Aku terpaksa harus melakukan sesuatu demi menolong orang tuanya yaitu menikah dengan anak Pak Yanto.
Keadaan sudah tak bisa ditunda lagi. Waktu terus berjalan, dan setiap detik terasa seperti pasir yang jatuh dari genggaman. Kalau aku tidak mengambil keputusan sekarang… bagaimana nasib rumah ini?
Aku memandangi dinding ruang tamu yang sudah mulai pudar catnya. Tangannya meraih bingkai foto-foto lama; ia melihat dirinya kecil, tertawa lepas sambil berlari bersama anak-anak tetangga di halaman. Suara riang itu seolah masih terdengar di telingaku tapi perlahan memudar, tergantikan oleh bayangan rumah kosong.
Air matanya jatuh di atas kaca bingkai.
Rumah ini… akan hilang. Bersama semua kenangan masa kecilku
Seperti kehilangan masa lalu.
“TIDAK!” suara hatiku berteriak. “Aku tak akan biarkan hal ini terjadi!”
Aku memeluk foto itu erat-erat, seakan bisa mengikat masa lalunya agar tak pergi.
Tangannya gemetar, tapi tekadnya menguat.
Aku menatap pintu, seperti menatap jalan yang belum pernah Aku tempuh.
Walau aku tak tahu seperti apa anak Pak Yanto itu, aku harus melangkah.
Demi Ayah. Demi rumah ini.
----------
Pagi itu, Mirna memutuskan untuk menerima pinangan dari Pak Yanto.
Tak ada jalan lain pihak bank terus menagih pembayaran cicilan yang telah jatuh tempo. Mereka hanya memberinya waktu satu bulan untuk melunasi hutang, atau rumah peninggalan orang tuanya akan disita.
Tekanan semakin berat yang menekan dadanya setiap hari. Setiap kali mengingat rumah yang sudah diwariskan dari orang tuanya, matanya tak mampu menahan air mata. Rumah itu bukan sekadar bangunan, tapi tempat penuh kenangan, tempat keluarga kecilnya bertahan dalam suka dan duka. Kini, semua itu terancam hilang karena keadaan yang tak terduga. Mirna tahu, pilihan sulit harus segera dibuat, meski hatinya hancur.
Dengan hati yang buntu dan penuh tekanan, Mirna memberanikan diri menerima semua syarat yang diajukan Pak Yanto. Tangannya gemetar saat ia mengangkat ponsel. Hatinya penuh gelisah dan keraguan. Apakah keputusan ini benar? Apakah aku sedang menghancurkan masa depanku sendiri?
Bayangan masa depan yang tak pasti menghantui pikirannya. Apa yang akan terjadi kalau ia benar-benar melangkah ke keputusan ini? Bisakah ia hidup dengan perasaan yang terperangkap dalam keraguan dan ketakutan? Namun satu hal yang jelas, ia tidak punya banyak waktu untuk ragu. Semua harus segera diambil.
Nada tunggu terdengar beberapa detik, lalu suara berat dan berwibawa menyapa di seberang.
"Halo, dengan siapa saya bicara?"
"Sa... saya Mirna," jawabnya gugup.
"Oh, Mirna... bagaimana kabarmu?"
"Baik, Pak. Ini... saya ingin menanyakan kembali, apakah tawaran untuk menikah itu... masih berlaku?"
"Masih, Mirna. Apakah kamu sudah mempertimbangkannya baik-baik?"
"Hmm... i-iy... iya, Pak. Saya bersedia."
Sejak kata itu terucap, tubuh Mirna terasa lemas. Ia ingin menangis. Kenapa aku menyetujuinya? Tapi semua sudah terjadi. Tak ada jalan mundur.
"Terima kasih, Mirna. Bapak senang kamu akhirnya menerima. Tolong datang ke kantor siang ini. Ada kontrak yang harus kamu tanda tangani. Setelah itu, uang 100 juta akan langsung kamu terima. Bisa?"
"Bisa, Pak. Saya akan ke sana. Terima kasih, Pak Yanto."
Telepon ditutup, namun kegelisahan Mirna tetap tinggal di dadanya. Ia menatap langit-langit kamar sambil memeluk dirinya sendiri. Apa aku akan bahagia setelah ini?
Ia menutup mata, membayangkan wajah ayahnya yang semakin lemah karena sakit. Dalam hati, ia berjanji akan berjuang dengan sekuat tenaga, menanggung beban ini agar ayahnya tidak kehilangan rumah yang sudah menjadi tempat berlindung selama ini. Meski hatinya berkecamuk, tekadnya mulai menguat perlahan.
Tak lama, ayahnya datang menghampiri. Pria tua itu menatap putrinya dengan mata berkaca.
"Maafkan Ayah... karena Ayah, kamu harus menjadi korban. Maaf, Nak..."
Pak Darto merasakan kepedihan yang mendalam melihat putrinya harus mengambil jalan yang berat. Ia ingin menghibur, tapi kata-kata terasa sulit keluar dari bibirnya. Dalam kesunyian, mereka berbagi luka yang sama, menyadari betapa kerasnya hidup ini bagi mereka berdua. Pelukan itu jadi satu-satunya cara untuk menguatkan hati yang rapuh.
Ayah dan anak itu pun saling berpelukan, sama-sama menahan tangis. Dalam hati Mirna berbisik, Aku rela... asal Ayah tidak kehilangan rumah ini. Aku akan kuat.
Sementara itu, di kantor Agung Karsa Properti...
Joshua, manajer marketing yang memimpin divisi penjualan properti, tengah sibuk menunggu seorang klien yang hendak melakukan penandatanganan kontrak pembelian rumah. Ia tampak rapi, percaya diri, dan seperti biasa — sedikit angkuh.
Namun hari itu, tiba-tiba ia dipanggil oleh ayahnya melalui telepon internal.
"Joshua, tolong ke ruangan Papa sebentar."
"Baik, Pa. Aku ke sana sekarang."
Joshua masuk ke ruang kerja Pak Yanto dan duduk berhadapan dengannya. Ayahnya masih sibuk menatap layar komputer, memeriksa laporan keuangan. Setelah beberapa menit, ia melepas kacamata baca dan menatap anaknya serius.
"Nak, Papa ingin kamu menikah dengan perempuan yang kemarin datang ke sini. Namanya Mirna."
Joshua mengerutkan kening, lalu wajahnya langsung berubah kaget.
"Apa?! Papa serius?! Joshua nggak mau! Papa udah gila?! Masa aku disuruh nikah sama orang kampung itu?!
Come on, Dad, ini nggak masuk akal!"
Pak Yanto bangkit, berjalan mendekat ke sisi Joshua, lalu berbisik pelan namun tajam:
"Kalau kamu tidak bersedia, kamu tidak akan mendapatkan sepeser pun warisan dari Papa."
Kalimat itu menusuk. Joshua terdiam. Tubuhnya menegang.
"Kamu menikah dengan Mirna... atau kamu keluar dari keluarga Samara," tegas Pak Yanto.
Joshua tertegun. Ia hanya bisa menatap kosong. Perasaannya berkecamuk, pikirannya tak menentu. Ia tidak bisa langsung menjawab.
Dalam benaknya, Joshua berteriak:
Kenapa Papa maksa aku nikah sama perempuan itu? Nggak sepadan sama aku. Lihat penampilannya... kampungan! Melihatnya aja bikin muak. Gimana aku bisa hidup bareng dia? Gila! Ini semua udah gila...
Namun di balik kemarahan dan penolakannya, Joshua merasakan sesuatu yang lain. Sebuah ketakutan yang tak mudah ia ungkapkan bahkan pada dirinya sendiri. Takut kehilangan warisan, takut gagal memenuhi harapan keluarga, dan takut kehilangan kendali atas hidupnya sendiri. Semua itu membuatnya terjebak dalam konflik batin yang rumit, yang semakin membebani pikirannya.
---