Dirana dan Oma sedang tiduran sembari menceritakan masa-masa sekolah Gibran. Mata tua Oma menerawang ke masa di mana Gibran sering mendapatkan hadiah dari teman-teman perempuan di sekolahnya. Ternyata suaminya itu sudah menjadi idola di sekolah sejak dari kecil. Baiklah... Dirana harus akui kalau suaminya itu punya wajah tampan. Dirana tidak berhenti tertawa ketika Oma menceritakan Gibran pulang sekolah dengan wajah masam setiap ada teman perempuannya memberikan hadiah kepadanya. Gibran remaja selalu memasang tampang dingin, nada suara ketus setiap kali ada murid perempuan yang mengejar-ngejarnya. Malah dengan sadisnya suaminya itu membuang hadiah-hadiah yang dia dapatkan di depan si pemberi secara langsung. Wah, bapak moyangmu sadis ya, dek? Gumam Dirana dalam hati mengelus-elus perut

