Redamancy~02

1775 Words
"Siap dia ?" Seorang penjaga dalam bangsawan Lorenzo yang baru saja turun dari tangga dan baru mengambil waktu berjaga itu langsung bertanya saat melihat seorang perempuan berada dalam sel tahanan yang kosong. "Dia perempuan yang berusaha membunuh Duke Fhilip." Jawabnya sembari ikut melirik perempuan di belakang nya yang masih memakai gaun pengantin berwarna merah itu. Mendengar semua percakapan itu Lucia hanya menundukan kepalanya dalam kedua kakinya yang menekuk mengabaikan para penjaga beserta 3 orang tahanan lainnya yang berada dalam selh tahanan di sampingnya. Lucia tidak terlalu terkejut saat bangsawan Lorenzo memiliki sel tahanan khusus dan tidak menyerahkan orang - orang yang melakukan kesalahan pada mereka  langsung kepada kerajaan untuk di adili. Tetua Lorenzo terlalu semena - mena sendiri bahkan melangkahi protokol kerajaan. Tetapi, bukan itu yang harus di pikirkan oleh Lucia dirinya harus memikirkan langkah selanjutnya untuk membunuh tetua Lorenzo sebelum dirinya yang akan di bunuh olehnya karena telah mencoba membunuh Duke Fhilip. Decakan dari penjaga tersebut terdengar sebelum kembali membuka suaranya dengan terus menatap Lucia yang masih menundukan kepalanya. "Ckckck... Sekarang terlalu banyak perempuan bodoh yang bertindak gegabah." Dirinya tahu bahwa sekarang seseorang yang bahkan tidak pantas untuk mengatainya itu kini tengah berjalan kearahnya yang masih menunduk, terdengar dari langkah kakinya yang mendekati sel tahanan tempatnya. "Hei kau perempuan." Panggil sang penjaga yang hanya dilirik sebentar oleh Lucy dengan malas sebelum kembali menyembunyikan wajahnya kembali pada kedua lututnya. "Hei. Aku memanggilmu. Seharusnya kau bersikap baik agar aku mau membebaskanmu." Hampir saja dirinya tertawa saat mendengar ucapan pria tersebut, terlihat memcoba mengelabui dirinya. Seseorang sepertinya tidak memiliki kuasa untuk melakukan itu, hanya seorang Baronet bodoh yang terlihat ingin membodohi mantan Seorang Duchess yang justru menjadikan dirinya bodoh.  Mengetahui bahwa dirinya yang hanya di abaikan membuat penjaga pria tersebut menarik kunci dari kantung temannya dan memaksa untuk membuka sel tahanan dari Lucia yang terus saja menyembunyikan wajahnya. "Apa yang kau lakukan ? Kau jangan membuat dirimu dalam masalah." Peringat penjaga lainnya tetapi hanya di abaikan olehnya. Pria tersebut masuk kedalam sel tahanan dan mulai mendekati Lucia yang mulai menatapnua dengan kening berkerut membuat pria tersebut tersenyum setan padanya. "Kau baru mau menatapku setelah aku masuk ? Rupanya kau hanya ingin agar aku mendekatimu ya." Pria tersebut mencoba meraih wajah Lucia yang mengerut jijik padanya saat mendengar ucapan yang di keluarkannya tetapi, terlebih dahulu di tepis oleh perempuan yang tidak pernah dilihatnya pada seorang perempuan baronet lainnya. "Jangan mencoba menyentuhku." Desis Lucia membuat pria tersebut hanya terkekeh dan terus menatap mata hitam terang miliknya yang kini bersinar memperingati. "Kau sangat cantik. Wajah sepertimu jarang kutemui. Siap namamu sayang ?" Pria tersebut mencekal sebelah peregelangan tangan Lucia yang kembali mencoba menepis tangannya yang memegang sehelai rambut orange milik perempuan di depannya. "Kurang ajar sekali kau ! Apa kau tahu bahwa aku adalah seorang Duchess dari bangsawan Tralio ! Jadi, jangan berani menyentuhku !" Hardik Lucia kasar yang berhasil membuat pria didepannya terkejut begitupula dengan orang - orang yang berada dalam sel tahanan bawah tanah itu. Menatapnya terkejut, bahkan dirinya berhasil melepaskan helaian rambutnya dari tangan prajurit tersebut. Hingga tatapan pria tersebut kembali menatapnya dengan sebuh seringaian yang membuat Lucia justru menarik tubuhnya yang telah mentok pada jeruji besi di punggungnya. "Jadi rupanya kau adalah seorang Duchess. Pantas saja wajah cantikmu itu begitu indah dan menggoda tetapi, sekarang kau adalah seorang Baronet sepertiku." Pria tersebut semakin mencoba mendekatinya bahkan matanya kini bersinar jauh terang dengan penuh semangat saat mengetahui perempuan yang disentihnya itu adalah mantan seorang puteri bangsawan. "Bagaimana kalau kita mencoba rasanya seorang mantan puteri bangsawan. Pasti akan sangat jauh lebih nikmat dibanding dengan perempuan lainnya." Dan saat ucapan itu di iringi dengan tatapan laprnya yang menelusuri tubuh Lucia, dirinya tidak bisa untuk tidak bergemetar takut yang justru membuatnya semakin mundur lalu memeluk tubuhnya dengan kedua tangan mungil miliknya. "Apa yang kau katakan ? Apa kau ingin mati ?!" Peringat prajurit lainnya yang masih bearada diluar sel dengan melotot pada temannya itu yang justru menatapnya dengan tatapan mata mencemoh. "Apa yang salah ? Dia seorang baronet sekarang bukan seorang Duchess lagi. Kita tidak melanggar aturan apapun. Ayolah ini bukan kesempatan yang datang dua kali." Membenarkan ucapan sari temannya itu membuat prajurit tersebut pada akhirnya mengehela nafas. "Terserah padamu. Aku tidak ikut. Berhati - hatilah dia harus diserahkan pada Duke Fhilip yang akan memberinya hukuman dengan sendirinya." Prajurit di depannya hanya tersenyum menakutkan saat mendengar ucapan pasrah dari temannya itu, sementara Lucia mulai sangat ketakutan saat tak ada lagi yang bisa membantunya dari pria yang terus mencoba menyentuh tubuhnya itu. Dan Lucia hampir saja meludahi wajah di depannya saat kembali mendengar ucapan penuh pelecehan dan menjijikan itu."Ayolah. Kau harus bersenang - senang sebelum Duke Fhilip membunuhmu, Duchess. Aku akan memberikanmu kenikmatan yang belum pernah kau rasa. Kemarilah Duchess-ku sayang." Ucapan yang disemati peringakat itu hanya digunakannya untuk mengejak Lucia yang mulai benar - benar ketakutan saat melihat pria terswbut bukan tandingan untuk tubuh kecilnya yang sudah terperangkap. Pria di depannya bahkan tidak memikirkan situasi dimana dia akan melakukan hubungan dewasa dengan orang - orang yang kini fokus menatp mereka berdua. Di kepalanya kini hanya dipenuhi dengan gairah yang penuh bertanya - tanya bagaimanakah rasanya jika kulit halus itu bertemu dengan kulit hitam kasar miliknya. Pasti sangat nikmat yang tidak pernah di bayangkannya. Lucia memberontak saat pria tersebut mencoba mencumbuinya membuatnya menggelengkan kepala dengan kuat yang justru membuat kedua tangan prajurit itu memegang kepalanya yang berimbas pada rambut miliknya yang berantakan. Pria tersebut semakin terpanah saat melihat lekukan leher dari Lucia membuatnya mendekatkan wajahnya pada selangka leher putih mulus itu dan mulai mengendusnya dan mulai mencumbuinya. Lucia menjerit dan berusaha mendorong tubuh pria tersebut dengan air mata yang mulai mengalir menggenangi wajahnya. Ini benar - benar menjijikan. Dirinya merasa sangat terlehcehkan oleh seorang pria yang sebenarnya berstatus rendah olehnya. Tidak pernah berpikir bahwa pria pertama yang akan menyentuhnua itu adalah seorang prajurit kelas baronet, terlebih dengan cara yang tak terhormat. Saat pria tersebut naik dan mulai ingin mencumbu bibirnya Lucia semakin meneromtak dengan tak karuan membuat pria tersebut sedikit kesusahan dan beralih mulai menekan bahunya yang justru berakhir robeknya sebelah gaun merah itu pada bagian pundak Lucia yang semakin menampakan kulit putihnya dan sedikit pada bagian dadanya. "Apa yang dia lakukan ?" Pertanyaan yang dikeluarkan dengan intonasi beribawah itu berhasil membuat pria di depannya menghentikan aksinya. Bahkan mulai terlihat ketakutan saat mendengar suara itu. Melihat prajurit tersebut membeku membuat Lucia mengambil kesempatan mendorong tubuh pria menjijikan itu darinya yang berhasil. Lucia sibuk memperbaiki pakaiannya dan semakin menjauh dari pria di depannya yang terlihat segera berbalik dan mulai berlutut ketakutan, sehingga tidak menyadari sepasang mata biru tengah mengamati dirinya yang terlihat sangat berantakan. Adelio berjalan masuk kedalam sel tahanan dengan tenang di ikuti dengan Samuel, tangan kanan miliknya satunya - satunya orang yang dipercayainya. "Ma— maafkan saya." Permintaan maaf itu hanya dilalui oleh Adelio yang kini berjalan mendekati Lucia di ujung sana, masih ketakutan. Jelas dari tatapannya atau mungkin trauma. Adelio berjongkok di depan Lucia yang menatapnya dengan ketakutan yang jelas di wajahnya itu. Bahkan saat dirinya mencoba membantu Lucia bangkit berdiri perempuan tersebut bergerak menolaknya. Sebelum kedua bola mata hitam itu bertemu dengan bola mata biru yang kini menatapnya bersama sebuah senyuman. "Aku tidak akan menyakitimu Duchess Lucia. Izinkan aku membantumu." Saat suara bariton itu berbicara dengan hormat padanya bahkan kini berhati - hati menyentuh tubuhnya, dirinya sama sekali tidak dapat menolak bantuan yang memang di butuhkannya sekarang itu. Pria bermata biru itu terlihat mengerutkan keningnya saat melihat dibagian pundak Lucia terdapat saliva dari prajurit tersebut. Membuatnya berbalik mengulurkan tangan pada Samuel yang masih diam dibelakangnya itu. "Berikan aku sapu tangan." Perintahnya. Dengan gesit Samuel mengeluarkan dari dalam jasnya sapu tangan berwarna hijau tua itu dan menyerahkannya pada Adelio yang menerimanya langsung saja menyapukannya pada pundak Lucia dan pada bagian sebelah lehernya. Sepertinya prajurit itu hampir menghabisinya. Pikir Adelio sembari melirik Lucia yang mencoba mempertahankan gaunnya di bagian sebelah agar tidak merosot. Setelah selesai membersihkan sisa - sisa saliva pada bagian tubuh perempuan di depannya dirinya kembali menyematkan jas miliknya pada kepala Lucia yang menatapnya dengan bertanya - tanya. "Saya akan membawa anda keluar dari sini secara diam - diam. Jadi, biarkan pakaian saya menutupi diri anda." Pintanya kembali sopan yang jujur membuat Lucia kembali merasa memiliki martabat sejak penurunan pemeringkatan itu. Mengalihkan tatapannya saat pria tersebut merangkul bahunya dan mulai mengajaknya berjalan keluar dari sana. Lucia tidah tahu siapa pria yang menolongnya tetapi, dirinya berjanji pasti akan menanyakan siap pria yang telah menolongnya setelah mereka keluar dari sana. Hanya saja Lucia sedikit menaruh rasa yakin pada pria bermata biru itu yang mengetahui identitasnya, membuatnya mengikutia saja. "Duke apa yang harus kita lakukan pada nya ?" Pertanyaan yang keluar dari Samuel membuat Adelio berhenti berjalan begitu juga dengan Lucia yang berada dalam rangkulannya. Berbalik menatap Lucia dengan tersenyum menenangkan tetapi, mata biru itu meminta jawaban padanya. "Bunuh dia." Hingga suara yang pertama kali di keluarkan oleh Lucia itu berhasil membuat Adelio semakin tersenyum lebar dengan sedikit melirik pada Samuel di belakangnya. "Kau dengar itu. Duchess berkata untuk membunuhnya." "Baik Duke." Prajurit tersebut memohon - mohon meminta ampun yang diabaikan sendiri oleh Adelio dan Lucia yang terus berjalan menjauh meninggalkannya bersama bawahannya Samuel yang kini menyeretnya dari sana. Dan Lucia mulai melirik pria bermata biru itu saat membantunya naik ke atas kereta. Bertanya - tanya imbalan apakah yang akan di mintainya nanti ? Lucia yang sedang berendam di tengah bak mandi itu yang di bantu oleh para pelayan milik pria bermata biru tersebut mengeluarkan lenguhan senang dari bibir merah merona miliknya. Bahagia merasakan sensasi relaks yang kembali menyapa tubuhnya itu. Pria bermata biru yang masih tidak diketahui identitas nya itu membawanya pada rumah miliknya dan menyuruh para pelayan melayaninya dengan baik seperti sekarang terlepas dari derajat mereka yang sebenarnya telah sama. Lucia ingin bertanya pada pelayan yang menjadi pekerja dari pria tersebut tetapi, lagi - lagi menelan pertanyaannya saat mendengar beberapa bisikan - bisikan kecil dari para pelayan perempuan tanpa sengaja. Mengenai siapa dirinya ataukah apa hubungannya dengan majikan mereka. Kali ini Lucia didandani layaknya seorang perempuan bangsawan dengan gaun cream yang melekat pada tubuhnya yang telah bersinar terang, tubuhnya yang terawat menampakan identitas miliknya. Rambut orange bergelombang miliknya yang telah berkilat dengan indah itu telah di jepit setengah dengan hiasan cantik berwarna senada dengan gaun yang dipakainya, yaitu cream berbentuk kupu - kupu. Sangat cantik di rambutnya. Ketukan di pintu terdengar sebelum pintu tersebut terbuka menampakan wajah dari Samuel yang juga telah berganti pakaian sepertinya. Menunduk memberi hormat padanya yang justru dirasa canggung oleh Lucia mengingat statusnya sekarang. "Duchess. Saya akan mengantarkan anda untuk bertemu dengan Duke Adelio yang telah menunggu anda di bawah. Mari." Dan sekarang Lucia tahu sudah waktunya dirinya mendengar bentuk balas budi yang akan dimintai padanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD