Bab 5. Pulang Ke Istri Pertama

1218 Words
Hampa, itu yang Fira rasakan. Tanpa berpamitan, Kenan meninggalkan Fira dan kembali ke rumah utama. Dia berusaha membuang perasaan aneh yang terus menyiksanya sejak membuka mata dan melihat Fira ada di sampingnya tanpa sehelai benang pun. Kenan tidak menyangka bahwa semalam dirinya bisa terbawa suasana yang Fira buat sehingga malam panas dengan segala sentuhannya itu berjalan dengan mudah. Bahkan, persiapannya membayangkan wajah Anggun, tidak berlaku malam itu, sebab Fira berhasil membuat dirinya terpancing dan merasa sangat nyaman, itu yang Kenan takutkan. Perasaan aneh itu segera dia buang, mereka tidak boleh melibatkan hati sesuai yang tertulis di kontrak itu. Kakinya melangkah begitu lebar menuju seorang wanita yang mungkin semalaman tidak bisa tidur dengan nyenyak menunggu kabarnya. "Sayang," panggilnya menyapa, menarik tubuh Anggun untuk dia dekap. Anggun pasrah saat tubuhnya ditarik dan masuk ke dekapan, air matanya yang senantiasa menggenang sejak dia membuka mata tadi, menetes tanpa Kenan tahu, cepat dia hapus dan kembali tersenyum di hadapan sang suami. Itu tidak adil bagi Kenan, tetapi dia sendiri tidak bisa menghalangi perasaan alami seorang wanita. Tidak ada sambutan terbaik untuk seorang laki-laki selain senyuman dan rasa ikhlas dari istrinya, apalagi itu sekali lagi Angun ingatkan pada dirinya bahwa inilah keputusan yang dia buat dan Kenan setujui pada akhirnya. Penerus keluarga itu dan semua usahanya bergantung dari anak yang akan lahir dari darah Kenan. "Mas udah makan?" tanya Anggun mengusap pipi Kenan yang hangat. "Belum, aku pengen makan yang kamu siapin. Kali ini, enak nggak?" "Hahaha, emang pernah aku siapin yang nggak enak buat kamu, hem? Nakal, ayo!" Anggun tertawa dan menggandeng tangan suaminya itu. Berulang kali bibir Kenan mendarat di kening dan puncak kepala Anggun, setidaknya dengan yang dia lakukan itu bisa mengurangi sebuah noda yang hadir semalam, saat dia bersama Fira dengan semua rasa nyamannya. Dan untuk gadis itu, sahabatnya, Kenan berharap saat terbangun nanti, Fira tidak kecewa karena dia telah pergi dari rumah itu tanpa berpamitan. "Aku buatin kamu s**u juga, Mas mau pijat nggak?" tawarnya sembari mengambilkan Kenan lauk. "Pijat-pijatan sama kamu?" balas Kenan lantas mendapatkan pukulan dari Anggun. "Hahaha, Sayang ... kamu aja yang pijat aku, jangan mbak-mbak di spa gitu!" "Kenapa emangnya? Kan, mereka lebih jago!" Anggun menciumi rambut Kenan yang lembab, laki-laki itu sudah menjalankan tugasnya. "Ya, enak kamu aja. Kamu tahu titik mana yang aku suk-auh!" "Genit!" ucap Anggun mencubit kecil kembali pinggang Kenan. Air matanya yang semalam terus saja turun, pikirannya yang kacau balau, berganti mendapatkan tebusannya pagi ini. Walaupun dia merasa dan tahu suaminya telah merasakan nikmat yang lain, satu hal yang tidak berubah dari Kenan untuknya, yakni pancaran cinta yang terlihat jelas dari sorot mata Kenan, pagi ini masih menjadi miliknya. Setelah selesai menghabiskan sarapannya, Kenan bergegas ke kamar. Tadinya, dia ingin mencari dokumen untuk pertemuan besok, tetapi melihat Anggun masih sibuk di dapur, dia pun menggunakan kesempatan itu untuk mengirim pesan pada Fira. Bagaimanapun, Fira bukan hanya sahabatnya sekarang, gadis itu sudah dia nikahi dan mereka telah menghabiskan malam panjang bersama. "Mas," panggil Anggun mendadak sudah di depan pintu kamar. "Ya, Sayang. Ini baru mau ke kamu, udahan?" Anggun mengangguk. "Ada yang harus aku bantu, Mas?" "Kayaknya sih nggak ada, cuman mau aku periksa ulang. Kita ke balkon, yuk!" jawab Kenan seraya mengajak. "Oke, kamu duluan aja. Aku mau lipat selimut dulu, lupa!" Tanpa banyak bicara, Kenan bergegas berjalan lebih dulu ke balkon sambil membawa dokumen yang dia perlukan, Anggun memang terbiasa membantu memeriksa persiapan pekerjaan Kenan karena wanita itu pun pandai dalam berbisnis. Namun, satu hal yang Kenan lupakan. Setelah mengirimkan pesan pada Fira, laki-laki itu menyimpan ponselnya sembarangan, tergeletak begitu saja di ranjang, lebih tepatnya di atas selimut yang akan Anggun lipat. Sebuah notif pesan pun masuk ke ponsel Kenan, hal itu membuat Anggun merasa penasaran, apalagi dia telah lama menjadi istri Kenan dan tentunya tahu kode kunci ponsel suaminya itu . Jantungnya seakan berhenti berdetak, melihat pesan yang masuk itu milik siapa. Cepat-cepat Anggun letakkan kembali seakan dia tidak melihatnya. Kenan: Kamu udah bangun, Ra? Capek banget ya, maaf ya aku keburu pulang. Kalau mau masak, di dapur lengkap. Atau kamu mau pesen makan sama mbak pijat juga boleh. Aku pesenin, kabarin ya! Fira: Barusan mandi, Ken. Makasi, tapi aku tiduran aja, nanti enakan sendiri. Soal makan, gampang, aku bisa masak kok. Salam ya buat Anggun, aku pasti minum vitamin dan semua yang udah disiapin. Anggun mendekap dadanya sendiri, dia mengira suaminya tidak akan memikirkan atau memperhatikan Fira sama sekali, akan tetapi dugaannya salah, Kenan perhatian pada gadis itu. Pintu kamar itu kembali terbuka, beruntung Anggun sudah meletakkan ponsel Kenan sehingga yang di tangannya hanya tampak gulungan selimut. "Aku lupa hapeku, Sayang. Kamu liat?" tanyanya sambil menggaruk kepala. Anggun pura-pura mencari, lalu mengangkatnya. "Ini, untung banget nggak jatuh, di tepi banget loh, Mas!" "Hehehe, kalau jatuh, kamu yang aku hukum!" balas Kenan menggelitik Anggun. Sungguh, pasti bukan hanya dirinya yang sulit, tapi Kenan pun sama. Tidak mudah tidur dengan gadis yang tidak dia sukai, belum lagi harus terlihat baik-baik saja dan membagi waktu agar tidak ada hati yang tersakiti. Jahat bila dia menekan Kenan, hanya saja perempuan selalu kalah dengan perasaannya dan dia kalah sekarang. *** "Hish!" Sudah dikatakan berulang kali untuk tidak mengingatnya, tetap masih saja Fira ingat. Mata Kenan dan embusan nafas laki-laki itu saat berada di atasnya, di belakang lagi di sampingnya. Sumpah demi apapun, tidak tertolong! Tidak dan jangan, dia tidak boleh melibatkan lagi memainkan hati di sini. Mereka hanya bekerja sama, itu hanya kesepakatan yang dibuat agar dia segera hamil dan melahirkan keturunan untuk Kenan, setelah itu mereka akan kembali hidup masing-masing. Tetapi, mau Fira usir berulang kali, bayangan itu masih ada dan sangat terasa di dirinya, sampai-sampai dia takut bertemu Kenan hari ini meskipun tugasnya harus segera selesai dan kecanggungan masih besar di benaknya. "Moga aja, dia nggak ke sini nanti. Besok-besok aja dah dia ke sini lagi, nggak bisa aku!" katanya sambil menyapu. Tidak tahu kenapa, mereka sempat bertatapan semalam, cukup lama sehingga bagaimana wajah Kenan menjelang puncak nikmat itu tergapai, Fira masih sangat hafal. Bahkan, kalau diminta menggambarkan, dia masih bisa. "Kok dia jadi ganteng sih sekarang, perasaan dulu cupu banget. Mana ada coba yang mau sama dia, udah cupu, nangisan lagi, penakut. Eh, sekarang udah jadi raja aja dia, mana aku lagi yang jadi selirnya. Hahahaha ...." Fira jitak kepalanya sendiri. Gadis yang sudah tidak gadis lagi itu sejenak menghentikan kegiatan menyapunya, bukan karena rasa nyeri pada pangkal paha yang jelas dia rasakan, tetapi dinding kaca yang ada di ruang tengah membuat dia sadar bahwa ada bekas merah di sepanjang lehernya yang tidak dia perhatikan saat mandi. Wajar saja, biasanya dia mandi di kontrakan yang hanya sepetak, berbeda dengan sekarang, di mana banyak kaca di setiap sudutnya, termasuk di kamar mandi dan sepanjang ruangan. "K-kok ada ginian, ka-kapan aku digigit nyamuk?" gumamnya meraba leher dan melihat lagi lebih dekat. "Gila, nyamuk apaan yang gigir sampe bekas modelan gini, hah? Eh, malu dong kalau Kenan ke sini, terus tahu aku kayak panuan gini! Jangan-jangan, bisa batal lagi dia mau punya anak bareng aku, gegara kulitku jelek. Mampus!" Fira melemparkan sapunya sembarangan, berlari tertatih-tatih mengambil salep di kotak obat dekat kamar. Fira: Ken, jangan ke sini dulu ya! Sebuah pesan singkat dia kirimkan pada Kenan, setelahnya dia kembali sibuk mengoleskan salep pada lehernya yang merah-merah. "Yaelah, ini apa!" Fira: Pokoknya, kamu jangan ke sini dulu! Aku nggak bisa ketemu kamu!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD