Bab 6. Dua Hari Sekali?

1340 Words
Bekas merah? Astaga, aku nggak sadar semalem! "Kenapa?" Anggun memutar bahu Kenan, matanya ikut melihat sesuatu di tangan suaminya itu. Beruntung jemari Kenan menggulirnya dengan cepat, sebuah pesan yang masuk dan baru saja dia balas, nyatanya bisa membawa dampak yang luar biasa untuk keharmonisan rumah tangganya bersama Anggun. Semalam Anggun sudah tidak bisa tidur, saat dia pulang, bisa dilihat dengan jelas seberapa cemasnya Anggun meskipun mereka sama-sama tidak ada yang mengaku kalau pernikahan itu membuat mereka tidak baik-baik saja. Dan bekas tadi, itu juga bukan salah Fira, tapi Kenan sendiri yang bisa-bisanya membuat bekas di leher sahabat yang telah dinikahinya itu, semalam dia seperti menjadi orang lain dan memandang Fira sebagai selayaknya wanita yang dia suka. Kenan kembali memejamkan matanya sekilas, apa yang dia lakikan dan rasakan semalam sudah seperti noda di pernikahannya bersama Anggun, entah bagaimana harus melupakannya, semakin dia berusaha lupa, semakin jelas dia mengingat itu semua. Apa dia salah? "Mas, liat apa sampe segitunya? Mau beli masker?" Anggun mengambil ponsel itu dan menekan gambar keranjang. "Kalau mau beli, ya beli aja. Mas takut aku omelin kalau ketahuan mau beli masker sendiri?" "I-iya, hehehe ... biasanya, kamu selalu yang pilihin, ini aku pengen cobain yang ini!" Kenan menunjuk masker tomat, matanya terbelalak, dia tidak suka aroma tomat, tetapi jarinya menunjuk ke sana. "Oo, yaudah kamu beli aja. Pilih yang pengiriman instan ya, biar bisa kamu pake!" kata Anggun mengembalikan ponsel itu lagi, sepertinya dia tidak terlalu jeli melihat varian apa yang Kenan pilih. "Emm, ini aku beli bukan buat aku!" Kenan mencari alasan, lebih tepatnya tumbal agar dia tidak memakai masker itu di depan Anggun. Kening Anggun mengerut. "Terus, buat siapa?" "Emm, Sayang ... aku beli yang lemon buat kamu, terus yang tomat buat Fira," jawabnya mendapatkan kambing hitam, Kenan bersiap bila sampai Anggun marah padanya karena menyebut nama Fira. Angun terdiam sebentar, kemudian merebut ponsel itu lagi. "Kamu beli tiga di sini, itu semua tomat loh. Jangan bilang kamu mau kita bertiga cobain itu!" Astaga, jarinya lagi-lagi salah! Kenan bergegas menggantinya, dia membeli lemon dua dan tomat satu. Dia akan memakai masker yang sama dengan Angun, sedangkan yang tomat itu akan dia berikan pada Fira. Entah Fira suka atau tidak, seingatnya Fira dulu suka sekali memakan tomat potong diberi gula. Dan semoga saja, masker itu Fira mau menerimanya. Sebelum Anggun tahu ada foto yang baru saja Fira kirimkan tadi, Kenan menghapusnya. Mungkin ini bisa dianggap sepele karena wajar terjadi pada mereka yang berhubungan intim, tetapi tidak aman untuk kondisi Anggun tentunya. Fira tidak akan pernah menjadi yang utama bagi Kenan maupun Anggun, bahkan untuk diri Fira sendiri yang sekarang telah menyewakan tubuhnya hingga anak itu terlahir ke dunia. Ribuan maaf tidak bisa Kenan katakan pada Fira, tetapi dia akan berusaha berbuat baik pada kedua istrinya yang entah dengan cara apa, dia tidak mau dan dirinya dengan tegas menolak untuk kasar atau tidak peduli pada Fira, bagaimanapun juga Fira itu sahabatnya. "Mas," panggil Anggun. "Ya, Sayang?" Kenan hampir melemparkan ponselnya sembarangan, dia seperti pencuri yang ketahuan tuan rumah. "Katanya mau nonton bareng, kok diem aja di situ!" "Eh, iya, tunggu, Sayang!" balas Kenan bergegas menghampiri Anggun. Sebelah tangannya menyimpan ponsel itu ke saku celana, sedangkan tangan yang lain sudah melingkar di bahu Anggun. Sedikit aneh dan Anggun merasakan itu, tetapi dia berusaha untuk mengabaikannya atau dia sendiri yang hancur hari ini karena perasaan dan pikiran berlebihan yang dia punya. Dia yang mendesak Kenan untuk menikah lagi, itu artinya dia harus siap dengan segala risiko yang ada meskipun Anggun bertekad membuat tembok tinggi diantara suami dan madunya itu. Kenan tidak boleh jatuh cinta atau menyukai Fira dengan alasan apapun, Kenan harus berada di bawah kendali dan hanya bersama dengannya. Dia buang segala ketakutan yang mulai muncul dan berkuasa, menumbuhkan keyakinan bahwa dia akan bersama Kenan selamanya, tidak akan ada yang bisa memisahkan mereka, baik itu penyakit hingga orang tua mereka. Dia tidak mau tersiksa lebih lama lagi, satu hari saja rasanya seperti puluhan tahun. Karena itu, Anggun mempunyai ide untuk Kenan dan Fira agar tugas mereka selesai dengan cepat. Maafin aku, Mas! "Apa maksudnya?" Kenan tidak mengerti. "Kamu mau aku tinggal sama Fira sampai dia hamil? Sayang, kamu nggak mau aku ada di rumah ini?" Anggun menggelengkan kepalanya. "Bukan itu!" "Terus, apa? Aku nggak bisalah nggak ketemu kamu!" tolak Kenan sambil mematikan televisinya, dia takut perasaan anehnya itu bukan hanya sekadar titik noda, tetapi bisa membesar. "Mas, jangan marah dulu, dengerin aku!" pinta Anggun mengambil tangan Kenan dan menggenggamnya, dia akan mengakui perasaannya. "Aku minta kamu gini karena aku nggak siap setiap pagi di suatu hari nyambut kamu pulang dari rumah wanita lain, aku tahu aku egois, tapi udah aku coba tahan dan aku nggak bisa. Setakut dan cemas itu aku sama kamu, pikiranku kacau, perasaanku lemah. Dengan kamu di sana sampai dia hamil, mungkin sakit menahan rindu, tapi setelahnya kamu nggak perlu kembali ke sana, kamu sudah selesai dan kita tinggal memberikan perhatian sampai dia melahirkan. Mas, aku nggak bisa bayangin kamu berhubungan dengan dia, terus kamu ke sini dan sama aku, nggak bisa ... maaf!" Bola mata Kenan bergetar, dia pun segera menunduk. Mungkin tidak adil baginya dengan Anggun berkata seperti itu, sedangkan dia pun juga awalnya tersiksa harus melakukan hubungan intim dengan wanita selain Anggun. Akan tetapi, dia ingat noda di malam itu, dia tidak memakai bayangan Anggun sama sekali, murni Fira yang dia dekap dan ada di pikirannya. Mungkin dengan ide Anggun, dia tidak perlu takut jatuh terlalu dalam bersama Fira. Setelah ada tanda dan dipastikan gadis itu hamil, tugasnya selesai, dia bisa di rumah ini bersama Anggun terus sampai anak mereka lahir. Semudah itu, Ken. Kamu harus bisa! Tapi, apa aku benar-benar bisa? Kenan merasa ragu, satu hari saja sudah membuat dia nyaman bersama Fira, kalau lebih dari itu tentu dia tahu jawabannya. *** Piring berisi nasi hangat di tangan Fira pun terjatuh, hancur dan berserakan. Pagi buta, Kenan sudah datang tanpa kabar lebih dulu, laki-laki itu membawa dua koper besar berisi baju dan semua perlengkapannya. Dan, satu hal yang mengejutkan Fira. "Du-dua hari sekali? Dua hari sekali apanya?" tanya Fira gagap, gadis itu menahan kedua lututnya yang bergetar. Kenan meneguk salivanya kasar, seperti ada banyak duri di sepanjang tenggorokannya itu. "Itu, kit-kita berhubungan rutin dua hari sekali. Berhubungan yang memb-membuat anak," jawab Kenan ikut gemetaran. Mau bagaimana, yang mereka lakukan memang normalnya setiap pasangan yang telah menikah. Tetapi, tidak ada pengaturan di sana harus berapa kali dan durasinya bagaimana, sedangkan di sini mereka membicarakan pengaturan itu meskipun benar mereka dalam program untuk segera mempunyai anak, hanya saja itu membuat mereka semakin canggung. Pipi Fira memerah, belum hilang bekas di leher dan rasa perih di pangkal pahanya, sekarang dia harus mendengar bahwa dirinya dan Kenan harus bekerja keras dua hari sekali sampai dia dinyatakan hamil, permintaan Anggun tidak bisa mereka bantah. "Aku akan ngajak kamu diam-diam ke luar kota, misal ada kerjaan di sana. Jadi, kita harus tetap bekerja keras di mana saja!" kata Kenan tanpa sadar meninggikan suaranya, seperti membakar semangat juang bersama. "Iya!" Eh, Fira buru-buru menarik tangannya yang terangkat dan terkepal, dia terpancing. Di sini, mereka tidak sedang bercanda, teapi inilah keuntungan menikah dengan sahabat sendiri, masih ada lelucon yang bisa mereka munculkan. Kenan akan tinggal di sini, itu artinya pergi dan pulang kerja akan selalu memenuhi mata Fira. Mulai hari ini, Fira sendiri harus memainkan perannya sebagai istri Kenan meskipun memang dia sudah sah menjadi istri Kenan, tetapi sejak kemarin masih bercanda selayaknya teman. "Ken, kamu tidur sekamar sama aku?" tanyanya mengigit jari, sudah tahu memainkan peran, masih saja bertanya. Kenan berbalik. "Kamu mau aku tidur di mana?" "Ah-hahahaha ... nggak gitu, barang kali pas waktu gitu aja tidur di sini, tapi nggak apa. Aku bantu nata bajumu ya, kamu duduk aja!" jawab Fira gugup, dia ambil koper Kenan dan mendorong laki-laki itu agar duduk saja. "Udah, kamu di situ aja dulu. Aku bantu ini, terus beresin dapur juga, diam saja ya!" Astaga, bagaimana ini? "Ra," panggilnya berusaha mengendalikan diri. "Ya, K-ken?" Kenan menunjuk bekas merah di leher Fira, gadis itu segera menutupnya dan bergeleng cepat berulang kali. "Sa-sakit ya?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD