Hari itu tidak cerah dan tidak juga mendung. Matahari akan tenggelam sebentar lagi. Setelah mengaktifkan kembali handphonenya dan menghubungi Nathan, gadis itu merasa bahwa titik terang benar-benar akan menghampirinya. Pria bermata besar itu datang tepat waktu, setidaknya mobil merah keluaran Jepang yang ia dapati dari hasil kerja-nya sebagai jaksa telah terparkir didepan Clara sebelum si pria psikopat itu datang mendapati mereka berdua.
Dengan detak jantung yang belum stabil, gadis pucat itu masuk ke dalam sana, mengunci cepat pintu mobil, suara paniknya meminta Nathan segera menginjak pedal gas lalu pergi sejauh mungkin dari tempat yang bagaikan neraka baginya.
Nathan urung mengeluarkan pertanyaan yang sudah ia simpan sejak tadi dan mengikuti apa mau gadis itu. Pria itu sering mendengar desas-desus bahwa jalan disekitar sini sama sekali tidak aman, karena itu otaknya tak henti tanyakan bagaimana bisa Clara sampai kemari. Sambil menyetir, ia melirik Clara sekilas. Tubuh putihnya basah oleh keringat-Nathan yakin jika ia sudah menghidupkan AC dengan derajat paling tinggi, matanya kemerahan, bibirnya bengkak-seperti habis kena pukul ataupun digigit, lehernya terdapat beberapa bekas hickey yang kentara, sedangkan pakaian yang ia gunakan sekarang hanyalah kemeja lelaki yang kebesaran ditubuhnya. Gambaran seorang gadis mengenakan kemeja lelaki memang selalu sexy, tapi Clara juga terlihat begitu terrible sekarang.
"Ji, kau baik-baik saja, kan?" tanyanya hati-hati. Orang i***t-pun juga tahu jika keadaan Gadis itu jauh dari kata 'baik-baik saja'. Dalam hati Nathan terus memohon pada Tuhan semoga Gadis yang telah lama menjadi sahabat baiknya tersebut tidak mengalami hal yang dia takutkan.
Clara tidak menjawab, pandangannya kosong seperti berada jauh kedepan sana.
Nathan menghela napas dalam-dalam kemudian menembak Clara dengan sebuah pertanyaan tepat sasaran, "siapa yang melakukannya kepadamu?" meskipun ia mencoba tenang, kemarahan tetap tersirat dari nada suaranya yang lembut. Jaksa muda itu sudah mengerti dari awal apa yang tengah dialami Gadis itu, bahkan sejak Clara menelponnya dengan suara ketakutan dan panik, dia hanya tak ingin membuat semuanya menjadi nyata. Denial tidak ada gunanya lagi sekarang. Dia merasa bersalah, tentu saja. Seandainya ia bisa datang lebih cepat dari ini, mungkin dia bisa mengubah sedikit keadaan. "I will find and kill him for everything sake." Setelah Nathan mengeluarkan perkataan marah-nya tersebut, air mata Clara tak dapat ia bendung lagi. Apakah begitu jelas jika dia sekacau itu?
"I am fine. At least I can escape from him."
Pria itu tidak dapat berkonsentrasi dengan mobil yang melaju begitu kencang dan pikiran kacaunya tentang hal yang baru saja terjadi terhadap sahabatnya ini. Kenapa ini harus terjadi kepada Clara, orang terdekatnya? Setelah Clara mengeluarkan kalimatnya yang barusan. Kening Nathan berkerut bingung, "Do you know him?"
Ya, tentu saja Clara mengenalnya. Seorang businessman sukses dengan banyak penghargaan, pintar, terkenal, dan kerap kali dibicarakan oleh banyak orang akhir-akhir ini. Citranya begitu baik, awalnya Clara termasuk yang percaya itu. Jika saja Clara menyebutkan nama itu sebagai si penjahat, apakah Nathan akan mempercayainya?
Clara memilih diam terhadap pertanyaan Nathan barusan. Pria itu mewajarinya karena perasaan trauma pasti sedang menguasai Clara sekarang, "let's report it to the police." Nathan menetapkan. Tapi buru-buru Clara menggelengkan kepalanya tidak setuju. Ada banyak hal yang membuat Gadis malang itu merasa ragu, karena yang menimpanya sekarang sama sekali tidak semudah itu.
"I am fine, really. Antarkan saja aku ke rumahku," pintanya lemah. Dengan berat hati, Nathan membatalkan niatnya tersebut. Dia tahu bahwa Clara tidak akan siap untuk di intograsi. Gadis itu butuh istirahat untuk memulihkan pikirannya. Dan dia tahu betul bahwa Clara tidak baik-baik saja seperti yang ia ucapkan. Sesuatu dalam diri Nathan ingin bertindak egois, dia ingin segera membawa kasus ini kemeja hijau dan membuat penjahat busuk itu menerima hukuman seberat mungkin. Tapi kesaksian Clara adalah segalanya. Siapapun tidak dapat bertindak banyak jika Clara tak mau membuka mulut.
"Kau harus membantuku menemukan orangnya, Clara. Karena pria seperti itu sama sekali tidak pantas hidup."
Clara berterimakasih sangat banyak kepada Nathaniel. Dia merupakan satu-satunya sahabat lelaki yang mengenalnya begitu baik, yang selalu menemaninya dikeadaan apapun-meskipun ia sibuk akhir-akhir ini, yang tidak meninggalkannya ketika ia berada di titik terendah kehidupan. Mereka sudah mengenal sejak SD, SMP dan bertemu kembali di Universitas yang sama. Hubungan mereka yang begitu dekat membuat tak sedikit yang menduga bahwa keduanya merupakan sepasang kekasih. Tapi Clara sama sekali tidak memiliki kemampuan untuk memberitahukan Nathan apa yang terjadi, memberitahukannya siapa yang melakukan itu kepadanya.
Entahlah, terlalu sakit untuk mengungkit pun menceritakan. Dia terlalu dipenuhi oleh rasa takut.
Pria itu mengantarkannya sampai ke depan pintu flat yang Clara tempati sebelumnya. Ia sudah tiga hari menghilang, apakah ayah dan adiknya khawatir? Gadis itu mengetuk pintu beberapa kali, tapi tak ada sahutan. Dengan senyum lemah, dia mengucapkan terimakasih kepada Nathan dan menyuruh pria itu segera pulang, waktu sudah hampir malam dan pria berwajah polos itu pasti memiliki banyak agenda.
"Kapanpun kau siap, kau harus memberitahuku semuanya. Aku berjanji akan melindungimu," ucapnya kalem.
Sekali lagi Nathan memastikan apakah Gadis itu baik-baik saja, pada akhirnya punggungnya menjauh dari sana. kembali meninggalkan Gadis itu sendirian dalam ketakutan
***
Ketika Clara keluar dari kamarnya, waktu sudah menunjukkan pukul 6 pagi. Gadis itu sudah mandi dan mengganti baju setelah semalam ketiduran dengan begitu pulas di kasurnya.
Dia belum menemukan keberadaan ayahnya tadi malam. Sedangkan Juan baru saja keluar dari kamarnya dengan masih menguap dan mata sedikit terpejam. Tetapi matanya langsung terbelalak ketika menangkap sosok Clara, terdapat kebencian tersirat disana
"Kakak, kenapa kau kembali?" tanyanya polos. Anak berumur 8 tahun itu terlihat marah kepadanya.
Gadis itu mendekatinya. Pertanyaan yang keluar dari bibir adiknya tentu membuat dirinya tersentak dan merasa aneh, meskipun ia sering iri terhadap pria kecil yang cerewet itu, tidak pernah mereka serius saling membenci, "Ayah bilang kau kabur setelah melakukan sebuah kesalahan yang besar. Kau juga yang menyebabkan ibu pergi," ucap Juan seraya mundur beberapa langkah, seperti melihat sosok monster pada diri kakak gadisnya.
Clara menggeleng beberapa kali. Ayolah, dia baru saja mengalami kejadian tragis dan ketika pulang....kenapa semuanya menjadi begini? Yang dia dapati jauh dari kata khawatir, seperti yang seharusnya ia dapatkan sekarang.
"Apa yang kau lakukan disini, b******k?" suara itu terdengar marah diiringi dobrakkan pintu yang begitu kasar. Clara melihat kebelakang dan mendapati ayahnya berdiri disana, berjalan mendekatinya dan yang pria tua itu lakukan selanjutnya sama sekali tak terduga. Ia baru saja menampar pipi anak gadisnya.
Clara menatap ayahnya dengan penuh tanya, airmata dan rasa sesak sudah berada di tingkat terujung. Karena melihat Juan yang ketakutan, Richard menarik anak Gadisnya yang tak mengerti apa-apa itu ke dalam kamar dan mengunci pintunya. Dia sekali lagi menampar Clara, "Kau menjual dirimu lagi dengan Nathaniel, kan?"
Oh, ayolah, kenapa ayahnya tidak mengerti bahwa dia dan Nathan hanya bersahabat? Clara memberanikan diri menatap Richard Lee, apakah benar pria ini merupakan ayah yang ia kenal selama ini? Pria tua itu sepertinya baru saja menyelesaikan pesta mabuk-mabukkan dan masih belum sadar sepenuhnya. Jadi dia bisa saja bertindak sama sekali tidak manusiawi.
Clara memegang pipinya seraya airmata yang mengalir deras. Dia selalu menangis tiga hari terakhir akibat ulah Kai, dan sekarang giliran ayahnya yang membuatnya begini. Gadis itu ingin berteriak, ingin membela diri, ingin memberitahukan ayahnya bahwa ia baru saja menghadapi masalah besar. Tapi ia tak dapat ucapkan apa-apa. Seharusnya ayahnya memeluknya sekarang, mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Bukankah itu yang seharusnya dilakukan oleh sosok ayah?
Tapi Richard Lee bukan tipe ayah yang begitu. Meskipun dia selalu memberikan apa yang Clara mau ketika dia miliki segalanya, dia tetap tidak bisa memberikan anak itu kasih sayangnya. Dia tidak pernah kelihatan seperti menginginkan kehidupan Clara dari dulu. Tapi, saat ini dia begitu terang-terangan menunjukkan hal itu. Clara hanya menyadari bahwa dirinya tidak diharapkan oleh ayah kandungnya sendiri,
"Jangan bilang kau kabur dari Kai!" Desis pria itu tajam ditelinga Clara. Dia sudah kehilangan control dan kemarahan menguasai hatinya yang kotor. Pria tua itu bahkan mendorong Clara dengan kuat sehingga kepalanya menubruk meja dan mengeluarkan darah. Rasa sakit di dahinya tidak sebanding dengan rasa sakit di hatinya. Apakah pernyataan Kai waktu itu benar adanya? Bahwa ayahnya yang telah membuangnya dan menyerahkan dirinya kepada Kai? Dunia dan kenyataan seperti tak henti berlaku kejam kepada dirinya.
Ini begitu menyakitkan. Clara merasa dirinya tidak sanggup untuk menahan ini semua lebih lama lagi. Ayahnya kembali melakukan aksi, dia menendang-nendang Clara yang terjatuh dilantai berkali-kali. "Aku akan menghabisimu jika Kai meminta uangnya kembali!"
Gadis itu merasa sama sekali tidak berdaya. Dia tidak berniat untuk mengelak ataupun memohon agar ayahnya berhenti, dia hanya pasrah dan membiarkan rasa sakit terus menghantam tubuhnya. Mulutnya memuntahkan darah, pandangannya kabur bukan hanya karena airmata, rasa pening dan mual ikut menyiksanya. Ayahnya berhenti ketika mendengar Juan menangis kencang diluar, sedangkan Clara hampir kehilangan kesadarannya. Mungkin nyawanya juga,
"Hallo Kai, Gadis jalang itu ada disini. Kau bisa membawanya kembali. Lakukan apa saja terhadapnya karena dia benar-benar bodoh." Richard Lee berkata sesopan mungkin ditelepon, meskipun mukanya sudah memerah karena marah ataupun efek alkohol yang sepenuhnya belum hilang. Dia menutup teleponnya sembari membanting handphone itu kedinding, membuat Clara sekali lagi merasa terkejut dan ngeri.
"Jangan mengecewakan Kai lagi, idiot."
Ini semua terlalu tidak masuk akal. Apakah ayahnya segila itu dengan uang hingga ia melakukan ini? Meskipun Richard Lee terlihat begitu menyayangi anak lelakinya, bukan berarti dia tidak pernah memperhatikan Clara ataupun melakukan tugasnya menjadi ayah yang baik terhadap Gadis itu. Clara ingat bahwa hidupnya begitu indah dan sempurna beberapa tahun yang lalu, tapi sekarang dia bagaikan tak miliki apa-apa.
Clara mengambil handphonenya yang ia letakkan disaku celananya dan menekan nomor Nathan, semua itu ia lakukan dengan begitu susah payah. Hanya pria itu yang bisa membawanya pergi dari sini. Dia tidak mau kembali ke tempat Kai dan membuat pria itu bersenang-senang atas deritanya. Dia tidak sanggup membayangkan apa yang bisa saja dilakukan Kai kepadanya setelah pria gila itu menemukan Clara kembali.
"Hallo..Nathan-ya tolong..tolong aku. Aku akan..aku akan mati jika kau tidak datang..sekarang." dia berkata dengan tergesa-gesa karena begitu panik. Tapi balasan dari sebrang sana sangat membuatnya kecewa.
"ini siapa?" suara gadis. Mungkin itu kekasihnya Nathan. Clara benar-benar merasa hopeless dan tidak tahu harus berbuat apalagi. Dia bahkan tidak memiliki tenaga untuk berdiri dan lari sejauh mungkin.
Bahkan Nathan yang sempat berjanji untuk selalu menjaganya-pun tidak bisa menolongnya di saat dia sangat membutuhkan.
Pintu kamar itu terbuka, menampilkan sosok yang telah di duga Clara. Dia mendekati Gadis yang sudah tidak berdaya itu dengan segera. Clara berharap bahwa dia sedang berdelusional sekarang, karena pandangan blurnya menangkap bahwa Kai sedang melihat iba kearahnya, bagaikan seorang pria baik yang akan menyelematkannya sekarang. Dia tidak mungkin berubah secepat ini, kan?
"Cherie, bukankah sudah kubilang jika kau tidak bisa kabur? Sejauh apapun kau pergi, kau akan tetap kembali kepadaku." Kai berkata halus. Tapi, kata-kata yang keluar dari bibir berisi itu membuat Clara kembali merasa bergidik. Kai menyingkirkan rambut yang menutupi wajah lebam Gadis itu, mengecek lukanya, "Kau seharusnya tidak perlu keras kepala." Pria berkulit tan itu bangkit berdiri, berjalan menuju kotak p3k dan mengambil betadine serta kasa untuk menutupi luka pada dahi kiri Clara. Beruntung luka itu tidak terlalu dalam sehingga tidak perlu dokter untuk menanganinya. Kai mengobatinya dengan begitu lembut dan hati-hati. Apa yang dia lakukan sekarang benar-benar membuat Clara bergidik ngeri. Dia sama sekali tak dapat menduga apa yang tengah berada dalam otak pria itu. Setelah semuanya beres, Kai kembali memperlihatkan senyumnya. Senyuman sinis yang tentu saja tidak disukai Clara, "Jangan manja, Cherie. Ini akibat dari perbuatanmu sendiri."
Dan Clara mengerti bahwa kata-kata barusan merupakan sebuah ancaman.
Karena Kai tidak datang dihidupnya sebagai malaikat pelindung, melainkan seorang malaikat kegelapan yang akan melakukan apapun untuk memastikan penderitaannya.
***