Pemakaman Ayah Mirna

772 Words
Malam sebelumnya, Joshua menghabiskan waktu di sebuah diskotik di pusat kota. Lampu-lampu strobo menari di dinding. Musik DJ Nina menghentak liar, menenggelamkan suara hati siapa pun yang ingin berpikir jernih. Joshua tertawa keras bersama rekan-rekan sekantornya. Botol demi botol bir dipesan. Gelas-gelas cocktail tak sempat kosong. Di meja mereka juga beredar beberapa butir ekstasi—entah siapa yang membawa, tak penting lagi. “Ayo, kita senang-senang malam ini! Habiskan waktu sebelum gue nikah minggu depan!” Joshua berteriak sambil menenggak bir kelima, wajahnya memerah. Dua perempuan muda ikut bergabung—LC langganan tempat itu. Salah satunya, Meriam, langsung mencuri perhatian Joshua. Rambut panjang, lipstik merah, dan tawa yang menghanyutkan. Semakin malam, bir menguasai kesadaran Joshua. Tangannya tak tahu malu merayap ke tubuh Meriam. Tawa teman-temannya semakin keras saat bibir mereka bersentuhan. Semua hanya hiburan. Semua hanya permainan. Joshua menggandeng Meriam naik ke lantai atas. Mereka masuk ke kamar. Tak ada percakapan. Hanya napas berat dan tubuh yang saling menelan. Malam itu: bebas. Liar. Tanpa arah. Pukul 3 pagi, Joshua terbangun. Telanjang. Kepalanya pening. Di sampingnya, Meriam masih terlelap, hanya berselimut selembar handuk tipis. Joshua tak tahu berapa kali mereka melakukannya. Bahkan tak ingat siapa yang mulai lebih dulu. Ia hanya mengerang kecil, bangkit, merogoh dompet, lalu menyelipkan beberapa lembar uang ke tangan Meriam. Saat keluar dari kamar, matanya sembab. Ia menatap cermin di lorong diskotik itu. “Gue mau nikah dengan orang yang ku cintai." Tapi kenyataannya gue harus nikah terpaksa. Wajahnya kosong. Hatinya gelisah. Semua kesenangan tadi… tak bisa menghapus rasa hampa yang terus mengendap. Di siang hari Joshua terbangun setelah menikmati malam yang penuh warna. Joshua berdiri mematung di depan mobilnya. Bagian depan kiri penyok parah. Ada bekas goresan tajam dan sedikit bercak kecokelatan yang entah apa. Ia mengernyit. “Gue mabuk semalam… tapi masa iya…?” Wajahnya gelisah. Tangannya meraba bodi mobil. Samar-samar, kilasan bayangan muncul—jalanan sepi, klakson panjang, tubuh melayang... lalu hitam. Tapi semua seperti mimpi buruk yang tak utuh. Ponselnya berdering. Ayahnya menelepon. “Josh,” suara pria itu berat. “Ayah Mirna… meninggal. Tertabrak mobil semalam. Pelakunya kabur.” Joshua diam. "Kamu seharusnya ke rumah duka,” lanjut sang ayah. Tapi Joshua tidak menjawab. Ia menatap mobilnya. Lidahnya kelu. “Ayah sedang menuju kesana.. tolong kamu kesana sekarang sebelum hari pernikahan mu" Joshua menutup telepon. Ia menunduk, memejamkan mata sebentar. Tapi langkah kakinya bukan menuju mobil. Ia malah berjalan masuk ke kamar. Tak ada bunga belasungkawa. Tak ada pelukan. Tak ada tatapan empati. Hanya satu hal yang menemaninya: rasa takut. Takut bahwa mungkin... dia pelakunya. Jenazah ayah sudah terbaring tenang. Mirna duduk diam di lantai, memeluk lututnya. Ibunya terus menangis di sudut ruangan, sementara para tamu datang dan pergi, satu per satu memberi salam dan ucapan belasungkawa. Tapi dia tak kunjung datang. Mirna menoleh ke pintu setiap kali suara sandal terdengar. Tapi bukan dia. Lelaki yang seharusnya berdiri di sampingnya saat hari sesulit ini, malah menghilang. Bukan karena kesibukan. Bukan karena tak tahu. Tapi karena tak peduli. Mirna menggigit bibirnya. Matanya sembab. Tapi bukan cuma karena kehilangan ayah — melainkan karena satu hal lain yang terus menghantui pikirannya sejak tadi malam. Seseorang menabrak ayahnya dan kabur. Mobilnya gelap. Tak ada saksi yang jelas. Kamera pengawas di jalan mati. Tapi firasat Mirna terasa aneh. Entah kenapa bayangan sebuah mobil tertentu terus datang ke benaknya. Plat nomor belakang pernah ku lihat sebelumnya." Beberapa orang berdiri dalam diam di tepi makam, menunduk, sebagian menyeka air mata, sebagian lagi menggenggam tangan satu sama lain sebagai penguat. Di antara mereka, tampak Ayah Joshua — Yanto Samara— datang dengan wajah serius dan langkah tergesa. Begitu mendengar kabar duka itu, ia langsung meninggalkan semua urusannya. Ia tak bisa membayangkan bagaimana perasaan Mirna. Gadis itu pernah datang ke rumahnya. Ia tahu betul Mirna adalah pribadi yang sopan, lembut, dan selalu menghormati orang tua. Ketika melihat Mirna berlutut di dekat pusara, memeluk tanah seperti ingin menahan waktu, hatinya ikut tersayat. Teman-teman Mirna dari kampus dan lingkungan kos juga hadir. Beberapa dari mereka menatap Mirna dengan iba, mengingat betapa dekatnya hubungan Mirna dengan almarhum ayahnya. Ada yang berbisik-bisik, ada yang hanya mematung, tak kuasa berkata-kata. “Mirna, kuat ya…” ucap seorang sahabatnya sambil menyentuh pundaknya pelan. Namun Mirna tak menjawab. Ia tak mendengar, tak merasa. Suaranya hilang ditelan pilu. Hanya suara hatinya yang bergetar dalam diam: “Ayah… mengapa dunia terasa begitu dingin tanpamu Mirna terduduk di tanah basah, pakaiannya penuh debu dan kelopak bunga yang beterbangan. Tangannya gemetar saat menggenggam batu nisan yang masih basah oleh hujan semalam. Ia tidak peduli dengan tatapan orang-orang. Hatinya koyak, jiwanya kosong. “Ayah...,” bisiknya, suaranya nyaris tak terdengar, “bawa aku bersamamu…”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD