Setelah membantu Mikael mengurus masalahnya di apartemen, Carlos segera ke rumah Georgous, atasannya, sekaligus ayah dari Mikael dan Joseph. Dia berjalan tergesa-gesa. Tubuhnya terlihat berkeringat, dia mengusap dahinya dengan sebuah sapu tangan putih yang selalu dia kantongi. Membenahi pakaiannya agar terlihat rapih. Carlos tidak tahu harus melaporkan apa atas kejadian mengejutkan yang tengah melibatkan anak sulung Georgeus.
Mikael, adalah anak emas pasangan Georgeus dan Alexa. Berbanding terbalik dengan Joseph yang selalu saja membangkang perintah serta keputusan kedua orang tuanya, maka Mikael merupakan tipe anak yang enggan melawan kedua orang tuanya. Meski keputusan Georgeus dan Alexa tidak serta merta memikirkan kebahagiaan anak-anaknya, tetap saja Mikael merasa dirinya harus patuh, membaktikan diri dengan baik kepada mereka berdua.
Sayangnya Alexa justru semakin kejam menunggangi anaknya demi keuntungan pribadinya, termasuk memaksa Mikael menjalin hubungan asmara dengan anak tunggal politikus ternama di kotanya.
“Apakah Tuan Georgeus ada di rumah? Saya mencoba menghubungi beliau, tapi tidak juga mendapatkan jawaban,” ujar Carlos.
Carlos menemui salah satu pelayan di rumah Georgeus lalu dia bertanya apa Georgeous ada di rumah saat ini. Sang pelayan memberitahu bahwa Georgeus ada di ruang kerjanya.
“Bisakah Anda memberitahu beliau tentang kedatangan saya kemari?” tanya Carlos.
Pelayan itu lantas melakukan panggilan ke ruang kerja sang tuan rumah. Pelayan memberitahukan perihal kedatangan Carlos ke sana. Georgeus yang merasa penasaran dengan kejadian di hari kemaren ketika mereka bertemu di lobby, langsung mengizinkan Carlos menemuinya di ruangan kerja.
“Silahkan Pak Carlos, langsung saja Anda segera menghampiri Tuan Georgeus di ruangannya. Beliau sudah menunggu Anda di sana,” jawab pelayan tersenyum.
Sementara Alexa yang melihat kepanikan Carlos diam-diam mengikuti lelaki itu dari belakang. Alexa merasa penasaran alasan di balik kedatangan Carlos dengan wajahnya terlihat tegang seperti menyimpan sebuah masalah besar. Tentu saja Alexa harus mengikuti Carlos dan mencuri dengar alasan kedatangan orang kepercayaan suaminya itu. Pasti ada sesuatu hal tidak beres yang terjadi sehingga wajah Carlos menunjukkan kepanikan luar biasa dari gesture tubuh lelaki itu.
Carlos mengetuk pintu ruang kerja Georgeus. Atasannya yang sudah menunggu kedatangan orang kepercayaannya tersebut. Georgeus menoleh ke arah pintu.
“Masuk,” ucap Georgeus.
Lalu Carlos masuk dan berdiri tepat di hadapan Georgeus, terlihat lelaki itu sedang bekerja. Saat melihat Carlos hendak membicarakan sesuatu dengannya, lelaki itu lantas menutup laptopnya.
“Ada apa, Carlos? Mengapa wajahmu terlihat sangat gusar seperti itu?” tanya Georgeus saat melihat wajah Carlos yang penuh tekanan batin.
“Duduklah, dan katakan apa alasanmu datang kemari?” Georgeus berdiri dan mengajak Carlos untuk duduk di sebuah sofa di ruangan itu.
Carlos pun duduk berhadapan dengan Georgeus. Dia bingung harus berkata apa dan menceritakan awal mula dari mana. Lelaki itu terlihat menghela napas pendek. Georgeus merasa aneh dengan gerak-gerik Carlos yang terlihat seperti tidak biasanya. Biasanya Carlos akan menyampaikan berita dengan lugas, meskipun berita tersebut bukanlah berita baik untuk dia dengar.
“Tuan, saya tadi dari tempat putra sulung Anda, Tuan Muda Mikael,” ucap Carlos membuka suara.
“Iya, saya tahu. Lalu apa yang sebenarnya terjadi di sana?” tanya Georgeus penasaran.
“Putra Tuan Besar-” Carlos berhenti sejenak.
Membicarakan tentang anak sulungnya tentu saja membuat Georgeus merasa semakin dilingkupi penasaran di dalam dirinya. Pandangan mata Georgeus menatap lekat sosok Carlos, menunggu penjelasan guna menyingkirkan rasa penasaran lelaki paruh baya tersebut.
“Ada apa dengannya?” Georgeus semakin penasaran.
“Ada seorang gadis telah tewas di kamar apartemen putra Anda, Tuan!” Dengan berat hati Carlos memberitahukan kematian Sophia kepada Georgeus.
“Apa?” Georgeus terdengar sangat terkejut.
Di luar Alexa yang sedang menguping pun terkejut, wanita itu menggigit kecil bibirnya. Dia penasaran bagaimana bisa ada seorang wanita mati di tempat putranya. Dia tahu Mikael tidak mungkin membu-nuh seseorang bahkan untuk menyakiti seekor anjing pun Mikael tidak berani.
Rasanya Alexa ingin menerobos masuk ke dalam ruangan suaminya dan bertanya langsung kepada Carlos tentang awal mula sampai ditemukannya seorang gadis kehilangan nyawa di apartemen putranya. Pantas saja, Alexa mendengar berita bu-nuh diri di apartemen yang sama dengan apartemen pribadi putranya.
Alexa sama sekali tidak menyangka, jika tempat yang sempat dia lihat di berita adalah kamar apartemen putra sulungnya, Mikael.
“Bagaimana bisa?” ucap Georgeus meninggikan suaranya.
Lelaki itu berdiri, terlihat kegelisahan di wajahnya. Dia berpikir bahwa Mikael telah gi-la karena berani membunuh. Entah apa yang terjadi, Georgeus tak tahu harus bereaksi apa lagi.
“Gadis itu tewas tepat di kolam renang apartemen putra Anda,” Carlos menghela napasnya.
Carlos memandang Georgeus, memastikan berita yang dia bawa tidak mengganggu kesehatan atasannya.
“Awalnya saya pikir putra Anda lah yang membunuh gadis itu, tetapi setelah diselidiki melalui kamera keamanan gadis itu meninggal karena tidak bisa berenang dan penyebab kematiannya berhubungan dengan Nona Anne kekasih putra Anda, yang tak lain putri dari Tuan Alexander, Tuan.” Charlos menceritakan semua kepada Georgeus.
Lelaki itu terlihat sangat bingung saat mendengar cerita Carlos, dia tahu jika media mengetahui hal ini bisa memperburuk reputasinya terlebih saat ini dia sedang mengikuti kampanye untuk pemilihan perdana menteri.
Alexa yang sedang menguping segera menerobos masuk ke ruangan suaminya. “Carlos, segera kau urus semuanya!” teriak Alexa.
Ibunda Mikael jelas tidak terima dan merasa khawatir jika masalah tersebut melibatkan putranya. Nama baik keluarga mereka dapat dipertaruhkan. Kalau mereka tak dapat menangani masalah ini dengan baik, maka masa depan cemerlang nama keluarga mereka hanyalah tinggal angan-angan semata.
Georgeus dan Carlos sangat terkejut dengan kehadiran Alexa tiba-tiba.
“Iya, Nyonya saya sudah meminta pihak apartemen untuk tutup mulut dan menghapus semua rekaman kamera pengawas,” ujar Carlos.
“Aku tidak ingin ada yang sampai mengetahui tentang semua ini, lalu dimana Mikael sekarang? Apakah dia baik-baik saja?” Alexa terdengar sangat khawatir dengan keadaan putra sulungnya.
“Putra Anda tadi berkata ingin ke suatu tempat untuk menenangkan diri,” jawab Carlos.
Mereka pun menyusun rencana agar benar-benar tidak ada orang yang akan mengatakan kejadian itu. Georgeus tidak ingin kampanyenya gagal hanya karena ulah putranya yang keras kepala dan teledor. Dia meminta Carlos memastikan bahwa semuanya harus baik-baik saja.
Setelah itu Carlos keluar dari ruangan Georgeus dan melanjutkan pekerjaannya seolah-olah dia tidak mengetahui apapun tentang hari ini. Tetapi kehadiran Alexa di sana membuat Georgeus kehilangan konsentrasinya.
Alexa sangat marah dan menyalahkan Georgeus yang terlalu memanjakan putranya. Georgeus yang tidak terima dengan perkataan Alexa pun menyalahkan wanita itu karena terlalu keras terhadap kedua putranya. Pertengkaran pun terjadi di antara mereka.
“Semua itu salahmu, kau terlalu memanjakan Mikael!” ucap Alexa penuh emosi.
“Apa? Salahku, bukankah kau terlalu keras terhadap putra-putramu sehingga mereka membangkang? Kau tidak ingat karena ulahmu, Joseph tidak pernah kembali lagi dan kerena ulahmu juga sehingga Mikael mengalami musibah seperti ini.” Georgeus yang tidak mau kalah membalikan semua perkataan Alexa.
“Dasar kau lelaki tidak tahu diri, kau bisa seperti ini atas usaha siapa? Ingat posisimu sekarang berkat kegigihanku!” Alexa sangat marah karena dia disalahkan atas semua kekacauan ini.
Wanita itu pergi begitu saja dan memecahkan vas yang ada di atas meja. Terdengar kegaduhan yang sangat mencekam malam itu. Semua pelayan hanya bisa terdiam. Sudah lama sekali Georgeus dan Alexa tidak bertengkar sehebat ini.
Georgeus duduk dan mendukan kepalanya, dia benar-benar terlihat frustasi. Lelaki itu membuka kacamatanya dan memijat keningnya sendiri. Dia menyadari bahwa semua kekacauan yang terjadi di rumahnya itu karena ambisi dia dan istrinya yang begitu besar. Namun, itu semua dia lakukan demi masa depan keluarganya. Saat ini dia sangat ketakutan jika semua akan menjadi kacau.
Di rumah sakit dokter meminta Theresia untuk mengurus proses pemakanan adiknya. Theresia yang tidak kuasa kembali menangis meraung. Dia masih tidak yakin adiknya akan meninggalkannya untuk selama-lamanya.
Joseph yang tidak kuasa melihat isak tangis Theresia terus mendekap gadis itu. Tubuh Theresia sangat lemah dan tidak berdaya. Joseph bertekat besar untuk mencari tahu tentang kematian Sophia. Lalu pria itu meminta Jane teman Theresia untuk tetap berada di dekat gadis yang dia cintai dan membantunya mengurus pemakaman Sophia.
“Jane tetaplah di sini bersama Theresia, aku akan pergi ke suatu tempat untuk menemukan semua kebenaran,” ucap Joseph perlahan kepada Jane.
“Baiklah, hati-hati di jalan Pak,” jawab Jane.
Sebelum pergi Joseph melirik kembali ke arah Theresia yang berdiri di samping jasad Sophia. Kemudian dia pergi dengan tergesa-gesa menuju parkiran. Joseph langsung mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju rumah keluarganya.
Alexa yang sedang duduk terkejut melihat putra bungsunya kembali ke ruamh, wanita itu segera berdiri dan ingin memeluk Joseph.
“Joseph, akhirnya kau pulang, Nak,” ucap Alexa sangat bahagia melihat kedatangan putra bungsunya.
Alexa merasa, Mikael tidak dapat dia kendalikan namun di sisi lainnya Joseph kembali pulang ke rumah setelah sekian lama tak pernah menginjakkan kakinya di kediaman orang tuanya sendiri.
Joseph tidak memperdulikan ibu yang ada di hadapannya. “Dimana Papa?” tanya anak itu dan membuat Alexa mengurungkan diri memeluknya.
“Dia ada di ruangannya.” Alexa memberitahu keberadaan Georgeus kepada putranya.
Belum selesai Alexa berbicara, Joseph meninggalkan wanita itu begitu saja. Dia berjalan tergesa-gesa menuju ruangan Georgeus. Alexa kesal karena putranya masih tidak bisa menghargainya sebagai seorang ibu yang telah melahirkannya.
Joseph mengetuk pintu ruangan Georgeus, belum juga ayahnya mempersilahkannya masuk Joseph langsung menerobos begitu saja. Terlihat Georgeus yang masih duduk sambil memijat keningnya.
Saat melihat Joseph, Georgeus langsung tersenyum seolah tidak terjadi sesuatu sebelumnya.
“Akhirnya kau pulang juga putraku.” Georgeus memeluk Joseph dan mengajaknya duduk, “bagaimana kabarmu, Nak?” lanjut Georgeus menanyakan kabar putranya itu.
“Seperti yang Papa lihat saat ini, keadaanku sangat buruk,” jawab Joseph tertunduk.
Terlihat kesedihan dari wajah tampan lelaki itu. Sang ayah memperhatikan raut wajah putranya. Mengapa anaknya itu terlihat begitu sedih apa ada masalah besar yang menimpanya.
“Apa yang membawa datang kepadaku?” tanya Georgeues kembali, “aku pikir kau sudah tak menganggapku ayahmu lagi,” ejek sang ayah.
“Aku ingin meminta bantuanmu.” Joseph memandang tajam wajah Georgeus.
Sang ayah tersenyum tipis, dia merasa heran karena putra yang selama ini tidak menyukainya selama ini dan pergi dari rumah, akhirnya kembali lagi dan membutuhkan pertolongannya