Sandra patah hati

967 Words
--- Joshua galau. Ayahnya menyuruhnya menikah dengan perempuan yang tak dikenalnya dan jelas tak disukainya. "Apa sih maunya Ayah? Kenapa selalu nggak setuju kalau aku mau nikah sama Sandra? Dia itu perempuan high class, sekolah di luar negeri, penampilan juga berkelas. Aku bener-bener nggak habis pikir..." Joshua menggerutu dalam hati sambil memegang kemudi, melaju pelan menuju kantor. Tiba-tiba ponselnya berdering kencang. Tut... tut... tut... Nama Sandra muncul di layar. Joshua melirik sekilas. "Kenapa dia nelpon pagi-pagi banget?" "Ya, sayang... Ada apa?" sapa Joshua saat mengangkat. "Jos, temenin aku ke mal, ya. Ada yang pengen aku beli. Jemput aku sekarang." Joshua mendesah. "Tapi aku mau ke kantor, Yang. Ada meeting siang ini. Jam dua belas gimana, aku jemput kamu?" "Enggak mau! Aku maunya sekarang!" suara Sandra manja dan keras. Joshua menghela napas panjang. Ia tahu betul, Sandra kalau sudah minta, harus dituruti. Akhirnya, ia menghubungi sekretarisnya. "Meeting kita reschedule besok, ya." "Siap, Pak." "Okay, Yang... Aku jemput sekarang. Tunggu, ya," jawab Joshua dengan nada pasrah. Sandra bersiap. Ia dandan, make-up tipis namun menawan. Rambut panjangnya diikat tinggi. Penampilannya memang selalu menarik—body semampai, langkah anggun, dan percaya diri. Tak lama kemudian, suara klakson mobil Joshua memecah suasana pagi. Tet... tet... tet... "Iya, sebentar!" teriak Sandra dari dalam rumah, lalu berlari kecil ke arah mobil. Joshua membukakan pintu, Sandra masuk sambil tersenyum. "Maaf, Yang... Nunggu lama, ya. Yuk, kita jalan." "Memangnya nggak bisa besok? Kenapa mesti hari ini?" tanya Joshua sambil menyetir. "Nggak bisa, hari ini terakhir diskon gede di butik branded itu loh." "Oh, ya ampun... Cuma mau diskon sampai bela-belain hari ini," gumam Joshua sambil geleng-geleng kepala. Beberapa menit berlalu dalam keheningan, hingga Joshua akhirnya membuka suara. "Sandra... Aku mau ngomong sesuatu. Ini serius." Sandra menoleh. Wajahnya penasaran. "Kayaknya kita nggak bisa lagi bareng-bareng. Ayahku... nggak setuju kita pacaran." Sandra membeku. Matanya melebar, seperti tak percaya. "Apa kamu bilang? Maksudnya... kita putus?" Joshua tak menjawab. Ia hanya mengangguk pelan. Sandra terdiam. Air mata mulai membasahi pipinya. "Jadi... semua selesai? Gitu aja? Enggak! Aku nggak mau putus. Sampai kapan pun, aku nggak mau..." Joshua memberhentikan mobil di pinggir jalan. Ia menatap wajah Sandra, ragu dan lelah. "Aku juga nggak mau, Yang... Tapi aku nggak bisa nolak keinginan Ayah. Dia udah menjodohkan aku sama gadis lain..." Sandra merasa dunia runtuh. Hatinya remuk. "Aku turun di sini aja," katanya pelan, lalu membuka pintu dan turun sebelum Joshua sempat menghentikan. Ia berlari menuju taksi yang lewat di jalan. Joshua hanya menatap dari dalam mobil. Ia tak mengejar. Ia hanya bisa diam. Karena ayahnya lebih memilih perempuan kampung itu. Di dalam taksi, Sandra menangis terisak. Hatinya seperti diiris sembilu, perih tak terbendung. “Joshua... kenapa lebih milih kehendak ayahmu daripada aku?” batinnya, gemetar. Tangisnya tak bisa ditahan. Bahkan sopir taksi ikut menoleh lewat kaca spion. "Maaf, Neng... lagi patah hati, ya?” “Nggak, Mang. Nggak usah ikut campur. Fokus aja nyetir!” bentaknya tajam. Suasana menjadi sunyi. Air mata Sandra mulai mengering, tapi pikirannya terus bergejolak. “Siapa perempuan itu? Perempuan yang tega mau dijodohin dengan cowok orang? Kenapa Joshua diam aja?!” Matanya membara. Amarah mulai menggantikan sedih. “Kalau aku tahu siapa dia... akan kuhancurkan! Belum tahu dia siapa aku ini. Dasar perempuan kurang ajar!” teriak ku dalam hati. " Awas! Tunggu pembalasanku!" Saat itu Sandra tak bisa berpikir panjang, Keputusan Joshua mengakhiri kisah cinta kami berdua, membuatnya amarah di dalam d**a. Di mobil Joshua tak bisa menahan diri untuk mengejar Sandra yang ia cintai namun ia tak bisa melawan kehendak Ayahnya. Joshua berkata lirih ke dalam jiwanya" kalau aku ikuti mau kamu, hidupku yang hancur. Maafkan, aku Sandra." Joshua melanjutkan perjalanannya ke kantor....pikirannya tak tertuju pada satu tempat tapi Merawang ke tempat lain. Joshua memejamkan mata sejenak, berusaha menenangkan gejolak di dadanya. Namun, justru kenangan lama bermunculan tanpa bisa ia hentikan. Ingatannya terlempar jauh ke masa SMA, saat ia dan Sandra masih di sekolah yang sama. Saat itu aku ingat betul peristiwa masa lalu itu. Sandra dan aku sudah berteman sejak kami masih sekolah internasional Jubilee, yang sehari-hari mengharuskan kami berbicara dalam bahasa Inggris. Sandra itu orangnya ceria dan cantik… tapi kekurangannya, ia terlalu manja. Apa yang ia mau harus dituruti, kalau tidak… beuh! ngambeknya bisa berhari-hari. Kami mulai berpacaran saat duduk di kelas 11. Keakraban itu muncul karena kami sering bareng mengerjakan project sekolah. Kian lama, timbul cinta yang tak pernah bisa ditolak. Aku ingat waktu itu Sandra masih imut-imut dan manja. Saat aku katakan cinta kepadanya, ia tidak menolak, tapi juga tidak langsung mengiyakan—menggantung. “Aku kesal bila ingat itu… digantung terus menerus, coba mana nggak kesal!” batinku waktu itu. Aku bimbang, kalau ia nggak mau, ya sudah, aku juga nggak akan maksa. Tapi akhirnya aku mantapkan perasaan. Hari itu, kami duduk di kantin sekolah, kebetulan teman-teman lain sudah pulang. “San… aku mau menegaskan kembali, apakah kamu menerima cintaku?” tanyaku serius. Bukannya menjawab serius, Sandra malah tertawa-tawa. “San, ayo jawab… aku butuh kepastian,” desakku. Sandra berhenti tertawa, memandangku dengan tatapan serius. Aku yang dari tadi deg-degan, balik menatapnya. “Jos, kamu kok serius banget sih. Of course, I like you. I love you.” Aku tak bisa menahan diri ketika mendengar itu. Tanpa sadar aku berteriak, “Yess… akhirnya!” Membuat beberapa pegawai kantin menoleh heran. Saat itu aku yakin, Sandralah adalah orang yang tepat yang akan selalu ada di sisiku… sampai takdir memutuskan sebaliknya. Itulah momen yang takkan kulupakan hingga saat ini. Joshua menghela napas panjang, kembali tersadar dari lamunannya. Lampu lalu lintas sudah hijau, klakson mobil di belakang membuyarkan pikirannya. Ia melajukan mobil pelan, namun hatinya masih merindukan di masa lalu ketika bersama Sandra, di kantin sekolah itu. Mobil terus melaju kencang namun hari itu Joshua mengambil keputusan untuk mengakhiri hubungannya dengan Sandra. Walaupun itu menyakitkan.Entah kenapa, firasatku mengatakan hidupku sebentar lagi akan berubah...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD