Bab 01: Dosis Terakhir
Siren monokromatik dari monitor EKG memekik memotong kesunyian ruang isolasi High Care Unit lantai empat. Grafik garis hijau yang semula membentuk gelombang *sinus rhythm* mendadak melompat liar sebelum terhempas merata menjadi garis lurus yang konstan. Suara berdenging tajam itu menyengat udara steril bangsal uji klinis, memicu kepanikan instan di antara empat perawat yang bertugas.
Kalila Syafiqah memotong jarak tiga meter dalam dua langkah lebar, menyibak tirai pembatas hingga besi relnya menggema keras. Jarum jam dinding RS Pendidikan Utama menunjukkan pukul 03.08 WIB. Di atas ranjang bertuliskan label khusus *Uji Klinis Neuro-X Phase III*, tubuh Pak Herman—pasien nomor urut 042—terhentak hebat dalam spasme otot yang tidak wajar. Darah segar berwarna merah pekat merembes cepat dari celah bibirnya yang membiru, menodai seprai putih dan selang oksigen.
"Bawa *crash cart* sekarang! Ambil *defibrillator*!" teriak Kalila, suaranya melengking membelah kekacauan tanpa sedikit pun keraguan. Sebagai *Clinical Research Associate* yang bertanggung jawab mengawasi integritas data lapangan, ia hafal luar kepala seluruh riwayat medis pria lima puluh empat tahun itu. Pak Herman adalah subjek kelompok kontrol—penerima plasebo murni yang secara teoritis hanya disuntikkan larutan salin steril 0,9 persen. Tidak ada alasan biologis, fisiologis, maupun kardiologis bagi seorang pasien plasebo tanpa riwayat komplikasi jantung untuk mendadak mengalami gagal organ fulminan dan pendarahan sistemik hebat seperti ini.
Tangan Kalila bergerak cepat memutus aliran infus, lalu mencabut kateter plastik dari pembuluh vena pasien dengan ketelitian yang terasah. Ia mendekatkan vial kaca kecil bertuliskan kode batang *PL-042-NX* ke bawah pendar lampu fluoresens. Penglihatannya menangkap presipitasi keruh bergelombang di dasar cairan—endapan mikroskopis berwarna keperakan yang seharusnya tidak pernah ada pada larutan garam fisiologis. Ini bukan reaktif fisiologis biasa. Ini adalah jejak perusakan metabolik mendadak yang dipicu oleh agen sitotoksik berdosis tinggi. Seseorang telah menukar isi vial plasebo dengan racun sistemik.
"Charge dua ratus Joule! Clear!"
Bum! Tubuh Pak Herman terangkat akibat kejutan listrik pertama, tetapi garis di layar monitor tetap datar dan lurus. Dokter jaga malam berjuang melakukan resusitasi jantung paru, ritme tekanannya terdengar terengah-engah di antara dentang alat medis yang saling berbenturan. Kalila berdiri mematung di samping tiang infus, jemarinya mencengkeram erat vial terkontaminasi itu hingga buku-buku jarinya memutih. Di dalam benaknya, seluruh bagan struktur molekul Neuro-X dan lembar protokol Apex Pharma berkelebat kencang. Jika pasien plasebo mati akibat racun yang terselubung sebagai obat, maka seluruh uji klinis bernilai miliaran dolar ini bukan lagi sekadar penelitian medis—ini adalah medan pembunuhan berencana yang tersusun rapi di balik stempel etika kedokteran.
"Waktu kematian: pukul 03.14 WIB. *Asystole* irreversibel," cetus dokter jaga pelan, menyapu keringat di dahi sebelum menarik kain penutup wajah jasad Pak Herman.
Keheningan berat membungkus ruangan itu, namun kesunyian tersebut pecah tatkala pintu kaca otomatis bergeser terbuka. Langkah kaki mantap menggelegar mengikis lantai granit steril.
dr. Raditya Vance melangkah masuk. Jas laboratorium putihnya melambai kaku mengiringi postur tubuhnya yang tinggi dan tegap. Dokter spesialis bedah saraf sekaligus Kepala Tim Riset Utama proyek Neuro-X itu berdiri di ambang pintu, menyapu pandangannya ke arah jasad yang membeku di atas ranjang tanpa berkedip sedikit pun. Wajahnya yang tegas bergaris rahang keras tampak bagaikan pahatan batu pualam—dingin, tidak tersentuh, dan sepenuhnya hampa dari emosi kemanusiaan.
"Apa yang terjadi di sini?" suara Raditya terdengar rendah, berat, dan memotong udara dingin dengan presisi yang mengerikan.
"Pasien 042 meninggal dunia, Dokter Vance," sahut Kalila melangkah maju membentengi akses menuju tiang infus, tatapannya menyala lurus menghantam mata jelaga pria di hadapannya. "Gagal organ fulminan dengan simtom pendarahan mukosa mendadak. Dan ini terjadi sepuluh menit setelah penyuntikan botol plasebo seri terbaru."
Raditya menatap Kalila. Tatapan matanya tidak tertuju pada garis mata Kalila yang penuh amarah, melainkan mengunci vial kecil yang tergenggam erat di dalam jemari wanita itu. Tidak ada kejutan pada raut wajah sang dokter. Tidak ada denyut panik pada urat lehernya. Pria itu hanya melangkah satu tapak lebih dekat, mengikis jarak hingga aroma maskulin berpadu antiseptik yang khas menekan indra penciuman Kalila.
"Pendarahan mukosa pada pasien usia lanjut dengan komorbiditas vaskular bukanlah hal yang aneh, dr. Syafiqah," ucap Raditya santai, nadanya datar tanpa riak. "Jangan membawa kecenderungan emosionalmu ke dalam ruang perawatan yang membutuhkan analisis klinis rasional. Amankan jasad pasien dan siapkan laporan autopsi standar."
"Rasional?" Kalila tertawa hambar, suara tawa yang sarat akan sarkasme dan penolakan mentah-mentah. Ia mengangkat vial itu tepat di depan d**a Raditya. "Lihat presipitasi di dasar botol ini, Dokter! Larutan salin tidak mengendap dan berubah keruh seperti ini kecuali ada kontaminasi senyawa kimia asing! Ini bukan kematian alami akibat komorbiditas. Seseorang telah menukar sampel ini, atau Apex Pharma secara sengaja mendistribusikan racun ke dalam kelompok kontrol!"
Para perawat dan staf medis di sekeliling mereka tersentak pelan. Bisik-bisik kasak-kusuk mulai menjalar cepat di sepanjang koridor HCU. Tuduhan terbuka seorang CRA terhadap integritas raksasa farmasi sponsor Uji Klinis adalah tindakan bunuh diri karir yang tak pernah dibayangkan siapa pun.
Mata Raditya menyempit tajam. Kilat berbahaya terpancar singkat dari sudut matanya sebelum menguap digantikan oleh benteng ketenangan yang membekukan. "Jaga bicaramu, Kalila," bisiknya, kini menyebut nama depannya dengan nada yang penuh tekanan intim namun mematikan. "Kau sedang menuduh institusi riset dan sponsor tanpa bukti laboratorium yang sah di hadapan staf medis. Tindakan spekulatifmu ini adalah pelanggaran berat protokol kerahasiaan dan pencemaran nama baik."
"Bukti?" Kalila menantang, merapatkan posisinya hingga dadanya hampir bersentuhan dengan jas putih Raditya. Sebagai *Female Chaser* yang tak pernah gentar menghadapi intimidasi hierarki medis, ia menengadahkan kepala, menyerap aura dominan Raditya tanpa berkedip sedikit pun. "Bukti itu sedang aku genggam sekarang. Dan aku sendiri yang akan membawa sampel ini ke laboratorium independen di luar rumah sakit ini sebelum ada tangan-tangan kotor yang melenyapkannya!"
Raditya tidak mundur serambut pun. Tubuhnya yang tinggi menjulang menciptakan bayangan pekat yang menutupi tubuh Kalila dari pendar lampu koridor. Ia mengulurkan tangannya, bukan untuk mengambil vial tersebut secara kasar, melainkan mencengkeram pergelangan tangan Kalila dengan cengkeraman kaku dan sangat kuat. Kehangatan kulit telapak tangan Raditya berbenturan kontras dengan hawa dingin yang memancar dari sikapnya.
"Kau tidak akan membawa apa pun keluar dari gedung ini malam ini," ancam Raditya pelan, suaranya terngiang tepat di samping telinga Kalila, cukup pelan untuk tidak terdengar oleh perawat yang berkerumun, namun cukup tajam untuk mengiris keberanian wanita itu. "Protokol keamanan uji klinis berada di bawah kewenanganku sepenuhnya. Setiap sampel yang terindikasi bermasalah wajib disita oleh Kepala Tim Riset untuk investigasi internal."
"Investigasi internal?" Kalila menyeringai sinis, meraba getaran halus yang membias dari pergelangan tangan Raditya—sebuah kontradiksi fisik yang tak bisa disembunyikan pria itu meski raut wajahnya tetap bagai topeng baja. "Kau bilang investigasi internal, tapi kita berdua tahu apa yang sebenarnya akan terjadi pada sampel ini jika jatuh ke tanganmu. Sampel ini akan menguap, data rekam medis Pak Herman akan diubah menjadi 'gagal jantung bawaan', dan Apex Pharma akan terus mencetak miliaran dolar di atas tumpukan mayat pasien!"
Kalila mencoba menarik tangannya, tetapi cengkeraman Raditya bagaikan borgol besi. Pria itu menyudutkan Kalila ke dinding koridor yang bersuhu dingin, mengunci ruang gerak wanita itu dengan postur tubuhnya. Dalam jarak yang teramat dekat ini, Kalila dapat mendengar detak napas Raditya yang teratur namun berat.
"Kau selalu menganggap dirimu sebagai pahlawan kebenaran, Kalila," bisik Raditya, matanya menatap dalam-dalam ke dalam manik mata Kalila, menyiratkan kombinasi ancaman dan bahaya terselubung. "Kau pikir kau bisa memperbaiki segalanya sendirian? *Try to fix what is already broken, and you will end up crushed beneath the debris.*"
Kalila tersentak pelan saat mendengar frasa tersirat yang meluncur dari bibir Raditya—sebuah gema makna dari lagu tentang kehancuran dan usaha menyembuhkan sesuatu yang telah runtuh. Namun alih-alih gentar, matanya justru makin berbinar oleh amarah yang membara.
"Kalau memang semuanya sudah hancur," balasan Kalila memotong udara di antara bibir mereka yang hanya berjarak beberapa sentimeter, "maka aku tidak keberatan membakar habis sisa panggung sandiwara ini bersamamu, Dokter Vance. Tarik aku ke bawah jika kau sanggup, tapi aku tidak akan membiarkanmu bernapas lega di atas kebohongan ini."
Raditya menatapnya tanpa kedip selama beberapa detik yang terasa menyiksa. Kemudian, dengan gerakan pelan yang diperhitungkan secara dingin, jemari Raditya menekan titik saraf di pergelangan tangan Kalila, membuat jari-jari wanita itu melemah secara reflektif. Sebelum Kalila sempat mempertahankan cengkeramannya, Raditya telah mengambil alih vial kaca *PL-042-NX* dari telapak tangannya.
"Keamanan!" panggil Raditya dengan suara lantang yang menggelegar ke seluruh koridor, tanpa memalingkan pandangannya dari wajah Kalila yang memerah tahan amarah. Dua petugas keamanan berseragam gelap langsung bergegas mendekat. "Amankan area HCU. Sita seluruh salinan log audit lapangan milik CRA Kalila Syafiqah atas dugaan pelanggaran prosedur etik penanganan barang bukti. Mulai detik ini, batasi akses dr. Syafiqah ke laboratorium lantai tiga hingga Komite Etik mengeluarkan keputusan."
"Raditya! Kau tidak bisa melakukan ini!" teriak Kalila saat salah satu petugas keamanan melangkah maju memasang barikade tubuh di antara dirinya dan sang dokter.
Raditya memutar tubuhnya membelakangi Kalila. Ia memasukkan vial terlarang itu ke dalam saku dalam jas laboratoriumnya dengan gerakan tenang. Namun, tepat sebelum melangkah menjauh meninggalkan koridor HCU yang penuh kepulan ketegangan, Raditya menyempatkan diri melirik sekilas lewat bahunya.
"Aku baru saja menyelamatkan nyawamu dari ketahuilah apa yang ada di luar sana, dr. Syafiqah," bisik Raditya begitu pelan hingga hanya angin koridor yang membawa suaranya. "Tapi jika kau melangkah satu senti lagi melewati batas ini besok pagi... aku sendiri yang akan memastikan karir dan hidupmu berakhir di rumah sakit ini."
Raditya melangkah pergi, meninggalkan Kalila yang berdiri terpaku di tengah koridor, dadanya naik turun oleh napas yang memburu, dikelilingi oleh tatapan curiga para staf dan ancaman raksasa farmasi yang kini mengintai setiap jengkal langkahnya.