005 Teka-teki

1292 Words
Tepat pukul dua belas siang, Sherly meraih tasnya dan berjalan menuju tempat parkir, mengeluarkan kunci motor Honda Vario berwarna krem miliknya, hendak mengenderai menuju rumah Maya untuk makan siang sesuai ajakan Maya. Namun saat gadis itu hendak menancap gas, Xander telah menghalanginya dengan berdiri tepat di hadapannya. “Simpan motormu dan ikutlah denganku.” “Maksud bapa?” tanya Sherly tak paham. “Ayok, jangan banyak bicara. Nanti kamu bakal tahu,” ujar Xander serius. “Ma’af, Pak! Aku tidak bisa. Aku sudah ada appointment dengan teman aku untuk makan siang Bersama,” tolak Sherly memberi alasan. “Ajaklah temanmu agar kita bisa makan siang bertiga,” ujar Xander masih dengan nada dingin dan wajah kakunya. “Maaf, Pak! Teman aku lagi sakit di rumahnya. Aku harus segera mengunjunginya untuk makan siang bareng dengannya.” “Siapa teman kamu? Maya kan?” tanya Xander dengan nada sedikit menginterogasi membuat jantung Sherly berdegup keras. Ada sedikit kebimbangan di benaknya untuk mengatakan yang sebenarnya, karena Maya telah memperingatinya untuk tidak mengatakan pada siapa pun tentang keberadaannya. “Bukan, Pak! Ma’af, permisi. Aku duluan ya,” ujar sherly dan segera kembali menancap gas menuju rumah Maya, sahabatnya. Tak ingin mati penasaran, Xander bergegas masuk ke dalam mobilnya dan mengikuti motor Sherly dari jauh. Gadis itu tidak menyadari kalau Xander tengah mengawasi dan mengikutinya dari belakang. Pria macho dengan tinggi badan seratus tujuh puluh lima sentimeter dan berwajah oriental itu berusaha menjaga jarak agar Sherly tak mencurigainya. Namun sialnya, saat tiba di lampu merah, Sherly lolos membelokkan motornya ke salah satu perempatan jalan dan menghilang dari pantauan Xander. Dengan kesal ia memukuli stir mobilnya. ‘S**t, kemana Sherly?’ umpatnya dalam hati. Karena ia telah kehilangan jejak Shrely, maka ia memutuskan untuk melaju ke restaurant favouritenya yang telah menjadi pilihannya selama seminggu berada di kota ini. * Maya terlihat sedang gelisah menunggu kehadiran sahabatnya, Sherly. Berkali-kali ia menenggok keluar ke pintu gerbang rumahnya hanya memastikan kedatangan sahabatnya itu. Beberapa menit kemudian Sherly akhirnya tiba dan memarkirkan motornya di depan rumah Maya yang dipenuhi dengan berbagai macam bunga. “Sher, kamu kok lama amat,” protes Maya saat Sherly melangkah masuk ke dalam rumahnya. Mereka telah lama bersahabat, hingga rumah Maya sudah dianggap seperti rumahnya sendiri. “Kamu aja yang enggak sabaran, May. Aku pikir aku tiba tepat waktu kok,” ujar Sherly mengerutkan keningnya. “Iya, sudah! Sekarang kita makan ya,” ajak Ana, mamanya Maya seraya mempersilahkan kedua gadis itu untuk duduk Bersama di meja makan. “Anita di mana, Ma?” tanya Maya. Anita adalah salah satu relasi jauhnya Maya. Selama ini Anita menumpang di rumah Maya dan mamanya untuk melanjutkan sekolahnya, karena orang tuanya tinggal di sebuah desa terpencil yang letaknya sangat jauh dari kota. “Anita sedang ada di kamarnya. Katanya lagi demam. Tadi mama sudah memberinya obat penurun panas. Biarkanlah dia beristirahat,” jawab Ana menjelaskan sembari menyodorkan piring yang berisi ayam goreng kepada Sherly. “Oh,” ujar Maya singkat. “Terima kasih, Tante. Ayamnya enak sekali,” puji Sherly. “Masakan tante memang tiada duanya. Pantas saja Maya lebih kerasan makan di rumah ketimbang di luar,” lanjutnya. “Ah, biasa saja, Sherly. Kamu kelewatan pujinya. Sebentar tante bisa kenyang dengan pujianmu, Nak Sherly, hihi,” ucap Ana sambil tersenyum ramah dan tertawa kecil. “May, dimakan dong nasinya. Masa hanya diaduk-aduk begitu doang.” “Maya belum lapar, Ma. Kalian makan saja dulu. Aku mau ke dalam dulu,” pamit Maya sambil berlalu ke dalam kamarnya. “Ayo dimakan, Nak Sherly. Ini ditambah ya nasinya,” ujar Ana sembari menyuapi makanan ke dalam mulutnya. “Oh, iya, Sherly, bagaimana acara ulang tahunnya semalam?” lanjutnya bertanya. “Acara ulang tahun semalam? Ulang tahun siapa?” ucap Sherly balik bertanya. Ia bingung dengan pertanyaan tante Ana. Baru saja Ana hendak layangkan pertanyaan pada Sherly, Maya berjalan dengan tergesa menuju meja makan. Rupanya ia sempat mendengar pertanyaan mamanya pada Sherly. Maka dengan cepat ia menyenggol kaki Sherly memberi kode agar ia yang akan menjawab pertanyaan mamanya. “Oh, itu Sher, acara semalam. Acaranya biasa saja kan? Hanya ada beberapa teman,” ujaran Maya asal masih dengan posisi kakinya yang menyenggol kaki Sherly. “Eh, iya, tante. Biasa saja, kok,” ujarnya membeo ucapan Maya. Gadis ini menangkap kalau Maya pasti menyimpan sesuatu, hingga tingkahnya sangat aneh sejak tadi pagi di kantor hingga saat ini. “Oh, baiklah. Sherly, Maya itu semalam pulangnya hampir jam dua dini hari. Saat dia pulang tante mencium bau alcohol dari mulutnya. Makanya tante tanya, acara semalam itu bagaimana?” lanjut Ana menginterogasi. “Kan sudah Maya jelasin, Ma. Mama masih saja bertanya yang aneh-aneh,” ujar Maya menimpali ucapan mamanya. Hati Maya mulai tak tenang. Mamanya pasti semakin mencurigainya, apalagi tingkah Sherly yang sepertinya ragu untuk menjawab pertanyaan mamanya. “Sudah, Ma. Sekarang kami berangkat ke kantor ya, Ma. Berhubung tadi pagi ada pertukaran CEO, jadi kami harus tepat waktu masuknya. Nanti mama minta Anita bantuin mama beresin meja makannya ya, Ma.” “Baiklah. Kalian hati-hati di jalan. Mengenai semua ini tidak usah dipikirkan. Ini sudah menjadi pekerjaan mama.” “Sher, kita berangkanya pakai mobil aku saja ya, motor kamu biar diparkirkan di sini saja,” ujar Maya setelah mereka berdua berada di teras rumahnya. “Memang kenapa? May, terus terang aku bingung dengan kamu. Sumpah !!!” Tanpa menghiraukan ocehan Sherly, Maya bergegas menuju mobil, menghidupkan mesin, menyuruh Serly untuk masuk dan segera menancap gas, berlalu menuju jalanan umum yang ramai. Terik matahari siang itu cukup menyengat kulit. Maka mau tak mau ia pun harus menyalakan AC untuk mencegah pelu mereka bercucuran di dalam mobil. “Kita mau kemana, May?” tanya Sherly masih diliputi rasa penasaran. “Ma’af, Sher. Sebenarnya tadi aku pengen curhat dengan kamu di rumah. Tapi melihat gelagat mama, aku jadi tidak enak mau ceritain sama kamu di rumah. Makanya aku ajak kamu keluar,” ujar Maya mulai berkunang. Hatinya ngeri membayangkan kejadian yang dilaluinya semalam bersama Xander di night club itu. “Lho, memangnya ada apa? Jangan buat aku semakin penasaran, May,” kejar Sherly. “Bagusnya kita kemana ya?” tanya Maya. “Aku ingin menenangkan diri aku dulu, Sher,” lanjut Maya seraya menginjak rem dengan tiba-tiba karena ada sebuah mobil melaju dengan cepat dan menyalip mereka. “Ahh, sial. Siapa orang itu?” umpat Maya seraya memaki orang itu. “May, itu bukannya mobil pak Xander?” seru Sherly tak kalah kaget kala kedua netra pekatnya mengenali mobil yang menyalip mereka dan terparkir tepat di jalur yang harus mereka lalui. Maya terlihat pucat pasi seketika saat Xander membuka pintu mobilnya dan berjalan ke arah mereka berdua. “Selamat siang, Nona! Apa kabar?” sapa Xander seraya menyodorkan tangannya ke arah Maya. Gadis itu gugup dan berusaha mengalihkan perhatiannya dari pria di hadapannya yang telah sah menjadi CEO di kantornya pagi ini. Sherly yang tidak tahu apa-apa hanya terbengong menyaksikan pemandangan di depannya. “Ma’af. Saya baik-baik saja. Tolong tepikan mobil tuan, karena saya mau melewati jalan ini,” ujar Maya ketus. “May, pak Xander ini atasan kita, Maya! Respect dong ah. Sejak kapan kamu…” “Sherly, kamu duduk manis saja, ya! tidak usah ikut campur. Ini urusan aku, Ok,” seru Maya memotong kata-kata Sherly, membuat Sherly makin tak paham dengan apa yang telah terjadi di antara sahabat dan atasannya. “Ok, ok! I see. Sekarang saya minta dengan hormat pada nona berdua untuk segera menuju ke kantor, karena kita akan ada meeting mendadak. Tidak ada kata ‘no’. Ini perintah atasan,” titah Xander, segera bergegas menuju mobilnya dan menancap has menuju kantornya. “May, sebenarnya ada ada?” rajuk Sherly semakin bingung. “Sherly, aku dan dia telah…” “Telah apa? Ayo dong, May… ngomong.” *To be continued ....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD