"Serius."
Dengan sadar, wanita itu telah menyetujui surat perjanjian kontrak pernikahan yang dikirimkan padanya semalam. Setiap poin perjanjian yang tertulis di sana tidak bisa diubah lagi, uang yang dia butuhkan juga sudah diterima, masalahnya sudah terselesaikan dan waktunya untuk menepati janji yang telah dia buat, yakni menikah dan melahirkan pewaris untuk sahabatnya itu
"Yah, maafin Fira ya. Fira tau ini nggak akan jadi hal yang membanggakan buat, Ayah. Tapi, aku nggak bisa kalau harus kehilangan lagi. Udah cukup Tuhan ambil ibu, nggak lagi buat Ayah. Jadi, tolong maafin aku!" Fira tidak kuasa menahan tangisnya lagi, kalau saja ayahnya tahu, laki-laki itu pasti marah dan kecewa kepadanya.
"Maaf, Yah … aku nggak bisa hidup sendiri, cuman Ayah yang aku punya, mau semua orang bilang aku harus nyerah dan ikhlasin Ayah, aku nggak bisa. Aku cuman punya Ayah di sini, aku nggak mau kehilangan Ayah, aku takut sendirian!" jeritnya sembari menepuk dadanya yang teramat sesak.
Di rumah sakit itu, pernikahan akan dilaksanakan secara sederhana tanpa ada tamu dan perayaan. Setiap detik yang Fira lewati kini seperti cambukan perih yang tak bisa dia cegah. Tidak akan ada yang tahu tentang pernikahan itu, kecuali yang terlibat, itu pun berjanji untuk menutup mulut mereka selamanya.
Waktu seakan cepat berlalu, pagi itu wajah Fira semakin pucat, sebab pernikahannya sudah di depan mata, dia tidak bisa lari atau mundur, tubuhnya terkunci pada satu janji yang entah nanti akan membawa nasibnya ke mana.
"Maaf." Berulang kali Fira mengatakan itu di hadapan ayahnya dengan air mata yang terus mengucur. Gelak tawa dan riangnya berubah menjadi senyum palsu, mau berapa kali dia merias wajahnya, tetap saja kalah dengan air mata.
"Maaf, Yah, maaf … Fira terpaksa, maaf." Tubuhnya bergetar hebat, mencoba menahan sekuat mungkin agar air matanya tidak terus turun, tetapi sia-sia.
Sementara itu, tanpa Fira tahu sejak beberapa menit lalu, Kenan sudah berdiri di belakangnya. Bahkan, salam dan langkahnya tidak mengusik Fira sama sekali, wanita itu benar-benar larut pada kesedihan. Melihat itu membuat Kenan tidak tega, meskipun sejak awal Fira yang menawarkan diri padanya.
"Ra, pernikahan ini kita batalin aja," ucap Kenan sembari menepuk salah satu bahu Fira, wanita itu pun menoleh dan dengan cepat mengusap air matanya.
"Enggak, Ken." Fira dengan tegas menolak saran Kenan, dia tidak mau ingkar janji, sedangkan sisa hutang dan biaya rumah sakit ayahnya telah Kenan bayar lunas.
"Kamu nggak perlu memaksakan diri, it's okay, Ra. Aku bisa cari perempuan lain, kamu bisa—"
Fira membekap mulut Kenan dengan kedua telapak tangannya, wanita itu sudah memakai baju terbaik untuk pernikahan mereka meskipun riasannya sedikit kacau.
"Enggak, aku nggak terpaksa sama sekali. Aku siap dengan pernikahan ini," kata Fira tegas, senyumnya pun perlahan terbit.
Namun, sorot mata dan wajah pucat Fira tidak bisa mengelabui Kenan.
"Dengerin aku, Ra! Ini bukan masalah sepele, aku ingetin lagi kalau ini bukan masalah sepele. Setelah ini, kamu dan aku harus berhubungan, lalu kamu mengandung anakku dan melahirkan, setelahnya kita berpisah. Itu artinya kamu jadi janda, Ra. Aku nggak mau kamu sakit, kita batalin aja, oke!" Kenan menekan kedua bahu Fira, memaksa wanita itu untuk membalas tatapan lurusnya, memahami setiap kalimat yang dia ucapkan. Hubungan mereka adalah hubungan yang rumit, Kenan tidak bisa membiarkan Fira yang rapuh terjatuh ke dalamnya.
Alih-alih setuju dengan pengertian yang Kenan berikan, Fira tetap teguh pada keputusannya. Sempat terjadi perdebatan yang cukup alot dari keduanya hingga pada akhirnya pernikahan itu benar-benar terjadi. Kenan berhasil mengucapkan sebaris kalimat yang bisa mengubah status Fira dari gadis lajang menjadi seorang istri. Itu bukan pertama kalinya bagi Kenan menikah, tetapi rasanya lebih menggetarkan dibandingkan saat dia menikah dengan Anggun dulu.
"Aku ke depan sebentar," kata Kenan dengan wajah mengeras, kakinya melangkah lebar dan bergegas ke luar mencari tempat sepi. Kenan ke luarkan dari saku celananya butir-butir pil penenang, gemetaran dia menelan pil itu dan berusaha untuk tidak memuntahkannya lagi. Bukan hanya Fira yang merasa sakit dengan pernikahan itu, dia pun merasakannya seperti nyawanya dicabut perlahan. Hampir saja, semalam dia meneguk minuman beralkohol saking tidak kuatnya.
"Arghhh!" Kenan mengerang sembari menekan dadanya.
***
Disaat kedua tangannya sibuk mengemasi barang-barang yang sempat terpakai tadi, Fira mendengar bunyi ponsel berdering kencang di dekat bankar ayahnya. Wanita itu pun berdiri, mengusap air mata yang kembali membasahi pipi, akan tetapi ponselnya tenang di atas nakas. Fira mengambil tas kecil yang ada di bawah bankar, kontan saja dia teringat bahwa itu tas milik Kenan, sedangkan pemiliknya belum kembali hingga semua orang pergi.
"Anggun?" Fira seperti tidak asing dengan nama itu, matanya melebar mengingat siapa pemilik nama itu. Anggun adalah istri Kenan, madunya.
Haruskah dia terima?
Wanita itu pun memutuskan untuk ke luar mencari keberadaan Kenan, suaminya. Dari satu sudut ke sudut lain tak kunjung dia temukan. Namun, di tengah rasa putus asanya, dia melihat Kenan meringkuk di barisan kursi tunggu.
"KEN!" Fira berteriak, setibanya di depan Kenan, dia bangunkan laki-laki yang telah sah menjadi suaminya itu dengan menepuk kedua sisi pipi Kenan yang berubah pucat dan lembab. Hancur hatinya melihat Kenan seperti itu, sedangkan dia terlambat datang.
"Ken, bangun! Ken!" Suaranya bergetar, air matanya kembali jatuh. Detik itu dia tahu bahwa bukan hanya dia yang tertekan, melainkan Kenan juga. Fira bergegas menghapus air matanya, dia tidak boleh tampak lemah dan menyedihkan di depan Kenan, dia harus menjadi sosok yang membuat hati Kenan senang. Sungguh, dia tidak ingin melihat Kenan seperti itu.
"KEN!" Fira berteriak berusaha menyadarkan Kenan.
Mendengar teriakan Fira yang berulang, perlahan Kenan membuka matanya. Pertama kali yang dia lihat adalah senyuman tulus Fira yang tak pernah berubah sejak dulu, sosok yang selalu ada dan membelanya dari segala macam gangguan. Kenan ikut tersenyum melihatnya, akan tetapi senyumnya hilang saat Fira menunjukkan benda pipih itu, nama Anggun sang istri pertama terpajang jelas di sana.
"Anggun," ucap Kenan merebut ponsel itu, lalu menggeser ikon hijau hingga terdengar suara Anggun dari seberang sana. "Sayang," sapanya.
Fira tertegun mendengar panggilan Kenan pada Anggun, wanita itu pun lantas berdiri, menjauh dari Kenan dan berlari. Dia merasa buruk, sebab dia telah menikahi suami dari wanita lain. Melihat itu, Kenan segera mengakhiri panggilannya bersama Anggun tanpa membalas apa pun. Kenan genggam ponselnya dan berlari menyusul Fira dengan perasaan berkecamuk.
"Ra!"