Angin berembus begitu sejuk memenuhi sebuah apartemen menjulang tinggi. Tempat yang begitu mewah yang di tinggali kaum bangsawan.
Di sebuah kamar mewah seorang muda-mudi yang sedang di mabuk asmara baru saja menikmati keindahan yang hakiki. Saling menyentuh dan memandang, mengikuti hawa napsu yang bergejolak. Tak peduli dengan kata dosa ke dua orang tersebut saling memuaskan apa yang ingin mereka manjakan.
Sang wanita menutupi tubuhnya dengan selimut putih tebal, dan pria yang bersamanya duduk di tepi ranjang karena lelah atas permainan yang mereka mainkan.
"Mikael," ucap wanita cantik itu dan mendekatkan diri kepada Mikael.
"Ya Anne," jawab Mikael dengan nada datar.
Anne memeluk tubuh kekar Mikael dan bersandar di bahunya. Dia mengelus halus punggung putih pria mapan nan tampan itu. Menghembuskan napas segarnya di setiap lekukan leher Mikael.
Mikael yang terbawa arus nafsu mendekatkan wajahnya kembali kepada Anne mengecup sedikit demi sedikit bibir merah delima yang menawan itu. Wanita itu memejamkan mata dan menikmati setiap alunan dan sentuhan dari sang pria.
Mikael mengakhiri permainannya lagi, dan mengambil sebotol wine yang berada di atas meja. Anne masih saja memeluk pria itu dari belakang, menyandarkan tubuhnya mencari kehangatan dari dinginnya udara di kamar itu.
"Mikael, apa kita akan seperti ini terus?" ucap Anne dengan nada manja, jemarinya bermain di setiap kulit halus Mikael.
Lelaki itu berdiri dan melepaskan pelukan Anne, " Maksudmu?"
Anne ikut berdiri dan meminum seteguk wine.
"Kapan kau akan menikahiku?" Wanita itu memeluk Mikael lagi, wajah manjanya di perlihatkan sedemikian rupa.
Mikael hanya terdiam dan melepaskan kembali tubuh Anne. Wanita itu menarik tangan Mikael mendorongnya ke sebuah sofa.
"Aku ingin segera menikah denganmu, tahukah kamu begitu aku takut akan kehilanganmu." Anne terus melontarkan pernyataan demi pernyataan agar Mikael mau mendengarkannya.
Pria itu duduk dan menyandarkan diri di punggung sofa, menyilangkan kaki kiri ke atas kaki kanannya dan menyalakan sebuah cerutu, sesekali menghembuskan asap ke atas langit yang keluar dari mulutnya tanpa mendengarkan ocehan wanita itu. Dengan santai dia menikmati sejengkal demi sejengkal cerutu yang di hisapnya. Tubuhnya seakan melayang karena kehangatan yang mengalir di dalam darahnya.
"Apa kau tak akan menikahiku?" Anne sudah mulai kesal dengan tingkah Mikael yang tak memperdulikannya.
Wanita cantik itu tidak tahu bahwa Mikael pria tampan berusia dua puluh tujuh tahun itu tidak ada sedikit niat pun untuk menikah dengannya. Entahlah, Mikael hanya merasa belum siap terikat bersama dengan Anne.
Pria kaya anak dari seorang pejabat itu hanya menganggap Anne sebagai pemuas nafsunya saja tak lebih dari itu. Sekian lama mereka menjalin kasih tak ada rasa cinta sedikit pun dari Mikael kepada wanita itu. Pria itu sendiri bingung mengapa dia tak memiliki rasa lebih selain mengagumi tubuh indah Anne.
Wanita itu masih bersih keras memaksa Mikael untuk segera menikahinya. Sedikit pun tak ada tanggapan dari pria tampan itu.
Dia berdiri dan berjalan ke arah toilet dan membersihkan diri.
"Bersihkan tubuhmu," ucap Mikael saat keluar dari toilet dengan tubuh setengah t*******g d**a dan handuk putih yang menutupi bagian bawah tubuhnya.
Otot kekarnya terlihat sexy sekali, bagaimana Anne tidak memaksa Mikael untuk menikahi dirinya, pria itu sangat mempesona.
Anne benar-benar tidak terima kali ini karena Mikael telah mengabaikannya.
"Apa kau menganggapku sebagai mainan saja?" tanya gadis itu penuh amarah.
Mikael hanya diam dan memakai pakaiannya.
Anne menarik tangan Mikael agar pria itu memandang wajahnya. Air mata mengalir di pipi gadis itu berharap pria yang ada di hadapannya memberikannya belas kasih.
Namun Anne salah, pria itu terlalu angkuh dan tak pernah menganggap Anne.
"Sudah aku bilang, kau tak perlu membahas pernikahan karena aku masih ingin seperti ini," bentak Mikael dan menghempaskan tangan Anne.
"Tapi mengapa?" teriak wanita itu, "aku selalu mengikuti kemauanmu, tetapi kau tak pernah pedulikan aku." Wanita itu duduk di tepi ranjang sambil menangis, meratapi kesedihannya.
"Cih." Mikael berdecih, "tak ada alasan untuk aku menikahimu saat ini, aku masih belum mencintaimu." Kalimat pria itu menyakitkan hati Anne. Menusuk dalam lebih sakit dari belati yang bisa saja menikam dirinya.
Wanita itu berdiri dan menarik kerah kemeja Mikael. "Lantas mengapa kau mau melakukan hal ini denganku jika kau tak mencintaiku." Amarahnya begitu dalam.
"Karena aku hanya mengikuti napsu, bukankah kau yang memberikannya terlebih dahulu kepadaku tanpa bertanya aku mencintaimu atau tidak." Pria itu tersenyum sinis.
"Aku tidak terima dengan semua ini, kau harus segera menikahiku atau aku akan mengakhiri hidupku," ucap Anne dengan nada mengancam.
Kegaduhan demi kegaduhan terjadi di ruangan itu, sang pria bersikeras untuk tidak menikahi sang wanita dan wanita itu bersikeras memaksa kekasihnya untuk segera menikahinya.
Mikael jenuh dengan semua ucapan wanita itu, emosinya memuncak, dia menampar pipi Anne hingga tubuhnya tersungkur ke atas kasur.
Anne menangis menahan sakit di tubuh dan hatinya, mengapa pria yang begitu ia cintai sangat egois dan tak memahaminya. Penyesalan kadang tertanam di hatinya namun, rasa cinta dan ambisinya yang ingin memiliki Mikael seutuhnya menghilangkan perasaan itu.
Dia sangat yakin suatu saat Mikael akan menikahinya dengan cinta atau tanpa cinta sedikit pun. Anne segera membersihkan diri ke dalam toilet dan mengganti bajunya.
Matanya masih saja terlihat sembab, rasa bersalah pun Mikael rasakan karena telah begitu kasar kepada Anne. Namun, keangkuhannya mengurungkan niatnya untuk meminta maaf.
Di dalam mobil mewah mereka hanya saling diam, tanpa memandang. Mikael mengantarkan Anne pulang ke rumahnya.
Anne Alexander sendiri adalah seorang putri dari pengusaha kaya dan ternama. Dia adalah wanita cantik berambut pirang, ia juga termasuk gadis yang berpendidikan tinggi. Namun sayang, sifatnya terlalu obsesif apa pun yang dia inginkan harus dimilikinya.
Termasuk Mikael Van Holen yang tak lain adalah tunangannya saat ini. Pria bertubuh kekar, dengan tinggi badan yang profesional itu memikat banyak wanita. Terlebih bola mata yang indah berwarna hazel gelap wanita mana pun yang menatap matanya akan langsung jatuh hati.
Mikael sendiri termasuk pria yang didambakan kaum hawa, pria dengan rambut ikal dan berwarna coklat itu pun adalah anak dari seorang perlemen pemerintahan di kota Den Haag.
Popularitasnya sangat tinggi begitu juga dengan Anne. Mereka memang pasangan yang serasi namun, sayang sang pria benar-benar tidak mencintai wanita itu.
Dia sendiri bertunangan dengan Anne hanya karena paksaan dari pihak ke dua orang tua mereka bukan karena keinginannya.
Sesampainya di rumah Anne, wanita itu mencoba memahami Mikael karena tak ingin membuat lelaki itu marah, dia lebih memilih mengalah dan meminta maaf.
"Maafkan aku, Sayang." Anne mengelus pipi Mikael.
Pria itu hanya diam memandang lurus ke depan.
"Aku akan menunggu sampai kau siap untuk menikahiku, aku sungguh mencintaimu dan takut akan kehilanganmu," ucap Anne dengan penuh perasaan.
Wanita itu mendekatkan wajahnya kepada Mikael dan mencium halus bibirnya.
Mikael tak menolak sentuhan dari Anne dan membalasnya dengan penuh gairah. Mobil itu berguncang perlahan hingga Anne keluar dan melambaikan tangan kepada Mikael.
"Hati-hati sayang, kabari aku jika kau sudah tiba. Aku mencintaimu," teriak wanita itu saat Mikael melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh.
Mikael memandang hadis itu dari arah kaca spion mobil, terlihat Anne yang terus melambaikan tangan hingga dia tak terlihat lagi dari pandangan Mikael.