Pemilik café tempat Theresia bekerja part time tersentak kaget tatkala salah satu seorang pekerja di cafenya menghubunginya dengan membawa kabar buruk tentang keluarga daru wanita yang disukainya selama ini. Setelah mendapat kabar dari Jane teman Theresia, Joseph segera bergegas ke rumah sakit. Lelaki itu mengendarai kendaraan dengan kecepatan yang sangat tinggi. Sesampai di rumah sakit Joseph segera menuju kamar mayat. Terlihat Theresia yang masih memeluk adiknya.
Langkah kaki Joseph sempat terhenti ketika petugas berwenang menghentikan langkahnya.
“Maaf, apa hubungan Anda dengan Nona Sophia?” tanya Petugas Ethan kepada Joseph.
Joseph berpikir sejenak, lelaki itu harus mencari alasan agar polisi mengizinkannya masuk ke dalam. Theresia sangat rapuh, tanpa mendengar pengakuan dari wanita itu saja Joseph sudah dapat mengetahui beban kehidupan macam apa yang Theresia terima selama ini.
“Saya tunangan Theresia, kakak dari mendiang Nona Sophia, Pak,” jawab Joseph mengaku tunangan wanita idamannya tersebut.
Petugas Ethan memberi kode kepada rekan kerjanya agar memberikan akses kepada Joseph masuk ke dalam ruangan, menemani Theresia di sana.
“Theresia …”
Panggilan itu membuat Theresia menoleh, Theresia terkejut melihat bosnya bisa berada di sana. Selama ini Joseph memang memperlakukan dirinya dengan sangat baik, sampai setiap hari mereka berada di bus yang sama untuk menuju tempat kerja.
Joseph berpikir, pantas saja Theresia tidak datang ke café, sedangkan wanita itu mendapatkan jadwal sift pertama, yaitu siang hari ketika café baru pertama buka. Rupanya wanita cantik itu tengah dirundung duka mendalam akibat kepergian adik sematawayangnya. Kematian tanpa diduga, dengan penalaran tidak masuk akal bagi orang-orang yang mengenal kehidupan Theresia dan Sophia.
Joseph menghampiri Theresia yang sedang menangis, dia memeluk gadis itu untuk menenangkannya.
“Aku turut berduka atas meninggalnya Sophia. Semoga Tuhan memberikan kehidupan indah di alam yang kekal,” ucap Joseph saat memeluk Theresia.
“Terimakasih, Tuan,” jawab Theresia tersedu-sedu.
Theresia melepaskan tubuhnya dari pelukan Josep, di saat itu pula bersamaan Joseph menghapus air mata Theresia yang mengalir di pipi. Bagi Joseph air mata Theresia sangat berarti, dia tidak ingin gadis yang dicintainya larut dalam kesedihan. Tetapi apalah daya, sebagus apapun kalimat Joseph untuk meredakan kesedihan Theresia, tidak akan mampu membendung laju air mata kepedihan di netra cantiknya.
Theresia sedang kehilangan satu-satunya anggota keluarga baginya. Tentu saja Theresia merasakan separuh kehidupannya turut pergi bersamaan dengan nyawa adik sematawayangnya.
“Bagaimana bisa ini terjadi, Theresia?” tanya Joseph mengenai kematian Sophia.
“Pagi tadi polisi menemukan Sophia sudah tak bernyawa di kolam renang apartemen,” ujar Theresia menjelaskan kepada Joseph.
“Apa? Apartemen?” seru Joseph.
Wanita cantik tersebut menjelaskan kronologi kejadian seperti apa yang dipaparkan oleh pihak berwajib kepadanya.
“Dimana apartemennya?” Joseph tampak penasaran.
“Golden Apartemen and Hotel, katanya Sophia menginap di sana,” ujar Theresia.
Nama apartemen itu sangat tidak asing baginya. Iya, Joseph pernah mendengarnya, itu salah satu apartemen yang pernah ditawarkan oleh Mikael untuk dia huni. Katanya, Mikael ingin menyewakan satu unit apartemen untuk Joseph, asalkan lelaki itu berkenan mengunjungi kedua orangtuanya setiap minggunya.
Dia berpikir bagaimana bisa Sophia tinggal di apartemen semewah itu. Bukan dia ingin menghina Theresia dan adiknya, tetapi dia tahu mereka seperti apa. Kehidupan perekonomian Theresia benar-benar tidak mungkin jika wanita itu mampu menyewakan apartemen mewah yang dihuni oleh kalangan-kalangan elit di kota tersebut.
“Apa kau mengetahui tempat itu?” tanya Theresia saat melihat wajah Joseph yang seketika terkejut.
“Tentu saja, itu apartemen mewah yang sangat terkenal.” Joseph tidak mengatakan yang sejujurnya.
Theresia hanya mengangguk, benar apa kata Joseph semua orang tahu itu apartemen yang sangat mewah, ujarnya dalam hati. Lalu Theresia menghela napas pendek mencoba menenangkan diri.
“Apa Sophia bersama temannya di sana?” tanya Joseph kembali karena penasaran.
“Polisi mengatakan bahwa dia di sana seorang diri, dan tidak ada barang milik orang lain di sana. Polisi hanya menemukan beberapa botol kosong sisa Sophia mabuk.” Wajah Theresia terlihat sedih kembali saat mengatakan itu semua.
Dia masih tidak yakin bahwa adiknya melakukan hal sebodoh itu.
“Apa kau percaya dengan yang dikatakan polisi itu? Jika tidak, bolehkah aku menemui polisi yang menangani kasus adikmu?” Joseph masih tidak yakin dengan apa yang diceritakan Theresia.
Rasanya masih tidak dapat didengar oleh akal pikirannya, Jospeh ingin membantu Theresia untuk mengungkapkan kasus kematian adiknya, dia yakin ada hal yang tidak beres. Bagaimana bisa seorang gadis muda menghabiskan minuman sebanyak itu? Dia yakin karena Joseph sendiri pun tidak akan mampu kecuali sedang ada sesuatu yang mengganggu pikirannya.
“Hm, lakukanlah,” kata Theresia mengizinkannya.
Theresia mengajak Joseph untuk menemui Ethan seorang polisi yang menangani kasus kematian adiknya. Kebetulan Ethan masih ada di rumah sakit tersebut.
“Selamat siang, Pak,” ucap Joseph mengulurkan tangan kepada Ethan.
“Siang, Tuan,” jawab Ethan.
“Kita sudah berkenalan sebelumnya.” Joseph memperkenalkan diri sebagai tunangan Sophia.
Ethan mengangguk seolah sudah paham dengan kedatangan Joseph. Mereka duduk di sebuah bangku di lorong rumah sakit. Mereka ingin berbincang dalam keadaan sekitar yang lebih tenang dan kondusif.
“Saya ingin Anda menyelidiki ulang kasus kematian Sophia.” Joseph meminta Ethan untuk menyelidiki kematian Sophia.
Petugas Ethan tampak menghela napasnya panjang.
“Kami sudah memastikan bahwa gadis itu bunuh diri,” ujar Ethan.
Lelaki yang berprofesi sebagai seorang polisi menyerahkan hasil lab darah dari Sophia. Di dalam tubuh gadis itu mengandung kadar alko-hol yang sangat tinggi.
“Dapat dipastikan, adik Anda mengkonsumsi alko-hol secara aktif,” kata Petugas Ethan penuh sesal.
“Apa Anda yakin? Sudahkah Anda melihat rekaman cctv yang ada di ruangan itu?” Joseph meminta polisi itu untuk benar-benar memastikan kembali.
Dia meminta polisi melihat rekaman cctv yang ada di ruangan itu, karena Joseph paham betul tempat seperti itu pasti di lengkapi dengan kamera keamanan. Tak mungkin petugas berwenang seperti kepolisian Negara tidak mendapatkan hak mengakses CCTV apartemen. Terlebih kasus tersebut bersangkutan nyawa seorang gadis yang lenyap begitu saja di atas kolam renang, sedangkan Sophia sangat takut berenang.
“Saya sudah mengecek bahwa kamera di ruangan itu rusak dan tidak berfungsi.” Petugas Ethan menjelaskan bahwa kamera cctv tersebut rusak.
“Bagaimana bisa? Kau tahu itu apartemen sangat mewah. Tidak mungkin keamanan di sana bisa begitu lengah. Aku yakin ada yang tidak beres dengan kematian Sophia.” Joseph sangat kecewa dengan kinerja polisi yang menangani kasus Sophia.
Theresia berusaha menenangkan Joseph, wanita itu menggenggam tangan Joseph.
“Hal seperti itu bisa saja terjadi, karena apartemen itu banyak memiliki server kamera keamanan dan satu kamera yang rusak bisa saja menyebabkan gangguan dengan jaringan lainnya. Ini biasa terjadi, Tuan,” ucap Petugas Ethan menjelaskan kepada Joseph.
Joseph masih tidak terima dengan apa yang dikatakan polisi itu, dia berjanji akan bisa mengungkapkan kebenaran di balik meninggalnya Sophia, apapun yang terjadi.
“Untuk Anda, jika tidak bisa bekerja lebih baik segera mengundurkan diri. Jangan menjadi petugas yang buta akan realita,” kata Joseph penuh penekanan.
Theresia menarik Joseph untuk menjauh dari Petugas Ethan, bosnya itu sudah terlihat sangat emosi dan tak terkendali. Theresia tidak ingin ada keributan di rumah sakit. Terlebih saat ini dirinya tengah berkabung atas kepergian adik tercintanya untuk selamanya.
“Sudahlah, Joseph, mungkin ini sudah kehendak Tuhan,” ujar Theresia meneteskan air mata kembali.
“Maafkan aku, bukan maksudku untuk membuat keributan saat kau berduka.” Joseph merasa telah mengecewakan Theresia.
Lelaki itu menggenggam tangan Theresia dan meminta maaf karena telah membuat keributan.
“Kau tahu, itu apartemen mewah dan tidak mungkin jika satu kamera pengawas di unit apartement dapat memutus akses keamanan kamera lainnya. Lagi pula keamanan di tempat seperti itu sangat berkualitas,” jelas Joseph meminta Theresia untuk mempercayainya.
Joseph hanya menganalisa dari orang-orang di sekitarnya. Bagaimanapun Joseph berasal dari kalangan atas, dia tentu acap keluar masuk tempat-tempat hunian mahal seperti Golden Apartemen and Hotel.
Theresia pun berpikir seperti penalaran Joseph, dia yakin bahwa kamera keamanan di tempat mewah seperti itu sangat berkualitas tinggi. Namun, pikirannya masih kacau. Dia tidak tahu harus berbuat apa. Wanita itu hanya ingin Sophia tenang di alam sana. Dia tidak mau memperpanjang masalah ini, terlebih karena tidak ada bukti yang kuat untuk memastikan ada kejanggalan di balik kepergian adiknya.
“Aku akan membantumu untuk menyelidiki kematian Sophia.” Joseph memeluk tubuh Theresia kembali.
“Sudahlah, Tuan, itu hanya akan membuang waktumu. Tidak ada bukti kuat yang aku punya.” Theresia terdengar sangat frustasi.
“Aku akan meminta ayahku untuk membantu menangani kasus ini,” ucap Joseph agar Theresia tidak putus asa.
Joseph berniat meminta bantuan kekusaan ayahnya untuk menangani kasus ini. Dia tidak tahu bahwa Sophia meninggal di kamar apartemen milik kakaknya sendiri. Joseph hanya ingin mencari semua kebenaran dan membuat wanita yang dia cintai bisa tersenyum kembali usai melepas beban penderitaannya.
Joseph berjanji di dalam hati, bahwa setelah semua masalah ini selesai dia akan melamar Theresia. Lelaki itu akan selalu menjaga Theresia, serta memastikan hanya kebahagiaan yang didapati Theresia usai menjalin hubungan bersamanya.
“Aku berjanji akan segera menikahimu, aku ingin kau bisa bahagia, tidak lagi merasakan penderitaan. Sudah cukup semua penderitaanmu. Dengan sekuat dan semampuku akan terus menjagamu,” ucap Joseph dalam hati.
Theresia sangat nyaman berada di pelukan Joseph, dia tahu bahwa Joseph lelaki yang sangat baik. Dia sangat bersyukur mempunyai atasan seperti Joseph yang sangat perhatian. Kakak kandung Sophia itu tidak tahu harus membalas kebaikan Joseph seperti apalagi, terlalu banyak yang Joseph lakukan untuknya. Theresia terus menangis di pelukan Joseph.