Hari terakhir

764 Words
Setelah bertahun-tahun hidup dalam lilitan utang, hari itu seperti hadiah dari langit. Mirna duduk di ruang tengah saat Ayahnya pulang dengan napas sedikit terengah, wajahnya berkeringat, namun senyum bahagia merekah di bibirnya. "Sudah lunas, Nak," katanya pelan, nyaris berbisik, seolah tak percaya sendiri pada kata-katanya. Ia mengangkat map cokelat berisi sertifikat rumah yang selama ini menjadi beban di hatinya. "Rumah kita… kembali." Mirna terdiam, lalu tersenyum sambil menahan air mata. Ia berlari memeluk Ayahnya. Bahu tua itu terasa begitu ringan, seakan seluruh beban yang selama ini mereka pikul bersama akhirnya terlepas. Hari itu, rumah mereka dipenuhi rasa syukur yang tak terucap. Tidak ada pesta, tidak ada tumpeng. Hanya secangkir teh hangat, beberapa potong singkong goreng, dan tawa yang tak pernah terdengar selama bertahun-tahun. Semua terasa sempurna. Damai. Mereka mulai membicarakan pernikahan Mirna yang tinggal seminggu lagi. Ayah ingin membeli pita untuk hiasan pelaminan, katanya, dan juga beberapa bunga plastik yang biasa dijual di toko dekat perempatan. Ia bersikeras ingin menyiapkan segalanya sendiri. "Mirna tinggal menunggu jadi pengantin saja," gurau Ayah sambil mengenakan sandal jepitnya. Mirna tertawa, tak tahu bahwa itu adalah terakhir kalinya ia melihat Ayahnya dalam keadaan hidup. Sore itu langit agak mendung. Angin berhembus pelan, membawa bau tanah dan daun kering. Ayah berjalan menuju toko langganan, melintasi jalanan kecil yang biasa mereka lewati setiap hari. Lalu terdengar suara teriakan. Bunyi rem mendecit. Disusul suara hantaman keras yang mengguncang langit. Sebuah mobil sedan hitam melaju kencang dari arah utara. Tak memberi kesempatan siapa pun untuk menghindar, mobil itu menabrak Ayah Mirna. Tubuhnya terpental dan terseret hingga lebih dari tiga ratus meter. Lalu mobil itu melaju pergi—tanpa berhenti, tanpa menoleh. Orang-orang di sekitar terdiam. Tak ada yang sempat merekam. Tak ada yang cukup cepat berlari mengejar. Mirna yang sedang merapikan buku catatan di dalam rumah, mendengar suara ribut dari luar. Ia berlari keluar, bertanya-tanya, sampai melihat kerumunan di tengah jalan. Nalurinya menuntunnya untuk berlari lebih cepat. Dan di sana di jalan beraspal, ia melihat tubuh Ayahnya tergeletak diam. Darah perlahan merembes, membentuk genangan kecil di bawah kepala dan dadanya. Dunia berhenti. Suara menghilang. Napasnya tercekat. Mirna berlari. Lututnya lemas. Ia menjatuhkan diri di samping tubuh itu, memegang tangan Ayah yang sudah dingin. Matanya menatap kosong. Tak ada detak. Tak ada gerak. "AYAH!" teriaknya, suara itu nyaring namun hampa. Tangisnya pecah, mengguncang tubuhnya sendiri. Orang-orang hanya bisa menatap. Tak satu pun yang bergerak, seakan tragedi ini terlalu cepat untuk dicerna, terlalu kejam untuk dimengerti. Pelukan terakhir itu berubah menjadi pelukan perpisahan. Dunia Mirna runtuh dalam sekejap. Tubuhnya gemetar hebat, lalu kesadarannya perlahan menghilang. Ia pingsan di atas tubuh Ayahnya yang berada di tengah jalan. Tanganku masih menggenggam tubuh Ayah saat kesadaranku perlahan kembali. Suara di sekeliling mulai terdengar samar. Aku membuka mataku yang masih kabur. Dunia seperti berguncang. Tapi tepat saat aku mencoba duduk, mataku menangkap sesuatu di kejauhan. Sebuah mobil hitam. Sedikit penyok di bagian depan. Stiker mencolok di kaca belakang: “Properti Land Agung.” Mobil itu melaju pelan, seperti mencari celah di antara kerumunan, lalu mobil itu tiba-tiba tancap gas. Plat nomornya: B 1078 AGF. Sesaat, aku sempat menatap ke arah pengemudi. Wajahnya pucat, tangannya gemetar saat memutar setir. Mulutnya tampak mengumpat sendiri, dan dari balik kaca—kulihat botol minuman jatuh ke jok mobilnya. “Aduh… mati gua… gua nabrak orang…,” suaranya terdengar samar dari dalam mobil. Bukannya turun… ia malah menginjak gas lebih dalam dan kabur, meninggalkan tubuh Ayahku yang masih tergeletak di jalan. Seolah bukan manusia yang ia tabrak—melainkan sampah. Aku berteriak. Tapi suaraku tenggelam. Dunia kembali berputar. Tubuhku lemas, dan gelap lagi menyelimuti. Suara sirene meraung. Ambulans akhirnya datang, terlambat bagi seseorang yang sudah tak lagi bernyawa. Petugas medis mengevakuasi tubuh Ayah dengan cepat. Aku ikut naik ke dalam mobil putih itu—bukan sebagai pasien, tapi sebagai anak yang baru saja kehilangan segalanya. Aku duduk di sisi tandu, memegang tangan Ayah yang sudah dingin dan membiru. Selimut putih menutupi tubuhnya, hanya wajahnya yang masih terlihat. Tenang, seakan sedang tidur. Tapi aku tahu, tidur kali ini… untuk selamanya. Tangisku pecah tanpa suara. Air mata jatuh membasahi kedua tanganku yang menggenggam erat tubuh itu. "Ayah… Aku kehilangan satu-satunya sandaran hidupku...” "Orang yang selalu mengerti aku… yang tak pernah marah walau aku membangkang… yang selalu tersenyum meski dunia menjatuhkan kita berkali-kali…” "Maaf… maaf aku belum sempat membahagiakanmu.” Aku menyandarkan kepala ke dadanya, memeluknya seerat mungkin—walau tubuh itu sudah tak memberi kehangatan. Hanya dingin. Kaku. Ambulans melaju. Di luar jendela, dunia tetap berjalan. Mobil-mobil lewat, orang-orang beraktivitas. Tapi duniaku berhenti. Saat Ayah pergi… aku bukan hanya menjadi yatim. Aku menjadi yatim.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD