5. a Way to Go

1391 Words
Mercedes hitam itu memasuki perkarangan gedung mewah setelah menempuh kecepatan di atas rata-rata. Kai tahu bahwa dia telat hampir satu jam lebih, dan salahkan Clara karena gadis itu penyebab utama dia datang terlambat hari ini. Penjaga pintu membukakan pintu mobilnya dengan penuh sopan santun, well, setidaknya dia tidak perlu memarkirkan mobil kesayangannya tersebut di gedung parkir yang akan memakan waktu lebih lama lagi. Selalu ada 'Parkir khusus Dewan Direksi' tepat di depan gedung. Kai berjalan sedikit terburu-buru memasuki gedung bertingkat 30 tersebut, meskipun tidak akan ada yang berani memarahinya, disiplin merupakan ciri khas utamanya sejak dulu. Tapi, seseorang menabrakkan dirinya ke tubuh Kai dan membuat pria itu reflek menyangga tubuh orang itu. Kai menatapnya sebentar, kemudian ketika melihat raut wajah nya, Kai tahu bahwa gadis ini sengaja melakukan itu. Oh ayolah, dia tidak punya waktu untuk berbasa-basi seperti ini. Dengan segera dia melepaskan sanggahannya. "Maafkan kecerobohanku, Pak!" ucap karyawan wanita itu dengan nada khawatir tapi masih dibuat manis. Kai hanya menghela napas kesal kemudian mengucapkan "Ya, tidak apa-apa." Sebelum pergi begitu saja dari gadis itu, yang beberapa temannya menyaksikan di belakang dengan senyum gembira karena gadis itu gagal dan kalah telak untuk mendapatkan nomor telepon Direktur paling tampan dan hot yang pernah mereka temukan. Persaingan kali ini tidak di menangkan oleh siapa-pun setidaknya. 'Siapapun yang bisa memiliki Kai adalah orang paling beruntung di-dunia.' Begitu-lah kesimpulan yang ada diotak hampir seluruh perempuan yang pernah melihatnya. Dari segi fisik, harta, moral, tidak ada yang kurang sedikitpun dari pria muda itu. Well, mungkin kekurangannya hanya satu dan tidak semua orang mengetahui ini. Dia tidak lagi tahu bagaimana cara menggunakan hati nurani-nya dengan baik. *** Itu adalah hari lain di kantor yang membosankan. Kai melihat ke arah jam tangannya, 20 menit lagi waktu istirahat makan siang akan berakhir. Dia berpikir sebentar, kapan-pun pikirannya kosong, itu pasti berakhir dengan Clara. Ah, bagaimana dengan vibrator dalam tubuhnya? Dia tersenyum menyeramkan ketika mengingat gadis itu benar-benar tidak berdaya di bawah kuasanya. Terakhir kali dia melihat gadis itu, dia tahu bahwa Clara akan menjadi miliknya. Miliknya yang akan ia gunakan kapanpun dia senang, miliknya yang bisa ia mainkan ataupun ia rusak. Seolah-olah Clara di tempatkan di bumi ini hanya untuknya. Dia bisa melakukan apa saja terhadap gadis itu dan tidak seorangpun yang bisa melindungi gadis itu dari-nya. Tidak akan ada seorangpun yang bisa membuat gadis itu pergi dari-nya. "She is perfect, my perfect toy." Kai bergumam sendirian. Dan kebutuhan untuk mengambil kunci mobilnya dan segera menemui gadis itu benar-benar dia perangi dengan susah payah. Setiap detiknya dia merasa ingin segera pulang dan bermain dengan gadis itu. Dan dunianya akan terasa indah setelah melihat gadis itu...tersiksa. "Oh s**t!" Pria itu reflek menyerapahkan itu ketika mengingat sesuatu. Dia belum memberinya makan dan vibrator dalam selangkangannya mungkin masih bereaksi. Meskipun dia tahu bahwa Clara tidak akan mati bahkan jika ia tidak memberikan makan 3 hari sekalipun, dia tetap memutuskan untuk berlari dari ruangannya dan meninggalkan kantornya. *** Kai memasuki ruangan yang di dalamnya seorang gadis tak berdaya langsung bergidik ngeri setelah menyadari kehadirannya dengan nampan yang berisi sepaket makanan dan minuman. Is she afraid of me that much? "Hello, ma Cherie." Dia mendekati gadis itu disertai senyum malaikatnya. Gadis itu masih menatapnya dengan begitu was-was. Dia mengeluarkan vibrator yang ia letakkan tadi pagi ke dalam selangkangannya yang basah total, Kai bahkan sempat memainkan jarinya di sana, membuat Clara menggeliat frustasi. "Look, you are a real slut." "I am not a slut. You raped me!" "Seriously, kau masih mau melawan?" Clara menggeleng histeris, tidak sanggup menerima kegilaan Kai lebih lanjut lagi. Melihat kondisi Clara yang memprihatinkan, Kai bersedia melewatkan pembangkangan barusan, mungkin akan ia balas di lain waktu, saat kondisi Clara lebih baik dari ini. Dia kemudian meletakkan asal piring dan mangkuk di atas tempat tidur Clara, "eat that," perintahnya. Clara hanya menatap makanan yang disediakan Kai, semuanya adalah favoritnya, tapi dia sama sekali tidak ingin makan. Bisa saja Kai meletakkan racun ataupun obat pada makanannya yang bisa membuat ia menuruti semua kemauan pria tak waras itu. Tapi Clara sama sekali tidak mengisi perutnya 2 hari terakhir. Jadi dia harus memilih untuk mati kelaparan atau mati keracunan. "Kau membuat tanganku tidak dapat bergerak," ingatnya. Kai tertawa, seperti itu benar-benar menggelitik indra pendengarannya. "Baiklah, aku akan melepaskanmu." Dia membuka ikatan simpul pada tangan gadis itu sedangkan Clara merasa lega dengan pilihannya kali ini. jika saja tadi dia memilih keras kepala dan tidak mau memakan itu semua ataupun melawan kemuan pria itu, Kai pasti akan menyiksanya lagi, seperti yang selalu ia lakukan. "Aku ingin mandi terlebih dahulu," pintanya, berusaha tenang. Keberuntungan di pihaknya sekali lagi. Kai mensetujui hal itu dan mempersilahkan Clara membersihkan tubuhnya. Dengan susah payah karena badan yang nyeri dan pegal setengah mati, gadis itu berhasil sampai di kamar mandi pada akhirnya. Di dalam kamar mandi gadis itu terus berpikir. Apakah ada jalan kabur dari sini? Seperti dalam film-film penculikkan yang pernah ia tonton, kamar mandi adalah peluang kabur yang terbaik. Well, penderitaannya tidak akan berakhir jika dia tetap disini. Tapi kamar mandi ini hanya tertutupi dinding dan satu jendela kecil yang ditutupi tralis. Sekeras apapun dia memutar otak, dia tetap tidak menemukan jalan keluar. Tentu saja Kai tidak akan mengizinkannya ke kamar mandi dengan begitu mudah jika tidak seketat ini. Clara melihat kearah kaca westafel yang memantulkan setengah bayangan dirinya. Memar berada hampir diseluruh bagian tubuhnya yang kelihatan. Dia betul-betul terlihat kacau balau. Bibir sedikit luka dan terdapat bekas merah jambu pada pipinya. Lengannya juga tak kalah nyala. Kemeja Kai yang kebesaran dibadannya tentu memperlihatkan bekas-bekas hickey dan gigi Kai. Ketika dia menanggalkan kemeja itu, dia dapat menyaksikan bagaimana bagian-bagian itu terlihat jauh lebih parah. Airmata hampir kembali tumpah dari mata indahnya. Tapi dia menahan itu dan memutuskan untuk melupakan semuanya. Menyangkal realita dan mematikan rasa. Bisakah aku bersikap tenang sebentar saja? Aku pasti memiliki jalan untuk kabur. Aku yakin itu. Dia bergumam dalam hati seiring tetesan-tetesan air membanjiri tubuhnya yang kotor. Beberapa luka yang belum kering itu memang terasa semakin nyeri ketika air itu mencoba untuk membersihkannya. Kenapa hidupnya harus sehancur ini? Kenapa dia? *** Kai membuka paksa pintu kamar mandi karena telah menunggu satu jam lebih. Gadis itu tidak mungkin kabur, kan? Tentu saja dia telah membuat keamanan dalam rumah ini tidak terjangkau oleh gadis bodoh itu. Clara hanya berdiri kaku didekat pintu. Handuk putih melapisi tubuh putih gadis itu hingga setengah paha. Air masih berjatuhan dari rambutnya yang basah. Dan dia terlihat agak kedinginan. Sementara Kai memperhatikan dirinya dari atas hingga bawah secara seductive. 'Is she just teasing me?' "What the hell are you doing there?" tanya Kai datar, kemungkinan dia akan kehilangan control sebentar lagi. Clara ini selalu berhasil membuatnya naik darah. "A...aku tidak memiliki baju ganti," balas gadis itu cepat, sedikit panik. Dia menunjuk ke arah kemeja pria itu yang telah basah karena percikan air. Sedangkan Kai menatapnya dengan tatapan yang tak dapat ia simpulkan. Beberapa saat kemudian Kai membuka kancing kemejanya dengan terburu-buru, membuat Clara kembali harus merasakan takut yang begitu parah. Dia semakin mengeratkan genggamannya pada handuk yang sudah basah tersebut, tanpa dia sadari kakinya bahkan mundur sedikit demi sedikit. Apakah Kai akan memperkosanya lagi? Kai melepaskan kemeja biru mudanya dengan kasar, membuat tubuhnya hanya terlapisi kaos putih tipis. Kemudian ia melemparkan kemeja tersebut kearah Clara, "Kau bisa memakainya," ucapnya datar. Kai tidak tinggal disini, jadi wajar jika dia tidak memiliki persediaan pakaian apapun di rumah ini. Pria itu sekali lagi menatap tubuh Clara dari atas hingga bawah, demi langit dan bumi, tidak seorang-perempuan pun yang nyaman ditatap seperti itu oleh pria apalagi ketika badannya hanya dilapisi handuk yang basah. "Aku akan membeli pakaian-mu. Makanlah dan pastikan semuanya beres setelah aku kembali," perintahnya. Clara baru bisa bernapas dengan baik ketika punggung Kai menjauh dari hadapannya. Apakah dia meninggalkanku begitu saja? Tanpa ikatan dan kurungan sama sekali? Clara menggenggam erat kemeja keluaran Armani tersebut. Dia segera melepaskan handuknya dan mengganti itu dengan kemeja biru muda milik Kai, walaupun hanya mampu menutupi tubuhnya hingga seperempat paha. Dia mencoba membuka pintu kamar tersebut dan membuatnya mengeluarkan senyum puas. Apakah Kai seceroboh ini? Setelah keluar, dia berjalan-jalan melihat keadaan rumah ini. Lumayan besar dan tertata rapi, meskipun tampaknya ini merupakan rumah lama. Dia langsung berlari menuju jendela terdekat, meskipun rasa nyeri masih sangat menyiksanya. Keadaan diluar benar-benar sepi. Apakah ada yang mendengar jika dia berteriak sekencang mungkin, haruskah dia mencoba? Clara berpikir sebentar dan berjalan kearah pintu keluar. Ketika dia mencoba mendorong salah satu pintu, dia terkejut bukan main karena pintu itu berhasil terbuka. Perasaan senang luar biasa tentu saja menyambutnya. She could escape from Kai. She could go out from this hell, from this nightmare.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD