Padam

948 Words
Asap masih memenuhi sebagian area luar istana. Lampu-lampu darurat menyala berkedip di berbagai sudut. Suara sirine ambulans dan mobil pemadam kebakaran bersahutan memenuhi malam yang tadinya begitu tenang. Para tamu kerajaan kini berkumpul di halaman utama. Sebagian terlihat panik. Sebagian masih berusaha mencerna apa yang baru saja terjadi. Sementara petugas keamanan kerajaan sibuk memastikan semua orang selamat. "Semua tamu harap menjauh dari area timur bangunan!" "Jangan mendekat ke sumber api!" "Tolong tetap tenang!" Suara petugas terdengar silih berganti. Ansel berdiri di dekat tangga utama istana. Wajahnya pucat. Tangannya masih sedikit gemetar. Meski api berada di bangunan samping aula— dentuman keras tadi benar-benar membuatnya kaget. Sangat kaget. Alex yang berdiri di samping langsung menyadari hal itu. "Sel." Ansel tidak menjawab. Tatapannya masih tertuju ke arah kobaran api yang terlihat dari kejauhan. "Sel." Alex memanggil lagi. Kali ini lebih pelan. Ansel akhirnya menoleh. Matanya terlihat sedikit berkaca-kaca. "Bang..." Tanpa banyak bicara— ia langsung memeluk lengan Alex erat. Alex otomatis mengusap kepalanya. "Gak apa-apa." "Aku kaget..." "I know." "Aku takut ada orang yang terluka..." Alex menghela napas pelan. "Semoga gak ada." Ansel kembali melihat ke arah bangunan yang terbakar. Petugas pemadam mulai berdatangan satu per satu. Mobil besar merah memasuki area istana. Beberapa petugas langsung turun. Selang besar ditarik. Perintah diberikan. Gerakan mereka cepat dan terlatih. Skyler berdiri tidak jauh dari sana. Masih mengenakan jas hitamnya. Tatapannya memperhatikan situasi dengan serius. Di sebelahnya, Damian juga ikut mengamati. "Ini kacau banget." Skyler tidak menjawab. "Yang Mulia..." Damian melirik. "Kecurigaan gue makin kuat." Skyler menoleh sedikit. "Kecurigaan apa?" Damian menurunkan suara. "Kayaknya ini bukan kecelakaan biasa." Skyler diam. Sebenarnya ia memikirkan hal yang sama. Lokasi kebakaran terlalu aneh. Waktunya juga terlalu kebetulan. Namun sekarang bukan saat yang tepat membahasnya. Tatapannya kembali mencari seseorang. Dan dengan mudah menemukannya. Ansel. Masih berdiri di samping Alex. Masih terlihat ketakutan. Skyler menghela napas pelan. Damian langsung menangkap arah pandangannya. "Oh..." Skyler melirik dingin. "Apa?" Damian langsung mengangkat kedua tangan. "Gak ngomong apa-apa." Skyler kembali menatap ke depan. Namun beberapa detik kemudian— kakinya melangkah sendiri. Damian sampai berkedip. "Loh?" Skyler berjalan menuju tempat Alex dan Ansel berada. Ansel yang sedang memeluk lengan kakaknya baru sadar ketika bayangan seseorang berhenti di depan mereka. Ia mendongak. "Oh..." Skyler. Alex juga menoleh. "Sky." Skyler mengangguk kecil. "Lo berdua gak apa-apa?" Alex menjawab lebih dulu. "Kita aman." Lalu ia melirik adiknya. "Cuma dia masih syok." Ansel langsung protes pelan. "Aku gak syok..." Alex menaikkan alis. "Tangan lo dingin." Ansel langsung diam. Skyler memperhatikan itu. "Lo takut?" Ansel sedikit malu. "Sedikit." "Sedikit katanya." Alex mendengus. "Tadi hampir nangis." "ABANG!" Skyler justru tersenyum tipis. Senyum yang jarang sekali muncul. Ansel langsung melotot. "Kok malah ketawa?" "Gak." "Itu ketawa." "Enggak." "Itu jelas ketawa." Alex tiba-tiba ikut menyela. "Gue saksi." Skyler menghela napas. "Kompak banget." Ansel akhirnya tertawa kecil. Untuk pertama kalinya sejak kebakaran terjadi. Melihat itu, Alex sedikit lega. Setidaknya adiknya mulai tenang. Di sisi lain halaman— King Alaric dan Queen Elena juga sedang berbicara dengan petugas keamanan. Mereka memastikan seluruh tamu baik-baik saja. Setelah beberapa menit— salah satu komandan pemadam datang mendekat. "Api sudah berhasil dikendalikan, Yang Mulia." Queen Elena terlihat lega. "Syukurlah." "Kami masih melakukan pemeriksaan untuk memastikan tidak ada titik api lain." King Alaric mengangguk. "Lakukan yang diperlukan." "Baik, Yang Mulia." Berita itu mulai menyebar ke seluruh tamu. Suasana perlahan membaik. Orang-orang mulai bernapas lega. Meski tetap ada rasa cemas. Ansel menatap para petugas yang masih bekerja. Lalu kembali memeluk lengan Alex. "Bang." "Hm?" "Kita pulang aja yuk." Alex langsung mengangguk. "Sama yang gue pikirin." Jujur saja— ia juga tidak ingin adiknya berada di sana lebih lama. Apalagi setelah kejadian tadi. "Kita pulang." Ansel langsung terlihat lega. "Ya?" "Iya." Alex mengeluarkan ponselnya. "Supir udah gue suruh maju." Beberapa menit kemudian— pesan balasan masuk. Alex melihat layarnya. "Loh cepat juga." "Hah?" "Mobil udah di depan." Ansel langsung mengangguk cepat. "Ayo." Ia benar-benar ingin pulang. Mandi air hangat. Masuk selimut. Dan melupakan malam yang aneh ini. Saat mereka hendak berjalan— Ansel menoleh ke samping. Skyler masih berdiri di sana. Entah kenapa— ia merasa harus berpamitan. "Sky." Skyler menoleh. "Hm?" "Kita pulang dulu." Skyler mengangguk kecil. "Okay." Ansel tersenyum tipis. "Thanks ya." "Untuk apa?" "Tadi." Skyler langsung tahu maksudnya. Saat di aula. Saat dentuman pertama. Saat kekacauan terjadi. Ia mengangkat bahu santai. "No problem." Ansel tersenyum lagi. Lalu tanpa sadar berkata, "Sampai ketemu lagi." Skyler terdiam sepersekian detik. Sangat singkat. Namun cukup membuat Damian yang berdiri agak jauh membulatkan mata. Skyler akhirnya menjawab pelan. "Yeah." Alex yang sedari tadi memperhatikan hanya berdeham kecil. "Oke." Ansel langsung menoleh. "Kenapa?" "Gak kenapa." "Abang." "Gak kenapa." Ansel langsung curiga. Skyler malah terlihat seperti menahan senyum. "Yaudah." Ansel mendecak kecil. "Kita duluan ya, Sky." Skyler mengangguk. "Hati-hati." Alex dan Ansel kemudian berjalan menuju area depan istana. Mobil Rolls-Royce mereka sudah menunggu. Saat pintu mobil dibuka— Ansel menoleh sekali lagi. Entah kenapa. Skyler masih berdiri di tempat yang sama. Melihat ke arah mereka. Dan untuk beberapa detik— mata mereka kembali bertemu. Tidak lama. Namun cukup membuat sesuatu yang aneh muncul di d**a keduanya. Ansel buru-buru masuk ke mobil. Pintu tertutup. Rolls-Royce perlahan meninggalkan area istana. Sementara Skyler tetap berdiri di sana. Damian berjalan mendekat. Dengan senyum yang jelas-jelas mencurigakan. "Yang Mulia." Skyler tidak menoleh."Apa?" Damian menyeringai. "Kayaknya malam ini menarik ya." Skyler memasukkan kedua tangan ke saku. "Diam." Damian malah makin senyum. "Oh jadi menarik." "Damian." "Iya Yang Mulia." "Kalau masih ngomong." "Hm?" "Gue buang ke kolam." Damian langsung tertawa. Dan untuk pertama kalinya setelah kebakaran suasana malam terasa sedikit lebih ringan. Meski tak seorang pun menyadari pertemuan singkat antara seorang pangeran mahkota dan seorang gadis bangsawan malam itu baru saja menjadi awal dari sesuatu yang jauh lebih besar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD