“Mirna!… Mirna!… jangan pergi. Aku butuh kamu. Mirna?... kenapa kau diam aja? Maafkan aku, janji... aku akan memperhatikan kamu. Aku tidak akan mencampakkanmu lagi.” Suara Joshua terdengar putus asa. Nafasnya memburu, matanya mulai basah. Mirna berdiri dalam diam. Wajahnya tenang, tapi sorot matanya penuh luka yang telah lama membatu. “Maaf, Jos,” ucapnya lirih. “Kali ini... kau terlambat menyadari.” Ia melambaikan tangan perlahan—seolah mengucap selamat tinggal kepada masa lalu—lalu berbalik dan berjalan menjauh, tubuhnya makin lama makin jauh… hingga menghilang dalam kabut tipis. “Mirna!…” Joshua panik. “Mau ke mana kamu? Tunggu… aku ikut!” Ia berlari, menerobos bayangan dan cahaya samar, mencari sosok Mirna yang baru saja pergi. “Mirna!? Di mana…? Kok… hilang…” Tiba-tiba Joshua

