8. Sophia Dan Malam Hening

1303 Words
Mikael sangat tidak terima dengan perlakuan ibunya malam ini, dia merasa sangat marah. Ibunya, Alexa, benar-benar membuatnya kecewa saat ini. Dia merasa telah di jual oleh orang tuanya sendiri. Mikael benar-benar merasa tidak di hargai sama sekali. Padahal selama ini dia selalu mengikuti permintaan ibunya itu, tetapi mengapa wanita yang pernah melahirkannya itu tak pernah memami dirinya sama sekali. Rasa kecewa dan amarah yang besar membuat lelaki itu ingin pergi meninggalkan orang tuanya. Dia benar-benar sudah tidak sanggup lagi jika harus tinggal di rumah itu dan mengikuti semua aturan yang di buat Alexa. Kini dia merasa ingin mengikuti jejak Joseph untuk meninggalkan rumahnya agar kehidupannya lebih bebas. Dengan penuh amarah Mikael berjalan keluar meninggalkan Alexa, wanita itu tidak terima dengan perlakuan anaknya. Dia berteriak memanggil Mikael agar kembali dan mendengarkan semua perkataannya. “Mikael, mau ke mana kamu? Kembali aku belum selesai berbicara.” Wanita itu terlihat sangat kesal. Alexa berdiri, wajahnya terlihat lebih tegang. Di tangannya menggenggam satu kotak berlian. Tangan kanannya memilin dahinya, memikirkan tingkah Mikael kali ini. Mengapa kini putranya sudah berani menentang keinginannya? Padahal selama ini Mikael adalah anak yang paling diantara kedua putranya. "Apa ini semua karena adiknya? Joseph ... kapan kamu berhenti membuat ulah!" geram Alexa. Mungkinkah Joseph telah menghasut putra sulungnya itu? Pikiran Alexa menjadi kacau. Dia menyalahkan Joseph atas apa yang terjadi dengan Mikael malam ini. Mikael tidak mendengarkan apa yang dikatakan ibunya itu, dia terus mempercepat jalannya. Bibirnya mengkerut, napasnya terlihat lebih cepat. Mikael memasuki mobilnya. Dia mengepalkan tanggannya dan menonjok stir mobil yang kini ada di hadapannya. “s**l,” teriak Mikael penuh amarah. Dia menyalakan mobil dan melajukannya sangat cepat. Di tengah perjalanan dia bingung harus kemana. Rasanya ingin sekali dia bercerita tentang semua ini kepada seseorang, tetapi kepada siapa dia harus menceritakan semuanya. Mikael merasa tidak ada seorang pun yang mengerti tentang kehidupannya. Akhirnya pria itu memutuskan untuk mengunjungi appartementnya, hanya tempat itu satu-satunya tempat untuk dia melarikan diri dari semua masalahnya. Dia masuk ke dalam kamar mewah miliknya. "Mungkin bermain dengan gadis cantik tidak ada salahnya untuk malam ini," pungkasnya. Mikael membaringkan tubuhnya di atas kasur yang empuk, lalu dia mengambil ponsel yang ada di sakunya dan menghubungi salah satu rekannya yang bekerja di club malam. “Hallo, David, apa kau masih memiliki wanita cantik yang menarik,” ucap Mikael kepada rekannya di balik ponsel. Bayangan Mikael kembali terpaku pada sosok Theresia. Gadis yang beberapa saat lalu tersenyum ke arahnya, dengan suara begitu ramah dan merdu bak lantunan musik romansa. Mikael sampai tertegun, tak mampu mengucapkan kalimat apapun lagi untuk menggambarkan ciptaan Tuhan yang paling indah. “Hallo, Mikael, tentu saja masih,” jawab David sambil tertawa kecil. “Aku ingin menyewa salah satunya malam ini.” Mikael meminta David untuk menyediakan wanita penghibur. “Berapa banyak?” tanya David sedikit bergurau. “Satu saja, yang menarik dan muda ya.” Mikael tersenyum kecil. “Baiklah, tetapi ada apa? Tumben sekali kau meminta wanita penghibur. Apa tunanganmu sudah tak memu-askan dirimu?” David terkekeh. Memang jarang sekali Mikael menyewa seorang wanita penghibur, karena dia selalu melampiaskan semua keinginan has-ratnya kepada Anne. Kini pria itu benar-benar membutuhkan seorang teman untuk menemaninya minum. Dia tidak tahu harus meminta kepada siapa, karena selama ini lelaki itu tidak memiliki teman dekat sama sekali. “Tidak, aku hanya menyewa untuk menemani minum saja,” jawab Mikael. “Baiklah, aku akan segera mengirimkan wanita yang terbaik untukmu.” David tersenyum kecil. “Segera kirim ke apartemenku, aku tunggu secepatnya," tukas Mikael. “Baiklah,” ucap David lalu Mikael mematikan panggilan di antara mereka berdua. Dia berdiri menghadap luar appartemennya, melihat pemandangan malam di balik jendela kamarnya itu. Di luar sana terlihat begitu indah, tetapi dia tidak pernah menikmati semua ke indahan itu. "Malam ini ternyata banyak bintang bertebaran di atas langit," gumamnya sambil menghembuskan napas. Banyak hal yang bisa dia lakukan di luar sana, tetapi sayang sekali Mikael tak memiliki kesempatan sedikit pun untuk melakukan apa yang dia inginkan selama ini. Kini dirinya tersadar selama ini dia hanya hidup seperti sebuah boneka yang di mainkan orang tuanya. Tidak ada kebebasan untuknya berpendapat atau mengutarakan semua keinginannya. Penyesalan kini terus dirasakan Mikael, mengapa dia tidak seberani Joseph untuk meninggalkan rumah. Pikirannya semakin kacau. Mikael mengepalkan tangannya, memukul-mukul dahinya, bibirnya mengkerut dan matanya terlihat merah. Malam yang terasa sunyi, dinginnya malam ini tidak bisa menyejukan hati Mikael yang penuh amarah. Dia benar-benar merasakan kekecewaan yang mendalam, kini dia merasa menjadi lelaki bodoh yang tak punya arah tujuan dalam hidupnya. Ia hanya bisa memandang dirinya dalam pantulan kaca jendela dan meratapi semua penderitaan yang dia rasakan selama ini. Mikael menggigit kecil bibirnya, dan memejamkan matanya. Tubuhnya terasa hampa seakan tak bernyawa. “Mengapa harus aku yang mengalami hal seperti ini,” ujar Mikael dalam batin. Jika dia bisa memilih, mungkin ingin rasanya lelaki itu di lahirkan kembali dari rahim yang berbeda. Dengan kehidupan yang berbeda. Jika dia bisa memilih ingin rasanya dia berada di posisi Joseph yang terbebas dari tuntutan Alexa. Sayang sekali tidak ada satu orang pun yang bisa memilih jalan hidupnya melainkan takdir Tuhan lah yang menentukan. Mungkin ini sudah jalan hidupnya. Dia tahu suatu hari nanti tuhan akan memberikan yang terbaik untuk kehidupannya. Den Hag memang tempat yang ramai, malamnya tidak pernah sepi. Di sebuah tempat hiburan malam penuh dengan muda mudi yang sedang menikmati masa remaja mereka. Menikmati kebebasan yang mereka miliki. Menari di tengah lampu berkedip dengan musik yang memang menghipnotis mereka untuk merasakan kebahagiaan. Terlihat beberapa muda mudi yang sedang minum atau mengobrol bersama rekan-rekan mereka. Di sebuah meja berisikan satu orang pria tampan yang di kelilingi tiga wanita cantik mematikan ponselnya. Dia berdiri dan meminta salah satu wanita penghibur untuk memanggil Sophia. Sophia segera menghapiri pria itu yang tak lain adalah David rekan Mikael. David meminta Sophia untuk menemani seorang pria di sebuah apartemen. “Sophia, kamu pergi kesebuah apartemen di pusat kota, ada seseorang yang harus kau temani,” kata David membuat Sophia lantas menoleh. Keningnya berkerut penasaran, namun dia juga tersenyum membayangkan malam ini Sophia akan mendapatkan bonus lebih atas pekerjaannya. Sophia ingin sekali menabung, untuk hadiah ulang tahun kakak tercintanya. David memberikan sebuah alamat kepada gadis itu. “Baiklah, aku akan dengan sangat senang hati datang ke sana,” ujarnya. Sophia mengambil sebuah kertas dari tangan David. Ya, Sophia adik Theresia kini bekerja menjadi wanita penghibur untuk menemani minum para lelaki kesepian. Theresia sendiri tidak tahu adiknya itu menjadi seorang wanita penghibur, mungkin jika kakaknya itu tahu Sophia tidak akan diberikan ijin untuk bekerja. Sophia hanya tidak ingin kakaknya itu banting tulang sendiri memenuhi kebutuhan mereka berdua. Dia hanya berniat untuk meringankan beban kakaknya itu. Tetapi Sophia tidak tahu dia harus bekerja apa, kebetulan ada seorang teman di kampusnya yang menawarkan sebuah pekerjaan. Awalnya dia berpikir apa pekerjaan itu baik untuknya? Namun, setelah mendengar bayaran yang akan dia dapat dari pekerjaannya gadis itu menyetujuinya. Lagi pula dia hanya menjadi wanita yang menemani minum tidak lebih dari itu. Ini adalah pekerjaan pertamanya, dia terlihat sangat bahagia. Meski dia tidak tahu apa yang akan di lakukannya di tempat itu, dia juga tidak tahu pria seperti apa yang akan ditemuinya malam ini. “Kamu, lakukan tugasmu dengan baik karena orang ini begitu istimewa,” tutur David meminta agar Sophia bekerja dengan sangat baik. “Tentu saja.” Sophia mengangguk seakan paham apa yang harus dia lakukan. “Jika kau bekerja dengan baik, lelaki ini janji akan membayarmu dua kali lipat,” ucap David sambil tersenyum. Mendengar perkataan bosnya itu, Sophia terlihat sangat senang. Dia mengangguk dan tersenyum. Kini semangatnya jauh lebih besar. Sophia bukan tipikal adik yang selalu menggantungkan hidup kepada kakaknya. Theresia sudah memiliki beban hidup berat, hingga rasanya Sophia tidak akan sampai hati membuat kakak tercintanya mengalami kesusahan lebih banyak lagi. Maka, biarkan Sophia menunaikan pekerjaannya dengan baik. Agar seseorang yang menyewanya merasa puas atas pekerjaannya, dan memberikannya bayaran sepadan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD