POV AILEEN
Drrtt.. Drrtttt..
Bunyi hp-ku terus saja berbunyi, membangunkan aku dari tidur nyenyakku.. padahal aku ingin bermalas-malasan di hari libur ini. Setelah dua minggu aku sibuk mengerjakan proyek pembangunan Apartemen yang di berikan Papa Gerry hingga larut malam, setiap hari hanya berkutat dengan sketsa-sketsa gambar bangunan. Aku mengambil hpku dan menggeser tombol hijau di layar.
“Hallo..” Sapaku
‘Lama banget sih leen angkatnya.. tangan gue sampe pegel tau gak sih'
“Apaan sih na.. pagi-pagi udah ngoceh aja, gue baru bangun” Sahutku
‘Pagi palah lo.. udah siang ini leen, lo gak lihat sekarang udah jam 9. Cepetan siap-siap gue jemput.. gue mau ajak lo jalan ke Mall cari baju, Nanti malem Daniel ngajakin gue Dinner'
“Berdua aja kan..” Tanyaku
‘Iya.. gue bawa mobil sendiri, oke gue tutup ya'
Aku menghembuskan nafas lega.. untung Arion gak ikut, gue masih malu kalau harus ketemu dia.
Ya.. sudah 2 minggu setelah kejadian itu aku terus menghindarinya selain karena aku sibuk, aku juga jarang membalas pesannya.
Entahlah rasanya aku benar-benar malu dengan kejadian itu, karena aku bisa-bisanya terlena dengan ciumannya bahkan membalasnya. Aku takut dia berpikir aku perempuan gampangan, karena mau saja di cium oleh laki-laki yang tidak memiliki status hubungan apa-apa.
Tapi aku tau, gak mungkin juga aku terus menghindarinya. Di satu sisi aku merindukannya, rindu kebawelannya, rindu celotehannya yang membuat hari-hariku tidak lagi sepi. Lalu aku bergegas mandi, kalau tidak.. Nana pasti ngomel setiba di sini kalau aku belum siap. Heran aku-nya kok bisa Kakak beradik kompak sekali bawelnya.
Setelah lelah mengelilingi Mall dan mendapatkan gaun untuk Nana, kami memutuskan pulang karena hari sudah sore. Nana mengajakku mampir di rumahnya dan seperti biasa aku tidak bisa menolaknya.
Saat kami berdua masuk rumah, tiba-tiba Nana menghentikan jalannya di ruang tengah. Dia kelihatan terkejut sambil menutup mulut dengan kedua telapak tangannya. Dan ketika aku mengikuti arah pandangannya.
Jdarrrr...
Kakiku begitu lemas melihat pemandangan itu di depan mataku, rasanya ada ribuan belati yang menusuk hatiku.. sakit.. kecewa..
Entahlah.. perasaanku saat ini tak bisa aku ungkapkan dengan kata-kata.
Melihat sepasang manusia yang berbeda jenis kelamin saling b******u dengan panasnya di sofa ruang tengah, mereka adalah pria yang selalu mengganggu pikiranku selama dua pekan ini dan seorang perempuan yang entah siapa aku tak mengenalnya.
“Arion Putra Nagendra..” Teriakan Ariana menggema, yang menyadarkan keterkejutanku.
Sontak saja ke dua orang yang asyik b******u itu langsung menghentikan kegiatan mereka dan langsung menoleh ke arah kami. Dapat aku lihat wajah syok Arion waktu menatapku dan gelapan salah tingkah.. aku memilih untuk memalingkan muka tak ingin melihat wajahnya.
“Kak..” kata Arion gugup berjalan mendekatiku kami.
“Siapa lagi cewek itu?” Bentak Ariana.
“Aku pacar Arion kak..” Cicit pelan cewek itu berdiri di samping Arion.
“Apa gak ada tempat lain lagi apa.. sampai lo m***m di rumah ini, kalo bunda tau gimana hah.. bisa-bisa sakit jantung bunda kumat karena ngeliat kelakuan anaknya kayak gini” Hardik Ariana sambil memijit pelipisnya, sedang Arion hanya diam melihat kakaknya marah sesekali melirik padaku tapi aku selalu memalingkan muka ketika dia melihatku.
“Ayo leen kita ke kamar aja..” Ariana menyeret aku naik ke kamarnya. Aku cuma bisa pasrah mengikutinya karena aku masih terlalu syok dengan kejadian tadi, yang masih terekam jelas di ingatanku.
Pov. End
***
POV ARION
Gue gak tau harus bilang apa.. gue benar-benar syok dan linglung, bukan karena kedatangan kak Nana. Karena kak Nana sudah tau seperti apa kelakuan brengsekku.
Tapi Aileen yang ikut datang ke rumah saat aku dan gladis becumbu dengan panasnya, membuat gue takut.. entah sudah berapa lama dia menyaksikan kejadian itu di depan matanya sendiri.
Dapat gue lihat tatapan matanya yang kosong, tapi menyiratkan luka dan kekecewaan yang mendalam. Padahal kami tidak punya hubungan apapun tapi entahlah.. gue sendiri juga tidak tau tentang perasaan gue sendiri kayak apa,
yang gue tau.. hati gue juga ikut merasakan sakit ketika melihatnya seperti itu.
Semua itu karena Gladis, cewek itu yang mencoba merayu dan menggoda gue. Awalnya gue tidak tergoda dan tidak membalas saat dia mencium gue dulu karena bagi gue rasanya begitu hambar beda ketika gue mencium Aileen.
Tapi perempuan itu begitu pandai memancing hasrat gue.. tangannya yang nakal mulai mengelus-elus Arion junior dengan begitu lihainya, yang membuat nafsu gue langsung naik dan membalas ciumannya dengan tak kalah panasnya.
“Arion..” Suara Gladis menyadarkan lamunan gue.
“Mending lo pulang dulu deh dis.. lo lihat sendiri kan kakak gue marah besar”
Pikiran gue benar-benar sedang tidak baik-baik aja, dari pada nantinya gue melampiaskan kemarahan gue pada Gladis.
“Lo gak mau nganterin gue dan ngelanjutin yang tadi” Sempat-sempatnya tuh cewek ngomong gitu, kalo bukan cewek udah gue hajar dari tadi.
“Lo bisa datang kesini sendiri, jadi lo juga pasti bisa pulang sendiri!” Ucap gue penuh penekanan, karena gue benar-benar sudah mulai emosi.
“Ok.. sampai ketemu besok ar..” Pamitnya tapi gue gak memerdulikannya, yang ada di pikiran gue gimana cara jelasinnya ke Aileen tentang kejadian tadi.
“Bi, mau di bawa kemana minuman itu?” Tanya gue pada bibi waktu ngliat dia membawa nampan berisi minuman ke atas.
“Untuk neng Aileen den..” Jawabnya.
“Biar saya saja bi yang anterin” Langsung saja gue ambil nampan itu dan bergegas ke kamarnya kak Nana.
Ketika gue masuk, dapat gue lihat Aileen yang duduk bersandar di kepala kasur sambil memandangi langit kamar dengan pandangan kosong bahkan dia tidak mendengar gue masuk dan menaruh nampannya di atas nakas.. sedang kak Nara gak ada, mungkin dia sedang di kamar mandi.
Dan itu kesempatan gue menarik tangan Aileen untuk ikut agar gue bisa menjelaskan semuanya.
“Ay.. Maaf.. itu tadi tidak seperti yang kamu lihat.. aku bisa menjelaskan semuanya Ay.. dia tadi yang coba merayu dan menggodaku Ay.. kamu percaya kan sama aku” Gue mencoba menjelaskan padanya.
Dia malah tertawa tapi sesaat kemudian ekspresi wajah cantiknya berubah menjadi sangat dingin dengan pandangan sinis.
“Lo gak perlu capek-capek jelasin.. Lo dan gue siapa? Pacar bukan, tunangan bukan, apalagi istri juga bukan, jadi apapun yang lo lakukan ITU bukan urusan gue!” katanya tegas penuh penekanan.
“Oh ya.. dan juga.. gue lihat, lo sangat menikmatinya bahkan sangat.. b*******h!” lanjutnya dengan senyum mengejek.
“Ini gak seperti yang kamu pikirin Ay.. awalnya aku sama sekali tidak membalas waktu dia menciumku duluan tapi..” Tiba-tiba dia menyahut ucapan gue sebelum menyelesaikannya.
“Oh.. gue inget, bukan kah seperti situasi kita. Gue cium lo duluan dan lo tergoda hemm.. begitupun sekarang.. begitu KAN!” Katanya menyindirku.
“Arion Putra Nagendra yang selalu di elu-elukan semua cewek, begitu KAN!” lanjutnya dengan senyum mengejek.
“Tapi hanya bisa bermodal tampangnya saja.. tanpa punya HATI! Hingga bisa mainin dan mengambil keuntungan dari seorang cewek!” Lanjutnya, yang membuatku diam mematung mendengar setiap kata-katanya yang menyentil diri gue. Seburuk itukah gue di matanya..
“Leen.. gue cariin ke mana-mana ternyata di sini.. apa yang lo bicarain berdua?” Tanya kak Nana tiba-tiba datang.
“Ion tadi cuma tanya gue.. lo masih marah apa enggak sama dia, udah ayo pergi keburu malam..” Dia yang menyahut pertanyaan kak Nana dan berlalu pergi menyeret lengan kak Nana pergi.
Pov. End