Angin bulan September menerpa wajah cantiknya, ditambah guguran dedaunan di sepanjang jalan tempatnya menunggu bus untuk menuju tempat kerja sesekali jatuh mengenai rambut lebatnya. Theresia mengerjap, tak terasa matanya berkaca-kaca merasakan mengingat kejadian yang telah lalu. Dirinya tidak boleh begini, dia adalah seorang kakak namun juga merangkap sebagai ayah sekaligus ibu untuk adik satu-satunya. Badannya boleh lelah, tetapi semangat hidupnya tidak boleh mudah patah.
Sekian menit menunggu, akhirnya bus yang ditunggu-tunggu datang juga, Theresia bergegas berdiri dari tempat duduknya dan langsung memasuki bus itu. Gadis itu tersenyum kepada sopir bus. Gadis murah senyum selalu menyapa sopir bus yang sama, pun juga para penumpang yang dia lewati. Dia berjalan mencari kursi yang kosong, dari kejauhan terlihat seseorang yang di kenalnya yaitu Joseph yang tak lain adalah pemilik café di mana tempatnya bekerja.
Gadis cantik dengan rambut terurai melambaikan tangannya, Theresia tersenyum kepada lelaki itu dan duduk di sampingnya. Joseph tersenyum tersipu karena bahagia bertemu dengan Theresia. Sebenarnya lelaki itu sangat menyukai Theresia, namun gadis itu terlalu lugu dan polos sehingga tak menyadari perasaan Joseph. Meski sudah banyak tanda-tanda dia tunjukkan kepada Theresia, tetapi gadis itu sepertinya sangat masa bodoh dengan sekitarnya.
"Hai," sapa Theresia saat duduk di samping Joseph.
"Hai, Theres," jawab Jospeh bahagia, "kebetulan sekali," lanjutnya seolah-olah itu adalah pertemuan yang tidak disengaja.
Padahal, Joseph selalu beralasan jika bertemu dengan Theresia di trem yang sama, lelaki itu mengaku jika apartementnya satu trem dengan arah tujuan Theresia—sama-sama menuju tempat kerja—bedanya Joseph adalah bos di café tempat Theresia bekerja. Padahal gadis itu sudah tahu bahwa mereka tak pernah satu arah. Entah bagaimana bisa Joseph selalu berada di satu trem yang sama dengan dirinya.
Mereka duduk saling bersebelahan, Theresia mengeluarkan sebuah novel untuk dia baca selama perjalanan, Joseph sendiri berpura-pura memainkan ponselnya. Sesekali lelaki itu mencuri pandang untuk memperhatikan Theresia. Dia tersenyum sendiri, setiap kali melihat kecantikan Theresia wajah lelaki itu memerah. Keduanya tampak kaku satu sama lain. Tidak ada pembicaraan sepanjang perjalanan menuju café. Joseph mengambil kesempatan dengan memotret gadis cantik di sampingnya secara diam-diam menggunakan ponsel pribadinya.
Joseph tersenyum puas, dia bisa menjadikan hasil jepretan itu sebagai pemandangan indah sebelum menjelang tidur malamnya. Lelaki itu sendiri bingung, mengapa wajah Theresia layaknya candu baginya? Joseph tak memungkiri, kecantikan Theresia di atas rata-rata, dengan tatapan mata indahnya, dan cara Theresia menyapanya selalu mampu membuat darah Joseph berdesir hebat ke seluruh tubuhnya.
Tak terasa bus yang mereka tumpangi telah tiba di halte samping café milik Joseph. Lelaki itu tak menyadarinya karena pandangannya terpaku pada ponsel miliknya yang menampilkan wajah Theresia dari samping.
"Pak, kita sudah sampai," ucap Theresia yang menyadarkan Joseph dari lamunannya memperhatikan foto Theresia.
Lelaki itu langsung mengunci layar ponselnya. "Oh, ya." Joseph merasa kaget dan segera berdiri sambil membenarkan bajunya. Theresia tersenyum melihat kelakuan atasannya itu.
Mereka berjalan menuju sebuah kotak mesin. Saat tangan Theresia hendak menempelkan kartu transportasinya, tangan Joseph lebih dahulu menahannya. Lelaki itu menggelengkan kepala, harga dirinya bisa hancur jika dia membiarkan anak buahnya sampai membayar transportasi bus itu sendiri saat dirinya bersama dengan Theresia. Apalagi Joseph sedang membangun citra baik di depan gadis cantik di sampingnya.
"Biar aku saja yang membayar," ucap Joseph saat Theresia mengeluarkan sebuah kartu OV-Chipcard atau kartu untuk membayar bus yang mereka tumpangi.
Lalu Joseph memasukan kartunya ke sebuah mesin, Theresia dan Josep menurini bus yang mereka tumpangi. Theresia menatap Joseph sejenak, gadis itu merasa tidak enak karena ini bukanlah kali pertama Joseph bersikap seperti itu kepadanya. Theresia takut, jika Joseph akan menganggapnya buruk atau Joseph akan mengira jika Theresia memang sengaja berada satu bus dengan lelaki itu.
Meski pada kenyataannya Joseph lah sosok yang sengaja mengatur rencana agar dia dan Theresia bisa berangkat dan pulang bersama dengan Theresia.
"Terimakasih, Pak!" ujar Theresia sambil tertunduk dan tersenyum.
"Tidak masalah," jawab lelaki itu lalu berjalan di depan Theresia.
“Pak Joseph,” panggil Theresia menghentikan langkah kaki Joseph di depannya.
Joseph berhenti dan membalikkan badannya memandang sosok Theresia. Kening Joseph berkerut, lelaki itu tampak penasaran alasan Theresia memanggilnya.
“Jangan melakukannya lagi, Pak. Saya sungkan jika Anda selalu berlaku begitu,” kata Theresia.
“Kenapa? Kamu tidak suka?” tanya bos Theresia menautkan kedua alisnya bingung.
“Saya tidak enak, Pak. Tapi tidak jadi masalah kalau habis ini saya yang gantian bayar,” lanjut Theresia tersenyum, pun juga dengan Joseph.
Mereka pun memasuki sebuah café dengan nuansa garden, tempat yang begitu megah. Tidak terlihat seperti café pada umumnya. Kita di manjakan dengan pemandangan hijau yang asri. Lampu-lampu kecil berwarna-warni menggantung di seluruh tempat menambah kesan nuansa musim gugur pada kali ini. Lampu taman tak kalah mengagumkan berdiri tegak di setiap sudut café, salah satu spot keren untuk berswafoto.
Bangku yang sengaja terbuat dari kayu menambah suasana tempat itu seperti sedang di taman bukan café, terlebih rumput sintetis yang memanjakan setipa pijakan kaki pengunjung. Kita juga bisa melihat bintang bertaburan jika memilih tempat di luar ruangan, ada pula ruangan indoor yang di siapkan untuk mereka yang ingin meeting atau acara special.
Di sana juga memiliki dua lantai yang di bagian atas sengaja tidak di beri atap agar dapat menikmati pemandangan kota dari atas sana. Lantai yang terbuat dari rumput sintetis dan tanpa bangku untuk duduk melainkan kita dibiarkan menggunakan tikar dan meja kecil membuat suasana seperti sedang bertamasya.
Café itu pun selalu terlihat ramai karena merupakan tempat favorite untuk para remaja di kota itu. Terlebih setiap malam mereka selalu di manjakan dengan konser music mini. Theresia berjalan menuju semua meja bartender dan menyapa beberapa rekan kerjanya. Sosok hangat dengan senyuman terlukis di wajahnya menjadi ciri khas Theresia.
"Hai, Kai, Lisa," sapa gadis itu sambil melambaikan tangan ke teman yang dia temui.
"Hai, There," balas teman-temannya itu.
Gadis itu berjalan menuju ruang ganti, dia segera mengganti pakaiannya dan memulai pekerjaannya. Theresia menjadi seorang waiters di café itu. Sudah cukup lama dia bekerja di tempat itu setelah orang tuanya meninggal. Memiliki dua pekerjaan sekaligus tidak membuat Theresia merasa lelah akan kehidupannya. Justru Theresia semakin semangat, mengingat bahwa hanya dia yang adiknya miliki di dunia ini.
Gadis itu mulai bekerja pukul lima sore hingga pukul sebelas malam. Dia terkenal sebagai gadis cantik yang ramah dan melayani pengunjung dengan baik. Selalu tersenyum meski hatinya sedang dalam keadaan tidak baik. Jam pergantian sift antar pekerja di sana.
"Ok, There aku tinggal pulang ya," ucap temannya saat Theresia siap untuk bekerja.
Mereka bergantian tugas karena temannya bekerja dari pagi hingga sore dan Theresia melanjutkan kerja dari sore hingga malam hari. Café yang tidak pernah lengang pengunjung memang menguras tenaga para pegawainya.
"Baiklah, hati-hati di jalan. Semoga malammu menyenangkan." Theresia mencium pipi temannya itu.
"Semoga pekerjaanmu juga menyenangkan," balas temannya lalu berjalan sambil melambaikan tangan kepada Theresia.
Gadis itu segera melakukan tugasnya, dari kejauhan Joseph masih memandangnya sesekali lelaki itu tersenyum tersipu setiap kali melihat Theresia. Diam-diam pria itu selalu mencuri pandang kepada karyawannya itu saat dia sedang bekerja.
Sebenarnya Joseph telah jatuh hati kepada Theresia sejak awal dia bekerja di tempatnya namun, lelaki itu tak pernah mengungkapkan perasaannya itu kepada Theresia, dia tidak cukup berani untuk mengatakan perasaannya. Joseph hanya bisa memendamnya di dalam lubuk hati dan berharap suatu saat Theresia bisa mengetahui perasaannya itu sendiri.
"Theresia," panggil seorang pengunjung.
Theresia sontak saja menoleh. Sekelompok anak muda menatap Theresia dengan begitu antusias. Theresia mengangguk dan membalas lambaian tangan para anak muda itu dengan senyuman lembut di wajahnya.
Mereka yang sudah berlangganan di café itu pasti mengenal Theresia sebagai sosok menyenangkan dan juga sangat baik. Theresia menghampiri pengunjung itu dengan membawa sebuah buku menu.
"Silahkan, mau pesan apa?" sapa Theresia dengan begitu ramah pun tidak melupakan tata krama sebagai seorang waiters di sana.
"Seperti biasa," ucap pengunjung itu dengan senyum tak kalah ramah.
"Baiklah. Ingin request lagu apa untuk mengisi kekosongan waktu tunggunya?" tanya Theresia, masih tersenyum lembut.
“Tidak usah, lagu yang ini sudah bagus,” jawab salah satu di antara sekumpulan itu.
Theresia segera menuju meja untuk menyampaikan pesanan para pengunjung café di dapur. Rupanya dia memang pegawai yang baik dan mudah menghafal makanan favorit para pengunjung, dia menjadi waiters kesayangan karena telah paham permintaan pengunjung yang sering datang.
Hari ini begitu ramai sekali, sesekali Theresia mengusap keningnya karena keringat yang menetes tetapi gadis itu tidak pernah kehilangan senyum serta keramahannya meski lelah telah menghampirinya. Tidak ada kata lelah di dalam kamus hidupnya.
Langit sudah mulai gelap, matahari mulai bersembunyi di balik cakrawala. Pengunjung café jauh lebih ramai. Mereka yang bekerja sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Keceriaan terlihat di wajah pengunjung yang sedang berkumpul dengan teman-temannya.
Theresia memperhatikan mereka dengan mendekap sebuah nampan kecil, dia duduk di pojokan sambil melepas lelah. Andai saja kedua orang tuanya itu masih ada mungkin saat ini dia ada di posisi pengunjung itu bukan di posisinya sekarang sebagai pelayan café. Tapi apalah daya, semua sudah kehendak takdir.
"There, sedang apa?" sapa seorang teman laki-lakinya.
"Oh, tidak! Aku hanya melepas lelah," ucapnya lalu berdiri kembali.
"Ya sudah, mari kita bekerja kembali!" ajak temannnya itu, "semangat," lanjutnya sambil memberi semangat kepada Theresia.
Theresia tersenyum hangat dan kembali bersemangat. Dia sangat bahagia memiliki teman-teman yang begitu baik dan perhatian kepadanya. Mereka sudah seperti keluarga sendiri bagi gadis itu.
Di lain tempat setelah mengantarkan Anne pulang ke rumahnya, Mikael melajukan kendaraan dengan cepat. Pikirannya kacau sekali saat itu. Dia berniat untuk mengunjungi café adiknya yang tak lain adalah Joseph.
Joseph sebenarnya adalah adik kandung dari Mikael, mereka merupakan anak dari seorang anggota parlemen di kota itu dan ibu mereka seorang sosialita. Tetapi tak jarang yang mengetahui mereka bersaudara karena Joseph yang memilih hidup mandiri dan tidak mengandalkan kekayaan orang tuanya.
Mikael memarkirkan mobilnya tepat di parkiran café milik Joseph. Dia keluar dari mobil dengan gagah, semua pengunjung wanita meliriknya karena pesonanya yang begitu tinggi. Dia berjalan memasuki café adiknya itu sambil melihat-lihat nuansa café yang begitu indah. Joseph yang melihat kedatangan kakaknya itu segera menghampiri dan memeluknya.
"Hai, Mikael," ucap Joseph saat memeluk kakaknya itu.
"Joseph, bagaimana keadaanmu?" Mikael terlihat sangat merindukan adik keras kepalanya.