Kai berjalan menelusuri department store yang begitu luas, pandangannya terus melihat-lihat kearah bagian rak yang berbeda. Dan dia merasa clueless, lelaki itu bahkan tak ingat kapan terakhir kali dia berbelanja.
Beberapa gadis datang mendekat karena melihatnya yang kebingungan, gadis-gadis itu terlihat ragu pada awalnya akan tetapi setelah memastikan bahwa pria itu benar Kai, mereka langsung merapikan rambut salon mereka dengan segera dan memberikan senyum semanis mungkin ketika Kai menangkap keberadaan mereka.
"Ada yang bisa kami bantu, Pak?" tanya gadis dengan rambut kuning dan bermata boneka, mereka berebut untuk sampai dihadapan pria itu lebih dulu. Kai ingat, satu dari gadis ini adalah gadis yang menabrak-nya tadi pagi, dia bersama dengan dua temannya yang lain, yang dia yakini juga berkerja di kantor yang sama dengannya.
3 orang gadis itu memperhatikan Kai dengan terkagum-kagum, pria itu terlihat jauh lebih sexy dan tampan dengan kaosnya, memperlihatkan tubuh matangnya yang begitu menggoda. Demi apapun, direktur mereka ini adalah segala hal yang mereka idamkan dalam pria.
"Apa kalian tahu tempat baju wanita?" tanya Kai to-the-point. Setidaknya orang-orang menyebalkan ini mungkin berguna untuk sekarang.
Mereka mengangguk serentak, "Baiklah, saya akan mengantar anda." Gadis-yang-pernah-ia-tabrak-itu langsung memegang tangan Kai dengan gerakkan manja. Reflek Kai melepaskan itu sembari menatapnya tajam. "Don't touch," desisnya datar. Gadis itu terkejut dan merasa tersentak dengan perlakuan Kai, begitu juga dengan temannya.
Buru-buru gadis itu kembali menguasai keadaan, "Maaf," ucapnya masih mencoba manis, "Bagiannya ada disebelah sana." Dia berjalan, diikuti oleh Kai dan dua temannya yang berbisik-bisik di belakang.
"Disini tempat-nya, Pak." Gadis itu berhenti di tempat yang dicari Kai sedari tadi. Sedangkan pria yang diajak berbicara itu hanya menganggukkan kepalanya sedikit dan berucap "Terimakasih, Natasha." tanpa pengindahan lain. Kemudian dia berjalan meninggalkan mereka bertiga yang langsung heboh membicarakannya.
"Astaga, darimana dia tahu namaku?" Gadis yang dipanggil Natasha itu langsung bersemu merah dan beranggapan bahwa Kai juga diam-diam menyukainya seperti di drama-drama. Oh ayolah, dia bahagia bukan main.
"Tentu saja, kau lupa melepas nametag-mu, Natasha bodoh." Satu temannya mengingatkan, membuat semangatNatasha yang awalnya setinggi langit langsung jatuh ke tanah.
"Pria itu benar-benar dingin!" gadis yang lainnya berkomentar.
"Tapi pria dingin selalu terlihat lebih keren. Aku makin menyukainya." Natasha menanggapi dengan senyum yang terus terukir diwajah cantiknya.
"Kau tidak lupa jika kau sudah punya Marvin Louis?"
Jihyo cemberut ketika temannya menyebut nama itu, "Aku akan meninggalkan dia demi Kai." Gadis itu berkata antara main-main dan serius kemudian melipat kedua tangannya didepan d**a.
Dua temannya yang lain memutarkan bola mata mereka, "Yasudah, mari bersaing kalau begitu."
"Kalian tidak akan menang bersaing denganku."Natasha berkata angkuh. Tapi temannya tahu tentang itu. Soal body, wajah, dan skill mendapatkan pria,Natasha memang jauh lebih baik dan berpengalaman daripada mereka berdua. Dan dia termasuk tipe-tipe gadis yang akan disukai pria-pria dengan mudah.
"Kita bertiga tidak akan menang, kurasa Kai sudah memiliki kekasih. Lihat? Dia sedang membeli pakaian untuk kekasihnya."
"Oh s**t!" Natasha mengutuk kesal,” kata ibuku, selama orang yang aku inginkan masih bernapas, aku masih tetap memiliki kesempatan untuk mendapatkannya," ucapnya sembari tersenyum percaya diri. Tidak ada yang mengerti apa yang ada diotak gadis itu. Dia merupakan kekasih dari Marvin Louis, pria tampan dan hartanya berlimpah, seharusnya gadis seperti Natasha merasa cukup dengan pria itu. Tapi gadis itu selalu ingin lebih.
Temannya yang barusan berkata menggeleng-gelengkan kepalanya beberapa kali, "Well, aku juga tidak akan mundur kalu begitu," cicitnya sambil mengikuti gaya angkuh Natasha, "Ayolah kulit tan dan tubuh tegapnya benar-benar membuatku ingin menyentuh itu semua," lanjutnya dengan mata berbinar.
"Begitu juga dengan-ku."
Bukankah dunia ini selalu ironis? Disaat seseorang sangat tidak mengharapkan sesuatu, yang lainnya bermimpi besar untuk memiliki itu.
***
Semetara itu Kai menunjuk semua baju, celana, rok, dress yang tertangkap oleh pandangannya dan membuat Karyawan yang tengah meladeninya sedikit terkejut dengan hal itu,. Karyawan perempuan itu hanya mengangguk menuruti perintah, merasa senang, namanya akan tertulis di nota dan dia akan mendapatkan banyak bonus karena hal ini.
Ketika pria itu ingin membayar, dia teringat bahwa ia juga harus membeli beberapa pakaian dalam untuk Clara, meskipun ia jauh lebih suka jika gadis itu tidak menggunakan apa-apa. Well, Clara terlalu memabukkan hingga selalu membuatnya berpikiran kotor dimana-mana.
Dia berjalan ke bagian pakaian dalam wanita dan menunjuk beberapa bra, celana dalam bahkan lingerie. Kai tahu bahwa mukanya sudah sedikit memerah karena karyawan yang bekerja di bagian itu menatapnya curiga. "Dalam ukuran apa, sir?"
Kai berpikir sembari mengingat-ingat bentuk tubuh gadis itu. Well, dia tahu semuanya tentang gadis itu. Berapa tinggi badannya, ukuran pinggang, ukuran d**a, apa yang disukainya ataupun apa yang tidak dia sukai. Kai mengetahui segalanya dengan begitu baik. Dan itu bukanlah keuntungan buat gadis itu ketika Kai mengetahui apa yang ia benci.
Dia mengeluarkan kartu kreditnya dan menyerahkan itu kepada kasa, "she is going to pay back for it." dia menyeringai untuk pikirannya tersebut.
***
Pria itu memasuki rumah yang ia tinggalkan sejak beberapa jam yang lalu. Letaknya di daerah yang begitu sepi, hanya ada beberapa rumah yang menjadi tetangga dan itu sepertinya juga jarang ditempati. Banyak preman atau penjahat yang berkeliaran tak jauh dari sana, membuat semakin sedikit orang yang rela melewati jalan disekitarnya.
Kai turun dari Benz hitam miliknya dan masuk ke-dalam rumah tersebut, pria itu hanya menyadari bahwa dia tidak mengunci pintu. Tanpa rasa curiga sedikitpun, dia pergi ke kamar Clara dan mendapati makanan yang ia sediakan belum tersentuh sama sekali.
"Did she really go?" dia bertanya sendiri. Kai menurunkan seluruh barang yang ia beli ke lantai. Pria itu lalu mengecek ke kamar mandi dan seluruh bagian rumah ini dengan begitu santai. Setelah mendapati bahwa hasilnya nihil, dia menghela napas dalam-dalam. Tak lama kemudian seringai jahat terukir dibibirnya yang berisi, "Selamat datang di permainanku Clara, aku akan membuatmu mengerti bahwa kau benar-benar berada di neraka sekarang."
Tentu saja Kai tidak seceroboh itu, membiarkan gadis itu berkeliaran bebas sementara yang ada dipikirannya hanyalah pergi sejauh mungkin dari dirinya, dia pasti akan melakukan berbagai cara untuk keluar. Dan Kai memberikan kemudahan dan kesempatan yang begitu baik dengan tidak mengunci pintu. Well, dia melakukannya dengan sengaja. Kalau saja gadis itu memilih untuk tetap diam, Kai berniat untuk tidak melakukan apa-apa terhadapnya selama seminggu ke depan. Akan tetapi yang dilakukan oleh Clara tentu sesuai dugaannya. Gadis itu begitu menyenangkan karena setelah ini dia akan menerima akibat dari perbuatan bodohnya.
"Let's see Clara, how far you can go." desisnya dingin.
***