Bab 7. Tinggal Bersama

1165 Words
Mereka tidur dalam satu kamar, berbeda dengan diawal kemarin saat mereka baru saja menikah. Sekarang, mereka dalam kondisi sama-sama sadar, tidak sedang tertutup kabut gairah dan desakan tugas meskipun malam ini sudah termasuk target keduanya, tetapi kecanggungan yang seharusnya ada diawal, muncul secara tiba-tiba. Fira baru saja membuatkan minuman jahe hangat, laki-laki yang sedang berbaring di kamarnya itu baru pulang kerja sekitar lima menit lalu, Kenan terlihat sangat lelah dan langsung masuk kamar tanpa berbicara dengannya. Sebagai istri, Fira berdecak, merutuki dirinya sendiri, istri yang bagaimana dia itu sebenarnya. Alih-alih dia menyambut Kenan dengan senyuman lebar di depan, dia justru sibuk di dapur memikirkan mau membuat apa. "Ken, aku boleh masuk?" tanyanya membuka membuka pintu kamar itu. Kenan hanya memakai celana pendek tanpa kaos, kebiasaan Kenan di rumah utama pun dibawa ke sini oleh laki-laki itu, sama sekali tidak memikirkan kondisi jantung Fira yang mau copot karena melihat betapa bagusnya tubuh Kenan meskipun malam itu telah membuat matanya terbelalak lagi kecanduan memandangi tubuh polos Kenan. Bahkan, kedua kakinya bimbang mau melangkah atau tidak, Kenan sudah melihat ke arahnya, tersenyum seperti biasa tanpa dosa. "Kenapa kamu tanya, masuk aja!" jawab Kenan sedari tadi mengusir canggungnya juga. Dia harus membiasakan tampil seperti ini agar dia dan Fira benar-benar bisa hidup selayaknya suami dan istri, permainan peran mereka harus dimulai, sedikit demi sedikit mengusir kecanggungan yang ada demi terselesaikannya misi mereka dalam waktu dekat. Fira tersenyum, selangkah demi selangkah dia masuk kamar yang memang Kenan berikan padanya, tetapi sejak Kenan datang tadi rasanya sudah bukan miliknya lagi, dia seperti maid yang bekerja di rumah ini, serba izin kalau mau melakukan apa pun. "Aku buatin kamu jahe anget, kayaknya kamu capek banget tuh, diminum ya!" katanya menyimpan secangkir jahe hangat itu ke nakas. Kenan mengangguk, dia melihat ketulusan di mata Fira dan itu membuatnya senang. Jujur, sebelum datangnya Fira dalam rumah tangganya bersama Anggun, sambutan Anggun jarang sekali dia dapatkan dan dia pun tidak berani mendesak istrinya itu. Kalaupun Anggun menyambutnya, itu karena ada kepentingan yang ingin Anggun sampaikan. Selama ini, Kenan selalu berusaha untuk Anggun, menuruti apa yang istrinya itu mau atas nama cinta yang dia punya, tetapi ada kalanya dia ingin dilayani tanpa meminta lebih dulu. Kenan mengalihkan pandangannya, ketulusan Fira sangat terpancar dan mampu membuatnya terjebak lagi hanyut. "Kamu kenapa ngelamun gitu? Ada yang kamu pikirin? Atau kamu mau sesuatu?" tanya Fira memberondong, bukan karena itu Kenan, tapi ini kebiasaannya. "Eh, enggak. Cuman, lagi banyak kerjaan aja tadi. Kamu udah makan?" balas Kenan mencoba kembali terlihat baik-baik saja. "Belum, tapi aku udah masak. Habis kamu mandi aja, kita makan bareng ya," jawabnya lagi-lagi tersenyum tulus pada Kenan. Ah, Kenan harus ingat kalau kehadiran Fira di kehidupannya tidak lain karena mereka saling membutuhkan. Wajar bila Fira bersikap baik padanya, sebab gadis itu juga membutuhkan uang darinya. Dinding pembatas itu kembali Kenan bangun meskipun dia tahu sejatinya Fira memang seperti itu karakternya, dia hanya takut terbawa arus lagi terlena. Selepas mandi, jahe hangat buatan Fira pun habis dalam sekali tegukan oleh Kenan, bibirnya menyunggingkan sebuah senyuman. Tidak ada yang berubah sejak mereka sekolah, Fira memang sudah pandai perihal dapur. "Dia masih pengen jualan es nggak ya?" gumam Kenan terpikirkan membuat sebuah usaha untuk Fira nantinya, setelah Fira ke luar dari tahanannya ini. Kenan berjalan ke ruang makan, di sana sudah tersaji menu makan malam mereka berdua. Pemandangan yang jarang sekali Kenan lihat, matanya termanjakan, apalagi Fira membuatkan makanan yang dia suka. Dia tidak bermaksud untuk membandingkan Fira dan Anggun, tetapi fakta yang dia lihat membuat kesimpulan tersendiri dan harus dia akui itu. "Kamu jaman sekolah dulu suka banget loh sama sambel goreng kentang, aku buatin ini. Mau makan sekarang?" tawar Fira sambil melepaskan celemeknya. Kenan mengatupkan kembali belah bibirnya, sudah menganga dan ingin makan banyak sekarang. "Mau banget, kamu masak sendiri?" Kenan mendekat, melihat semuanya dan merasa sangat lapar. "Iya, emangnya masak sama siapa? Kamu jangan bikin aku takut, di sini cuman aku aja kalau kamu kerja!" Fira mendekap sendok nasinya sambil melirik ke kanan dan kiri. Kenan tergelak, sebelah tangannya merengkuh bahu Fira dan mengajaknya duduk berdampingan. "Kita makan bareng," katanya. "Oke." Fira terlihat antusias. "Makasi banyak ya, Ra. Capek banget pasti masak ini," katanya tak kuasa menahan lapar. Sebuah kehormatan bagi Fira bisa membuat masakan untuk Kenan, di tengah status mereka yang hanya sementara itu, inginnya hanya sederhana. Dia dan Kenan mempunyai kenangan yang indah bersama sehingga saat ada anak diantara keduanya sebelum mereka berpisah, anak itu terlahir karena rasa suka cita dari mereka berdua lagi kenyamanan yang ada. "Nanti, aku yang cuci piringnya!" kata Kenan sudah habis dua porsi. "Nggak, jangan! Biar aku aja, dapur ini istananya cewek!" balas Fira membusungkan dadanya. "Hahaha, oke deh! Sekali lagi, makasi banyak ya ... aku cek email dulu, habis itu ke kamar," kata Kenan beranjak lebih dulu, Fira tahu sekali sahabat yang sudah menjadi suaminya itu pekerja luar biasa. Fira bereskan piring kotor dan sisa makanan yang tercecer di meja makan lagi lantai, sembari menyanyi dia menyelesaikan semuanya. Kakinya melangkah ragu ke kamar mandi, tetapi kalau dia tidak mandi, akan lebih memalukan tidur satu ranjang bersama Kenan dengan aroma masakan yang menguar dari tubuh dan bajunya. "Mandi aja lah, daripada malu-maluin. Siapa tahu Kenan pengen-eh!" Fira memukul kepalanya sendiri, selalu saja berpikiran yang tidak-tidak. *** Gemerlap lampu disko dan musik keras yang saling bersahutan, semua itu memenuhi malam Anggun sekarang. Dia pergi ke klub malam yang sering menjadi langganannya bersama teman-teman sosialita, kepalanya sakit terus diam di rumah sambil memikirkan apa saja yang Kenan lakukan, setidaknya ini menjadi hiburan baginya. "Udah, Nggun. Lo udah nggak boleh lagi banyak minum, lo harus konsumsi obat loh!" kata Nada menjauhkan botol ketiga yang ingin Angun minum. "Biarin kali, cuman sehari doang gue nggak ngobat, juga nggak masalah!" balas Anggun tertawa. "Lo tinggal bawa gue ke rumah sakit, kalau gue pingsan. Mana!" Nada menggelengkan kepalanya, dia menjauhkan semua minuman itu dan berniat membawa Anggun pulang, temannya itu sejak jaman sekolah sudah mempunyai kondisi tubuh yang lemah, hanya saja Anggun kerap menutupinya. Kalau tahu Anggun akan separah itu, dia tidak akan mau atau menerima tawaran Anggun untuk kembali ke klub lagi karena itu hanya akan membahayakan Anggun. Nada merogoh kantong celananya, mengambil kunci mobil secepat mungkin, Anggun sudah mengoceh tidak jelas dan lebih baik kalau dia antarkan pulang. "Gue bisa dimaki Kenan kalau tahu lo kayak gini lagi, Nggun!" kata Nada sembari mengemudikan mobilnya. Anggun tertawa, dia menurunkan kaca untuk melihat wajahnya sendiri. "Gue cantik nggak sih, Nad?" Nada menoleh bingung. "Cantik banget lah, emang ada yang ngeraguin kecantikan lo, hah?!" "Hehem, nggak ada. Tapi, gimana kalau Kenan ninggalin aku?" "Lo ngaco, gue anter lo pulang!" jawab Nada sedikit menambah kecepatannya. Diam-diam, Anggun menitihkan air matanya. Pernikahan ini rahasia, perlahan dia akan tersiksa dan hancur karena pilihannya sendiri. Sakit kepalanya kembali hadir, Anggun tahan sekuat mungkin, dia tidak mau kalau sampai Nada tahu bahwa Kenan tidak ada di rumah bersamanya atau bekerja, melainkan bersama istri keduanya yang disimpan di rumah lain. "Nggun, gue-" "Gue bisa masuk sendiri, panggilin maid aja!" potong Anggun sempoyongan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD