6. Tante Penyanyi

1263 Words
“Ngapain kamu disini?” “Aku mendengar keponakan ganteng aku ini sakit, jadi aku segera kesini.” ucap Reza sambil mengecup pipi Rasya yang berada dipangkuannya. Reza adalah adik kandung Rayyan satu-satunya. “Iya semalam dia demam.” “Aduh kasihan. Udah minum obat belum?” “Udah om. Tadi Rasya disuapin tante penyanyi.” “Tante penyanyi?” tanya Reza sambil mengerutan keningnya. “Iya om. Tante itu baik, suaranya bagus, cantik lagi.” “Hah? Memangnya siapa tante itu?” “Namanya tante Feby om.” “Tante Feby? Sepertinya om baru mendengar nama itu. Yang dimaksud Rasya siapa sih mas? Pacar baru mas Rayyan? Sejak kapan? Kenapa nggak dikenalin sama aku? Mas Rayyan takut kalau aku rebut?” tanya Reza kepada Rayyan dengan nada seperti netijen yang suka julid. Karena memang watak dan karakter kakak beradik ini, berbanding 360 derajat. Rayyan yang mempunyai sikap dingin, pendiam, dan bicara hanya seperlunya saja. Sedangkan Reza suka bercanda, mudah bergaul, banyak omong, dan suka julid seperti netijen negeri konoha. “Sembarangan. Kalau ngomong asal nyerocos aja. Aku sendiri aja nggak tahu dan nggak kenal siapa yang dimaksud sama Rasya, selama perjalanan Rasya ngomongin tante penyanyi, tante penyamyi itu terus.” Jawab Rayyan sambil merebahkan tubuhnya yang terasa sangat lelah di sofa ruang tamu. “Waduh… Rasya kenal tante penyanyi dimana?” “Tadi di rumah sakit om. Waktu Rasya nyusulin ayah.” “Rasya nggak boleh deket-deket sama orang yang nggak kenal. Nanti kalau Rasya diculik gimana?” “Rasya kenal kok om. Namanya tante Feby. Dia baik kok om. Nggak mungkin nyulik Rasya. Tetapi kalau Rasya diculik sama tante penyanyi itu, Rasya juga nggak papa kok om. Nanti setiap Rasya mau tidur, Rasya akan meminta tante penyanyi itu untuk menyanyikan lagu untuk Rasya. Pasti Rasya tidurnya bisa nyenyak terus, karena suaranya bagus. Tidak seperti suara ayah yang kadang-kadang malah bikin Rasya mimpi buruk.” “Wkakakakakkaka….” Mendengar ucapan Rasya yang begitu polos, Reza tak kuasa menahan tawanya. “Oh jadi begitu? Baiklah, kalau begitu ayah tidak akan bernyanyi lagi buat Rasya.” Ucap Rayyan yang pura-pura kesal, padahal ia sedang berusaha untuk menhan tawanya. Karena ia juga sangat menyadari bahwa suara dan kemampuannya bernyanyi sangat buruk. “Tapi nanti kalau Rasya nggak segera bobok, ayah juga jangan marahin Rasya.” “Nggak akan. Nanti kalau Rasya bangun kesiangan dan terlambat sekolah, ayah tidak peduli. Ayah juga tidak akan membelikan Rasya mainan ataupun es krim lagi.” “Tuh kan ayah kamu jadi ngambek. Rasya kalau bicara jangan terlalu jujur.” Sahut Reza. “Kan kalau bohbong dosa.” “Benar juga sih. Hehehe. Ya sudah sana buju k ayah kamu dulu, nanti kalau ayah kamu tidak membelikan mainan atau es krim lagi gimana? Memangnya Rasya nggak papa?” “Ya Rasya minta sama om Reza.” “Tapi kan uang om Reza tidak sebanyak uang ayah kamu. Sudah sana minta maaf dulu, karena Rasya sudah menyakiti hati ayah kamu. Rasya kan anak yang baik.” Rasya pun berjalan mendekati Rayyan, lalu memegang tangan Rayyan. “Ayah… Rasya minta maaf yak arena sudah menyakiti hati ayah. Rasya kan hanya berkata jujur.” “Iya sayang, untuk kali ini ayah maafkan.” Rayyan memeluk anak semata wayangnya itu. “Tapi ayah….” Rasya menggantungkan ucapannya. “Tapi apa?” Rayyan melepaskan pelukannya. “Menurut Rasya sebenarnya suara ayah memang bagus. Tapi lebih bagus lagi kalau ayah diam alias tidak bernyanyi. Lariiiiiiiiiiiii!!!!!” Rasya segera berlari kabur dari ayahnya dan di kejar oleh Rayyan. Sedangkan Reza hanya bisa tertawa dan menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan Rasya dan Rayyan. “Jangan lari kamu Rasya. Awas ya, kalau ketangkep akan ayah cubit hidung kamu biar kayak panjang pinokio.” “Coba saja kalu bisa ketangkep. Wek… wek…” Rasya mengejek Rayyan yang sudah terlihat ngos-ngosan. Saat hampir ketangkap, Rasya segera berlindung di belakang bibi Surti yang kebetulan juga hendak menghampiri Rasya. “Bibi… tolongin Rasya. Ayah ingin jahatin Rasya.” Pinta Rasya yang bersembunyi di balik badan bibi Surti. “Udah Rasya, jangan lari-larian. Kamu kan masih sakit. Nanti malam kalau panas lagi gimana?” “Ayah tuh yang mulai duluan bi.” “Kok ayah?” “Sudah… sudah… Bapak sama anak kok nggak ada bedanya.” Ucap bibi Surti yang sudah hafal dengan kelakuan Rayyan dan Rasya. Hampir setiap hari bibi Surti harus menghadapi pertikaian-pertikaian kecil antara bapak dan anak itu. “Pak Rayyan sebaiknya makan dulu. Sudah bibi siapin. Sekalian sama mas Reza juga. biar Rasya sama bibi.” “Iya bi, terima kasih banyak.” ***** Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian, saat ini Rayyan dan Reza berada di meja makan sambil menyantap makanan yang telah disiapkan oleh bibi Surti. “Masakan bi Surti memang tidak pernah mengecewakan.” ucap Reza. “Mama sama papa gimana kabarnya?” tanya Rayyan. “Mereka terlihat baik-baik saja dari luar, tapi aku rasa tidak dengan hati dan perasaan mereka.” “Kenapa? Apa mereka sedang mengalami masalah?” “Aku rasa begitu.” “Ada apa?” “Aku rasa mereka sangat merindukan anak sulung dan juga cucu kesayangan mereka. Apalagi mama, beliau sering menanyakan kau dan Rasya.” “Rindu? Kesayangan? Jangan ngadi-ngadi kamu.” ucap Rayyan dengan mengeluarkan senyum smirknya. “Aku tahu sebenarnya mas Rayyan juga merindukan dan peduli pada papa mama kan? Kalau tidak, mana mungkin mas Rayyan menanyakan kabar mereka.” “Aku hanya ingin tahu kabar mereka, karena biar bagaimanapun mereka tetaplah kedua orang tuaku. Itu saja tidak lebih.” “Sebenarnya kalian sama-sama memiliki gengsi yang terlalu tinggi dan keras kepala.” “Kalian?” “Iya, terutama kamu dan papa. Watak dan sifat kalian benar-benar sama. Apa mas Rayyan tidak bisa terlebih dahulu untuk memaafkan mereka?” “Aku sudah memaafkan mereka. Aku juga tidak pernah membenci mereka. Aku hanya tidak akan pernah lupa dengan apa yang telah mereka lakukan dan katakan waktu dulu.” “Bukankah semuanya sudah terjadi begitu lama?” “Tapi semua kejadian dan perkataan itu masih teringat sangat jelas dan terngiang-ngiang di dalam otakku.” “Apa kamu tidak memikirkan perasaan Rasya?” “Memangnya kenapa dengan Rasya? Aku rasa Rasya sudah bahagia dengan kehidupannya saat ini. Aku sudah berusaha sebisa mungkin memberikan semua kasih sayang dan apapun yang dia inginkan.” “Itu menurutmu pendapatmu mas. Tapi apa mas Rayyan pernah memikirkan bagaimana perasaan Rasya jauh di lubuk hatinya. Aku tahu dan tidak memungkiri bahwa mas Rayyan telah memberikan semuanya kepada Rasya. Bahkan Aku sangat kagum pada mas Rayyan, karena begitu baik bisa menjalankan peran sebagai ayah dan ibu untuk Rasya. Tapi apa mas Rayyan pernah berpikir bagaimana perasaan Rasya, saat Rasya melihat teman sekolah atau teman bermainnya yang mendapatkan perhatian dan begitu dekat dengan kakek atau nenek atau bahkan ibu meraka, benar-benar seorang ibu. Bukan ayah yang berperan sebagai seorang ibu.” Rayyan hanya terdiam. “Apa mas Rayyan pernah menanyakan hal itu kepada Rasya?” Rayyan tak menjawab dan hanya bisa menundukkan kepalanya. Dia mencerna semua kata yang telah diucapkan adiknya itu. “Aku mohon berbaikanlah dengan mama dan papa. Turunkan gengsi dan egomu demi Rasya.” “Aku butuh waktu.” “Ayah…” Seketika dua raut wajah tegang dan serius itu, menoleh ke arah sumber suara tersebut. “Rasya… sini keponakan om yan ganteng.” Rasya menghampiri Reza dan duduk dipangkuan Reza. “Om Reza sama papa lagi ngomongin apa sih? Kok muka om Reza sama ayah jadi nyeremin begitu? Lagi cerita hantu-hantu ya? Kenapa Rasya nggak diajak.” Rayyan dan Reza pun saling menatap dan bernafas lega, karena ternyata Rasya tidak mendengarkan percakapan mereka. TBC ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD