CHAPTER 12

1178 Words
Liburan mid semester, masih tak ada kabar dari Renno, entah apa yang terjadi padanya. Berkali kali aku chat, tapi tak kunjung ada balasan, panggilannya pun di alihkan. Bahkan Gerald yang sahabat dekatnya pun tak tahu menahu perihal Renno. Sedangkan Amanda, malah sibuk dengan kegiatan barunya denga Fendy, gebetan barunya. Walaupun hanya hubungan palsu, tapi bagaimanapun kami sudah menjalani ini beberapa bulan. Dan tanpa kehadirannya beberapa hari ini di sekolah, membuatku sedikit memiliki rasa 'rindu' padanya. Aku menghabiskan hariku cuma di kamar saja, mendengarkan musik dan sesekali menggoreskan pensil di atas buku gambar. Ya... menggambar memang sudah menjdi hobbyku dari dulu. Aku memang lebih suka menyibukkan diriku di kamar dari pada kongkow, walau sesekali aku melakukannya dengan Amanda dan teman temanku yang lain. Aku turun kelantai bawah menuju dapur untuk mengambil cemilan.  Saat melewati ruang tengah, kulihat bunda sedang mengobrol dengan seorang wanita paruh baya yang kulihat masih cantik. 'mungkin teman bunda' batinku Tak sengaja bunda melihat kearahku yang sedang membawa minuman dan juga snack yang akan kubawa kekamar ku. "Be..." panggil Bunda Aku menghampiri bunda segera. "iya bun.." jawabku "Bunda sama Evelyn mau pergi dulu dengan tante Anita ya..." ucap bunda sembari menunjuk wanita di sebelahnya. Orang yang bunda panggil tante Anita itu melihat ke arahka sambil tersenyum manis, namun masih bisa ku lihat dari matanya yang sembab, mungkin tadi habis menangis. Aku mengulurkan tanganku kemudian mencium gpunggung tangan tante Anita. "Anak gadisnya cantik cantik ya Jeng... " ucap tante Anita. Aku tersenyum. "Kemana bun? lama gak?" tanyaku "Bunda ada urusan sama tante Anita, kamu di rumah  aja. Bunda pulang minggu depan sekalian di jemput ayah. Kamu gak papa kan?" Aku mengangguk, ayah juga sedang pergi lagi seperti biasa urusan bisnisnya. Jadilah sekarang aku di tinggal sendirian dirumah. Ini memang sudah sering terjadi, tapi tante Anita memang aku baru pertama kali mengenalnya, mungkin itu teman arisan bunda yang baru, atau istri dari kolega ayah, aku juga kurang faham. Aku pun kembali ke kamarku dan melanjutkan kegiatanku. Jam masih menunjukkan pukul 09.30 WIB, masih pagi ternyata, dan masih lama untuk waktu makan siang. Aku tertawa sendiri, perut yang sudah ku isi banyak jajan ini ternyata masih berteriak juga. Ting tong ting tong. Ada yang menekan bel rumah. Siapa ya? Apa ada teman bunda lagi yang datang? Tapi kan bunda sudah pergi dari satu jam yang lalu. Aku menuruni tangga menuju pintu masuk. Dan saat aku membuka pintu, akau agak kaget ternyata... "Renno..." ucapku masih tak percaya sedang apa Renno pagi pagi di depan pintu rumahku. "Apa aku boleh masuk?" Tanpa menunggu jawaban dari ku, Renno langsung saja nyelonong masuk ke dalam rumahku. "Permisi..." ucapnya lagi. Aku masih terdiam dengan kedatangannya yang tak terduga. "Kok kamu bisa disini Ren?" tanyaku masih bingung, Renno berdiri di hadapanku. "Kamu sibuk Be?" tanyanya datar "Gak juga" jawabku "Kita liburan yuk... Biar aku pamitan dengan kedua orang tuamu" ucap Renno "Ayah, bunda sama Evelyn lagi pergi. Aku di suruh jaga rumah seminggu." jawabku "Itu lebih baik, hubungi orang tuamu katakan kau liburan denga Amanda, kita pergi liburan." ucap Renno "Tunggu Ren, tapi kan aku belum setuju..." "Kemasi barang barangmu, jangan bawa banyak banyak ya..." Aku tersenyum kecut, siapa dia main nyuruh anak orang seenaknya. "Aku gak mau Ren..." jawabku halus Bukan Renno namanya kalau menerima penolakan. Ia tak menghiraukan ucapanku sama sekali, berjalan ke arah tangga kemudian naik menuju lantai dua. "Ren!! kamu mau kemana?" teriak ku "Kamar kamu mana Be?" Renno menoleh ke kanan dan ke kiri. Belum juga ku jawab, Renno kembari memasuki sebuah ruangan yang benar saja itu adalah kamarku. "Ren!!" bentakku "Ini kamar kamu? kamar cewe kok biasa aja ya... gak ada nuansa pink pink nya" komentar Renno sembari matanya berkeliling melihat lihat kamarku. "Aku gak suka warna pink. Lagian kok kamu masuk masuk kamarku? Ini gak pantas Ren..." ucapku "Makanya buruan packing." ucap Renno. Tanpa menunggu lama aku segera mengambil koper dan memasukkan beberapa potong pakaian ke dalam koper, tak lupa aku membawa bedak, lipstik,dan juga parfum. Renno hanya memperhatikan kegiatanku sembari duduk diatas kasur disamping aku menaruh koperku.Saat aku memasukkan pakaian dalamku kedalam koper, Renno tersenyum. "Ukurannya segitu" gumamnya tapi aku masih bisa mendengar. Aku sedikit malu karena bagaimanapun aku seorang gadis. "Sudah." ucapku sambil mengunci koperku. Renno bangkit dari duduknya kemudian membawakan koperku, sembari menggandeng tanganku dengan tangannya yang lain. "Ayo" ucapnya. *** Aku duduk di kursi depan dengan Renno berada di kursi kemudi. Seperti biasanya, tatapannya yang dingin, tenang dan tak dapat k****a, membuatku bingung untuk memulai percakapan. "Kita kemana Ren?" "Liburan." "Aku tau...tapi kemana?" Renno kembali terdiam. Beberapa hari tak bertemu, Renno terlihat sedikit berubah. Agak kurus, seperti tak terurus dan kelihatan kurang rapi tak seperti biasanya, dan juga matanya agak merah. Apa mungkin ia habis menangis? Ahhhh.... mana mungkin... Cengeng bukanlah seorang Renno. Tunggu, kenapa aku bisa memperhatikannya se detail itu?  Aku menghela nafas kasar, kemudian membuang pandanganku ke luar jendela, menikmati pemandangan. Tiba tiba Renno menggenggam tanganku. "Temani aku Be..." ucapnya dengan nada memelas. Temani? temani kemana? Banyak pertanyaan berlarian dipikiranku, tak tau mesti menjawab apa, dan aku hanya mengangguk. *** Kami sudah tiba di sebuah villa yang sangat besar dan mewah. Tempat apa ini? Kami hanya berdua liburan disini? Waaahhhhhh...Renno punya rencana apa? Aku melihat ke arah Renno yang berjalan memasuki villa sambil menenteng koperku. "Kita...cuma berdua Ren?" Tanyaku gugup Seorang pria tua menghampiri kami sembari tersenyum lalu membungkuk memberi salam. "Den Renno, selamat datang." ucapnya "Pak Agus" Sapa Renno "Ini..." pria tua yang bernama pak Agus itu menunjuk ke arahku "Ini Bella, tolong bawakkan kopernya ya pak. Bi Jum mana pak?"  "Bi Jum dibelakang Den, mari saya bawakkan kopernya" pak Agus meraih koperku yang ada di tangan Renno "Ayo masuk Be" Renno masih menggandeng tanganku masuk ke dalam Villa. Ini bisa disebut istana, mungkin. Bangunan megah di daerah pegunungan dengan pemandangan yang sangat apik di lura dan mewah di dalamnya, Ruang tamu nya saja besar sekali. Pertama masuk, kami di sambut dengan sofa besar bergaya eropa yang berada di kanan kiri ruangan tepat didepan pintu masuk. Di ruang tengah ada ruang tenagh yang terhubug dengan ruang makan serta dapur yang berhadapan langsung dengan teras belakang dan ada...kolam renang juga...waaaahhhhhh... Aku terkagum kagum melihatnya. Ini baru lantai bawah, entah apa yang bearda di lantai atas. Tangga lantai atas berada diantara ruang tamu dan ruang tengah, yangga kayu yang elegan yang diapit dengan dua guci besar di kanan kirinya. Apa ini milik keluarga Renno? atau Renno hanya menyewa? Seorang wanita paruh baya berpakaian daster dengan rambut di gelung berjalan menghampiri kami, "Den Renno" Sapanya Mungkin ini yang namanya bi Jum. batinku. Renno hanya mengangguk. "Tolong antarkan Bella ke kamar atas samping kamarku ya Bi" ucap renno. Bi Jum mengguk lalu mengajakku ke lantai atas, Lantai atas sama mewahnya dengan lantai bawah. Setidaknya ada 10 kamar berada dilantai ini. Aku berada di kamar nomer dua dari arah pertama kami memasukki lantai dua. "Silakan masuk non Bella." "Terimakasih bi Jum" Bi Jum tersenyum, kemudian pamit pergi, namun sebelum itu aku menyakan sesuatu padanya. "Ini...villa siapa bi?" Tanyaku "Ini villa keluarga den Renno non." jawab bi Jum, kemudian ia pun pergi. Sekaya itukah keluarga Renno? ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD