Akhirnya sesuai kontrak nikah mereka sepakat melangsungkan pernikahan yang sudah diatur oleh pak Yanto.
Resepsi pernikahan sudah disebar sebelumnya oleh keluarga samara. Hotel dan makanan dipesan oleh keluarga
Samara dengan konsep pernikahan yang anggun dan mewah.
Pesta pernikahan digelar di ballroom hotel bintang lima di pusat kota Jakarta, dihias megah dengan d******i warna emas dan putih. Lampu kristal bergemerlap dari langit-langit, bunga mawar dan lily tersusun rapi di setiap sudut ruangan. Tamu undangan datang dari berbagai kalangan elite yaitu rekan bisnis, pejabat, pengusaha kenalan ayah Joshua. Musik band mengalun lembut, namun suasana justru terasa dingin.
Mirna berdiri di pelaminan dengan gaun pengantin putih rancangan desainer ternama yang dibelikan oleh ayah mertuanya, Pak Yanto. Tapi meski mewah, wajah Mirna tidak memancarkan kebahagiaan. Ia tampak tegang, bahkan sedikit asing di antara keramaian itu. Di sisinya, Joshua berdiri kaku, seringkali hanya menunduk atau berpaling ke arah lain. Mereka saling menjauh dalam diam dan terlihat sangat canggung seperti dua orang asing yang kebetulan mengenakan pakaian pengantin.
Desas-desus mulai beredar di antara para tamu.
"Kayaknya dijodohin, ya," bisik seorang wanita setengah baya pada temannya.
"Mirnanya cantik, tapi kayaknya bukan dari kalangan kita. Lihat aja ibunya... pakaiannya sederhana banget," sahut yang lain.
Lalu datanglah Sandra, mantan kekasih Joshua. Ia melangkah anggun mendekati pasangan pengantin.
“Selamat ya, Jos,” ucapnya sambil tersenyum manis dan senyum yang menyimpan racun. Ia mendekat dan berbisik tepat di telinga Mirna.
“Kamu akan menikmati neraka dalam pernikahan ini. Dan aku… aku tidak akan menyerah mendapatkan Joshua."
Mirna menegang sejenak, tapi hanya diam. Ia tidak membalas hanya dengan senyum sopan. lalu Joshua segera turun dari pelaminan dan mulai menyelami tamu-tamu pria yang ia kenal.
Teman-temannya menyambut dengan canda tawa.
“Selamat bro, menempuh hidup baru! Tapi cewek lo tuh, kenapa nggak pernah dikenalin sebelumnya?”
“Iya, bro. Cewek lo kurang glamor. Kayak pembantu,” sambung yang lain sambil tertawa keras.
Joshua hanya ikut tersenyum hambar, seolah tak peduli. Tapi sesungguhnya, hatinya panas—entah oleh ucapan mereka, atau karena kenyataan pernikahan ini memang bukan pilihan hatinya.
Di antara gemerlap lampu kristal dan lantunan musik lembut dari band dan penyanyi pernikahan ada di sudut ruangan, terdengar bisik-bisik dari keluarga besar Joshua. Sepupunya, seorang wanita bergaun mencolok, melirik sinis ke arah Mirna yang berdiri sendirian.
"Koq bisa-bisanya kakakku nikah sama cewek mirip pembantu gitu? Apa udah nggak ada yang lain?" bisiknya pada kakaknya sendiri, seorang perempuan muda yang berdiri dengan segelas champagne.
"Awas aja nanti di rumah, kita kerjain dia. Biar tahu rasa," balas si pria dengan tawa mengejek.
Mereka tertawa pelan namun jelas menampakkan ketidaksukaan yang dalam. Beberapa anggota keluarga lain hanya melirik Mirna dengan pandangan tajam, seolah menegaskan bahwa dia tidak pernah benar-benar dite
rima.
Di sisi lain, Mirna hanya bisa berdiri sendiri di pelaminan. Wajahnya tetap menampilkan senyum tipis walau kosong. Tak ada satu pun dari tamu keluarga Joshua yang mendekat padanya.
Tiba-tiba, seorang pria datang menghampirinya.
"Hey! Selamat ya, Mirna. Kau telah menikah. Dapat orang kaya pula," sapa suara familiar.
Mirna tersenyum kecil, matanya langsung mengenali pria itu.
“Eh, kamu Desta... Kapan datang ke Jakarta?”
“Baru kemarin. Ibumu yang undang aku ke sini. Dia bilang kamu menikah hari ini. Aku senang bisa lihat kamu lagi.”
Desta, teman lamanya dari SMA, berdiri di hadapannya seperti oasis di tengah pesta yang penuh kepura-puraan. Untuk pertama kalinya malam itu, Mirna merasa sedikit dihargai sebagai manusia.
Setelah tamu undangan satu persatu meninggalkan ruangan ballroom hotel mewah.
Mirna dan ibunya naik keatas kamar hotel yang telah disediakan namun justru Joshua pergi meninggalkan Mirna dan
Pergi bersama teman teman nya.
Di malam pertama di kamar hotel itu Mirna duduk sendiri tanpa pasangan.
Malam itu, seharusnya menjadi malam pertama sebagai suami istri. Tapi yang ada, hanya sunyi.
Kamar hotel mewah dengan ranjang berkanopi putih, lampu gantung kristal, dan aroma bunga segar tak mampu menutupi satu hal: kekosongan.
Mirna duduk sendiri di tepi ranjang, masih mengenakan gaun pengantin. Sepatunya sudah ia lepas, tapi ia belum sanggup berdiri. Hatinya hancur.
Joshua teman temannya merayakan hari pernikahan mereka di klub malam yang ia sudah booking sebelumnya.
Di sebuah klub malam di kawasan elit Jakarta, Joshua tertawa lepas bersama teman-teman pria dan beberapa wanita berpakaian glamor. Musik dentum keras, minuman mengalir bebas.
Seorang perempuan bersandar di bahunya, tangannya mengusap pipi Joshua.
“Kamu ganteng banget malam ini,” bisik si perempuan.
“Gue baru nikah,” kata Joshua sambil tertawa miring.
“Nikah ?Selamat ya,bro.". Perempuan itu mengandeng Joshua dan memeluknya hangat.
Ditempat lain dikamar hotel Mirna belum tidur, masih mengharap Joshua datang namun
Keinginannya tak terwujud.
Jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Tak ada kabar, tak ada pesan.
Mirna menatap ponselnya. Layar gelap.
Ia rebahkan tubuhnya perlahan, membelakangi sisi ranjang yang kosong.
Hanya air mata yang menemaninya malam itu.
" Ayah... ku korbankan masa depanku untuk kebahagiaanmu. Hari ini sayang engkau tak dapat
hadir bersamaku.... Kemudian Mirna terlelap dalam mimpi buruk yang menghantuinya.