Pagi hari, setelah kejadian di hotel Joshua baru saja tiba di kantornya. Wajahnya lelah, rambutnya acak-acakan, pikirannya masih kusut oleh kejadian semalam. Ponselnya berdering. Sandra. Ia menghela napas. Ragu, tapi tetap mengangkat. “Halo,” suaranya rendah. Di seberang, suara Sandra terdengar tenang tapi tajam. “Kau tidur nyenyak, Josh?” Joshua memejamkan mata. “Sandra… kita sudah sepakat—” “Belum. Justru sekarang kita bicara serius. Aku ingin kamu ceraikan Mirna.” Joshua terdiam sejenak. “Tidak bisa.” “Kenapa?” “Karena itu kehendak Papa. Bukan cuma soal cinta, Sandra. Ini pernikahan yang disetujui keluarga. Strategis. Kalau aku ceraikan Mirna sekarang, Papa bisa pecat aku dari perusahaan. Bisa habis semuanya.” Sandra tertawa kecil. Sinis. “Jadi kamu lebih takut pada ayahmu

