Waktu terus berlalu, Theresia melirik jam tangan yang dikenakannya sudah menunjukan pukul empat sore satu jam lagi Theresia harus bekerja di sebuah café. Gadis itu berjalan menuju halte di ujung jalan untuk menunggu bus yang menuju lokasi kerjanya.
Bus yang dia tunggu tak kunjung datang, Theresia duduk di sebuah bangku di tempat itu. Gadis itu mengembuskan napas sejenak karena lelah, matanya menatap awan yang seakan berjalan.
Terbayang kejadian beberapa tahun silam saat sang ibu dan ayah masih bersamanya. Saat itu adalah liburan musim panas, Theresia dan keluarganya akan pergi bertamasya di pantai. Sudah lama sekali mereka tidak liburan bersama. Bahagia yang dia rasakan saat itu.
"Bu, cepat kita harus segera pergi," ucap Shopia merengek manja tak sabar ingin segera meninggalkan rumahnya.
Theresia, Shopia dan ayahnya sudah menunggu di dalam mobil dengan wajah gembira. Terlihat wanita paruh baya yang baru saja keluar rumah dengan menarik sebuah koper besar.
"Besar sekali kopernya, Bu," ucap Theresia sambil terkekeh.
"Jangan-jangan kita tidak akan kembali lagi ke rumah ini," ledek Theresia saat itu.
"Kamu ini bukannya membantu ibu malah meledek," cibir ibunya setelah menaruh koper di bagasi.
Ibunya duduk di depan bersama sang ayah Ayah, saat itu Theresia sendiri masih seumuran Shopia saat ini. Dan Shopia hanya gadis SMU yang polos. Sepanjang perjalan mereka bernyanyi dan sangat bahagia tak ada sedikit pun rasa khawatir atau firasat buruk.
"Bu, aku lapar," rengek Shopia sambil memegang perutnya.
Ibu membuka kotak makan yang dipegangnya. "Ini roti isi coklat kesukaanmu," ucap ibu mereka sambil memberikan sepotong roti.
Theresia yang sangat jahil mengigit roti milik Shopia dan membuat anak itu kesal dan merengek.
"Ibu lihat kakak jahat sekali." Shopia memanyunkan bibirnya.
"Theresia, kau tak boleh begitu." Ibu mencubit halus pipi Theresia.
Dulu Theresia adalah gadis yang ceria dan humoris namun setelah kejadian itu dia menjadi sedikit tertutup.
"Ibu, Ayah juga lapar." Ayah menoleh ke arah ibu meminta wanita itu menyuapinya.
"Ah, Ayah, manja sekali harus disuapi." Theresia menggoda ayahnya.
Suasana semakin rame di dalam mobil itu. Mereka sangat bahagia hingga tiba saat mobil melintasi sebuah jurang. Ayah yang berpikir jalan sepi sehingga dia terbawa suasana keceriaan bersama keluarganya dan kehilangan fokus melihat jalan.
Dari arah berlawan terlihat sebuah mobil melaju kencang, karena kaget ayah membanting setir dan mobil terperosok ke dalam jurang. Saat itu masih teringat jelas oleh ingatan Theresia, kepalanya terbentur jok mobil yang ada di depan dan mengeluarkan darah yang mengalir di pelipisnya.
Terlihat ibunya dan Shopia yang sudah kehilangan kesadaran, ayahnya yang masih sedikit membuka mata dan melirik ke arah Theresia.
"Theresia," ucap ayahnya dengan nada lemah, tangannya berusaha menggapai Theresia.
"Maafkan Ayah." Seketika Theresia kehilangan kesadaran dan tak tahu lagi apa yang terjadi saat itu.
Keesokan harinya saat Theresia sadarkan diri, dia mendapatkan kabar bahwa ke dua orang tuanya tak terselamatkan dan meninggal dunia. Hatinya hancur saat itu bagai tersambar petir di siang bolong.
Dengan kaki tertatih berjalan menggunakan tongkat dia berusaha melihat kondisi jenazah kedua orang tuanya. Theresia tidak percaya itu adalah ayah dan ibunya. Gadis itu membuka perlahan kain putih yang menutupi tubuh ayahnya. Terlihat wajah ayahnya yang putih pucat, tubuh yang terbujur kaku tak bernapas lagi.
Seketika air matanya mengalir deras, dia memeluk tubuh yang sudah dingin tak bernadi.
"Ayah bangun, ayah bangun, jangan tinggalkan kami."
Dia kembali berjalan menghampiri jenazah ibunya, benar-benar tak menyangka jika yang ada di hadapannya saat ini adalah kedua orang tuanya. Tubuh dingin, pucat terbujur kaku itu adalah kedua orang yang sangat ia sayangi.
"Ayah bangun, kita harus pergi bertamasya. Kau sudah berjanji, Ayah tak akan mengingkarinya lagi. Mengapa kalian diam saja." Theresia tak kuasa menahan kesedihannya, tubuhnya tersungkur lemas di lantai.
Air matanya terus mengalir, kini dia tak memiliki siapa-siapa lagi. Adiknya Shopia terbujur lemas dengan bermacam alat yang di pasangkan di tubuhnya. Dia bingung bagaimanabcara memberitahu adiknya itu ketika dia sadar dari koma.
Saat di pemakaman orang tuanya Theresia terus menangis. Ketika satu persatu telah meninggalkannya pergi dia berlutut di makam kedua orang tuanya. Di atas batu nisan dia berjanji akan menjaga adik satu-satunya dan akan memenuhi semua kebutuhannya.
Akhirnya Shopia tersadar dari komanya dan mereka melanjutkan hidup berdua tinggal di rumah sederhana peninggalan orang tua mereka. Semenjak kejadian itu Theresia banting tulangmencari nafkah untuk pengobatan adiknya dan kini dia bahagia setelah adiknya tersadar.
Theresia juga masih terus mencari pekerjaan yang lebih baik untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka, karena Theresia tahu uang peninggalan orang tuanya tak akan cukup untuk biaya mereka bertahun-tahun.
Hingga kini Theresia telah lulus kuliah dan mendapat pekerjaan sebagai seorang guru di sebuah taman kanak-kanak. Shopia pun mulai tumbuh dewasa dan meneruskan sekolah di sebuah universitas negeri di kota Den Haag. Adiknya itu pun lebih memilih tinggal di sebuah asrama karena untuk mengirit waktu untuk ke universitasnya.
"Kak, sepertinya lebih baik aku tinggal di sebuah asrama." Shopia mencoba berbicara dengan kakaknya.
Selain agar Shopia bisa menghemat uang dari Theresia, Shopia juga bisa mencari pekerjaan ketika menetap di asrama yang telah disediakan oleh pihak kampusnya demi membantu perekonomian keluarga. Shopia tidak sampai hati, melihat kakaknya menghabiskan hidupnya untuk mengurus dia selama ini.
"Apa kamu yakin dengan keputusanmu itu?" Theresia duduk di samping Shopia dan mengelus halus rambut adiknya.
Hubungan mereka selalu akur meski di suatu waktu pernah berselisih paham tetapi tidak sampai membuat mereka saling membenci satu sama lain.
"Iya, Kak! Jika aku tinggal di asrama setidaknya aku punya banyak waktu untuk belajar dan kita juga bisa mengirit sedikit biaya transportasi." Shopia menjelaskan semuanya kepada
Theresia. Gadis itu berpikir sejenak mempertimbangkan keinginan adiknya itu. Raut wajah Shopia terlihat sangat berharap bahwa kakaknya akan mengijinkannya.
Theresia menarik napas sejenak. "Baiklah, asal kau bisa menjaga diri dan belajar yang rajin," ucap Theresia dengan senyum manis.
Shopia sangat bahagia karena kakaknya mengijinkan untuk dia belajar mandiri. Adiknya itu pun memeluk Theresia dengan rasa bahagia. Theresia menyewakan sebuah asrama kecil untuk Shopia, sebenarnya dia sangat sedih karena belum bisa membahagiakan adik kesayangannya itu namun, di sisi lain dia sangat bangga karena adiknya itu selalu memahaminya dan tak pernah menuntut lebih kepada dirinya.
"Maaf ya Sayang, kakakmu ini hanya bisa menyewakan tempat sekecil ini," ucap
Theresia saat mereka tiba di sebuah asrama sederhana. "Kakak janji jika ada uang lebih akan menyewakanmu tempat yang lebih baik."
"Tidak apa-apa, Kak, tempat ini juga sudah cukup untukku." Shopia memegang tangan kakaknya dan mereka masuk ke sebuah kamar.
Akhirnya sampai saat ini Shopia tinggal sendiri di sebuah asrama dan Theresia bekerja keras untuk memenuhi semua kebutuhan adiknya itu. Gadis itu tak pernah mengeluh dengan kehidupannya yang keras ini, dia selalu bersemangat dan terlihat bahagia meski sebenarnya sangat menderita.
Kini Theresia harus mengemban tugas sebagai kakak sekaligus orang tua untuk adik satu-satunya sebagai pengganti ayah dan ibunya yang lebih dahulu menghadap sang kuasa.