!” pamitnya. “Hati-hati ya, Nak,” jawab Ana sambil tersenyum simpul. Wanita paruh baya ini masih menyimpan sejuta tanya di benaknya. Putri semata wayangnya yang dia didik seorang diri, susah payah membanting tulang demi menghidupi dirinya dan menyekolahkannya hingga meraih gelar sarjana dan kini telah menjabat sebagai seorang sekretaris di sebuah perusahaan ternama di kota ini, mulai berubah akhir-akhir ini. “Selamat pagi semuanya” sapa Maya saat kakinya melangkah masuk ke dalam kantor, disambut Sherly dengan senyuman khasnya. Sherly adalah sahabat sejati Maya. Mereka sudah bersahabat sejak dibangku kuliah. Dan beruntung sekali setelah lulus kuliah, mereka diterima di perusahaan yang sama. Maya menjabat sebagai sekretaris sedangkan Sherly sebagai bendahara yang mengurus keuangan di perusahaan ini. “Sher, bagaimana laporanmu? Apa sudah kelar?” tanya Maya setelah meletakkan tasnya di atas meja kerjanya. “Iya, sudah. Punyamu? Apa sudah kelar juga?” ujar Sherly balik bertanya, karena dilihatnya Maya seperti kurang siap. “Belum, Sher. Laporan aktivitas bulananku belum rampung. Where is my flash disk? OMG…” lirih Maya seraya menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. “Kamu kenapa lagi, say!” tanya Sherly bingung melihat gelagat sahabatnya. “Aku tidak tahu di mana flash disk ku? Setahuku aku menyimpangnya di dalam tas ini,” gerutunya sambil mengobrak-abrik isi tasnya. “Semua laporanku ada di dalam flash itu.” “Coba check lagi berkasnya di desktopmu. Siapa tahu masih tersimpan di situ,” usul Sherly. “Iya, iya. Coba aku check,” ujarnya seraya menyalakan desktop yang berada di atas meja kerjanya dengan menekan power on button dan dengan cekatan gadis itu membrowse semua berkas yang ada di layar dekstopnya dikala layar itu telah berada dalam keaadaan stand by. “Ah, ini dia. Sher, aku pinjam flash kamu yaa?” mohon Maya pada Sherly. “Sudah ketemu laporannya?” tanya Sherly sembari meyodorkan flash disk miliknya untuk sahabatnya. “Iya, syukurlah. Semua laporannya masih lengkap di sini. Untung belum kehapus kemarin,” ucapnya tersenyum puas. Setelah menyalin semua berkas berisi laporan bulanan yang akan dipresentasikan beberapa menit lagi pasca pergantian CEO di perusahaannya, kedua sahabat itu meraih tas mereka dan bergegas menuju ruang meeting yang berada di lantai dua. “Maya, aku boleh tanya sesuatu?” ujar Sherly hati-hati. “Iya, tanya saja. Kamu kayak aku orang lain saja. Memangnya kita baru saling mengenal?” “Ada yang berubah deh sama sikap kamu.” “Maksud kamu?” “Nanti saja deh setelah meeting, yuk,” ajak Sherly sambil meraih tangan Maya menuju tempat duduk yang telah disediakan untuk sekretaris dan bendahara. Semua staff telah berada di meeting room yang luas tersebut termasuk CEO yang akan digantikan posisinya hari ini. “Selamat pagi semuanya!” sapa CEO yang bernama Rudianto itu membuka meeting pagi itu yang dihadiri oleh beberapa pemimpin executive dari company yang selama ini bekerja sama. “Pagi, pak!” jawab semuanya serentak. “Baiklah, hari ini adalah hari terakhirku menjabat sebagai CEO dikantor ini, karena aku telah ditugaskan untuk memimpin salah satu cabang perusahaan ini di kota sebelah. Apakah kalian sudah tahu, siapa yang akan menggantikan posisiku di sini?” ujarnya sambil memandang ke semua staff yang ada di ruangan itu. Sejenak semua terdiam dan hening. Masing- masing bertanya dalam hati. “Sambil menunggu kedatangan beliau, sebaiknya kita mendengarkan laporan dari pihak yang mengelolah keuangan serta laporan kegiatan bulanan yang akan disampaikan oleh saudari Sherly Melati dan Maya Mutiara. Untuk keduanya, dipersilahkan untuk presentasikan laporannya,” urai pak Rudianto selaku master of ceremony untuk meeting hari ini. “Bapak-bapak sekalian yang kami hormati dan kerabat kerja sekalian yang kami sayangi, selamat pagi semuanya,” ucap Sherly mengawali presentasi laporan keuangannya. Dengan lancar dan cekatan gadis itu menyampaikan laporan keuangannya selama masa jabatannya bersama CEO Rudianto. Terdengar tepuk-tangan yang riuh dari semua yang hadir. Dengan tersenyum puas pak Rudianto selaku master of ceremony mempersilahkan Sherly untuk kembali ke tempatnya dan mempersilahkan Maya selaku sekretarisnya selama masa jabatannya untuk mempresentasikan laporan akitifitasnya. Tepat pada saat Maya hendak mengakhiri laporannya, terdengar pintu ruangan meeting tersebut di ketuk dari luar. Semua mata tertuju ke arah pintu. Seorang pria gagah dengan balutan jas berwarna krem melangkah masuk ke ruangan tersebut. Maya mencoba meneliti dengan seksama wajah itu. Jantungnya sampai copot. Dengan tergesa dia turun dari tempat mempresentasikan laporan tersebut dan melangkah ke tempat duduknya, tepat di samping Sherly. Wanita ini berharap kalau pandangan matanya salah dan orang itu hanya mirip dengan pria asing yang telah menidurinya semalam. Nampak CEO Rudianto mempersilahkan pria itu untuk mengambil tempat di sampingnya. “May, cakep ya! Siapa dia?” bisik Sherly. “Gila. Biasa saja kali, jangan lebay, ah,” timpalnya seraya menundukkan kepalanya, berharap pria itu tidak melihatnya. “Berhubung beliau sudah berada di sini, maka inilah saatnya saya mengundang beliau untuk memperkenalkan dirinya secara langsung kepada kalian semua. Kepada bapak Xander, selaku CEO baru di kantor ini, saya persilahkan,” ujar CEO Rudianto. Ceckk….. jantung Maya berdebar tak karuan. ‘Xander?’ gumamnya dalam hati. Apa ini suatu kebetulan? “Selamat pagi, semunya,” sapa CEO Xander ramah. “Terima kasih banyak untuk pak Rudianto yang telah mengizinkan saya untuk memperkenalkan diri saya selaku CEO baru di perusahaan ini,” lanjutnya. “Saya Alexander Pratama Xaverius yang akan menggantikan posisi pak Rudianto di sini sebagai CEO di perusahaan ini.” ‘Suara itu? Kenapa mirip sekali dengan pria bernama Xander semalam? Dan Namanya Alexander,’ batin Maya, semakin yakin kalau itu memang Xander, pria asing semalam. Jantungnya serasa mau copot dan berhenti memompakan darah kala mata sang CEO baru beradu pandang dengannya. Terlihat pria itu pun terkejut saat mengenali wajah wanita ini. Maya bisa merasakan hal itu. Setelah sesi perkenalan usai, Rudianto mempersilahkan Maya selaku sekretaris di perusahaan ini untuk mengantarkan Xander menuju ruangannya. Spontan membuat Maya gugup dan gemetaran, alhasil keringat dingin mulai mengucuri wajahnya. Ingin rasanya dia berlari dan bersembunyi dari pria ini. Betapa malunya dia saat ini. bumi yang di pijaknya serasa berhenti berputar. Wajahnya pucat pasi seketika. Sherly yang menyadari akan perubahan pada diri Maya, segera ia raih dan genggam tangan sahabatnya. “Maya, kamu kenapa? Sakit?” bisik Sherly. “Ma’af, Sher. Aku hanya pusing sedikit. Bisakah kamu mengambil alih tugasku?” ujar Maya sambil berbisik. “Iya, May! Tapi benaran kamu tidak apa-apa?” ulangnya memastikan keadaan sahabatnya yang masih pucat. “Iya, Sherly. Aku baik-baik saja. Cuma sedikit pusing. Sudah sana, kamu antarkan dia. Aku mau ke toilet sebentar.” Dengan sigap Sherly melangkah cepat ke depan dan mengajak Xander untuk mengikutinya ke ruang CEO. “Sherly, Maya kenapa? Dia tidak seperti biasanya,” tanya Rudianto pada Sherly. “Iya, pak! Dia sedikit pusing. Makanya dia memintaku untuk menggantikan posisinya saat ini. ‘Maya? Bukankah namanya Nona,’ gumam Xander dalam hati. *To be continued....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD