9. Apartement Mewah

1363 Words
Gadis itu segera pergi meninggalkan club malam itu, dia menaiki sebuah taxi menuju alamat yang di berikan oleh bosnya tadi. Kebahagiaan terlihat di wajah Sophia di sepanjang jalan. Gadis itu tersenyum kecil mengingat ucapan yang di katakan bosnya tadi. Mendapatkan gaji dua kali lipat, itu merupakan hal yang tak tertuga. Mungkin dewi keberuntungan sedang berpihak kepadanya malam ini. Kebetulan sekali dia sedang membutuhkan uang untuk dapat menebus outer yang sedang dia pesan untuk kakaknya di sebuah butik ternama. Kapan lagi Sophia mendapatkan kesempatan baik selain malam ini? Dia ingin sekali memberikan hadiah terbaik untuk kakak terbaik sepanjang masa. Mungkin, Sophia tak akan pernah mampu membalas segala kebaikan kakaknya. "Jalanannya lengang sekali," gumam Sophia. Jalanan ibu kota terlihat lebih sepi karena malam semakin larut, hanya terlihat segerombolan anak muda yang sedang berkumpul dengan teman-temannya atau mereka yang akan berpesta di sebuah kedai atau cafe-cafe di sepanjang jalan yang dia lewati. Sophia berhenti di sebuah gedung pencakar langit, gadis itu turun dari taxi yang di tumpanginya. Dia berdiri tegap menatap gedung yang begitu tinggi dan mewah. Awalnya gadis itu ragu saat akan melangkahkan kaki ke dalam gedung itu. Sophia berpikir mungkin dia salah, gadis itu merogoh tasnya mengeluarkan sebuah ponsel. Decakan kagum tidak terelakkan lagi, matanya menatap gedung itu dengan bayangan entah kapan dia akan mampu tinggal di gedung apartemen paling mahal di pelosok kota. Suatu saat nanti, Sophia akan tinggal di sana dan mengajak kakaknya--Theresia--tinggal di sana bersama dengannya. "Ckck, mimpi terlalu dini rupanya aku," racaunya menggelengkan kepala. Enggan membuang waktu memikirkan hal yang tak akan mungkin dia gapai. Dia memilih menghubungi bosnya kembali untuk memastikan apa alamat yang diberikannya tadi benar atau tidak. “Hallo, David,” sapa Sophia saat David menerima panggilannya. “Iya, Sophia, ada apa? Apa kau sudah sampai di lokasi?” tanya David. “Apa kamu yakin itu alamatnya?” tanya Sophia terdengar sangat ragu. “Tentu saja, klien yang satu ini adalah teman baikku, memang ada apa?” David terdengar sangat penasaran. Mengapa Sophia menanyakan hal seperti itu? Ah, mungkin karena bangunan tempat tinggal Mikael adalah bangunan paling mahal dan mewah di sana. Semua orang tahu, berapa harga beli satu unit apartemen di sana. “Tidak ada apa-apa, ya sudah aku akan menemuinya.” Sophia mematikan ponselnya dan memasukan kembali ke dalam tas. Gadis itu melangkahkan kaki memasuki gedung mewah itu. Saat berada di dalam appartemen itu Sophia terlihat begitu kagum. Dia tertegun menatap seisi apartemen itu, matanya terlihat lebih besar. “Wow indah sekali tempat ini,” ujar Sophia pada dirinya sendiri. Ini pertama kalinya gadis itu menginjakkan kaki ke tempat yang begitu mewah, wajar saja jika dia terlihat sedikit berlebihan. Sophia berjalan menuju lift sambil terus memandang dinding, langit-langit gedung serta lampu yang bergelantungan. Di dalam lift gadis itu memijit tombol menunju tempat yang dia tuju, Sophia terus tersenyum tak sabar untuk segera melakukan tugasnya dan segera mendapatkan bayaran yang di janjikan bosnya. "Mau ke lantai berapa, Nona?" tanya pegawai apartemen yang memang berjaga untuk mengantarkan pengunjung ke tempat di mana dia akan pergi. "Di lantai dua puluh satu," jawab Sophia. Pegawai apartemen lantas menempelkan id card miliknya, kemudian memencet tombol di lantai dua puluh satu seperti keinginan Sophia. "Lantai dua puluh satu ya," ujarnya sebelum membiarkan Sophia pergi seorang diri. Akhirnya Sophia tiba di tempat yang dia tuju. Dia memencet bel yang terdapat di pintu itu, menunggu seseorang membukanya. Rasa penasaran semakin tinggi dia berpikir apakah lelaki tua yang akan dia temui saat ini atau lelaki hidung belang yang menyeramkan. Jantungnya kini berdetak lebih cepat. Seorang pria membuka pintu dan berdiri di hadapannya, Sophia tertegun memandang pria itu dari ujung kepala hingga ujung kaki. Ternyata pria itu tidak sesuai dugaannya. Orang yang ada di hadapannya terlihat sangat tampan dan mempesona. Sophia tersenyum dan memberi salam. 'Si-al! Dia seperti pahatan patung seniman Brandon Marcky,' batin Sophia sejenak terhopnotis pada sosok Mikael di depannya. Sophia segera menetralkan raut wajahnya saat ini. Adik dari Theresia itu tersenyum. “Selamat malam,” ucap Sophia sambil menganggukan kepala. “Silahkan masuk.” Mikael meminta Sophia untuk segera masuk ke dalam kamarnya. Sophia melangkahkan kaki memasuki kamar apparteman yang begitu mewah. Ada ruang tamu yang begitu besar serta benda-benda yang ada di dalamnya pun bisa gadis itu pastikan pasti sangat memiliki nilai harga yang tinggi. 'Dia pasti tajir melintir. Kenapa wajahnya sangat tidak asing? Di mana aku pernah melihatnya?' batin Sophia. Gadis itu menyentuh dinding yang tebuat dari maremer, berjalan kecil memasuki ruangan yang telah di sediakan oleh Mikael. Di balik pintu kaca terdapat kolam renang yang begitu besar, ada lampu-lampu yang menghiasi kolam renang itu. Sophia terlihat heran dan begitu kagum. Dia kini yakin bahwa pria yang ada di hadapannya benar-benar kaya raya. Mikael tersenyum kecil saat melihat tingkah Sophia yang terlihat begitu norak baginya. Dia yakin bahwa gadis yang ada di hadapannya belum pernah tinggal di tempat yang seperti ia miliki saat ini. “Siapa namamu?” tanya Mikael menaikkan satu alisnya. “Sophia Wihelmina, Tuan, panggil saja saya Sophia,” jawab Sophia sambil tersenyum. “Baiklah, Sophia, kau bisa kerjakan tugasmu sekarang.” Mikael meminta Sophia untuk mengerjakan tugasnya. Sophia tercengang mendengar perkataan Mikael. “Maaf, Tuan, tapi … saya hanya menjadi gadis yang menemani minum, dan tidak melakukan hal yang lebih dari itu seperti berhubungan badan.” Dengan ragu Sophia menjelaskan pekerjaannya kepada Mikael. Sophia tidak ingin membuat kliennya malam ini salah paham atas kehadirannya di sana. Mendengar ucapan Sophia yang terdengar begitu lugu, Mikael terkekeh. Tentu saja Mikael hanya mencari teman minum, khusus malam ini. “Ya, aku tahu. Maksudku kau bisa membukakan minum!” tegas Mikael. Sophia tersenyum malu, dia mengambil sebotol wine yang berderet di lemari yang ada di ruangan itu. Gadis remaja itu memilihkan minuman yang paling nikmat untuk Mikael. Dia juga menuangkannya di gelas kaca kecil yang indah dan mewah. Mikael meminta Sophia untuk duduk di dekatnya. “Ke mari lah, aku tak akan menyakitimu.” Sophia perlahan menghampiri Mikael dan duduk di sampingnya. Dia terlihat begitu gugup saat ada di dekat Mikael. Pria itu memperhatikan gadis yang ada di sampingnya dan tersenyum kecil. Mikael mengambil gelas dan meminta Sophia untuk mengisinya kembali. Gadis itu menuangkan lagi Wine yang masih dia pegang saat ini, setelah terisi Mikael langsung meneguknya habi. “Berapa usiamu saat ini, Sophia?” tanya Mikael berusaha membaurkan suasana. “Dua puluh tahun, Tuan.” Gadis itu menjawab sambil menundukan kepalanya. “Kau masih muda, tetapi mengapa kau bekerja seperti ini?” tanya Mikael penasaran. Mikael heran, mengapa gadis kecil ini sudah bekerja. Sedangkan saat dirinya seumuran Sophia dirinya masih sibuk bermain dengan teman remajanya dan pergi berpesta. Sophia terdiam, lalu dia menegakan kepalanya dan tersenyum. Gadis itu memandang Mikael sambil menuangkan kembali wine ke gelas kosong yang ada di atas meja. “Karena aku terlahir bukan dari keluarga yang berada, jadi aku harus membantu kakakku untuk memenuhi kebutuhan kami,” jawab Shopia dengan lembut. Seketika Mikael merasa kagum dengan gadis itu, ternyata hidupnya jauh lebih beruntung daripada gadis muda yang ada di hadapannya. Masa remajanya dulu dia tak perlu susah-susah untuk bekerja, jika ingin sesuatu cukup meminta saja kepada orang tuanya dan mereka akan memberikan apa yang dia inginkan. Dan saat remaja pun Mikael tidak pernah berpikir sedikit pun tentang susahnya mencari uang, setiap malam dia hanya pergi ke club malam sekedar untuk berpesta dan minum-minum bersama rekannya. Atau menghibur diri dengan wanita-wanita penghibur. Kerjaannya hanya berfoya-foya. Sangat jauh berbeda sekali dengan gadis yang ada di hadapannya itu. Mikael meneguk kembali minumnya. “Sophia, kau gadis yang begitu baik,” ucap Mikael tersenyum kepada Sophia. “Terimakasih, Tuan,” jawab Shopia memandang manik Mikael. “Panggil saja aku Mikael.” Lelaki itu meminta Sophia untuk memanggil namanya agar terlihat lebih akrab. Awalnya Sophia merasa heran dan mengkerutkan dahinya, tetapi setelah mendengar alasan Mikael gadis itu tersenyum dan mengangguk. “Iya, Mikael," tutur Sophia ragu. Dia baru tahu bahwa lelaki kaya, muda dan tampan yang ada di sampingnya kini bernama Mikael. Selain diberikan tampang rupawan, ternyata tutur kata Mikael juga sedikitpun tidak ada yang merendahkannya meski Mikael tahu Sophia bekerja di dunia malam. Seandainya saja, dia dapat menuliskan sebuah takdir. Maka Sophia ingin menjadikan Mikael pasangan hidup kakaknya Theresia. Sophia yakin, lelaki di hadapannya pasti membuat hidup kakaknya bahagia.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD