Dan....
Di sinilah Cherry sekarang. Di depan apartemen si beruang kutub tepat pukul 09:00 pagi. Suasana hatinya sudah lumayan tenang berkat usahanya semalam menenangkan diri. Hari ini weekend. Dia juga sudah meminta izin pada bos tempatnya bekerja untuk libur sehari. Untung bos nya yang ber pipi gembil lucu dengan hidung yang hampir selalu kemerahan itu segera mengizinkannya tanpa perdebatan sengit seperti biasa. Agak mengherankan juga sebenarnya. Tapi Cherry tak terlalu ambil pusing. Mungkin suasana hati Bosnya itu sedang baik.
Cherry menekan bel. Tak berapa lama pintu dibuka dan menampakkan sosok Ethan yang pagi ini terlihat menawan dengan t-shirt hitam di padu dengan celana pendek berwarna putih tulang. Masih setia dengan wajah dingin dan tatapan mengintimidasi nya.
"Masuk." Ethan berkata sambil membuka pintu lebih lebar
Cherry melangkah masuk dan langsung disuguhi pemandangan mewahnya ruang apartemen Ethan. Apartemen luas dengan perabotan yang sudah pasti sangat mahal. Sofa berwarna abu-abu menyambut. Sebuah bar mini lengkap dengan bangku kayu tinggi ada di tengah ruangan. Di samping mini bar bahkan ada kursi malas yang terlihat mengundang untuk diduduki.
"Duduk."Suara bariton Ethan membuat Cherry menghentikan penjelajahan matanya.
Cherry duduk di ujung sofa dengancanggung dan Ethan menyodorkan sebuah map.
"Baca dan tandatangani." Ethan beranjak meninggalkan Cherry menuju sebuah kamar setelah map di tangannya berpindah tangan ke tangan Cherry. Cherry membuka map itu, membaca dan berkali-kali mengernyitkan dahi pening. Tapi, buru-buru dia menandatangani kertas per janjian itu.
Bermain aman saja, batin Cherry.
Apalagi kemarin Ethan bilang dia tak suka dibantah dan ditolak. Percuma juga membantah atau menolak sampai mulut berbusa...toh rasanya akan seperti membentur tembok. Cherry yakin bantahan apa pun darinya akan ditanggapi Ethan dengan muka datar nya yang terlihat sama persis dengan tembok baru di aci.
Cherry terkekeh hingga merunduk runduk dan menutup mulut dengan tangan kanannya.
Bunyi ceklek dari ruangan yang dimasuki Ethan tadi membuat Cherry sontak menoleh dan menghentikan kekehannya. Terlihat Ethan keluar bersama seorang gadis cantik dan mereka kelihatan mesra.
Aaah...Ethan sudah punya pacar ternyata. Gadis itu seperti model saja. Tinggi semampai. Dengan d**a yang montok. Mereka berjalan kearah pintu dan gadis itu melirik nya sekilas. Ethan memeluk pinggang gadis itu posesif.
"I'll see you later, babe." Sang gadis terlihat mendaratkan ciuman ke pipi Ethan.
"Okay, hati-hati." Ethan menjawab sambil tersenyum manis. Ethan menutup pintu dan melangkah kearah Cherry. Matanya menatap kertas perjanjian yang entah bagaimana prosesnya telah menjadi kusut masai di tangan Cherry. Ethan mengambil kertas itu dari tangan Cherry, membukanya dan memasukkan nya kedalam map. Senyumnya terkulum melihat tingkah Cherry yang terlihat seperti wanita yang cemburu pada kekasihnya.
"Sekarang kerjakan tugas mu. Kau sudah hafal bukan jadwalnya?" Pertanyaan Ethan hanya disahuti gumamam lirih oleh Cherry. Ethan melangkah masuk ke kamarnya.
Cherry mendengus. Ya tentu saja. Di bawah poin perjanjian tadi tertulis jadwal dan tugas apa saja yang harus dikerjakan oleh Cherry.
Cherry melangkah kearah kamar Ethan. Masuk kedalam nya dan terkesiap melihat betapa berantakan nya kamar itu. Ranjang nya porak poranda seperti daratan setelah tersapu tsunami.
Astaga...mereka...Ethan dan wanita itu suka bermain kasar dan panas, batin Cherry.
Segera Cherry membenahi ranjang Ethan. Membenahi sprei hingga licin, menyusun bantal dan guling nya dengan rapi sambil di tepuk tepuk. Cherry memasukkan baju kotor Ethan ke sebuah keranjang pakaian kotor di sudut ruangan.
Celana jeans, t-shirt, kemeja, kaus kaki dan...damn!...Celana dalam?
Cherry mengangkat celana dalam berwarna hitam itu ke hadapan wajahnya sambil mengernyit. Dia memberikan penilaian dalam hati bahwa Ethan adalah orang yang sama sekali tidak rapi.
Selanjutnya dia bahkan menemukan handuk basah di kolong ranjang! Cherry menatap miris handuk basah yang baru saja sukses masuk ke keranjang cucian kotor. Cherry beralih ke karpet merah maroon di depan ranjang. Menata bantal-bantal yang ada di sana hingga rapi. Cherry juga memasukkan DVD yang berserakan ke tempatnya.
For God sake!
Cherry mengangkat salah satu DVD dan bergumam...Call Me by Your Name? Si beruang kutub baru saja menonton drama romantis dan itu membuat Cherry terkikik geli. Bagaikan security berhati barbie saja.
Terakhir Cherry membuang bungkus snack dan botol minuman kaleng ke tempat sampah.
Pintu kamar mandi terbuka dan pemandangan di depannya membuat Cherry menelan ludahnya susah payah. Ethan keluar kamar mandi hanya menggunakan handuk putih melilit pinggangnya dengan lilitan yang super tidak meyakinkan! Memperlihatkan V line nya yang terliha tseksi dan menggiurkan.
YaTuhan...itu indah sekali.
Ethan menatap Cherry yang terang-terangan menatapnya tak berkedip.
"Suka dengan apa yang sedang kau lihat?" Pertanyaan Ethan menyentak keterpanaan Cherry. Cherry membuang pandangannya kearah jendela. Buru-buru beranjak kearah jendela yang menyatu dengan pintu balkon. Membukanya pelan. Menghindar ikontak mata dengan Ethan. Dia malu sekali...mukanya mungkin sudah seperti kepiting rebus.
Ethan memakai sebuaht-shirt biru bergambar tameng sang Captain America, kontras sekali dengan kulitnya yang putih bersih. Matanya terus memandangi punggung Cherry yang membelakangi nya. Cherry sedang mengikat tali gorden dan merapikan bagian bawahnya. Gerakan sesederhana itu saja mampu membuat Ethan belingsatan menahan gairah nya. Cherry mengikat rambut sebahu nya agak keatas memperlihatkan leher jenjangnya.
Ethan membayangkan bagaimana rasa leher Cherry. Ethan tahu Cherry beraroma lavender yang menyegarkan. Wangi yang menguar kuat walaupun dia sedang berpeluh seperti kemarin dan wangi itu juga yang menyapanya pagi ini ketika gadis itu masuk melewatinya.
Arrrrrgh...Ethan memutuskan untuk segera keluar dari kamar menuju dapur. Pasti Philip koki nya sudah datang dan menyiapkan sarapan lezat untuknya. Dia salah satu orang yang dipercaya memiliki password apartemennya.
Cherry yang mendengar langkah Ethan menjauh menghela napas lega. Menatap seluruh penjuru kamar Ethan. Kamar yang bernuansa maskulin khas laki-laki. Didominasi warna abu-abu. Ukuran ranjang nya king size ,dengan lampu tidur di samping kiri ranjang. Sebuah LCD TV super besar tepat di depan ranjang lengkap dengan peralatan game khas pria. Sebuah lemari besar dan panjang menyatu dengan dinding. Di sudut ruangan ada sofa putih minimalis.
Kamar Ethan sempurna. Se sempurna sosok nya yang menguarkan feromon yang sanggup mencuri keterpanaan wanita mana pun.
Cherry melangkah kearah kamar mandi. Ternganga melihat betapa luas ukurannya. Bathtub ukuran besar, shower dengan kaca tebal sebagai pembatas dan sebuah cermin besar dengan wastafel penuh dengan peralatan mandi pria.
Tunggu dulu...peralatan mandi wanita juga ada. Cherry berdiri di depan wastafel dan mengamati bahwa banyak sabun mandi hingga shampoo wanita berjajar rapi. Hati Cherry entah mengapa tiba-tiba saja menjadi perih. Cherry melangkah keluar dari kamar mandi, memastikan sekali lagi kamar Ethan sudah rapi lalu dia bergegas keluar kamar sambil membawa keranjang cucian kotor.
Cherry mendapati Ethan sedang menyantap sarapan nya di meja makan dengan seorang pria berbaju koki yang terampil melayaninya.
Bacon dengan mush potato, seporsi besar salad dan segelas orange juice.
Cherry melirik sekilas.
"Kemari..." Ethan mengangkat tangannya. Menyuruh Cherry mendekat. Cherry berjalan kearah Ethan setelahmeletakkankeranjangcucian di lantai.
"Cherry kenalkan ini Philip, koki di sini. Dia datang setiap pagi dan sore. Dan kau akan sering melihatnya. Philip...ini Cherry asisten pribadi ku." Ethan memperkenalkan mereka.
Philip mengulurkan tangan kearah Cherry yang segera disambut hangat oleh Cherry.
Hell what!!
Asisten pribadinya?
Ethan menyebutkan dengan gamblang kata maid kemarin. Sukses membanting harga dirinya, walaupun tidak ada yang salah dengan pekerjaan semulia maid...tap ientah mengapa kalau Ethan yang mengucapkannya dengan bibir penuhnya yang terlihat menggiurkan itu, kata-kata Ethan membuat Cherry merasa terhempas ke jurang nista tak berujung.
"Buka mulutmu." Ethan berkata pada Cherry sambil menyodorkan garpu dengan potongan daging kearah mulut Cherry. Cherry mengerutkan dahi tapi tangan Ethan masih di depan mulutnya sambil membuka mulutnya sendiri menyuruh Cherry membuka mulut. Cherry membuka mulut diiringi senyuman Philip. Cherry mengunyah daging itu pelan. Terasa lembut dengan bumbu yang meresap sempurna. Ethan tersenyum.
"Ini lezat sekali, Tuan Philip." Cherry mengangguk pada Philip.
"Philip saja Nona Cherry...dan terimakasih pujiannya." Philip terlihat gembira.
"Cherry saja kalau begitu." Cherry meminta hal yang sama pada Philip. Agar Philip memanggil namanya saja. Mereka berdua tertawa menyisakan Ethan yang cemberut.
"Aku yang menyuapimu". Ethan berkata kesal membuat Cherry menoleh dan Philip menaikkan satu alis nya heran.
"Terimakasih, Tuan Ethan...Anda baik sekali." Cherry berkata sambil membungkuk berterimakasih.
Ethan tersenyum kecil. Cherry melangkah mengambil keranjang cucian dan bergegas kearah belakang dapur untuk meletakkan keranjang sebelum dia nanti akan turun untuk mencuci di laundry . Ethan mengawasinya sampai hilang di balik dinding.
"Cantik sekali bukan, Philip?" Pertanyaan Ethan disambut deheman Philip. Ethan menyelesaikan sarapan nya. Philip membereskan dapur dan sambil setengah berteriak bertanya pada Cherry apakah dia mau sarapan, yang dibalas kata tidak terimakasih dari Cherry juga dengan setengah berteriak. Ethan tersenyum.
Mereka akan cocok, batin Ethan.
Ethan melangkah ke kamar mandi untuk menyikat giginya dan menuju ruang kerjanya di sayap kanan apartemen itu. Memeriksa surat-surat yang masuk dan sesaat kemudian dia keluar lagi. Dia menuju roof top apartemen nya. Karena apartemen nya berada di lantai paling atas dia mempunyai sebuah ruangan luas dengan kaca tebal sebagai atap. Ethan menempati setengah gedung lantai atas apartemen. Dia meletakkan sebuah kursi malas dan tenda ukuran besar di dalam ruangan itu. Dia sering berdiam diri di tempat itu. Tak pernah seorang pun selain adiknya dan Philip diperbolehkannya kesini. Tidak pula perempuan yang silih berganti menemaninya di ranjang.
Di ujung ruangan ada sebuah kolam renang pelepas penat nya. Di belakang kursi malas nya berjajar rapi buku dan novel di rak buku yang berukuran cukup besar. Sengaja juga dia membuat sebuah perapian di dekat kursi malas nya. Apa pun bisa di lakukan karena apartemen itu salah satu jaringan bisnis keluarganya.
Ethan merebahkan badannya di kursi malas. Menggunakan tangannya sebagai bantalan kepalanya. Berpikir alangkah tidak bijaksana tindakannya menjebak gadis itu di sini. Tapi dia sangat ingin Cherry berada di sini. Entahlah...gadis itu membangkitkan sesuatu dalam dirinya. Sesuatu yang belum pernah bisa dibangkitkan wanita mana pun.
Terlalu dini kalau dia merasa dia jatuh cinta pada Cherry. Tapi perasaan baru yang menggelitik itu terlanjur hadir di hatinya. Dia memutuskan akan mengikuti kemanakah semua itu akan bermuara tanpa terburu-buru walaupun kenyataannya...berada di dekat gadis itu lama-lama membuatnya berjuang mati-matian untuk tidak segera menerkamnya.
Bibir mungil yang sering mengerucut itu begitu menggemaskan. Bagaimana rasanya? Belum lagi gerak-geriknya...membuat Ethan kemarin harus berenang malam-malam untuk meredam gairah sialan yang tiba-tiba datang hanya dengan mengingat bagaimana Cherry mengusap peluh di dahi dan lehernya.
Ethan tersenyum. Dia bangkit dan melangkah ke lantai bawah dan mendapati Philip yang sedang memotong-motong beberapa macam buah. Ethan menoleh kearah belakang dapur dan melihat bayangan Cherry yang sedang memisahkan pakaian kotor dalam dua keranjang berbeda. Sebenarnya Ethan jarang sekal imelakukan hal yang seperti Cherry lakukan sekarang karena semua bajunya masuk laundry, dan akan ada karyawan laundry kepercayaannya yang akan mengambil cucian kotornya. Tapi kali ini dia sengaja membiarkan Cherry mengerjakannya.
Ethan menoleh kearah Cherry lagi.
Ethan melihat Cherry sedang membenahi beberapa handuk bersih dan memasukkan nya ke sebuah lemari khusus handuk. Sesekal igadis itu mengambil napas. Ethan menahan diri untuk tidak datang dan memeluknya. Mengatakan bahwa dia tak harus melakukan apa-apa. Tidak ingin membuat gadis itu lelah.
Jam 14:00, ketika Cherry selesai dengan semua pekerjaannya. Sekarang dia sedang memasukkan baju-baju Ethan yang sepertinya baru saja datang dari laundry kedalam lemari di kamarnya. Philip sudah pergi sedari tadi jam 11:30. Cherry melihat Ethan masih setia dengan channel berita kriminal mancanegara dari saluran TV berbayar nya di ruang tamu membuat Cherry mendengus.
Kenapa tidak tidur saja? Beristirahat? Malah sibuk menonton televisi, batin Cherry.
"Cher..."Terdengar Ethan memanggil setengah berteriak. Cherry melangkah menghampiri Ethan yang sedang bersandar di sofa sambil menyelonjorkan kakinya.
"Yes, Sir?" Cherry berdiri di samping sofa menunggu perintah.
Ethan memijit-mijit pundaknya yang dari kemarin memang pegal. Operasi dadakan selama 2 jam kemarin benar-benar menguras tenaganya.
"Bisa kau pijat pundak ku?" Cherry terhenyak. Ingin menolak tapi takut Ethan marah. Ingin melaksanakan perintah tapi dia takut dengan debaran jantungnya yang tiba-tiba saja berdetak tidak karuan. Terdengar Ethan menepuk sofa di sampingnya menyuruh Cherry duduk. Jelas sekali Ethan melihat Cherry menggigit bibir bawahnya gugup. Tapi gadis itu duduk dan memulai pijatannya. Terasa berat dan nikmat di pundak Ethan.
Lima menit...sepuluh menit...
Tahukah mereka bahwasannya Cupid bercawat melayang di dekat jendela menertawakan kelakuan mereka? Menertawakan Ethan dan Cherry yang berjuang menenangkan hati masing-masing dengan helaan napas pelan yang tertahan rasa gugup? Hati yang sama-sama tidak menyadari bahwa mereka mulai saling mengait dengan getaran yang mulai kentara, dikarenakan Cupid berhasil menembakkan panahnya pada sasaran yang tepat?
Ethan merasakan pundaknya terasa lebih nyaman. Rasa kantuk yang mendera membawanya rebah di paha Cherry. Menemukan kenyamanan luar biasa. Dan sekarang Cherry tak lagi memijit pundak Ethan. Dia justru sedang terpana dengan tindakan Ethan yang rebah begitu saja di pahanya.
Ooooh...Tuhan yang Maha Baik...ini surga atau neraka?
"Cher..." Dan ternyata Ethan belum terlelap.
"Yes, Sir?"
"Aku tidak suka kau memanggil ku Sir atau Tuan. Kesannya aku pria tua yang beranjak pikun."
"Lalu saya harus panggil Anda apa?" Cherry bertanya sambil menahan tawa nya. Suara Ethan terdengar memelas saat mengucapkan kata tua dengan penuh penekanan.
"Cukup panggil Ethan. Aku bukan majikan mu. Hmm...berapa umurmu?"
"Dua puluh tahun, Sir."
"Jangan panggilSir...Cherry." Ethan terlihat menggeleng dan memperingatkan. Nada suaranya terdengar kesal? Atau gemas?
"Hmm...baiklah. Mungkin akan butuh sedikit penyesuaian. Tapi...Ethan? Tidakkah itu terlalu akrab. Saya berkerja untuk Anda, Sir." Cherry mengingatkan Ethan dan entah mengapa nada bicara gadis itu terdengar sedikit menggoda dan mengingatkan dirinya pada posisinya. Dan aksen gadis itu nyata tak sepenuhnya Amerika.
"Ibu saya dari Indonesia." Cherry seakan tahu apa yang ada di pikiran Ethan. Ethan pasti sedikit heran dengan aksen nya yang tak sepenuhnya Amerika. Terang saja karena dia terbiasa berbicara dengan Ibunya yang ber aksen Indonesia kental.
Ethan mengernyit. Menyadari bahwa pemikirannya selama ini benar adanya. Pemikirannya tentang Cherry yang blasteran entah dengan negara mana? Yang terlintas di pikiran Ethan saat itu adalah sebuah negara yang eksotis, se eksotis kulit dan wajah Cherry. Dan ternyata Indonesia! Ethan berusaha mengingat sejauh mungkin dan sebanyak mungkin segala hal yang dia pernah baca tentang Indonesia. Negara di Asia Tenggara yang belum pernah sekalipun dikunjungi nya.
Cherry mulai menceritakan tentang Ibunya yang asli Indonesia. Menyebut sebuah kota bernama Manado. Terdengar sangat bangga dan mengatakan bahwa dia banyak belajar tentang Bahasa Indonesia yang menurutnya terdengar ramah di telinga. Cherry juga sedikit bercerita tentang budaya dan makanan khas Indonesia. Tentang tempat-tempat indah di sana. Juga tentang cita-citanya mengunjungi negara itu.
Cherry menutupnmulutnya, takut Ethan akan marah karena dia terlalu banyak bicara. Ethan menyentil hidung Cherry pelan. Cherry berjenggit.
"Well...negara itu terlihat sangat indah berdasar ceritamu. Terdengar ramah."
Ethan menyebutkan lagi beberapa kata dalam Bahasa Indonesia yang tadi sempat disebutkan oleh Cherry. Nada suaranya kaku membuat Cherry tersenyum. Hal yang lumrah terjadi ketika seseorang melafalkan sebuah kata dalam bahasa asing. Ethan tetap pada posisi semula meneruskan tidurnya. Menyisakan Cherry yang gelisah bukan kepalang, berjuang menormalkan detak jantungnya hingga rasa kantuk datang menderanya juga.
Jam 17:15.
Entah bagaimana awalnya justru Ethan dan Cherry kini tidur di sofa dengan posisi Ethan merengkuh pinggang Cherry.
Sampai akhirnya...Getaran ponsel Cherry membangunkan Cherry. Cherry ingin beranjak duduk tapi rengkuhan Ethan justru makin erat. Terpaksa Cherry mengangkat telepon tanpa terlepas dari dekapan Ethan.
Dari rumah sakit.
Mengabarkan kondisi Ibunya yang tiba-tiba drop. Cherry terlonjak dari posisinya membuat Ethan ikut terbangun. Ethan kaget mendapati wajah Cherry yang pucat pasi.
"Ada apa Cherry?" Cherry terpaku. Hanya sanggup mengangkat ponsel nya dengan tatapan kosong. Ethan meraih ponsel dari tangan Cherry dan mendengarkan suara di seberang sana yang masih memanggil Cherry. Ethan berdiri dan menjawab telepon dari rumah sakit yang ternyata adalah rumah sakit tempatnya bekerja. Mendengarkan dengan seksama, kemudian mengakhiri panggilan itu.
"Kita ke rumah sakit sekarang."
Cherry mengangguk. Ethan melangkah kearah kamarnya. Keluar dengan kunci mobil dan jaket. Memakaikan nya pada Cherry dan menarik pelan Cherry keluar apartemen menuju mobilnya di basement.
------------------------