Chapter 13

875 Words
Prilly berjalan menuju kelasnya, pagi ini ia sedang bersemangat untuk menghadapi ulangan matematika dijam pertama, walaupun ia tak yakin bisa menghadapinya karna kemarin ia tak ada jadwal belajar dengan Ali. Namun perjalanan Prilly menuju kelasnya terasa terganggu dengan tatapan beberapa siswa yang memenuhi koridor. Kenapa pandangan mereka terlihat berbeda. Prilly tak pernah ditatap seperti ini sebelumnya. Yang membuat Prilly makin risih adalah karna tatapan ini bukan tatapan menyapa, atau tatapan bersahabat, namun lebih tatapan mencemooh dengan senyum miring. Prilly mencoba meneliti penampilannya, tak ada yang salah. Lalu apa yang salah? Pandangan Prilly kembali terganggu saat melihat mading yang tak jauh darinya terlihat ramai, tak seperti biasanya. Perlahan Prilly berjalan menuju mading karna merasa penasaran. Namun saat Prilly sudah mendekat ke mading, para siswa itu menatapnya kemudian saling berbisik dan terkekeh. Ada yang tak beres. Prilly berusaha tak menghiraukan tatapan mereka lalu melihat kearah mading. Mata Prilly membulat sempurna melihat apa yang terpampang di mading. Fotonya dengan sebuah tulisan di bawahnya yang membuat nafas Prilly memburu. Si otak udang, yakin bisa lulus tahun ini? Prilly mengambil kertas yang tertempel dimading itu lalu meremasnya kuat-kuat. Ditatapnya tajam orang-orang disekitarnya yang tampak meremehkannya. Dengan emosi yang sudah sampai di ubun-ubun, Prilly langsung bergegas menuju tempat orang yang ada dibalik semua ini. Entah kenapa hanya satu nama itu yang terlintas di pikirannya. Panggilan otak udang yang pernah ia dengan keluar dari mulutnya. Prilly sangat yakin ini ulahnya.     ***     BRAK!!!!     Suara gebrakan meja yang menggema di seisi kelas itu membuat Ali yang sedari tadi fokus pada bukunya kini mendongakkan kepalanya melihat siapa yang sudah mengganggunya. Seorang gadis sedang berdiri dihadapannya dengan mata menyala dan rahang mengeras menandakan bahwa ia benar-benar sedang marah. “Maksud lo apa nempelin ini di mading?” Pertanyaan itu keluar dari mulut Prilly dengan nada berteriak sambil melemparkan kertas yang sedari tadi membuat nafasnya memburu di hadapan Ali. Ali mengambil kertas itu lalu membacanya. “Apa yang salah, emang benarkan?” Jawaban santai Ali itu membuat Prilly makin di kuasai emosinya. Kenapa lelaki ini bisa sesantai itu? Tahukan ia apa yang ia perbuat itu salah? “Gue pikir kita udah temenan, gue pikir kita udah bisa jadi partner belajar yang baik, ternyata gue salah. Lo tetap cowok genius yang sengak! Lo tetap cowok genius yang menyebalkan.” “Teman? Lo pikir gue mau temenan sama cewek otak udang kayak lo?” Prilly mengepalkan tangannya kuat-kuat. Tanpa berbicara apa pun lagi Prilly langsung keluar kelas. Roboh sudah pertahanan Prilly, air matanya langsung jatuh membasahi pipinya. Air mata itu pertanda dari suasana hatinya saat bibir sudah tak sanggup mendeskripsikannya lagi. Prilly berlari kearah toilet. Menangis sejadi-jadinya. Kenapa semuanya tiba-tiba seperti ini? Kenapa Ali kembali berubah menjadi monster bahkan lebih ganas? Prilly kira setelah malam itu mereka akan bisa berteman baik. Prilly bahkan sempat berpikir bahwa ia bisa mengembangkan perasaan nyamannya selama ini pada Ali. Tapi kenapa semuanya berbeda?     ***     Lala menggandeng tangan sahabatnya itu memasuki kantin. Susah payah ia merayu Prilly agar ke kantin untuk melewati jam istirahatnya. Lala sudah mendengar semuanya, sebenarnya ia juga tak mau memaksa Prilly, namun Prilly tetap harus makan, dan ia juga merasa sangat lapar kini. Prilly menghela nafas kasar mencoba menghiraukan segala macam tatapan menilai dari pada siswa. Ia tahu sekarang di pikiran mereka Prilly hanya seorang murid yang bodoh, dan semuanya itu karna Ali yang memperjelas semuanya. Prilly dan Lala memilih duduk di bagian sudut kantin. Lala harus ikut menahan emosi melihat tatapan tak menyenangkan untuk sahabatnya. “Eh si otak udang makan juga, makan yang bergizi dong, biar pinteran dikit,” sahutan salah seorang itu membuat emosi Prilly tak tertahan. Dengan emosinya Prilly mendatangi seseorang itu. Di ambilnya segelas teh es manis itu kemudian menyiramkannya pada seseorang yang sudah membuat ia emosi yang Prilly tahan susah payah meledak juga. “Dengar ya Ali Junio Darrez! Si genius songong. Lo gak berhak buat ngejudge gue! Lo gak tau apa-apa tentang gue, dan lo gak usah sok pintar, gue bisa aja ngalahin kepinteran lo kalau gue mau,” ucap Prilly pada orang itu yang tak lain adalah Ali. Ternyata sedari tadi Ali berada di kantin juga bersama teman-temannya. Ali tersenyum sinis mendengar ucapan Prilly. “Ngalahin gue? Yakin? Dengan kemampuan yang lo punya sekarang?” Tanya Ali meremehkan. Prilly menggertakkan giginya geram. “Yakin. Lo bukan lawan yang susah buat gue,” balas Prilly menantang. Ia hanya ingin lelaki dihadapannya kini berhenti meremehkannya. “Oke, kita buktiin. Gak usah terlalu susah untuk buktiinnya. Akhir minggu ini sekolah kita akan mengadakan cerdas cermat bertaraf olimpiade. Jadi soal-soal yang akan di bahas lebih kurang hampir sama dengan soal yang sering ditemui di olimpiade. Gue tantang lo buat ngelawan gue. Gue bakal atur biar di cerdas cermat ini cuma ada kita,” tantang Ali membuat Prilly tercekat. Cerdas cermat? Melawan Ali? Akhir minggu ini? Bagaimana bisa? “Gimana? Kalau lo menang, gue bakal berhenti buat ngatain lo otak udang dan lo bisa buktiin kesemua murid di sekolah ini kalau lo lebih baik dari gue,” ucap Ali membuat Prilly berpikir keras apa yang harus ia lakukan. “Oke,” balas Prilly akhirnya membuat Ali tersenyum lega. Tak ingin berlama-lama di hadapan Ali, Prilly langsung bergegas pergi. “Mulai sekarang kita bukan partner belajar lagi. Tapi rival,” ucap Ali. Prilly menghela nafas kemudian melanjutkan perjalanannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD