Mirna tak lama kemudian sampai di kantor pemasaran PT Agung Karsa Properti. Ia kembali bertemu Pak Yanto untuk menandatangani kontrak nikah.
Mirna berdiri di depan pintu kaca kantor itu. Di balik pintu, ia bisa melihat orang-orang berlalu-lalang dengan wajah serius. Nafasnya tak teratur.Pantulan wajahnya sendiri di kaca membuatnya sadar betapa pucat dan lelah dirinya. Tangannya menggenggam ujung tas erat erat berusaha menahan gemetar. “Begitu aku masuk, tidak ada jalan kembali,” batinnya berbisik.
Di sana, Pak Yanto sudah menunggu kehadirannya. Seorang customer service menuntunnya ke ruang direksi.
Tok... tok... tok...
Terdengar suara dari dalam ruangan kerja direksi,
"Silakan masuk..."
"Maaf, Pak. Ada tamu, namanya Mirna."
"Baik, Nur. Ajak dia masuk."
Mirna kemudian melangkah masuk ke dalam ruangan kerja yang mewah, dilapisi dinding marmer dan megah, kira-kira seluas ruang tamu rumahnya.
Pak Yanto mempersilakan Mirna duduk.
"Mirna, apakah kau sudah benar-benar yakin akan menerima pernikahan kontrak ini?"
"Mirna yakin, Pak Yanto..."
"Baik. Kalau kamu sudah yakin dan keputusanmu bulat, kita akan menandatangani kontrak nikah ini. Tapi, ada satu hal yang perlu kamu ketahui, yaitu:
Pertama, kamu tidak boleh mengajukan cerai selama lima tahun.
Kedua, jika kamu ketahuan selingkuh atau punya pacar lain, kontrak langsung batal, dan kamu akan dituntut mengembalikan uang 100 juta.
"Kamu mengerti, Mirna?"
Ekspresi Mirna terkejut ketika mendengar isi kontrak itu.
Ada keraguan di hatinya. Ia bertanya dalam hati, apakah aku sanggup bertahan?
"Aku harus bersama dengan orang yang menghinaku dan tidak kucinta selama lima tahun? Ini... terlalu berat."
Mirna menunduk, menatap kertas kontrak itu. Setiap huruf yang Ia baca membuatnya merinding. “Lima tahun? .…bukan waktu yang singkat.” ia mengulang dalam hati, seakan mencoba meyakinkan dirinya bahwa waktu itu akan bisa ia lewati. Suara hatinya ingin memberontak, berteriak agar ia berbalik pergi. Sayangnya, kakinya seolah terpaku di kursi.
Mirna mengambil gelas minum yang disediakan Pak Yanto, mencoba menghilangkan rasa gelisah yang berkecamuk di dadanya.
Akhirnya, dengan suara lirih, ia berkata walaupun hatinya sebenarnya memberontak.
"Saya... saya mengerti, Pak Yanto."
Sebuah kalimat yang keluar dari keterpaksaan.
"Baik kalau begitu. Sekarang, kamu bisa menandatangani kontrak nikah ini."
Pak Yanto menunjukkan kolom tanda tangan yang sudah disiapkan.
Mirna mengambil pulpen. Tangannya sedikit bergemetar. Dalam hatinya, ia ingin berteriak:
"Aku tak sanggup!"
Namun, akhirnya tanda tangan itu tertera di atas perjanjian nikah, disaksikan oleh Pak Yanto.
Resmilah sudah, Mirna menjadi istri kontrak Joshua.
Pak Yanto lalu mengambil amplop tebal dan menyerahkannya. Uang 100 juta, tunai.
Mirna hampir tak mampu menerima uang tersebut karena jumlahnya begitu besar baginya.
Setelah menerima uang itu, Mirna pamit untuk pulang.
Namun sebelum keluar dari ruangan, Pak Yanto kembali berkata:
"Mirna, aku harap kamu sabar menghadapi anakku, Joshua. Aku yakin kamu bisa. Setelah kontrak ditandatangani, bulan depan pernikahan akan dilangsungkan."
"Baik, Pak... saya pamit."
Keluar dari ruangan itu, Mirna menangis di pojok tangga.
"Ini bukan pernikahan. Ini... pemaksaan cinta."
Hatinya sudah hancur.
Tanpa sengaja, Joshua melihat Mirna di pojokan. Ia berjalan mendekat sambil menunjuk.
Hei! Cewek kampung. Ngapain kamu di sini? Oh, aku tahu... kamu pasti dipanggil Papa untuk menikah denganku, kan?"
Langkah kaki terdengar mendekat. Mirna mengangkat wajahnya yang pucat dan melihat seorang pria tinggi dengan setelan rapi. Matanya tajam, namun sorotnya dingin. Bibirnya membentuk garis tipis yang seolah sudah menilai rendah sebelum ia sempat bicara.
Mirna masih menangis, tak menjawab, hanya mengangguk perlahan.
Joshua mendekat, menatap wajah Mirna, lalu berkata sesuatu yang membuat hatinya makin hancur:
"Ingat, Mirna. Aku setuju menikah karena Papa memaksa. Kalau tidak, aku diusir dari keluarga Samara. Tapi satu hal yang harus kamu tahu... aku takkan pernah mencintaimu. Ngerti kamu?"
Mirna memandang Joshua. Entah kenapa, ia juga menjawab:
"Aku juga... tidak mencintaimu."
Joshua tertegun mendengar jawaban itu.
Ia menatap Mirna sejenak tanpa berkata apapun, lalu berbalik pergi meninggalkan gedung kantor pemasaran.
Mirna melangkah keluar dari kantor pemasaran Agung Karsa Properti. Ia hendak menyetop angkot untuk pulang, namun langkahnya terhenti saat sebuah mobil Pajero hitam berhenti tepat di hadapannya.
Jantungnya berdegup. Mobil itu… Joshua.
Kenapa dia muncul lagi? Apa lagi yang dia mau? batin Mirna resah.
Kaca mobil perlahan turun. Joshua menatapnya tajam.
"Masuk," katanya singkat. "Ada yang ingin kubicarakan."
Meski ragu, Mirna tetap masuk ke dalam mobil. Udara dingin dari AC menyergap tubuhnya, membuatnya menggigil.
Joshua tak membuang waktu.
"Kenapa kamu mau dijodohkan dan dipaksa menikah? Kamu dapat apa dari ayahku?"
Mirna menatap lurus ke depan. Suaranya tenang, tapi tegas.
"Benar. Aku memang menerima uang seratus juta untuk menikah denganmu. Sekarang kamu mengerti, kan?"
Joshua menoleh cepat. "Apa?! Kamu memang cewek murahan! Jangan harap hidupmu bahagia setelah nikah. Buat apa uang sebanyak itu?"
Mirna langsung membalas, nadanya naik satu oktaf.
"Uang itu untuk membayar hutang ayahku. Kalau tidak, rumah kami disita. Aku juga nggak mau menikah dengan kamu kalau bukan karena keadaan. Jadi jangan seenaknya bilang aku murahan, Joshua!"
Kata-kata Mirna membuat Joshua bungkam. Tak ada lagi serangan balik. Ia hanya diam sepanjang perjalanan.
Namun di balik diamnya, Mirna bisa melihat... ada sesuatu di wajah Joshua. Sebuah kegelisahan yang tak bisa disembunyikan.
Apakah dia juga merasa tertekan seperti aku? Apakah mungkin… dia bisa mencintaiku suatu hari nanti?
Aku tak tahu jawabannya. Tapi satu hal pasti: biarlah cinta tumbuh perlahan… asal benar adanya.