Dengan sigap Sherly melangkah cepat ke depan dan mengajak Xander untuk mengikutinya ke ruangan CEO yang berada di lantai atas Gedung megah itu.
“Sherly, Maya kenapa? Dia tidak seperti biasanya,” tanya Rudianto pada Sherly.
“Iya, pak! Dia sedikit pusing. Makanya dia memintaku untuk menggantikan posisinya saat ini.
‘Maya? Bukankah namanya Nona,’ gumam Xander dalam hati.
Dengan diliputi rasa penasaran Xander bergegas mensejajari langkah Sherly. Sebagai seorang staff yang telah lama bekerja di perusahaan ini, Sherly sudah sangat profesional dalam hal menyampaikan dan menjelaskan seluk-beluk serta keadaan real kepada pemimpin baru maupun staff baru yang baru saja bergabung. Kelihaian gadis itu dalam bertutur kata membuat Xander sempat terkagum-kagum. Setelah dirasa cukup, Sherly pamit untuk kembali ke ruangannya. Tetapi seketika langkahnya terhenti oleh suara sang CEO baru itu.
“Ma’af, saudari Sherly. Apa saya boleh bertanya sesuatu?” tanya Xander sopan namun terkesan sedikit dingin dan datar.
“Boleh, Pak! Silahkan,” jawab Sherly singkat.
“Tapi sebelumnya ma’af kalau saya lancang. Kalau boleh tahu, teman anda yang menjabat sebagai sekretaris itu bernama siapa?”
“Oh, Maya, Pak! Lengkapnya Maya Mutiara,” jawab Sherly cepat.
‘Maya Mutiara. Nama yang sangat cantik. Terima kasih banyak Sherly. Anda boleh pergi sekarang.”
“Sama-sama, Pak! Permisi.”
Sherly meninggalkan ruangan itu dengan sejuta tanya di benaknya. Untuk apa Xander menanyakan Maya? Dan mengapa Maya sepertinya tidak ingin mengantarkan Xander ke ruangannya? Ah, semoga saja Maya benaran pusing dan itu bukan alasan yang dibuat-buat agar terhindar dari tugasnya pagi ini.
Sementara itu Maya masih berkutat dengan perasaannya di ruangannya. Keringat dingin mengucur di badannya. Kenyataan yang terjadi saat ini sungguh sangat di luar dugaannya. Wajahnya mulai pucat saking menahan gejolak yang ada didadanya. Hatinya sudah tidak bisa diajak berkompromi lagi. Akhirnya dia memutuskan untuk minta izin pulang ke rumah dengan dalih sakit.
Ketika Sherly memasuki ruangan mereka berdua, gadis sahabatnya itu sudah tidak ada di tempatnya. Dengan dipenuhi rasa penasaran, ia meraih ponselnya dan menekan nomor kontak Maya untuk menanyakan keberadaanya.
‘Kenapa Maya tidak menjawab panggilanku?’ gerutu Sherly dalam hati. Dicobanya beberapa kali, tetapi tetap tak ada jawaban. ‘Kemana ya dia?’ lanjutnya bergumam.
Tak berselang Xander keluar dari ruangannya dan mencari keberadaan Sherly. Rupanya pria berdarah campuran Aussie – Bali dan Timor Leste itu pun penasaran dengan Maya yang mirip dengan gadis yang bernama Nona yang mengajaknya untuk bercinta semalam.
“Sherly, Maya mana?” tanya Xander ketika dia telah berada di ruangan sekretaris dan bendaharanya.
“Nah itu dia, Pak! Ketika saya mengantarkan bapak ke ruangan bapak, Maya menghilang. Saya sudah mencoba menghubunginya beberapa kali, tetapi tak dijawab. Saya juga lagi bingung, Pak.”
“Sekarang ini masih jam kerja. Apa dia sudah pulang?” tanya Xander dengan nada sedikit ketus, spontan membuat Sherly tersontak kaget. Hatinya sedikit ngeri melihat gelagat pemimpin barunya yang baru saja masuk di hari pertama kerjanya ini.
“Kurang tahu, Pak! Soalnya panggilanku juga di abaikan,” jelas Sherly masih menundukkan kepalanya dalam.
Tanpa mengucap kata pamit, Xander melangkah masuk kembali ke ruangannya. Kekesalan sangat jelas tergambar di raut wajahnya tampan, menambah level penasaran di benak Sherly. Sekali lagi dia menekan kontak Maya dan kembali menghubunginya, namun sekali lagi pula tak ada jawaban, walau panggilannya tetap masuk.
‘Ok, sabar Sherly. Kamu harus harus cari cara lain. Mikir – mikir,’ gumam Sherly dalam hati. Sejenak terbersit di otaknya untuk menghubungi Ana, mamanya Maya.
‘Pagi, Tante Ana! Apa Maya ada di rumah?’ tanya Sherly begitu panggilan tersambung.
‘Pagi, Sherly. Tidak. Bukankah Maya ada di kantor?’ ujar Ana balik bertanya.
‘Oh, ya sudah, terima kasih, Tante. Ma’af menganggu,’ katanya seraya memutuskan panggilannya.
*
‘Sekarang aku harus bagaimana? kenapa aku sebodoh ini?’ makinya dalam hati. Ia tak henti – hentinya merutuki kebodohannya sendiri. Pikirannya kacau, hingga ia pun memutuskan untuk membelokkan arah mobilnya ke pantai yang biasa dikunjunginya di kala suntuk untuk sekedar menenangkan diri.
Setelah memarkirkan mobilnya, Maya membuka pintu mobil dan duduk bersandar di kursi pengemudi seraya menghirup udara pantai yang segar dengan aroma air laut yang kental.
Maya merogoh clutch berwarna merah tua yang berada di sampingnya tatkala ponselnya berdering. Dengan sekali gulir panggilan tersambung.
‘Hello, Ma. Ada apa telefon Maya?’
‘Maya ada di mana sekarang?’ ujar Ana balik bertanya.
‘Maya ada di kator, Mama. Ini ‘kan masih jam kerja,’ sahutnya berdusta.
‘May, tadi Sherly telefoon mama, Sherly tanya apakah Maya ada di rumah?’ ceeckk… seketika Maya terbengong. Dia tak menyangka kalau dengan tidak menjawab panggilan dari Sherly, gadis itu sampai nekat menghubungi mamanya.
‘Tadi aku keluar sebentar. Ini juga mau kembali lagi ke kantor, Mama,’ ujarnya berbohong agar bisa menghilangkan kecurigaan mamanya.
‘Oh. Iya sudah, mama kabarin Sherly yaa?’
‘Tidak perlu, Ma. Biar Maya saja. Mama masak yang enak iya, Maya mau makan siang di rumah,’ jawabnya cepat.
‘Ok, sayang. Mama tutup ya!’ ujar Ana seraya memutuskan sambungan panggilannya.
Setelah panggilannya terputus, Maya mencoba untuk kembali menghubungi Sherly. Ia merasa bersalah karena telah membuat sahabatnya khawatir hingga menanyakan keberadaannya pada Ana, mamanya.
Ternyata di layar ponselnya terpampang beberapa panggilan tak terjawab yang bukan saja dari Sherly, tetapi juga dari Zack, salah satu staff di kantor itu.
Dengan pikiran yang terus kalut, ia menekan kontak Sherly dan menghubunginya melalui panggilan video dengan aplikasi yang bercentang biru.
‘Hey,Beb! kamu lagi di mana? Kenapa tidak menjawab panggilanku? Aku khawatir sama kamu!’
‘Sorry, Beb! I’m sick. I feel like I just need fresh air,’ jawab Maya sembari tersenyum kecut.
‘Are you okay, Beb? Jangan bilang kalau sekarang kamu lagi di pantai!’ semprot Sherly dengan melototi Maya saat ia mengarahkan kameranya ke arah laut.
‘Are you crazy? Katanya kamu sakit, tapi kenapa harus ke pantai? May, sumpah deh. Aku tidak paham dengan sikap kamu.’
‘Please, jangan keras – keras. Nanti kedengaran sama yang lainnya,’ timpal Maya menempelkan jari telunjuknya yang lentik ke bibirnya.
‘Habisnya kamu bikin aku penasaran,’ protes Sherly.
‘Sherly, sudah ya. aku tutup. Supaya aman kita chat saja, bye,’ putusnya mengakhiri panggilan video dengan Sherly yang kelihatannya sudah tidak sabaran untuk segera mengetahui apa yang telah terjadi dengannya hingga dia memilih nonkrong di pantai pada jam efektif kerja seperti hari ini. Apalagi ini hari pertama pergantian CEO, yang seharusnya Maya berada full di kantornya untuk menjaga kemungkinan kalau sang CEO baru memerlukan dirinya.
Dengan cekatan jari-jemari Maya menari-nari di atas keyboard ponselnya yang bermerk Oppo, keluaran terbaru tahun ini. Ia mengirimkan pesan agar mereka bertemu di rumahnya untuk makan siang dan tentu saja Sherly yang tingkat penasarannya sudah mencapai ubun-ubunnya pun setuju dengan ajakan itu. Maya juga berpesan agar tidak memberi tahukan keberadaanya jika ada yang bertanya, termasuk Xander, CEO baru mereka.
Kring… kring… kring …. Telefon kantor yang berada di atas meja kerja Sherly berdering.
‘Helo, dengan Sherly di sini. Ada yang bisa yang bisa di bantu?’ jawab Sherly lugas layaknya seorang operator yang telah berpengalaman.
‘Sherly, apa kamu sudah mengetahui keberadaan Maya?’suara bariton Xander yang berat terdengar dari ujung telefon.
‘Belum, Pak! Sejak tadi Maya belum menjawab panggilanku,’ jawab Sherly sesuai permintaan Maya.
‘Apa dia sudah pulang ke rumah? Coba kamu menghubungi nomor rumahnya,’ perintah Xander, membuat Sherly semakin gregetan dan penasaran.
‘Sudah, Pak. Kata orang rumah, Maya tidak ada di sana.’
‘Kemana itu orang. Hufftt… sudah. Terima kasih,’ ujarnya memutuskan panggilannya dengan frustasi.
Tepat pukul dua belas siang, Sherly meraih tasnya dan berjalan menuju tempat parkir, mengeluarkan kunci motor Honda Vario berwarna krem miliknya, hendak mengendarai menuju rumah Maya untuk makan siang sesuai ajakan Maya. Namun saat gadis itu hendak menancap gas, Xander telah menghalanginya dengan berdiri tepat di hadapannya.
“Simpan motormu dan ikutlah denganku.”
“Maksud bapa?”
*To be continued...