Adelio tersenyum dengan penuh kekaguman saat melihat Lucia yang sedang menuruni tangga dari kediamannya yang menghubungkan lantai atas dengan lantai bawah.
Disaat Lucia telah berada di ujung tangga dengan gesit Adelio maju mendekat dan mengulurkan tangannya sebagai bagian bagi Lucia dan itu tidak ditolak.
Lucia tidak bisa berhenti bersemu malu saat Adelio terus menatapnya dengan senyuman indah yang di milikinya bersamaan dengan tangan besar yang menggenggam lembut telapak tangan mungil miliknya.
Saat mereka telah tiba di depan meja makan kembali dengan lembut pria bermata biru tersebut menarikannya kursi dan mempersilahkannya duduk. Benar - benar menghormati Lucia yang bukan lagi seorang bangsawan.
Sementara Lucia sibuk mengatur degup jantung miliknya, Adelio kemudian kembali berjalan menuju kursinya yang tepat berada di ujung meja sama sepertinya sehingga mereka kembali di pisahkan oleh jarak meja yang begitu besar.
Jujur saja Lucia tidak pernah berada dalam keadaan ini, dimana dirinya sedang bersip menikmati jamuan makan malam bersama seorang pria yang tidak dikenalinya terlebih hanya mereka berdua. Sebagai seorang puteri bangsawan yang membawa nama besar dari keluarganya yaitu Tralio, Lucia harus bisa menjga sikap dan perilaku miliknya sehingga kurang pantas bila dirinya harus bersama seorang pria yang tidak dikenali oleh keluarganya.
Tetapi, sekarang berbeda. Dirinya tidak lagi mempunyai banyak waktu untuk memperhatikan tingkah lakunya hanya untuk menjaga nama besar mendiang ayahnya. Tujuannya hanya satu menghancurkan Fhilip bangsawan Lorenzo.
Secara teratur dan dengan tertata baik para pelayan perempuan datang dan mulai menyajikan makanan yang berada di atas meja dalam jumlah besar untuk memenuhi keseluruhan meja makan tersebut, layaknya sebuah pesta sedang di rayakan meskipun sebenarnya hanya ada 2 tubuh pasang manusia yang akan menyantapnya.
"Duchess. Maaf saya tidak tahu pasti makanan kesukaan anda, Jadi saya memilih untuk menyajikan saja semua makanan dan berharap bahwa anda akan menyukainya." Suara itu mengalun lembut dan penuh keramahan kedalam telinga Lucia, membuat Lucia yang sibuk menatap para pelayan kini mengalihkan atensinya pada pemilik mata biru di depan sana.
Entah kenapa panggilan Duchess untuknya terasa begitu canggung di rasakan Lucia, mengingat bahwa pria ini pasti tahu jika dirinya hukan lagi seorang bangsawan.
Berdehem pelan Lucia mencoba menjawab setenang mungkin, tidak menunjukan kegugupannya karena sepasang mata biru tersebut masih saja terus menatapnya "Tidak apa. Ini sudah sangat cukup. Saya sangat menghargainya Duke."
Adelio yang mendengar suara perempuan di depannya untuk yang kedua kalinya hanya tersenyum, sebelum mulai mengangkat sebelah tangannya dengan maksud mempersilahkan tamunya itu mulai menyantap hidangan saat seluruh pelayan telah selesai.
"Silahkan." Disaat itu juga Lucia mulai menggenggam sendok dan pisau kecil yang disediakan untuknya dengan sedikit ragu - ragu. Tetapi, tidak bisa menutupi bahwa perutnya sudah sangat lapar meminta makanan. Hari ini Lucia telah menghabiskan banyak tenaga hanya untuk percobaan yang sia - sia atau tepatnya tidak membuahkan hasil.
Sesekali tatapan Adelio dan Lucia kembali bertemu disaat mereka sedang menyantap makanan, tetapi pria di ujung sana itu hanya tersenyum menanggapi bersikap sangat ramah pada Lucia yang langsung saja membuang tatapannya. Hingga Lucia sendiri mulai terbiasa dan fokus untuk menyantap berbagai hidangan yang menggiurkan untuk di cecap oleh lidahnya.
Rasa makanan ini seolah - olah sudah bertahun - tahun lalu tidak di santapnya padahal baru 2 hari yang lalu lidah niliknya itu masih mendapatkan kesempatan sebelum kehancuran datang menghampiri keluarganya.
"Sepertinya seluruh hidangannya memenuhi selera anda Duchess. Senang melihat anda menyantapnya dengan begitu baik." Sinar geli terpancar dari kedua bola mata Adelio saat kedua bola mata hitam gelap itu mendongak dari makanan di atas piringnya.
Kembali tersipu malu saat mendengar ucapan yang di ibaratkan bagi Lucia bahwa dirinya makan terlalu banyak dan terlihat seperti orang rakus yang taku makanan berada di atas meja di curi seseorang darinya. Menelan daging domba yang berada di mulutnya sebelum menarik serbet pada pangkuannya dan mulai melap sekitar area mulut miliknya dengan begitu telaten.
Sementara kedua bola mata hitam milik Lucia menangkap bahwa pria yang telah banyak menolong dirinya ini tidak menyantap apapun, hanya segelas wine saja yang berada di genggaman tangan besar miliknya.
"Saya tidak ingin anda salah paham. Saya biasanya tidak makan sebanyak ini hanya saja situasi yang saya miliki mengharuskan saya untuk menyantap lebih banyak makanan daripada bisanya." Jelas Lucia yang tidak ingin di anggap rakus, membuat pria di depannya hanya tersenyum dan menganggukan kepalanya sekali saat dirinya menatap seolah berkata apakah anda mengerti ?
Tatapan Adelio kembali turun menelusuri peralatan makan Lucia yang kini tidak lagi berada dalam genggaman perempuan tersebut yang berarti menandakan bahwa ia telah selesai dengan santapannya.
"Karena anda sudah selesai. Bisakah sekarang kita melaju pada topik utama ? Ada banyak yang harus di bicarakan."
Lucia yang mendengar ucapan tersebut hanya menaruh kembali gelas kaca berisi wine yang baru di tenggaknya setengah itu kembali ke atas meja.
Dengan perubahan ekspresi yang begitu kentara pada wajah miliknya yang menunjukan keseriusan, Lucia akhirnya membalas tatapan bola mata biru tersebut.
"Silahkan. Saya tidak bisa menghentikan anda setelah begitu banyak menolong diri saya." Kalimat tersebut keluar dari kedua bibir merona milik Lucia dengan tatapan datar dan kini menularnya ekspresi tersebut pada Adelio sendiri.
"Tetapi, anda harus tahu jika anda meminta begitu banyak pada saya sebuah balas budi. Maka anda harus menunggunya. Saya bukan tidak ingin membalas budi pada anda setelah semuanya, hanya saja sa—"
"Hanya saja situasi yang anda miliki memang tidak menempatkan anda untuk melakukan bentuk balas budi tersebut. Apa yang sebenarnya anda pikirkan Duchess ? Bahwa saya akan meminta sebuah uang atau emas ?" Sela Adelio cepat dengan di akhiri sedikit nada mencemoh di akhir kalimatnya.
Langsung saja Lucia mengkerutkan keningnya bingung saat pria bermata biru tersebut telah merubah nada bicaranya pada dirinya, bahkan menyelipkan sebuah cemohan dalam kalimatnya meskipun tetap memakai kata - kata yang sopan.
Tetapi hal tersebut berhasil membuat Lucia kebingungan dengan sikap penuh kelembutan serta sopan santun yang di tunjukan oleh pria di depannya.
"Jangan khawatir aku tahu seluruh situasimu, Lucia. Jadi, jangan pikirkan tentang material - material tidak berguna itu. Kau hanya perlu mendengarkanku. Karena aku akan memberikan padamu sebuah penawaran yang begitu menguntungkan untuk dirimu." Sambung Adelio yang kali ini dikeluarkannya begitu santai dengan keseluruhan perubahan pada dirinya. Mulai dari nada bicaranya, kata - kata yang di gunakannya, dan bahkan tingkah pria tersebut yang kini menyandar pada kursi bersama dengan kedua tangannya yang saling menyelipkan jarinya di masing - masing tangan.
Beberapa menit lalu pria di depannya menunjukan segala tata khrama yang begitu baik padanya seolah menunjukan sikapnya pada sesama bangsawan, sebelum pria tersebut kini menunjukan tingkah laku yang hanya dapat di lakukannya pada orang dengan derajat di bawah, seperti Lucia yang hanya seorang bergelar Baronet.
Adelio menoleh kesamping kanannya tepat pada sebuh jam besar yang kini berbunyi menunjukan bahwa sekarang sudah pukul 12.00 malam. Tepatnya tengah malam.
"Sepertinya waktunya telah habis." Gumam Adelio sebelum kembali berbalik menatap Lucia yang masih duduk dengan kaku dan kedua bibirnya yang menyatu, bungkam. "Bagaimana rasanya kembali merasakan posisi menjadi seorang Duchess, Lucia ? Penghormatan, harta, dan kekuasaan yang mengelilingimu, tepat berada di bawah kakimu. Menyenangkan bukan ?. Aku yakin kau baru menyadari efek sebenarnya dari gelar yang kau miliki selama ini."
Saat pria bermata biru tersebut berbicara, entah mengap perputaran kejadian - kejadian sore tadi kembali berputar dalam benaknya. Saat dirinya hampir saja menjadi korban p*********n dari penjaga bangsawan Lorenzo sebelum pria tersebut dengan sigap menolongnya, saat penawaran kekuasaan yang di miliknya untuk memutuskan hidup dari salah seorang makhluk hidup sepertinya, dan saat seluruh pelayan patuh dengan memberikan pelayanan terbaik untuknya.
Benar. Efek dari gelar kebangsawanan yang pernah di sandangnya itu barulah terasa sangat nyata untuknya, sesuatu yang tidak pernah di pikirkannya selama ini.
Kedua bola mata hitam Lucia berkilat menatap kedua bola mata biru di depan sana, seolah baru mengetahui sesuatu bahwa pria tersebut menunjukan pada dirinya, bentuk senjata dasar yang harus dimilikinya sebelum kembali masuk kedalam mendan perang untuk membunuh seorang jenderal.
Licik. Dan pikirakn itu langsung sjaa menghantam Lucia saat mengetahui maksud perlakuan dari pria di depannya.
"Benar. Aku baru menyadarinya malam ini dan itu karena kau. Jadi haruskah aku berterimakasih ?"Lucia mengikuti alur permainan. Tetapi sayangnya, dirinya belum menemukan titik sebenarnya dari permainan, mengawan. Jadi tidak ada salahnya jika dirinya juga berbicara informal pada penyelamatnya.
"Sayangnya aku tidak tahu bahwa kau menggunakan cara licik, membuatku sekarang kembali menginginkan posisi tersebut." Sambungnya dengan sedikit intonasi cacian di dalamnya.
Semenatara Adelio yang melihat perubahan besar pada Lucia tersenyum miring, mengetahui bahwa mantan puteri bangsawan tersebut ternyata tidak terlalu bodoh untuk memahami alur yang di berikannya.
"Jika kau menginginkannya aku akan menjadikan hal tersebut nyata untukmu. Penghormatan, harta, dan kekuasaan akan menjadi milikmu kembali. Aku akan memberikannya padamu secara cuma - cuma." Bisikan itu begitu menggoda untuk Lucia tetapi, justru bisikan yang paling menggoda yang akan paling berbahaya untuknya terlebih saat bisikan halis tersebut keluar dari mulut seorang Duke yang licik.
Ini mungkin akan menjadi hal yang tidak berakhir baik baginya tetapi, dibanding dengan itu hal terburuk sudah terjadi padanya. Hilangnya keluarga hangatnya.
Sehingga saat bibirnya mengatakan "Bagaimana caranya ?" Lucia harus tahu bahwa ini mungkin akan menjadi keputusan besar kedua yang di ambilnya, setelah menolak lamaran Duke Fhilip yang berujung kemalangan pada keluarga hangatnya.
Dengan senyuman miring yang tersungging indah tetapi, mengancam Adelio bergerak maju mendekati meja. Membiarkan kedua tangannya yang menyatu berada di atas meja dengan tubuhnya yang mencondong kedepan seolah ingin mendekati Lucia dari ujung sana.
"Menikah denganku dan kau akan kembali mendapatkan gelarmu. Duchess dari bangsawan Lorenzo."
Dan saat itu juga Lucia baru menyadari identitas yang sebenarnya dari pria bermata biru tersebut.
Yaitu bagian dari darah bangsawan besar Lorenzo. Musuh utamanya.
Spontan saja Lucia menggenggam erat pisau yang di pakainya tadi untuk memotong daging, berjaga - jaga. Pria di depannya ini memiliki hubungan khusus dengan bangsawan Lorenzo, siapa tahu dirinya sekarang dijebak, mengingat Lucia yang mencoba membunuh tetua besar dari keluarga pria tersebut.
Adelio hanya melirik datar sebelah tangn Lucia yang menggenggema pisau tidak terganggu akanhal tersebut. Mengingat kemampuan dari perempuan mungil di depannya, bahkan pisau dapurpun akan sulit menembus jantungnya saat tangan mungil yang kini bergemetar entah karena penuh kemarahan atau ketakutan itu yang harus mendorongnya.
"Bukankah terlalu gegabah mengambil tindakan seorang diri untuk membunuh Fhilip, Lucia ? Ini akan sangat membantumu. Dengan mudahnya kau berada di sekitar musuhmu dalam jarak dekat." Ucap Adelio yang sepertinya hanya di anggap angin lalu oleh Lucia sendiri.
"Siapa kau ? Apa maumu ?" Geram Lucia tetapi tidak mendapatkan jawaban hanya sebuah tatapan dari pemilik bola mata biru yang kini mengangkat sebelah alisnya, menatapnya. "Bisa saja kau menjebakku !. Kau akan membawaku lebih dekat dengan Fhilip agar aku bisa dengan mudahnya di bunuh !."
"Bukankah melihatnya saja kau sangat mudah untuk di bunuh ?" Ucapan itu bersamaan dengan tatapan Adelio yang turun menelusuri seluruh tubuh kecil dari Lucia dengan remeh. "Percaya padaku kita memiliki tujuan yang sama. Menghancurkan bangsawan Lorenzo. Kau membutuhkanku dan aku membutuhkanmu."
"Membutuhkanku ? Kau hanya ingin aku memenuhi nafsumu ! Jangan buat aku harus percaya kebohonganmu untuk menghancurkan keluargamu sendiri." Decih Lucia tajam yang lagi - lagi hanya di sambut diam. "Ternyata seluruh anggota bangsawan Lorenzo hanya memikirkan nafsu b***t mereka."
"Kau tidak sepenuhnya salah. Tidak begitu rugi menikmati tubuhmu, lagipula aku tidak punya banyak waktu berburu perempuan." Jelas Adelio dengan malas kembali menarik dirinya untuk menyandar pada kursi "Tetapi, kau tidak akn di rugikan apapun disini,Lucia. Kau akan mendapatkan gelarmu sebagai senjata dasarmu melawan Fhilip dan aku akan melindungimu sebagai isteriku." Bola mata biru tersebut kembali menajam, menunjukan keseriusan.
"Aku akan menunjukan padamu sebuah bentuk pembalasan dendam yang tidak pernah kau pikirkan dalam kepalamu sekalipun. Jadi, turunkan sekarang pisau tersebut dari tanganmu."