Mobil hitam mewah itu berhenti perlahan di depan sebuah rumah bergaya kolonial yang megah dan dingin. Pilar-pilarnya tinggi menjulang, gerbangnya berlapis besi hitam. Namun tak ada kehangatan sedikit pun dari bangunan yang disebut “rumah” itu.
Joshua turun lebih dulu, membuka pintu mobil. Mirna melangkah keluar, membawa satu koper kecil. Matanya menatap rumah itu tanpa ekspresi. Hatinya terasa berat, seolah ada beban tak kasat mata yang menggantung di udara.
“Ini tempat tinggal kita,” kata Joshua singkat. “Papa punya rumah di mana-mana, tapi untuk sementara kita tinggal di sini.”
Mirna hanya mengangguk. Tak ada ucapan selamat datang. Tak ada sambutan. Yang ada hanya tatapan tajam dari dua orang di teras yaitu Nina dan Kevin, sepupu dan adik Joshua.
“Akhirnya datang juga si pengantin tempelan,” sindir Nina dengan suara cukup keras untuk terdengar.
“Mirna, itu Nina. Dia adikku. Dan yang satu lagi Kevin, sepupuku,” kata Joshua malas, lalu langsung masuk ke dalam rumah tanpa menoleh.
Mirna terdiam. Ia memaksa senyum kecil dan membungkuk sedikit. “Permisi…”
Nina membalikkan badan tanpa menjawab. Kevin hanya mengangkat alis sambil memainkan ponselnya.
Saat Mirna melangkah masuk, seorang wanita paruh baya menyambutnya dengan senyum lembut. “Halo, Ibu Mirna. Saya Bu Lilis, asisten rumah tangga di sini.”
“Terima kasih, Bu,” jawab Mirna pelan.
---
Beberapa hari berlalu.
Mirna mulai merasakan betapa rumah besar itu seperti penjara tanpa jeruji. Setiap pagi, Nina dan Kevin melemparkan tugas-tugas padanya.
“Mirna, setrikain bajuku, ya. Jangan sampai kusut.”
“Eh, kamu bisa bersihin dapur, kan? Tadi ada kecoa. Jijik.”
“Apa sih gunanya kamu di sini selain jadi pajangan?”
Dan Joshua? Dia hanya diam. Pulang kerja, langsung masuk kamar. Tak pernah membela. Tak pernah bertanya, “apa kamu baik-baik saja?”
Hanya Bu Lilis yang diam-diam menunjukkan perhatian.
Suatu malam, setelah dapur dibereskan dan Mirna duduk lelah di kursi, Bu Lilis mendekat dan meletakkan secangkir teh hangat.
“Bu Mirna... kamu perempuan baik. Saya tahu kamu bukan pembantu. Tapi sabar dulu ya. Waktu akan buktikan siapa yang benar.”
Mirna tersenyum tipis. Tapi matanya berkaca-kaca.
“Aku tidak minta dihormati, Bu. Aku cuma ingin diperlakukan adil. Tapi bahkan itu pun... terlalu mewah di rumah ini.”
---
Di balik pintu kamarnya, Joshua mendengar suara itu.
Ia duduk di ranjang, terpaku. Tak tahu harus melakukan apa. Hatinya... kosong. Atau pura-pura kosong?
Namun, satu kalimat Mirna tadi seperti menghantam dadanya:
"Aku cuma ingin diperlakukan adil..."
Dan ia tahu...
Ia hanya diam.Tapi diam itu bisa lebih menyakitkan.
Mirna duduk termenung di sudut dapur, perutnya mulai terasa perih. Waktu sudah hampir malam, tapi tidak ada satu pun dari keluarga Samara yang menawarinya makan. Sejak pagi tadi, dia hanya minum air putih. Ia beranjak perlahan, membuka tutup panci, berharap ada sisa makanan. Kosong.
Tiba-tiba suara langkah kaki terdengar mendekat.
"Mirna, ini makanannya." Bu Lilis, asisten rumah tangga, menyodorkan sebungkus makanan yang dibungkus kain bersih.
Mirna terkejut. "Ini… buat aku?"
Bu Lilis mengangguk cepat. "Iya, jangan bilang siapa-siapa. Tadi saya simpan sedikit sebelum semuanya habis."
Mirna menelan ludah, matanya berkaca-kaca. "Terima kasih, Bu… Saya benar-benar.."
“Sssttt!” Bu Lilis menaruh telunjuk di bibirnya. “Jangan berisik. Kalau ketahuan tuan Kevin atau Mbak Nina, bisa-bisa saya dipecat dan kamu tambah dibentak.”
Mirna mengangguk. Ia membuka bungkus itu perlahan. Hanya nasi dan tumis tempe, tapi saat ini rasanya seperti hidangan mewah. Ia makan perlahan, menahan air mata yang hampir jatuh.
Dari kejauhan, suara tawa sepupu Joshua terdengar nyaring dari ruang tengah.
"Lihat tuh, akhirnya si Mirna cuma jadi pembantu. Dasar cewek murahan."
Joshua hanya duduk di sofa, membuka ponselnya. Tak satu kata pun keluar dari bibirnya.
Mirna mendengar semua itu. Tapi ia memilih diam. Ia tahu, hari ini bukan saatnya melawan. Tapi kelak, ia akan buktikan bahwa dirinya bukan wanita lemah.
Mirna berdiri kikuk di sudut dapur, memperhatikan Joshua yang baru saja keluar dari kamarnya.
Mirna menghampiri Joshua saat ia duduk di meja makan.
“Mas sudah makan?” tanya Mirna pelan.
Joshua tak menjawab. Matanya masih menatap layar ponsel.
Mirna mencoba lagi, suaranya nyaris tenggelam. “Mas… mau saya bikinkan kopi?”
Joshua tetap diam beberapa detik, lalu berkata singkat, “Iya.”
Mirna segera bergegas ke dapur, menyiapkan secangkir kopi hitam seperti biasanya. Tangannya sedikit gemetar, takut rasanya tidak pas. Ia menyajikannya dengan hati-hati.
Joshua mengambil cangkir itu, menyeruputnya. Seketika ekspresinya berubah.
“t***l!” hardiknya, lalu melempar cangkir ke lantai. Kopi tumpah mengenai kaki Mirna. “Bikin kopi aja nggak bisa! Ini pahit kayak empedu!”
Mirna terpaku. Matanya berkaca-kaca. Tapi ia tidak berani menangis. Ia hanya menunduk, memunguti pecahan gelas dengan tangan kosong.
Dalam hati Mirna: "Apa aku memang seburuk itu? Apa tidak ada satu pun di rumah ini yang bisa melihat aku berusaha keras?"
Air matanya jatuh diam-diam ke lantai, menyatu dengan tumpahan kopi.