Part 09

1247 Words
Brandon menggeliat, mulai membuka mata perlahan dari tidurnya. Brandon melihat jam tangannya, ternyata dia hanya terlelap selama setengah jam. Perjalanan masih sangat lama, masih sekitar 9jam lagi di udara. New York - Tokyo memiliki waktu tempuh hampir 14jam lamanya. Hal ini jugalah yang membuat Brandon memaksa Anna untuk ikut. Brandon tak ingin sendiri kesepian dalam pesawat selama itu. Sangat membosankan. Brandon menoleh ke samping dan melihat Anna masih tertidur lelap, posisi tidur Anna sekarang menghadap ke samping ke arah Brandon. Brandon juga membalikkan tubuhnya menghadap ke samping ke arah Anna. Brandon tersenyum menatap wajah Anna yang tertidur lelap, mengagumi setiap detail wajah Anna, menikmati ciptaan Tuhan yang sangat cantik di hadapannya.  "Cantik...sempurna." ucap Brandon lirih tersenyum terpesona pada wajah anna yang putih mulus bersih. Brandon teringat saat Anna mengucapkan terima kasih pada pelayan di kedai kampusnya juga pada pramugari di pesawat ini. "So humble." Bisiknya lagi tak ingin sampai Anna terbangun. "Benarkah dia memiliki seorang pacar?" Tanyanya dalam hati, muncul nyeri seakan ada seorang yang meremas jantungnya. "Tak mungkin...aku tak mungkin cemburu." Brandon kembali mengingkari perasaannya yang muncul kepada Anna, namun kejantanan nya bereaksi sebaliknya. Tubuh bagian bawahnya itu selalu berkedut saat perasaan pada Anna itu muncul.  Brandon langsung bangun dari tempat tidurnya dan segera masuk ke dalam kamar mandi. Brandon butuh relaksasi dibawah shower air dingin  untuk melarikan dirinya dari Anna. Namun shower air dingin itu tetap tak bisa menjauhkan pikirannya dari Anna. "Benarkah dia memiliki pacar? Berkali-kali aku datang ke kampus dan ke rumah pantai namun tak pernah kulihat ada laki-laki datang atau bersamanya.." pikir Brandon Brandon memutuskan menyudahi mandinya karena semakin membuat pikirannya kacau. Brandon mengenakan jubah mandinya lalu keluar dari kamar mandi. Saat keluar dari kamar mandi, brandon tersenyum menatap Anna yang masih tertidur lelap. "Dasar snow white! lama sekali tidurnya." Oceh Brandon lirih lalu masuk ke ruang pakaian. Brandon selesai berpakaian santai, hanya kaos hitam bodyfit dengan celana pendek selutut berwarna coklat muda, lalu keluar dari ruang pakaian dan melangkah ke pintu kamar lalu keluar dari sana. Brandon memilih meneruskan memeriksa pekerjaan yang tadi sempat tertunda. --- Anna mulai menggeliat, tangannya bergerak merasa aneh karena sofa tempatnya berbaring menjadi sangat luas dan halus. Mata anna langsung membelalak kaget saat sadar dirinya tak lagi di sofa. Ini kamar tidur. "Bagaimana mungkin aku tidur di ranjang di kamar ini?" Pikiran Anna mulai curiga memikirkan segala hal buruk. Dia langsung memeriksa pakaiannya, dan menghela napas lega karena dia masih berpakaian utuh. Ceklek. Pintu kamar terbuka, dan Anna keluar sambil menguap dan menggeliatkan, meregangkan tubuhnya. Anna mencari sosok Brandon dan menemukannya sedang sibuk di depan laptopnya.  "Tuan." Sapa Anna saat duduk di sofa tak jauh dari tempat Brandon duduk. "Kau sudah bangun? Tidurmu lelap sekali sampai 2jam lebih." Ucap Brandon melihat ke arah jam tangannya lalu menoleh ke Anna. Anna tersenyum nyengir semakin membuat gemas Brandon. Brandon lantas menutup laptopnya dan berbalik ke samping menatap Anna. Anna menjadi canggung ditatap seperti itu. "Tuan, apa penerbangan ini masih sangat lama?" Tanya Anna menghilangkan kecanggungannya.  "Masih sekitar 6 jam lagi." Sahut Brandon tapi tetap menatap Anna. "Tuan, aku tahu kalau aku cantik tapi tolonglah jangan menatapku seperti itu." Ucap Anna dengan wajah yang mulai merona dan Brandon malah justru tersenyum tapi masih tetap menatap Anna. "Kau tak suka ditatap? Apa kau tak pernah ditatap oleh kekasihmu?" Tanya Brandon sengaja menyindir. "Kalau pacarku yang menatap itu rasanya beda." Sahut Anna sambil menunduk, tak ingin ketahuan kalau dirinya berbohong. "Beda? Bagaimana rasanya?" Tanya Brandon yang masih saja terus bertanya perihal kekasih Anna. Anna semakin kelabakan menjawabnya. "mmm..ya... Rasanya itu membuat aku itu jadi merona...merasa dag dig dug jantungku, membuatku merasa salah tingkah. Ya seperti itulah." Jawab Anna tanpa berani menatap Brandon. "Sepertinya dari tadi sejak kutatap, reaksimu menunjukkan semua yang kau sebut tadi. Apa kau menganggapku kekasihmu?" Brandon sengaja menggoda Anna. "Eh...apa?! mmm..gak mungkin lah!" Seru Anna panik tiba-tiba. Brandon sengaja menggeser duduknya semakin mendekat pada Anna. Anna terkejut dan berusaha bergeser menjauh, namun Brandon tak berhenti. Brandon terus bergeser mendekati Anna, sampai akhirnya Anna terpojok di ujung sofa yang panjang itu.          "Tak mungkin huh? Kenapa tak mungkin aku jadi kekasihmu? First kiss mu saja sudah jadi milikku." Ucap Brandon yang semakin mendekat duduknya. kini Brandon sudah meletakkan tangan nya di senderan sofa dibelakang tubuh Anna, dan tangan yang satu lagi berada  di meja nakas di samping anna, semakin Anna terperangkap. "Karena kau mencintai kak Elsa, bukan aku." Jawab Anna tanpa berpikir. Ada suatu nyeri di d**a Brandon saat mendengar jawaban Anna. Brandon hanya terus menatap Anna dengan tatapan yang mendalam langsung ke dalam manik mata Anna. Brandon bingung mengapa seolah Anna mengatakannya dari dalam hatinya dengan jujur. "Selama di Jepang nanti, biasakanlah dirimu menjadi kekasihku. Berlakulah seolah kau sungguh-sungguh kekasihku. Jangan permalukan aku di hadapan kolega ku." Ucap Brandon lalu berdiri dan melangkah menuju mini bar yang ada di pesawat ini.  Anna bernafas lega saat dirinya sudah tidak terperangkap oleh Brandon. "Tuan, kenapa aku harus pura-pura jadi kekasihmu?" Tanya Anna bingung. "Kenapa? Kau ingin jadi kekasihku yang sebenarnya?" Brandon terus saja menggoda Anna, namun entah mengapa Anna selalu menanggapinya tidak dengan emosi seperti biasanya Anna. "Bukan begitu, maksudku kenapa kau tidak mengajak kekasihmu yang sebenarnya?" Tanya Anna polos lupa bahwa yang dicintai Brandon sudahlah menikah. "Kau ingin aku mengajak Elsa dan dibunuh oleh Xander?!" Tanya Brandon balik dan membuat Anna tersadar. "Tidak bukan begitu, maksudku daripada kau mengajak anak kuliahan seperti aku ini, bukan kah lebih baik mengajak wanita dewasa?" Sahut Anna yang kini berdiri dan melangkah ke mini bar juga. "Kau ingin tahu kenapa aku memaksa mengajakmu?" Tanya Brandon dan Anna mengangguk. "Karena aku takut merindukanmu jika beberapa hari tak melihatmu." Ucap Brandon lagi, tak sadar Anna menyunggingkan senyumnya. "Tumben kau tidak emosi dengan semua perkataan ku dari tadi? Aku jadi merasa tak seru mengajakmu." Lanjut Brandon. "Aku takut dilempar keluar olehmu. Nanti aku bisa mati dan Ciquilita menjadi sebatang kara, lalu semua mimpiku hilang sebelum kucapai, ah jadi lebih baik aku menurut saja apa yang kau katakan." Ucap Anna sambil tersenyum. "Kemarilah, mendekat kemari. Ayolah! katanya kau mau menurut saja padaku. Ayolah kemari." Perintah Brandon meminta Anna untuk duduk di sebelahnya di meja mini bar ini. Anna menurut saja, dia duduk di kursi samping Brandon. "Anak baik." Ucap Brandon tersenyum menang. "Anna, apa mimpi di hidupmu?" Tanya Brandon. "Mimpiku adalah aku tak ingin memiliki mimpi."ucap Anna menundukkan kepala. "Maksudmu? Kenapa kau tak ingin memiliki mimpi? Tadi kau bilang ingin mewujudkan mimpimu sebelum mati?" Tanya Brandon tak mampu mengerti kalimat Anna. "Mimpiku adalah tak pernah memiliki mimpi apapun. Aku pernah memimpikan memiliki seorang adik sangatlah menyenangkan, tapi justru saat aku akan memiliki adik, justru ayahku mengusir ibuku. Saat aku pernah bermimpi ayah dan ibuku kembali bersatu, aku berjuang melakukan segala usaha namun yang ada ibuku justru ikut meninggalkan aku dan Ciquilita. Aku tak ingin lagi memiliki mimpi apapun, karena hanya membuatku terjatuh sakit dan terluka bahkan terbuang." Cerita Anna mengalir bersama dengan Air matanya. Brandon perlahan membelai kepala Anna, menyibakkan rambut Anna yang jatub di samping menutup wajahnya. "Jangan pernah berhenti memiliki mimpi dalam hidupmu. Itu sama saja kau sudah mati dalam ragamu yang hidup itu." Ucap Brandon, Anna menoleh ke Brandon. "Katakan padaku Tuan, apa kau masih bisa memiliki mimpi saat kau melihat kak Elsa menikah dan bahagia bersama Tuan Xander?" Tanya Anna. "Saat itu mimpiku untuk hidup bahagia bersama Elsa mungkin terlihat hancur, tapi pada kenyataannya saat ini aku masih bisa bahagia bersama Elsa. Aku bisa menemui Elsa setiap hari, aku bisa ngobrol bersama Elsa, tertawa bersama Elsa, merasakan amarah Elsa, mencicipi masakan Elsa. Mimpiku masih terwujud meski sedikit berbeda tapi intinya sama. Aku bisa bahagia bersama Elsa." Jawab Brandon. "Apakah Tuan mencintai kak Elsa sebesar itu?" Tanya Anna terselip rasa nyeri di dadanya. Brandon menatap manik mata Anna dalam. "Mungkin sekarang sudah tak sebesar dulu, tapi yang pasti tak akan pernah hilang." Ucap Brandon masih menatap Anna.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD