7. Bersama Joseph

1184 Words
Waktu berlalu begitu cepat, tak terasa langit semakin gelap hanya bintang yang terus bersinar memberikan penerangan di langit malam itu. Mikael melirik ke jam tangan yang dikenakan di tangannya. Waktu sudah menunjukan pukul sebelas malam. Tak terasa sudah begitu lama dia berbincang dengan adiknya di cafe itu. Mikael merasakan sedikit kelegaan di hatinya. Joseph membuatnya melupakan permasalahan sore tadi dengan Anne. Mikael menghela napas saat mengetahui hari mulai larut. Sebagian pegawai pun sudah mulai membersihkan meja-meja yang kosong. Satu persatu pelanggan yang datang pun meninggalkan cafe itu. "Sepertinya aku harus pulang," ucap Mikael. "Kenapa terburu-buru sekali?" Joseph tak ingin kakaknya itu segera pergi. "Cafemu saja sudah mau tutup, apa aku harus tetap di sini?" Mikael sedikit bergurau dan membuat Joseph tersenyum kecil. "Kau bisa ikut denganku ke appartement." Lelaki itu masih saja berusaha menahan kakaknya. Ya dia sangat merindukan kakak satu-satunya itu. Mungkin jika tak memiliki kesibukan masing-masing mereka bisa bertemu kapan saja. Sayang sekali mereka tak pernah memiliki waktu luang yang begitu banyak untuk menyempatkan diri hanya sekedar saling menyapa saja. Mikael beranjak dari tempat duduknya. Bukannya Mikael menolak untuk singgah ke appartement adiknya, lelaki itu masih punya banyak pekerjaan lain yang telah menantinya. Mikael sengaja meluangkan waktu untuk menemui Joseph mengingat adiknya yang sangat bandel tidak pernah berkenan pulang ke rumah. "Jangan lupa, kau harus segera pulang dan temui papa serta mama," ucap Mikael sambil menepuk bahu Joseph. "Ya, akan aku pikirkan tentang hal itu." Joseph ikut berdiri di hadapan Mikael. "Kasihan mereka selalu menunggumu, luangkan sedikit saja waktumu untuk menemui mereka." Mikael berharap adiknya itu akan benar-benar pulang dan menemui ke dua orang tuanya. Mereka berjalan kecil menuju pintu keluar. Theresia yang melihat dari ke jauhan segera berlari kecil menghampiri Mikael. "Permisi, Tuan, ini untukmu," ucap gadis bermanik indah itu sambil memberikan sebuah gantungan kunci, "bonus pelanggan di akhir bulan." Theresia tersenyum manis di hadapan Mikael, lelaki itu tertegun menatapnya. Gadis itu masih tidak menyadari bahwa mereka adalah adik kakak. Jelas saja usia mereka berbeda jauh tetapi tidak terlihat saat mereka jalan bersama. Wajah Joseph yang lebih mirip dengan ibunya dan rambutnya terlihat lebih lurus di bandingkan, Mikael pantas saja jika yang tak mengenal mereka tidak akan mengetahui bahwa ke duanya adalah seorang saudara kandung. Joseph ingin menghentikan Theresia dan memberitahukannya bahwa Mikael bukan lah pengunjung. Namun, kakaknya itu sudah terlanjur mengambil gantungan kunci dari gadis itu. "Terimakasih untuk hadiah menggemaskan ini," ucap Mikael saat mengambil gantungan kunci dari tangan Theresia. Gadis itu tersenyum ramah. "Semoga Anda suka, dan silahkan datang kembali di lain waktu. Selamat malam." "Selamat malam, sampai jumpa lagi," balas Mikael dengan senyum hangat. "Sampai jumpa lagi." Theresia segera kembali ke tempatnya lagi. Joseph ikut tersenyum melihat gadis itu terlihat bahagia. Akhirnya Mikael meninggalkan cafe milik adiknya itu. Hanya saja pikirannya masih tertinggal di tempat itu. Sebelum menaiki mobil dia melirik sekilas ke arah cafe berharap bisa melihat wajah Theresia untuk terakhir kalinya. Sayang sekali harapannya itu sia-sia saja. Theresia tak nampak di luar karena dia sedang sibuk membersihkan meja tempat Mikael dan Joseph tadi berbincang. Mikael mengendarai mobilnya dan melaju cepat. Joseph yang masih berdiri di parkiran setelah mengantar kakaknya kini kembali masuk ke dalam cafe. Dia memerintahkan semua karyawannya untuk beres-beres dan bersiap pulang karena cafe sudah mulai sepi. Joseph menghampiri Theresia yang sedang bekerja. "There, apa setelah ini kamu ada acara?" tanya Joseph ragu. Baru kali ini lelaki itu menanyakan sesuatu di luar pekerjaan kepada Theresia. Biasanya Joseph berbicara kepada Theresia jika ada suatu hal tentang pekerjaan. "Sepertinya, tidak ada," jawab Theresia sambil membersihkan meja. "Hmm, bagaimana jika kita pergi minum setelah ini." Joseph mengerutkan dahinya. Sebenarnya dia ingin mengajak Theresia berkencan namun, pria itu bingung bagaimana cara mengajaknya. Theresia berpikir sejenak mempertimbangkan ajakan Joseph. Dia tidak ingin ada kesalahan pahaman dari rekan kerjanya yang lain. "Bagaimana, Ther?" Joseph berharap sekali gadis itu menerima tawarannya. “Tapi, aku merasa tidak enak dengan yang lain," ucap Theresia ragu. Theresia tidak tega jika harus menolak tawaran Joseph, kini dia dalam posisi yang sangat bingung. "Kenapa? Tetapi jika kau memang tak ingin pergi bersamaku tidak apa-apa," ucap Joseph sedikit kecewa. "Tidak, seperti itu." Theresia menarik napas dalam, "baiklah, kita akan pergi minum malam ini!" Joseph mengepalkan tangannya, terlihat kebahagiaan di wajah lelaki tampan itu. Dia tersenyum bahagia karena Theresia tidak menolak tawarannya. Sudah sangat lama dia ingin mengajak gadis itu berkencan namun, dirinya tidak sedikitpun memiliki keberanian. Dan hari ini semuanya tidak sia-sia, langit pun seperti berpihak kepadanya. Malam terlihat begitu cerah, sinar rembulan bersinar sangat terang. Bintang-bintang di langit bertaburan sangat indah. Joseph dan Theresia berjalan di tengah kota, gedung-gedung yang tinggi memancarkan cahaya lampu yang indah, tak kalah indah dengan lampu di taman yang terlihat berkedip-kedip. Mereka menjajaki street food untuk menemani malam ini. Theresia memilih sebuah kedai kecil untuk mereka duduk dan sekedar minum. Joseph memesankan sebuah minuman hangat dan makanan ringan untuk Theresia. Lelaki itu duduk di hadapan Theresia. “Malam ini indah ya," ucap Joseph sekedar basa-basi. "Iya, sangat indah," jawab gadis itu dengan senyum manis. Joseph tersenyum saat memperhatikan wajah Theresia yang mempesona. Aura kecantikannya terpancar begitu indah malam ini. Gadis itu tidak sadar jika pria yang ada di hadapannya memperhatikan dirinya sedari tadi. Mata Theresia hanya fokus dengan pertunjukan musik jalanan dan lampu-lampu indah yang berkedap-kedip. "There," ucap Joseph yang seketika membuat Theresia menatap manik lelaki itu. Joseph ingin sekali mengungkapkan perasaannya malam itu, tetapi mulutnya terasa berat sekali meski hanya berkata aku menyukaimu. Lelaki itu kembali terdiam dan mengurungkan niatnya. "Ada apa?" tanya Theresia dengan raut wajah penasaran. "Tidak apa-apa," jawab Joseph kikuk. Joseph segera menarik napasnya panjang. Lelaki itu memalingkan wajahnya untuk menyembunyikan ketegangan yang tengah dia rasakan saat ini. Joseph merasa ini bukanlah timing yang pas untuk mengungkapkan ketertarikannya terhadap Theresia. Mereka menikmati makanan dan minuman yang di pesan tadi, sesekali Joseph menggoda Theresia. Gadis itu tertawa bahagia, baru kali ini Joseph melihat Theresia begitu bahagia. Angin malam ini berembus begitu sejuk dan membuat rambut indah Theresia bergoyang dan menutupi wajahnya. "Apa kau menyukai pesananmu?" tanya Joseph ramah. Joseph menyematkan rambut lurus Theresia di telinga gadis cantik itu. Manik mereka kini saling bertatapan, wajah Theresia dan Joseph terlihat sangat dekat. Tatapan mata itu membuat jantung Joseph berdetak lebih cepat. "Oh? Ah iya, ini sangat enak," sahut Theresia gugup. Theresia segera mengalihkan pandangannya dan menggeser tempat duduknya. Lelaki itu pun terlihat kikuk, dan memalingkan wajahnya dari Theresia. Dia tersenyum sendiri sambil menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal. Begitu indah dan bahagia malam ini untuk Joseph walau hanya sekedar duduk dan berbincang bersama gadis pujaannya. Sedikit saja dia punya keberanian untuk mengungkapkan perasaannya malam ini padahal momen yang mereka miliki saat ini begitu pas. Malam semakin larut, Theresia berpamit untuk pulang. "Joseph, sepertinya aku harus segera pulang," ucap gadis itu. "Baiklah," jawab Joseph sambil melirik jam di tangannya. Kemudian Joseph tersenyum ke arah Theresia. "Terimakasih telah menemaniku." "Sama-sama, terimakasih juga telah mentraktirku." Theresia beranjak dari tempat duduknya begitu juga dengan Joseph. Lelaki itu memeluk Theresia sebagai salam perpisahan. Gadis itu berjalan meninggalkan Joseph seorang diri. Dia berdiri di pinggir jalan dan memberhentikan sebuah taxi. Gadis cantik dengan rambutnya dikuncir kuda memejamkan mata begitu merasakan angin malam musim semi menerpa wajahnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD