Malam itu suasana di Istana Kingsley berubah total. Lampu‑lampu darurat masih menyala di beberapa sudut bangunan, bau asap masih samar tercium di udara, sementara petugas pemadam kebakaran terus bergerak memastikan tak ada lagi titik api yang tersisa.
Di dalam ruang kerja kerajaan, King Alaric Kingsley berdiri diam di depan jendela besar. Biasanya pria itu tampak tenang, berwibawa, dan sulit ditebak, namun malam ini semuanya terasa berbeda. Sangat berbeda.
Queen Elena duduk di sofa sambil meneliti laporan awal yang baru diserahkan kepala keamanan. Semakin lama ia membaca, semakin tak nyaman raut wajahnya.
“Alaric.”
King Alaric menoleh perlahan. “Iya Istriku?”
Elena meletakkan dokumen itu di atas meja. “Mereka bilang sumber api berasal dari ruang penyimpanan dekorasi.”
Alaric mengangguk pelan. “Aku sudah dengar.”
“Tapi menurut petugas…” Elena menghela napas panjang. “Ada beberapa hal yang tidak masuk akal.”
Alaric terdiam. Memang benar. Itulah yang membuatnya tak bisa tenang. Kebakaran bisa saja terjadi karena kelalaian, namun dentuman keras yang terdengar sebelum api membesar—terlalu aneh, terlalu mencurigakan.
Tok… tok… tok…
Suara ketukan terdengar di pintu.
“Masuk.”
Seorang pria berpakaian seragam gelap melangkah masuk dengan langkah tegas—kepala keamanan istana.
“Tuan.”
“Ada perkembangan?”
Pria itu mengangguk. “Kami sudah menutup seluruh area kejadian.”
“Bagus.”
“Tim juga sedang mengumpulkan rekaman CCTV.”
King Alaric berjalan mendekat, tatapannya menajam. “Aku ingin setiap detik rekaman diperiksa.”
“Baik.”
“Setiap sudut.”
“Baik.”
“Dan cari tahu siapa yang masuk ke area terlarang malam ini.”
“Siap.”
Elena ikut berdiri. “Jika ini sabotase…”
Kepala keamanan langsung mengangguk mantap. “Kami akan menemukannya.”
Alaric menyilangkan tangan di d**a. “Jangan sampai media mengetahui dugaan itu dulu.”
“Dimengerti.”
Pria itu membungkuk hormat lalu beranjak pergi. Ruangan kembali hening. Elena menatap suaminya lekat.
“Kau yakin ini memang disengaja?”
Alaric menghela napas pelan. “Aku berharap tidak.”
“Tapi?”
“Tapi aku tidak pernah percaya pada kebetulan.”
Sementara itu, di luar pagar istana, kabar kebakaran menyebar sangat cepat—jauh lebih cepat dari perkiraan. Media sosial langsung riuh. Video demi video bermunculan, foto‑foto bertebaran, dan berita utama memenuhi halaman berita daring:
KEBAKARAN DI ISTANA KINGSLEY SAAT JAMUAN KERAJAAN BERLANGSUNG
PULUHAN TAMU ELIT BERHASIL DIEVAKUASI SELAMAT
PANGERAN MAHKOTA SKYLER KINGSLEY TERLIHAT MEMBANTU TAMU KELUAR DARI AULA
Kolom komentar langsung meledak:
Untung semua selamat.
Serem banget.
Itu ledakan dari mana?
Kayaknya bukan kebakaran biasa.
Aku lihat videonya!
Prince Skyler ganteng banget meski lagi chaos 😭
Fokus kalian salah woy!
Tapi serius, siapa cewek yang sama Prince Skyler?
Iya, aku juga lihat!
Yang pakai gaun warna sampanye itu siapa?
Katanya dari keluarga Beaumont.
Cantik banget.
Mereka pacaran?
Baru lihat Prince Skyler sedekat itu sama perempuan.
Foto‑foto makin banyak beredar. Salah satunya menampilkan Skyler menggenggam tangan Ansel saat bergegas keluar. Ada juga yang memperlihatkan Alex berjalan di sisi mereka. Spekulasi makin liar. Padahal, tak satu pun dari mereka bertiga yang tahu hal itu sedang terjadi.
Di dalam mobil mewah Rolls‑Royce yang menjauh dari kawasan istana, suasana terasa lebih tenang. Lampu kota berkelap‑kelip di balik kaca yang tertutup rapat, musik lembut mengalun pelan. Namun Ansel masih duduk diam—sangat diam—tangan kanannya mencengkeram lengan Alex sejak tadi.
Alex melirik sekilas, lalu menghela napas pelan. “Sel.”
“Hm?”
“Masih takut?”
Ansel tak langsung menjawab. Beberapa detik berlalu sebelum ia mengangguk pelan. “Iya.”
Alex langsung mengusap puncak kepala adiknya. “Gak apa‑apa.”
“Aku gak suka suara ledakannya.”
“I know.”
“Pas bunyi tadi…” Ansel menundukkan wajah. “Aku kira gedungnya bakal runtuh.”
Alex langsung merangkul bahu gadis itu. “Hei.”
Ansel menoleh.
“Gak akan runtuh.”
“Tapi aku takut…”
Alex tersenyum tipis. “Lo sekarang aman.”
Ansel masih diam.
“Lihat,” Alex menunjuk keluar jendela. “Kita udah jauh dari sana.”
Ansel menghela napas panjang, berusaha menenangkan diri. Namun bayangan kejadian itu masih terngiang jelas. Tiba‑tiba Alex menjentikkan jari.
“Aku punya ide.”
“Hm?”
Alex menyeringai. “Nanti kita beli es krim.”
Ansel langsung menoleh, matanya sedikit lebih hidup. “Serius?”
“Serius.”
Ansel berkedip. “Yang rasa karamel?”
“Boleh.”
“Cokelat juga?”
“Boleh.”
Sinar di mata Ansel mulai kembali terang. Alex tersenyum puas. Bagus, adiknya mulai kembali normal. Namun tiba‑tiba Ansel berucap lagi:
“Sekalian beli roti lapis ya, Bang.”
Alex langsung tertawa renyah. “Tuh kan.”
“Hah?”
“Barusan masih ketakutan.”
“Iya.”
“Sekarang langsung mikirin makanan.”
Ansel cemberut lucu. “Aku lapar.”
“Putri memang ajaib ya.”
“Aku kan habis kaget, makanya jadi lapar.”
Alex tertawa makin keras. “Teori dari mana itu?”
“Dari aku sendiri.”
Alex menggeleng tak habis pikir. “Siap dilayani, Putri.”
Ansel langsung tersenyum lebar. “Hore!”
Alex lalu menoleh ke arah kursi depan. “Pak.”
Sopir mereka langsung menjawab sigap. “Iya, Tuan Alex?”
“Nanti mampir dulu ke toko roti langganan kita.”
“Baik, Tuan.”
“Terus sekalian beli es krim juga.”
Sopir itu tersenyum kecil. “Baik.”
Ansel bersorak pelan. “Pak Bima paling asik deh.”
Alex melirik ke arahnya. “Eh.”
“Hm?”
“Yang bayarin siapa nih?”
Ansel langsung menunjuk ke arah Alex tanpa ragu. “Itu orang.”
Alex tertawa keras. “Kurang ajar.”
“Aku kan masih mahasiswa.”
“Mahasiswa paling dimanja sedunia.”
Ansel terkikik. Untuk pertama kalinya sejak meninggalkan istana, senyum benar‑benar kembali terukir di wajahnya. Melihat itu, Alex pun ikut merasa lega. Sebenarnya, tadi ia juga merasa takut hanya saja ia tak boleh menunjukkannya. Ansel adalah adiknya, melihat gadis itu gemetar begitu membuatnya sangat tak nyaman.
Beberapa saat kemudian, mobil berhenti di depan toko roti favorit mereka. Lampu toko masih menyala berarti belum tutup.
“YES!” seru Ansel penuh semangat.
Alex ikut tertawa. “Barusan masih trauma berat.”
“Iya.”
“Sekarang udah lupa?”
“Karena ada roti lapis alias sandwich.”
“Lo emang gak bisa ditolongin.”
Ansel terkikik lagi. Sejenak, malam yang kelam itu terasa sedikit lebih ringan. Tanpa mereka sadari, di luar sana nama mereka bertiga sedang menjadi topik utama. Dan jauh di dalam istana, seseorang mulai menelusuri jejak mencari tahu siapa dalang di balik api yang hampir mengubah malam itu menjadi tragedi besar.