Bab III

1652 Words
Matahari terbit menyapa bumi. Di kota tempat tinggal Shayna, orang orang sudah mulai disibukkan dengan pekerjaan dan aktifitas. Jalan jalan tampak begitu macet, para karyawan sudah berdatangan ke gedung tempat mereka bekerja, ada juga yang tampak berlari karena terlambat. Sebuah taksi berhenti tepat di depan bangunan tinggi. SDW GROUP, Surya Darmawan group " Nona, kita sudah sampai" ucap pak supir taksi membangunkan Shayna, memberi tau jika mereka sudah sampai di gedung perkantoran tempat Shayna bekerja sesuai arahan Shayna tadi. " Heuuum" Shayna membuka matanya mengerjap beberapa kali " Kita sudah sampai" ulang pak supir Shayna menatap kaca jendela, melihat sekeliling. Lalu ia mengalihkan pandangan ke layar kecil di depannya, memperlihatkan harga taksi yang harus ia bayar " Terima kasih sudah membangunkan ku" ucap Shayna lalu merogoh tasnya untuk mengambil uang dan memberikan dua lembar kepada pak supir taksi. Ruang luas itu terdapat beberapa meja partisi kantor. Dibatasi oleh kaca tempered clear dari ruang divisi berbeda. Shayna duduk di kursi meja kerjanya, wajahnya tampak pucat dan beberapa kali terlihat memegangi perutnya menahan mual Dari ujung tampak seorang pria berjenggot sedang berbicara dengan seorang karyawati. Pria itu memegangi dagunya seolah paham dengan apa yang di ucapkan karyawati itu. Kemudian mata pria itu menatap kedepan dan mendapati Shayna yang juga terkejut sekaligus takut dengan pria itu. Pria itu langsung melangkah panjang menuju meja kerja Shayna. Melihat itu Shayna semakin ketakutan " Nona Shayna!, kenapa kau malah duduk di sini?! Bukankah seharusnya kau menghadiri rapat dengan klien? " Bentak pria itu mengalihkan beberapa orang karyawan " Ya ampun, aku lupa, pak. Aku benar benar lupa" jawab Shayna khawatir " Kau lupa atau datang terlambat,?!" " Kau membiarkan dia berdiri begitu lama di bawah teriknya sinar matahari? Kau ingin kulit klien kita menjadi gelap hingga istrinya tidak mengenalinya lagi, hah?" " Tapi, dia bisa menungguku di tempat yang teduh kan, pak" sahut Shayna mengesah " Apa kau bilang?! Kau sudah salah malah masih berani menjawab, hah?!" Muncratan saliva pria manager ketika memarahi Shayna itu membuatnya semakin mual. Ia menutup mulutnya menahan rasa ingin muntah " Huek!" " Ada apa denganmu, hah?!..." Shayna hanya menggerakkan satu tangannya ke kanan dan kiri sambil menggelengkan kepala . Sedangkan tangan satunya menutup mulut Tteeett Tteeett Tteeett Pengeras suara yang menempel di tengah atap ruangan itu berbunyi dengan nyaring Setiap jam sembilan pagi, para karyawan dan karyawati di gedung itu harus melakukan senam pagi. Saat suara itu terdengar nyaring semuanya berdiri bersiap melakukan gerakan senam yang di pandu oleh suara musik dari pengeras suara. Para karyawan dan karyawati itu serempak meletakkan tangannya di pinggang. Kepala mereka bergerak miring kekanan dan kiri, lalu pinggul di putar setengah badan kekanan dan kiri, kemudian kepalanya bergerak berputar, mereka juga meletakkan kedua tangan di lutut yang sedikit menekuk dan merapatkan lutut lalu berputar putar. Senam gerakan itu membuat pak manager bisa melihat jelas b****g para karyawati, ia sengaja mengambil posisi di tengah, dan masih banyak lagi gerakan hingga suara musik itu selesai. Shayna berdiri tepat di belakang manager, ia sudah tidak tahan lagi dengan rasa mual nya. Dan tepat ketika musik berhenti, " Hueeekkk!!" Shayna muntah mengenai pakaian bagian belakang sang manajer. Sontak manager menoleh ke belakang dengan raut wajah sangat geram. Shayna panik, " Maaf pak, maafkan aku" " Aku benar sungguh tidak sengaja" Shayna lalu berlari menuju toilet untuk menuntaskan segala yang ingin keluar dari mulutnya. *** Setelah seharian ini di marahi dan di maki habis habisan, akhirnya jam pulang tiba. Shayna berjalan gontai menuruni tangga " Shayna, apa kau baik baik saja?" Tanya Sonia yang berpapasan dengan Shayna. " Ya, aku baik" jawab Shayna lemas " Baiklah, aku duluan ya" pamit Sonia Shayna tersenyum tipis sambil mengangguk menanggapi Di samping gedung, di sebuah halte bus, Shayna dan banyak karyawan kantor menunggu angkutan umum. Ketika sebuah angkot lewat mereka berhamburan saling berebutan masuk ke dalam angkot hingga Shayna tidak bisa ikut. Ia menghembuskan napas panjang karena tertinggal, jadi ia harus menunggu angkot selanjutnya. Tak lama angkot yang di tunggu datang, penumpang sudah berdesakan di dalam sana Shayna harus duduk berhimpitan dengan penumpang lain. Setelah turun dari angkot, ia masih harus naik bus besar, Shayna harus naik dua kali lagi bus besar dan satu kali ojek motor untuk sampai di rumahnya yang berada jauh di pinggir kota. Ia harus berdiri karena tidak mendapatkan tempat duduk di dalam bus. Ada seorang penumpang berdiri di belakangnya dengan kedua tangan terangkat berpegangan pada besi atap bus, membuat aroma ketiak sore hari menyeruak masuk kedalam penciumannya. " Huueeekk!" Shayna menoleh ke belakang, mendongak dan melirik ke arah pria bertubuh besar yang berdiri di belakang Shayna, pria itu menatapnya dengan tajam. Tersinggung dengan sikap Shayna Perjalanan selama tiga jam menggunakan angkutan umum sangat melelahkan. Pukul delapan malam Shayna baru sampai dirumah. Ia membuka pintu perlahan Tampak Nene, ibu dan adik perempuan Shayna tengah menonton sinetron favorit mereka. " Aku pulang" ucap Shayna, namun tidak ada yang menjawabnya Mereka nampak fokus pada layar televisi. Shayna ikut duduk di samping ibunya, lalu mencium punggung tangan ibu dan nenek " Hari ini sangat melelahkan, Bu. Aku harus berganti empat kali transportasi umum" Shayna mengeluh pada ibunya " Ibu, apa kata ayah tentang mobilku?" " Apa ayah masih marah padaku?" Ibunya sama sekali tidak menggubrisnya. Shayna menghela napas, lalu ia ikut menonton televisi, kini ia mulai terbawa cerita " Ibu, kenapa dia marah kepada wanita yang satunya lagi?" Shayna bertanya " Itu karena wanita yang berambut sebahu itu adalah wanita baru, padahal mereka sudah lamaenjalin hubungan dengan saudarinya. Tapi pria itu selingkuh sampai menikahi wanita itu" jawab ibunya penuh antusias. Shayna menoleh kesamping melihat rambutnya yang juga sebahu, ia berdecak dalam hati kenapa wanita jahat dalam film itu harus memiliki rambut sebahu seperti dirinya? " Iya, benar. Kasian sekali istri pertamanya" Tania, adik Shayna yang tengah memijat kaki nenek ikut menimpali ' aku bertanya mobilku kalian tidak ada yang mau menjawab, tapi cerita itu...kalian sangat hapal...' batin Shayna mendumel Ia lalu beranjak dari duduknya melangkah gontai menaiki anak tangga menuju kamarnya. Kakinya pincang karena ketika naik ojek motor tadi lututnya sempat terbentuk belakang mobil, tukang ojek itu sangat kencang mengendarai motornya. Juga saat akan turun, sepatunya tersangkut pada celah trotoar hingga patah. Tapi Shayna bersyukur karena sepatu yang patah bukan salah satu sepatu mahal koleksi nya. Shayna membuka blazer lalu merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Hari pertama tanpa mobil yang sangat melelahkan. Shayna berusaha memejamkan mata, namun ia tidak nyaman dengan tubuh yang lengket. Ia pun kembali bangun, melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Shayna duduk di pinggir ranjang, ia meraih ponselnya menggeser icon berwarna hijau. Ia akan menceritakan keluh kesahnya pada Yola. Namun ia kembali mematikan sambungan, shayna akan mengenakan pakaian terlebih dahulu sebelum menelepon sahabatnya. Di apartemen Yola, Yola menggelengkan kepala sambil mengerutkan keningnya. " Ada apa?, Siapa yang meneleponmu?" Tanya Dandi " Shayna, tapi dia mematikan sambungan teleponnya,?" " Sudahlah, biarkan saja. Dia akan menghubungimu lagi, nanti. Lebih baik kita lanjutkan saja kegiatan ini" Dandi kembali naik ke atas tubuh Yola, mencium bibir Yola, melumatnya. Lalu ciuman itu bergulir ke leher, Dandi menghisap leher Yola " Aaahhh" Mereka sedang cuti bersama sejak menikah. Entah sudah berapa kali kedua pasangan pengantin baru itu melakukan penyatuan. *** Setelah mengenakan pakaian, Shayna membuka pintu kaca balkon kamarnya, lalu ia membuka kaleng bir. Shayna menyembunyikan beberapa kaleng bir dikamarnya. Sambil menjepit ponselnya dengan bahu hingga menempel di telinga, ia akan menghubungi Yola lagi. " Aaakkkhhh, sayang...sebentar, aku harus menjawab telepon dulu" ucap Yola sudah menggeser icon hijau sehingga Shayna bisa mendengar desahan Yola. Dandi terus menghentakkan pinggulnya maju mundur, sementara Yola berbicara dengan Shayna. " Hai, ah..." " Yola, apa yang kau lakukan?" Tanya Shayna " Aku tidak melakukan apapun!" " Baiklah, sedang apa kau?" " Aku tidak sedang melakukan apapun, hanya tiduran saja di ranjang, kenapa kau tidak percaya padaku?" " Lalu dimana suamimu?" " Ada, dia sedang di atas" " Lalu kau dimana jika dia diatas?" Shayna bertanya bodoh " Tentu saja aku di bawah, dan sepertinya sebentar lagi aku akan bertukar, aku yang di atas" sahut Yola sambil melirik dan mengedipkan mata menggoda pada Dandi " iya dia bersamamu, tapi apa yang sedang suamimu lakukan saat ini?" Shayna bertanya sangat ingin tau " Dia ada di atas tubuhku!" jawab Yola lalu tergelak tawa. " Menyebalkan!" Shayna yang tadinya bingung kini mengerti " Sudah, jangan merajuk seperti itu...sekarang katakan bagaimana pekerjaanmu hari ini?" Shayna menghembuskan nafas panjang " Hari ini sangat melelahkan. Kau tau? Ayahku menyita mobilku. Aku sangat kesulitan pergi ke kantor..." Shayna menceritakan semua yang terjadi hari ini. Termasuk di marahi, dimaki, banyak kesalahan dalam pekerjaannya, melupakan meeting dengan klien, juga ketika ia pulang dari kantor. Semua Shayna ceritakan sedetail mungkin pada Yola. Namun ketika tengah asik bercerita, Shayna mendengar suara yang tidak enak di telinganya. " Yola, apa kau mengerang atau mendesah?" " Tidak, Dandi sudah menyelesaikannya sejak tadi" " Menyelesaikan apa maksudmu?" " Kau tau apa yang dilakukan pengantin baru, bukan?" Shayna terdiam berusaha menajamkan pendengarannya. Suara itu terdengar begitu dekat. Ia menjauhkan ponsel dari telinganya, memastikan suara desahan. Kemudian Shayna menempelkan ponsel di telinganya lagi. " Yola, Yola, tunggu. Aku akan menghubungimu lagi" Tut Tut Shayna memutuskan sambungan teleponnya ketika Yola tengah berceloteh menceritakan keseruan malam pertamanya. " Aaahhh...ooouuuhhh...ooouuuhhh...ini nikmat sekali sayang, akh..." Suara desahan itu terdengar lagi. Shayna mencari arah suara, ia melongok ke bawah, namun tidak menemukan siapapun. Kemudian ia melongok ke balik dinding, yang bertepatan dengan balkon kamar Tania, adiknya. Ia menyalakan senter dari ponselnya. Shayna membelalakkan matanya sempurna ketika melihat adiknya terlentang di lantai dengan kaki mengangkang lebar. Seorang laki laki terlihat jelas sedang menghentak pinggulnya memasukkan miliknya ke dalam inti milik Tania. Sementara mulutnya menyusu seperti bayi di d**a besar Tania " Astaga!! Aaaaaaaaa!!" Shayna menjerit sekencang kencangnya melihat pemandangan yang tersuguh di depan mata, membuat kedua sejoli itu menoleh ketakutan lalu si laki laki segera menegakkan tubuh dengan posisi kaki masih bertumpu pada lutut, dan dengan cepat ia menaikkan celananya yang diturunkan sebatas paha. Shayna spontan menutup mulutnya dengan kedua tangan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD