“Ok, ok! I see. Sekarang saya minta dengan hormat pada nona berdua untuk segera menuju ke kantor, karena kita akan adakan meeting mendadak. Tidak ada kata ‘no’. Ini perintah atasan,” titah Xander, segera bergegas menuju mobilnya dan menancap gas menuju kantornya.
“May, sebenarnya ada apa?” rajuk Sherly semakin bingung melihat gelagat kedua orang itu.
“Sherly, aku dan dia telah…”
“Telah apa? Ayo dong, May… ngomong.”
“May, sekarang kita ikuti dulu dia ke kantor. Nanti akan aku ceritakan sama kamu,” ujar Maya seraya menancap gas mengikuti arah mobil Xander menuju kantor mereka.
Setibanya di kantor, Maya memarkirkan mobilnya di samping kantor, karena tempat yang biasa ia parkirkan mobilnya telah dihuni oleh mobil Xander.
“Sher, tuh lihat! Tempat parkirku diambil,” gerutunya dengan dongkol.
“May, hal sekecil ini pun kau permasalahakan?” timpal Sherly bingung.
Kedua wanita cantik itu bergegas masuk ke dalam gedung besar berlantai tiga tersebut. kelihatannya semua pegawai telah berkumpul di ruang meeting yang digunakan pagi tadi.
“Kenapa sih mesti adakan meeting dadakan seperti ini? Baru hari pertama kerja sudah buat kesal,” gumam Maya hampir tak kedengaran. Sherly hanya berdecak kebingungan seraya mengekorinya dari belakang.
“Selamat siang semuanya,” sapa Xander memulai sambutannya yang dijawab serentak oleh semua yang hadir.
“Please, apologize me, karena meeting ini dadakan. It’s just suddenly. No plan before,” ujarnya dengan aksen foreiger yang kental, meminta ma’af karena sebenarnya meeting itu tidak ada dalam agenda hari ini.
“Ok, actually, disini saya hanya mau semua pegawai di perusahaan ini memperkenalkan diri dan jabatan saat ini serta menyampaikan tugas-tugas inti dari jabatan tersebut.”
Semua pegawai yang hadir saling berpandangan satu sama lain. Bukankah pagi tadi sudah ada sesi perkenalan sebelum eks CEO handover posisi ini kepadanya?
“Saya persilahkan dari sisi kiri saya, please. It’s your chance,” lanjutnya melirik ke arah kiri di mana Maya dan Sherly berada dan mempersilahkan mereka untuk memperkenalkan diri. Dengan sedikit canggung Maya berdiri dan mulai memperkenalkan dirinya.
“Baiklah. Terima kasih atas kesempatan yang diberikan kepada saya untuk menjadi orang pertama yang harus memperkenalkan diri kepada CEO baru kita, Mr. Alexander. Nama lengkap saya Maya Mutiara, di sini saya menjabat sebagai sekretaris pribadi CEO. Terima kasih,” ucapnya cepat. Keinginannya untuk menghempaskan kembali bokongnya ke atas kursi yang didudukinya terhenti saat suara sang CEO kembali bergema.
“Maya Mutiara. What a beautiful name! Perkenalan anda belum lengkap. Wanna know your status as well. It’s very important to expand your career,” titahnya dengan wajah datar dan dingin. Entah mengapa suara Xander saat ini bagaikan petir disiang bolong. Maya mulai unsecure dengan posisinya, menyesali kesalahan terbesar yang telah dilakukannya.
Dengan gugup ia kembali berdiri tegap dan melanjutkan perkenalannnya.
“I’m sorry, seharusnya ini privacy setiap orang, terlebih western harusnya tidak menanyakan pertanyaan semacam ini. Tapi, baiklah! Karena ditanyakan oleh CEO, maka saya akan menjawabnya. I’m still single, thanks.” Telihat Xander mengangkat sebelah bibirnya hingga membentuk sebuah senyuman indah yang tak dapat diartikan oleh semua pegawai yang hadir, terlebih Maya.
Xander sudah sangat yakin, kalau wanita ini memiliki maksud tertentu dari kejadian semalam. Tapi apa itu? mengapa ia rela mengorbankan kehormatannya? Apakah ia tahu bahwa dirinya adalah CEO baru di perusahaan ini sehingga semalam ia berusaha menjebaknya? Entahlah...
Saking Xander larut dengan pikirannya, ia hampir lupa untuk mempersilahkan Sherly dan yang lainnya untuk memperkenalkan diri.
“Ok, next,” ujar pendek dan kembali larut dengan pikirannya.
“Thanks for the chance. Nama saya Sherly Melati, jabatan saya adalah bendahara dan saya pun masih single, terima kasih,” ujar Sherly dan kembali menduduki kursinya.
“Thank you, Sherly! Next.”
“Terima kasih buat waktunya. Saya Marino Akbar. Jabatan saya sebelumnya adalah wakil CEO, tapi sekarang saya belum tahu, saya akan ditempatkan di mana oleh Mr Alexander. Untuk status saya saat ini, sedang menduda karena istri dibawa lari oleh orang lain. Terima kasih.”
Mendengar penuturan Marino, spontan membuat Maya dan Sherly tersipu malu karena secara langsung kedua wanita cantik itu telah mengatakan jabatan mereka waktu kemarin bersama dengan eks CEO, Mr Rudiyanto.
Setelah semuanya mendapat giliran untuk memperkenalkan diri, Xander mulai angkat bicara.
“Thank you so much for the introduction. Untuk yang merasa dirinya menjabat sebagai sekretaris pribadi saya, harap segera datang ke ruangan saya setelah meeting ini kelar,” ujarnya dengan angkuh dan wajah yang kurang bersahabat, spontan membuat Maya bergidik ngeri.
Andai ia tahu siapa laki-laki asing ini sebelumnya, mungkin ia tidak akan pernah berani memintanya untuk menidurinya.
Usai berkata demikian dengan melebarkan langkahnya tanpa menghiraukan semua mata yang masih terpaku memandang Maya, Xander bergegas menuju ruangannya yang berada di lantai tiga.
“May, ikut sana!” Sherly menyikut Maya seraya memonyongkan bibirnya ke arah langkah Xander. Maya bergidik ngeri. Bagaimana jika Xander mengungkit kejadian semalam. Dalam hatinya ia berdoa agar agar Xander tidak mengenalinya.
“Ok, Sher. Tapi berdua ya?” ajak Maya menarik pergelangan tangan Sherly.
“Setahuku yang tadi diminta untuk menemuinya itu adalah sekretaris pribadinya, bukan bendaharanya. Jadi, kenapa harus mengajak aku, May?” tanya Sherly menepiskan tangan Maya. Sherly sendiri masih diliputi sejuta tanya di benakknya, ia bingung dengan gelagat Maya saat ini. Sebab tidak biasanya Maya bertindak konyol di hadapan semua staff apalagi sampai mengajaknya untuk bertemu seorang CEO. Itu bukan sifat Maya yang ia kenal.
“Sher, kamu sahabat aku kan? Ayolah. Masa kamu biarkan aku sendirian?” rengek Maya membuat Sherly dan Marino saling menatap tak mengerti.
“May, bagaimana jika saat aku masuk, dia mengusirku? Karena tadi yang diminta kan hanya kamu. Bukan yang lainnya,” tegas Sherly membuat Maya membungkam. Akhirnya masih dengan pikiran tak menentu, ia melangkahkan kakinya menuju CEO’s room yang berada di lantai tiga dengan menggunakan lift.
Tok… tok…tok… Maya mengetuk pintu dari luar setelah ia mantapkan hatinya.
“Please, come in. Pintu tidak dikunci,” terdengar suara barinton yang berat dari dalam ruangan yang sebenarnya dianggap biasa-biasa saja selama ini, namun telah berubah menjadi angker seketika dengan kehadiran sang CEO baru ini.
Cekle…ekk. pintu dibuka dan Maya sambil menundukkan wajahnya menuju meja Xander, sementara Xander sengaja duduk membelakangi meja kerjanya dengan memutar kursi kebesarannya berhadapan dengan dinding ruangan yang mewah.
“Permisi, Sir! Ada yang mau dibicarakan?” tanya Maya unsecure.
“Iya, silahkan duduk, Nona cantik,” jawab Xander seraya membalikkan kursinya menghadap Maya.
Deg… jantung Maya hampir terlonjat keluar saat mata elang itu menatapnya lekat-lekat dari ujung rambut hingga ujung kakinya.
“How are you, Nona?” suara bariton itu kembali bergema, membuyarkan perasaan Maya yang sedang tidak menentu.
“Nama saya Maya, bukan Nona. Tolong panggil saya Maya,” ujar Maya sedikit ketus dengan nada suara yang sengaja ditinggikannya.
“Yes, your real name is Maya Mutiara. Tetapi nama anda ketika di night club adalah Nona bukan?” sindir Xander dengan nada yang sama sekali tidak ingin didengarkan oleh Maya.
"What? Sir mungkin salah orang. Ma'af," ujar Maya gemetar dan membalikkan badannya untuk segera keluar dari CEO's room, tetapi dengan cepat dicegat oleh Xander.
"Duduk dulu. Saya tidak mungkin salah orang," tukasnya penuh percaya diri.
"Hmm..." Maya hanya bisa bergumam tanpa berkutik.
*To be continued ....