“K-ken, aku minta waktu sebentar!” pinta wanita itu sembari menahan pintu, mereka sedang berada di kamar inap ayah Fira sekaligus tempat yang menjadi saksi bisu pernikahan keduanya.
“Oke, maaf.” Kenan melepaskan tangannya, lalu mundur dan memilih duduk di kursi tunggu depan ruangan itu. “Tapi, kalau kamu butuh bantuan, panggil aku!”
Fira mengangguk, sebenarnya dia merasa buruk setelah menemui Kenan tadi, apalagi mendengar bagaimana lembutnya Kenan pada istri pertama laki-laki itu. Tetapi, ada yang jauh lebih buruk lagi, dia canggung berhadapan dengan Kenan. Kedua tangannya kini tengah berusaha untuk melepaskan resleting belakang baju panjang yang berwarna putih tulang itu, untuk kesekian kalinya gagal, bahkan dia sampai berkeringat banyak hanya karena tidak bisa melepaskan bajunya itu.
“Ini gimana coba!” Sekali lagi dia berusaha, tetap tidak bisa. Sementara itu, Kenan berulang kali memeriksa jam tangannya, laki-laki itu pun berdiri seolah tidak sabar, sudah lama Fira di dalam, dia takut terjadi sesuatu pada sahabat yang telah menjadi istrinya itu, dia pun memutuskan untuk memanggil Fira.
"Ra!" Kenan mengulangnya hingga tiga kali, lalu memutuskan untuk membuka pintu ruang inap itu cukup kencang, tetapi segera membalikkan tubuhnya membelakangi Fira. Wanita itu sedang berusaha melepaskan baju pengantin, bagian punggung polosnya terlihat jelas oleh Kenan. Bahkan, Fira segera menempelkan punggungnya ke tembok.
"Ka-mu bisa? Mau ak-aku bantu?" tanya Kenan menawarkan bantuan meskipun dadanya berdebar-debar ingin meledak, mereka memang bersahabat, tetapi dia tetap laki-laki normal.
"Iy-iya, ini nggak bisa," jawab Fira menahan malu, tetapi hanya Kenan yang bisa membantunya. Perlahan dia membalikkan tubuhnya sehingga Kenan bisa meraih ujung resleting itu dengan mudah. Matanya terpejam, bibir bawahnya tergigit saat tanpa sengaja ujung jemari Kenan menyentuh kulit punggung polosnya. Suasana di ruangan itu pun seketika berubah, mereka sempat terpaku satu sama lain, sebelum akhirnya Kenan lebih dulu membuang tatapannya ke arah lain.
“Kamu ganti baju dulu, aku tunggu di depan!” Kenan bergegas meninggalkan ruangan itu, dia tidak ingin Fira melihat wajahnya yang berubah memerah seperti udang rebus. Bukan pertama kalinya dia bersentuhan dengan wanita, tetapi lagi-lagi dia merasa kacau, bahkan disentuhan pertama. “Habis ini, gue ngomong apa coba sama Fira? Nggak mungkin bahas bebek mandi di kali, kan?”
Laki-laki itu meremat rambutnya sambil berjalan dari satu sudut ke sudut lain, rasa-rasanya efek obat penenang yang tadi dia telan, tidak berfungsi di hadapan Fira. Darahnya berdesir hebat dan bulu kuduknya berdiri semua saat pintu ruang inap itu terbuka sehingga dia bisa melihat jelas wanita yang telah sah menjadi istri keduanya itu berjalan ke luar, lalu menghadap kepadanya. Fira kembali mengulum senyum meskipun tampak jelas dari sorot matanya kalau wanita itu serba salah dan tidak tahu harus berbuat apa.
“Ud-udah?” Lagi-lagi, Kenan gagap dibuatnya.
“Hem, udah. Kita ke rumahmu buat ketemu Anggun?” Fira tidak melihat istri pertama Kenan tadi, sebelum menikah pun Anggun tak pernah menemuinya atau ikut bersama Kenan.
“Em, enggak, Ra. Di kontrak itu, dia bakal nemuin kamu kalau … kalau kamu udah hamil.” Sial, hampir saja Kenan tidak bisa berbicara, lidahnya seakan susah digerakkan, walaupun tetap bisa menjawab tadi.
Fira manggut-manggut, waktunya tidak banyak. Batas maksimal pernikahan kontrak itu hanya satu tahun, sebelum itu dia harus sudah mengandung dan melahirkan pewaris yang mereka tunggu. Jadi, mereka harus segera membuatnya. Langkahnya terhenti seketika, hampir saja Kenan menabrak Fira yang berjalan di depannya. Wanita itu pun berbalik, sedikit melotot pada Kenan.
“Ken-kenapa, Ra?” Kenan yang ditunjuk lantas mengangkat kedua tangannya.
Alih-alih menjawab, wanita itu justru menggigit jari telunjuknya sendiri sembari meringis. Kenan benar-benar dibuat bingung olehnya, belum sempat Kenan menyentuh tangan itu, Fira lebih dulu berbalik dan berlari meninggalkannya. Wanita itu takut sekaligus tidak bisa membayangkan kalau setelah dari rumah sakit, mereka akan ke rumah yang Kenan janjikan untuk segera melakukan ritual pembuatan anak. Tubuhnya berubah panas dingin, tetapi dia tidak bisa beralasan apa pun. Semua itu harus terjadi, dia tidak boleh mengecewakan Kenan.
“Ra.” Kenan memberi isyarat agar wanita itu mengikutinya dan masuk mobil. Fira bergerak patuh, menekan dadanya berulang kali supaya dia tidak terlihat buruk di depan Kenan, apalagi sampai melihat Kenan terpuruk seperti tadi. “Kita pulang sekarang ya?”
Fira menyengir kuda sembari mengangguk. “Memangnya, aku bisa nolak?” batinnya protes.
***
Sesuai perjanjian yang dibuat, Kenan menyediakan rumah tersendiri khusus untuk Fira sehingga apa pun yang mereka lakukan di rumah itu tidak dilihat oleh Anggun. Tetapi, jarak rumah pertama dengan yang kedua tidak terlalu jauh, hal itu memudahkan Kenan untuk mengawasi kedua istrinya. Tujuan utama mereka jatuh pada kamar utama rumah itu, mata Fira terbelalak melihat tumpukan kelopak bunga mawar mulai dari lantai hingga di atas ranjang. Bahkan, kamar itu didekorasi selayaknya kamar pengantin baru yang tak sabar memadu kasih.
Fira meraba dadanya, ada yang tidak beres. Hal yang sama juga Kenan rasakan, bagaimana tidak, dia sudah pernah menikah dan pemandangan kamar seperti itu tidak asing baginya. Untuk beberapa saat keduanya sama-sama diam, mencuri-curi pandang, lalu mencoba mengalihkan perhatian.
“Ra,” panggil Kenan, kemudian berdehem.
“Ya?” sahut Fira sedikit terbatuk, sebelah tangannya sibuk mengusap leher hingga tengkuk yang terasa berat. Tatapannya bertemu dengan tatapan Kenan, lalu keduanya tertawa canggung, memukul bahu satu sama lain. Bukan hanya itu, Fira mendorong bahu Kenan hingga condong ke ranjang, lalu Kenan membalasnya, berulang kali tanpa mereka sadari kini berada di atas ranjang itu dan saling melempar kelopak mawar. “Aku menang!”
Kenan tidak terima dengan pengakuan Fira, kedua lengan panjangnya dia lipat hingga batas siku, lalu celana panjangnya juga dia lipat sedikit agar dia leluasa. Untuk sejenak mereka melupakan masalah yang sedang membelenggu keduanya, saling membalas satu sama lain, menertawakan dan meremehkan. Namun, mereka tidak menyadari bahwa hal itu membuat posisi mereka semakin dekat hingga tak ada jarak sedikit pun. Satu tangan Kenan melingkar di pinggang Fira, sedangkan tangan yang lain masih melempar mawar ke wajah wanita itu.
“Kamu kalah!” Kenan berucap tepat di depan wajah Fira, tatapannya sangat tajam lagi menuntut dan nafasnya yang memburu seketika menabrak wajah wanita itu. Keduanya pun tersadar, dengan kedua tangannya Fira mendorong tubuh Kenan agar menjauh dari tubuhnya, tetapi hal itu justru membuatnya tidak seimbang dan terjatuh ke atas tubuh Kenan yang terlentang.
“Um, Ke-ken, maaf … maaf ya, Ken, ak—” Tubuhnya terkunci, kedua tangan Kenan melingkar dan menekan pinggangnya. “Ken ….”