Pernikahan hanya diatas kertas

922 Words
Keesokan harinya di hotel bintang lima, Mirna terbangun. Tapi Joshua tidak ada di sampingnya. "Rupanya dia tidak pulang semalam. Di mana dia sekarang?" Mirna menghela napas panjang, lalu bangkit. Ia mandi dan merias diri setelah malam panjang pernikahan. Tiba-tiba terdengar ketukan di pintu kamar. Ia mengintip dari lubang kecil di pintu. "Joshua!" Ia segera membukakan pintu. Joshua masih dalam keadaan mabuk. Ia langsung membentak, "Lama banget sih! Dari tadi aku ketok, nggak dibukain! Ngapain aja kamu?" "Maaf, Joshua. Aku baru selesai mandi." "Ya udah… Aku mau tidur. Aku pusing, semalaman party sama teman-teman." Joshua langsung merebahkan diri di tempat tidur. Tidur pulas, tanpa tanya, tanpa rasa bersalah. Mirna hanya diam. Menatap wajah suaminya yang tertidur. Ada kekhawatiran dalam hati. “Apakah aku bisa mencintai orang ini, yang bahkan tidak memperlakukanku sebagai istri?” Sambil merias wajahnya, ia memandang dirinya di cermin. “Apa yang kau dapatkan dari pernikahan ini? Harta? Atau pengorbanan?” Ia belum tahu jawabannya. "Ayah… seandainya kamu masih ada, aku akan curahkan isi hatiku hari ini." Setelah merapikan diri dan berganti pakaian, Mirna berjalan ke kamar ibunya. Ting… tong… Ibunya membuka pintu. "Nak, kamu sudah bangun? Kamu cantik hari ini." "Iya, Bu. Semalam kecapekan. Baru saja bangun, langsung ke sini." "Bagaimana Joshua? Ada di kamarmu?" "Ada, Bu. Baru pulang pagi ini." Ibunya hanya mengangguk perlahan. Tak berkata apa-apa, tapi Mirna tahu ibunya kecewa. Mereka turun sarapan di lounge hotel bintang lima. Mengambil berbagai makanan mewah dan lezat. Di sana, sepupu dan adik Joshua juga sedang sarapan. Ketika melihat Mirna dan ibunya, adiknya joshua, Nina, menghampiri mereka dengan wajah mengejek. "Aduh, kasihan banget. Pengantin baru ditinggalin suaminya," sindir Nina. Mirna hanya diam. Ia tak bisa membalas. Malu menelan harga dirinya. Nina makin tajam. "Kamu tuh perempuan kampung. Jangan mimpi bisa rebut hati kakakku. Ih, nggak level banget."0: Ibunya sudah tak tahan untuk menahan kesabarannya. Lalu membentak ke nina "Cukup! Kamu sudah keterlaluan. Apa kamu nggak diajarkan sopan santun?" Nina menjawab sambil tertawa dingin. "Ibu yang terhormat… hehe… rasanya tak pantas diberi sanjungan setinggi itu." Lalu ia berdiri dan kembali ke tempat duduknya. Mirna menunduk. Sakit hati, tapi tak bisa berkata-kata. Aku tak tahan berada disana , Aku putuskan kembali ke kamarku dan aku lihat mamaku hanya berdiam diri tanpa bicara Ia menyadari menikah dengan keluarga kaya. Pasti diremehkan status nya. Setelah sarapan pagi itu aku kemudian balik ke kamar ku, ketika aku masuk Joshua sudah bangun. Ia sedang mandi. Air mengalir. Suaranya bercampur dengan detak jantungku yang tak menentu. Tak berapa kemudian Joshua keluar dari kamar mandi, lalu Joshua membuka lemari, mengambil kemeja putih. Tanpa menoleh ke arahku, ia langsung mengenakannya. Yang ia lakukan hanya berdiri, berjalan menuju jendela. Membuka tirai dan melihat matahari pagi. Lalu menoleh sebentar ke arahku. Tatapannya datar, sulit ditebak. Ia berdiri dihadapanku dan hanya sebatas memberitahu. “Aku sudah bicara pada Papa semalam,” katanya akhirnya. “Kamu akan tinggal di rumah keluarga Samara. Di sana aman. Ada penjaga dan sopir. Mereka akan mengurus semua keperluanmu.” Aku terdiam. Menunggu penjelasan yang lebih dari sekadar kalimat dingin. “Kamu bisa mulai berkemas. Setelah itu, kita akan langsung ke sana.” Tanpa menunggu jawaban dariku, ia melangkah ke sofa dan asyik kembali dengan Hpnya. Aku yang masih duduk di tepi ranjang. Membeku. Menyadari bahwa sejak hari ini, aku akan tinggal di rumah yang tidak kupilih. Dengan orang-orang yang tidak kukenal. Dan seorang suami yang tidak mencintaiku. .Di ruangan itu hening , kami saling berdiam diri, yang terdengar cuma suara ketikan chat joshua. Suasana canggung, aku juga tidak tahu harus berbuat apa. Aku masih duduk di tepi ranjang, menatap ke arah sofa walaupun jaraknya tidak jauh namun terasa semakin jauh jaraknya. Kemudian aku memberanikan diri memulai percakapan. "Kamu enggak mau sarapan dulu?" tanyaku pelan. "Nga usah, aku masih kenyang" gumamnya akhirnya, masih menunduk menatap layar. Lalu terdengar bunyi dering telepon. Joshua kemudian berjalan cepat ke balkon, ponselnya berdering nyaring. Nada dering itu memecah keheningan kamar. Mirna masih duduk di tepi ranjang, matanya sayu, tubuhnya lelah setelah semalam berdiri lama menyalami ratusan tamu undangan. Angin pagi dari celah pintu balkon terdengar samar-samar suaranya. Aku tak bermaksud menguping, tapi kata-kata itu jelas terdengar. “Oke… nanti kita bertemu. I miss you.” Mirna memejamkan mata. Dadaku terasa berdetak kencang, tapi tak ada amarah yang meledak. Hanya kekosongan. Ia tak perlu menebak siapa yang sedang berbicara dengan joshua.Namun aku tahu. Dan aku tak peduli sekalipun. Pernikahan ini, sejak awal, bukan karena cinta. Hanya keterpaksaan. Ia tak punya hak melarang, sebagaimana Joshua juga tak punya hati untuk mempertahankan. Entah sampai kapan kami bisa bertahan. Dari luar, kami mungkin terlihat pasangan sah. Tapi bagi Mirna, pernikahan ini hanya sebuah kontrak dengan selembar kertas bertuliskan satu kalimat: “SUDAH MENIKAH KONTRAK " Joshua masuk kembali ke dalam tanpa menghiraukan diriku yang sedang duduk di tepi ranjang. Tanpa bertanya atau berkata sedikitpun, Joshua berjalan menuju ke sofa. Ia malah sibuk dengan hp nya. Melihat keacuhan Joshua ,aku tak termenung, tak bisa menahan kesedihan dihatiku.Tapi Mirna sudah menduga semua ini akan terjadi .Aku harus jalani sesuai keputusanku menikah tanpa cinta. Satu detik. Dua. Tiga. Aku menarik napas. Rasanya udara di kamar ini makin menipis. Aku hanya istri di atas kertas. Dan di atas ranjang, aku bukan siapa-siapa. Mirna memulai percakapan yang sebenarnya tak perlu aku katakan. “Joshua… kita belum bicara apa pun soal semalam.” Ia berhenti sebentar. Lalu berkata pelan, tapi tajam, “ ga perlu dibicarakan semuanya sudah selesai." Mirna mengatup bibirnya. Hatinya seperti disayat. Tangannya gemetar saat mulai melipat bajunya. Dalam hati ia berbisik, “Ini bukan pernikahan. Ini seperti neraka "
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD