Bab 8. Dilupakan

1231 Words
Dari satu sisi tembok ke sisi tembok lainnya, Anggun mengibaskan tangannya memberi tanda agar maid yang akan membantunya itu minggir lebih dulu. Dia ingin berusaha sendiri malam ini, dia bukan sosok wanita lemah dengan semua kenyataan yang tidak bisa dia gapai tanpa bantuan orang lain. Ya, sampai-sampai untuk urusan anak, dia harus memohon agar suaminya menikah lagi dan sekarang dia yang sakit hati sendiri. "Bu Anggun!" "Aku bisa ke kamarku sendiri, kunci saja pintunya!" potong Anggun masih bersikeras. Maid itu terdiam di tempatnya, setelah Anggun berhasil masuk kamar, barulah mereka bertiga mengunci seluruh pintu di rumah itu. Sudah menjadi hal biasa bagi mereka melihat majikannya pulang dalam kondisi mabuk, bahkan mendengar mereka berdebat karena kebiasaan yang susah sekali dihilangkan, terutama pada Anggun. Kenan sudah sering melarangnya dan berusaha agar Anggun mengurangi rasa ingin untuk mabuk, tetapi wanita itu sudah terlalu biasa dan merasa hidupnya hambar tanpa sentuhan minuman beralkohol itu. Selama ini, Kenan menutupinya, meminta semua pekerja di rumah utama itu diam, tetap menampilkan Anggun yang sebaik wajah wanita itu. Kenan sangat mencintai Anggun meskipun cintanya itu kerap menjadikan dia lemah lagi tidak dihargai sama sekali. "Kita tinggalkan saja," kata maid pertama. "Tapi, kalau terjadi sesuatu bagaimana? Pak Kenan nggak ada di rumah loh, kayaknya lagi ada dinas lama," kata maid kedua. Mereka diam sejenak sebelum akhirnya naik bersama menuju kamar Anggun dan Kenan, terdengar suara orang menangis dan sedetik kemudian tertawa, Anggun juga berbicara tidak jelas. Namun, sebagai maid yang sudah lama tinggal di rumah itu, maid pertama sedikit curiga pada hubungan majikannya itu. Memang terkesan hangat, tetapi sebenarnya sang majikan hanya berusaha untuk tetap memancarkan cinta dan kehangatan pada hubungan yang telah berubah hambar tanpa mereka sadari. "Nggak tahu sekuat apa mereka begini nanti," gumam maid pertama. "Apa maksudnya?" tanya yang lain, akan tetapi tidak dijawab dan memilih kembali ke bangunan belakang khusus mereka. Di dalam kamarnya, Anggun berbaring dengan tatapan kosong ke langit-langit kamar. Pola hidupnya yang seperti ini membuatnya kehilangan harapan untuk bisa menjadi ibu dari anak-anak Kenan, cintanya saja tak cukup karena dia tidak sepenuhnya membuktikan. Sedangkan, Kenan selalu menjadi sosok yang luar biasa akan kebiasaannya, menerima dan mengukuhkan cinta mereka, sekarang dia merasa tersaingi dan takut bila Kenan akan mundur, sebab Fira mampu lebih darinya. Apa dia akan dilupakan? Apa keputusannya sudah benar? Ini salahnya sendiri? Rasanya telat bertanya seperti itu, sebab semua telah terjadi dan suaminya telah terbagi. Kini, justru tubuh wanita lain yang akan terus menjadi penghangat Kenan. Bahkan, Kenan belum memberinya kabar sejak ke luar rumah tadi pagi. Anggun: Mas, kamu lagi apa? Anggun tersenyum simpul, lalu detik berikutnya dia tertawa sangat kencang, tidak ada balasan dari Kenan. "Biasanya, nggak sampe lima menit kamu udah langsung jawab pesen aku. Apa dia seenak itu pelayanannya sampe kamu lupa dan berubah, Mas?" gumamnya lagi-lagi merasa menjadi korban meskipun telah dia ingatkan berulang kali, dia bukan seorang korban. Anggun melemparkan ponselnya ke sisi kanan, lalu dia berusaha memejamkan mata di tengah rasa sakit dan takut yang berkobar, tubuhnya terbakar tanpa ada api di sekelilingnya. Tembok pertahanannya hancur, bahkan sebelum waktu yang dia berikan pada suaminya itu berakhir, ternyata sabarnya sangat tipis, tidak sebanding inginnya yang sampai mendesak Kenan. Dia, dia hanya tidak mau keluarga besar memisahkan Kenan darinya karena kekurangannya itu meskipun berulang kali Kenan berusaha meyakinkan bahwa tidak akan ada wanita lain walaupun mereka tidak mempunyai anak. Lagi, apa dia akan dilupakan dan tergantikan? Apa dia sebodoh itu? *** Astaga! Fira menurunkan sedikit selimutnya, ponsel Kenan berulang kali berdering pelan sejak tadi dan telinganya mendengar itu, tetapi saat itu Kenan sedang berada di belakangnya memacu diri, mereka tengah menjalankan tugas yang memang telah dibebankan. Dan sekarang, laki-laki yang katanya sedang berusaha keras menjalankan tugas itu sedang mandi, Kenan tidak akan bisa tidur nyenyak sebelum mandi lebih dulu. Terpaksa Fira pun juga akan mandi setelah Kenan, aroma keringat mereka memenuhi ruangan ini dan sangat mengintimidasi. Niatnya tadi hanya minum madu hangat bersama, mendadak berubah mencari kehangatan. "Gimana aku nolaknya, kan udah sepakat, coba?!" gumam Fira lantas duduk dengan balutan selimut di tubuhnya, miliknya kembali berkedut mengingat kegiatan panas tadi. "Astaga!" Ini tugas, dia mempunyai kebutuhan, begitu juga Kenan, mereka hanya saling membantu satu sama lain. Tetapi, rasanya seperti ada yang aneh dan sulit dia artikan meskipun ubun-ubunnya dicabut. "Kamu mau mandi?" tanya Kenan begitu ke luar, lagi-lagi hanya memakai celana pendek tanpa kaos. Fira mengangguk, dia berdiri susah payah, jujur saja masih sedikit terasa perih meskipun itu bukan yang pertama. Fira berjalan pelan-pelan menuju kamar mandi di kamar itu, tanpa dia sangka Kenan berinisiatif menggendong dan menurunkannya tepat di bawah pancuran. "Ken, aku bisa jalan kok," katanya gugup, pipinya saja sudah merah. Apa sih?! Kenan terkekeh. "Kalau jalanmu gitu, nanti kepeleset. Udah, buruan mandi, aku mau rapihin kasurnya!" "Eh, jangan, biar aku aja!" cegah Fira menahan tangan Kenan. Namun, gerakan cepatnya itu justru membuat selimut tipis yang membalut tubuhnya terlepas. Mata mereka melebar bersamaan, otak Fira seakan tidak bisa bekerja, dia tidak tahu harus berbuat apa meskipun semudah menurunkan tangan untuk mengambil selimut menutupi kembali tubuhnya. Dan, saat dia tahu hal itu, Kenan menahan tangannya, mendorongnya hingga terhimpit diantara Kenan dan tembok kamar mandi. Nafas Kenan yang memburu bisa Fira rasakan, menampar kasar wajahnya hingga benda lembab di wajah Kenan itu kembali menyapu bibirnya. Cukup lama, keduanya terpejam sembari saling menyecap, tidak hanya itu, tangan Kenan juga tidak tinggal diam. "Mandi ya," kata Kenan setelah menjauhkan wajahnya, mengusak rambut Fira, kemudian ke luar sambil menahan senyumnya. Hangat dan nyaman, dia bisa menjadi dirinya sendiri, mendapatkan apa yang dia mau tanpa harus selalu meminta. Hak dan kewajibannya seakan seimbang bersama Fira meskipun mereka baru beberapa hari bersama, Kenan mengusap wajahnya berulang kali, dadanya terasa bergetar, bergemuruh hebat di dalam sana dan seakan ingin meledak. Orang bilang tidak akan nyaman bila berhubungan dengan teman dekat sendiri, tetapi yang dia rasakan bersama Fira sangatlah berbeda, Kenan merasakan hal itu dan dia nyaman. Tidak, dia tidak boleh jatuh cinta pada Fira. Gadis itu sahabatnya, di situasi sekarang, mereka hanya saling membantu, bukan untuk bersama selamanya. Kenan memejamkan mata singkat, kemudian menepuk dadanya untuk kembali normal, dia tidak boleh melebihi batas. "Ken," panggil Fira berjalan ke luar kamar mandi. Kenan berbalik, dia bergegas memakai kaosnya. "Ya?" "Bes-besok libur'kan ya? Hehehehe ..." tanya Fira malu, tetapi dia tidak kuat dengan hasrat Kenan. "Iya, kamu capek ya?" balas Kenan mendekat, entah kenapa bersama Fira bisa senatural ini. Apa mungkin karena mereka telah menjadi sahabat dan dekat lama hingga bisa senyaman ini? Entahlah. Fira lantas duduk perlahan, lalu dia mengangkat kedua kakinya. Saat dia akan berbaring, Kenan lebih dulu menahan kepalanya supaya kembali duduk. "Kamu butuh sesuatu?" tanya Fira tidak mau berlebihan memperhatikan Kenan. Kenan menggelengkan kepalanya. "Bukannya, kamu suka banget ngobrol sebelum tidur? Itu kebiasaan kamu, kan?" "Hehehe, iya. Tapi, udah lama nggak gitu, kan sendirian di kontrakan, emangnya ada apa?" "Aku masih inget kebiasaan kamu, kita mulai lagi malam ini, kita ngobrol sebelum tidur. Kalau dulu, cuman bisa sms-an, sekarang hadap-hadapan!" potong Kenan terlihat antusias. Fira terkekeh, ternyata Kenan masih ingat kebiasaan yang dulu pernah dia ceritakan dan memang pernah dia lakukan bersama Kenan, bahkan Kenan yang bercerita sampai menangis karena dibuli teman sekelas. Di kamar itu, suara mereka bersahutan, ada tawa dan juga suara lirih hampir menangis, Fira seakan-akan menampung semua perasaan Kenan hingga laki-laki itu terlelap di pangkuannya, sedang Fira tertidur dalam posisi duduk bersandar di bahu ranjang. Ponsel Kenan berdering lirih kembali, tetapi belum Kenan sentuh sama sekali.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD