Sandra. Nama itu terpampang jelas di layar. Mirna tertegun. Napasnya nyaris terhenti. Kenapa Sandra menelepon? Setelah mengirim foto keji itu... masih punya muka? Dengan tangan gemetar, Mirna menjawab. “Mirna...” suara di seberang tenang, tapi mengandung racun. “Aku cuma ingin kau tahu... itu bukan yang pertama kali.” Diam. “Joshua... dia udah milik aku dari lama. Kamu cuma mampir.” Mirna menggenggam ponsel erat. Tapi matanya tak lagi berair. Suaranya dingin saat menjawab “Terima kasih, San. Sekarang aku tahu siapa yang harus kuhancurkan lebih dulu. Mirna menjerit, air matanya tak terbendung. Rasa malu, takut, dan terhina bercampur jadi satu. Ia berlari keluar rumah tanpa alas kaki, diterpa angin malam yang dingin. "Aku nggak tahan lagi! Hentikan semua ini!!" isaknya histeris

