ALTERATION

1560 Words
Tak butuh waktu lama bagi seorang Grace untuk mengenal sosok Leonardo. Yah, meski pun teman barunya itu terlalu banyak menyimpan rahasia. Namun, Grace tak terlalu menggubris hal tersebut. Bagaimana pun, setiap orang memiliki privasi masing-masing. Tak semua hal dapat diceritakan pada orang lain. Dan, itulah yang sedang Leonardo lakukan. Leonardo memilih tak banyak bercerita perihal latar belakang keluarganya yang melarat pada Grace. Namun, satu hal yang Grace tahu, Leonardo adalah seorang remaja yang genius. Remaja laki-laki itu telah banyak memenangkan beberapa medali emas dan perak pada Olimpiade Matematika tingkat Internasional. Bahkan, kecerdasan Leonardo tersebut berhasil menandingi kepintaran sang kakak -Gerson Franky Cropper; seorang pengembang IT di masa kini. ****** Tiga hari kemudian, Tepatnya, sepulang sekolah. Grace mengajak Leonardo untuk belajar bersama di rumah. Saat itu, kediaman keluarga Cropper yang kaya raya sedang sepi bak tak berpenghungi. Tak ada kedua orang tua Grace di sana. Tak ada sosok kakak laki-laki yang tampan nan rupawan. Hanya ada para pelayan dan sopir yang tak pernah meninggalkan rumah. Grace mengajak Leonardo untuk duduk bersama di ruang tengah. Saat itu, Grace beralih dari ruang tengah untuk mengambil makanan di dapur. Namun, hal aneh didapati oleh Leonardo. Yakni, keanehan berupa suara berisik yang terdengar dari salah satu sudut ruang, sesaat ketika Leonardo sedang menunggu kedatangan Grace membawa nampan berisi makanan. Mendengar suara itu, spontan benak Leonardo dipenuhi oleh rasa penasaran. Pemuda tersebut melangkah tanpa berpikir lebih dulu. Seakan, ia lupa akan sopan santun saat bertamu di rumah orang. Tak lama kemudian. Sebuah daun pintu terbuka. Menampakkan sedikit pemandangan yang membuat hati Leonardo menjadi tergugah. Pemuda itu semakin dibuat penasaran. Langkahnya terus berjalan memasuki ruangan. Shit! Leonardo mengumpat. Sebuah ruang dengan teknologi canggih ia dapati. Sebuah ruang yang dibangun kokoh dengan segenap barang elektronik modern di dalamnya. Dan ternyata, suara berisik itu berasal dari tombol-tombol pada monitor yang menyala. Spontan, naluri genius Leonardo tersulut begitu saja. Tanpa pikir panjang, pemuda tersebut dengan lihai menggerakkan jemari tangan. Mengutak atik semua tombol yang ada pada sebuah mesin berukuran besar. Titt! Kode pembuka pada sebuah pintu besi berhasil Leonardo pecahkan. Setelahnya, daun pada pintu besi itu spontan terbuka. Meski baru pertama kali melihat beragam rumus rumit di dalam layar berukuran lebar, nyatanya Leonardo berhasil menemukan kunci jawaban. Pemuda itu dengan percaya diri masuk ke dalam ruang besi berbentuk persegi. Sebuah ruang yang cukup untuk dimasuki oleh beberapa orang. Sialnya, lagi-lagi terdapat kode pada ruang besi yang harus ia pecahkan. Leonardo kembali menyelesaikan kode yang ada. Adrenalin dalam diri terus memaksa Leonardo untuk mengetahui fungsi dari ruang besi itu. Apakah di dunia nyata benar-benar ada mesin perjalanan waktu? Yah, itulah yang Leonardo pikirkan sedari tadi. Ia merasa tak percaya, sebelum berhasil membuktikan dengan mata kepalanya sendiri. Titt! Ceklek! Pintu besi spontan tertutup. Ternyata, Leonardo berhasil memecahkan rumus rumit untuk kali kedua. Suara berisik spontan merasuk ke dalam gendang telinga. Lampu pada ruang besi terus berkedip tanpa henti. Sepertinya, pemuda itu berhasil menjelajah waktu. ****** Beberapa jam kemudian. Lampu pada mesin besi kembali menyala terang benderang. Memberi tanda jika perjalanan waktu, baru saja Leonardo selesaikan. Pintu besi terbuka otomatis. Berbarengan dengan Leonardo yang membuka mata, sesaat usai tak sadar saat melakukan perjalanan. Yah, bagai mabuk perjalanan, itulah yang Leonardo rasakan saat sedang menjelajah waktu pada sebuah ruang. Di saat Leonardo mengerjap mata. Pemandangan asri tersuguh di sana. Tepatnya, dibalik pintu besi yang terbuka dengan sendirinya. Apakah aku berhasil melakukan perjalanan waktu? Leonardo terperangah. Pemuda itu bangkit dari posisi terbaring. Melangkah keluar dari dalam pintu besi berukuran besar. Benar, saat itu ia tak berada di kota. Perjalanan waktu yang ia lakukan, membuat Leonardo singgah pada sebuah pedesaan. Anehnya, beberapa warga yang berjalan di sana, terlihat menggunakan pakaian sederhana. Pakaian ala jaman dahulu; yang jauh dari kata modern dan kekinian. Apakah aku sedang menjelajah waktu ke masa lalu? Leonardo kembali bertanya-tanya. Leonardo tak henti melangkah dengan ragu. Tiba-tiba, Suara sorak sorai terdengar membahana di telinga. Pada sebuah sudut pedesaan, keramaian tersuguh di dalam pandangan. Leonardo memberanikan diri untuk turut menyaksikan. Saat itu, seorang perempuan sedang menjadi bahan tontonan. Pandangan Leonardo tercekat, sesaat usai melihat perempuan itu tak berbalut busana lengkap. Perempuan tersebut seolah sedang mendapat hukuman rajam. Tubuh moleknya dilempari batu dan kerikil tajam. Tak jarang, beberapa orang mencambuk perempuan itu hingga tubuhnya bercucuran darah. Leonardo geram melihat itu semua. Ternyata tak hanya di masa depan, namun di masa lalu; beberapa orang juga bertindak kasar dan seenaknya pada orang lain, yang mereka anggap tak berdaya. Pada akhirnya, pemuda itu berlari dengan cepat. Menghalangi para penduduk yang melempar dan mencambuk perempuan tersebut. Bahkan, sesekali Leonardo melayangkan pukulan keras pada mereka. Anehnya, Leonardo mampu mengalahkan puluhan pria yang sedang merajam perempuan itu. Para ibu-ibu berseru takut. Menyuarakan agar para suami mereka menghentikan tindakan merajam. Seorang Leonardo Mandela Lombogia yang di masa depan amat ringkih dan lemah, menjadi kuat dan tak terkalahkan di sana. Apa yang terjadi kepadaku? Mengapa aku menjadi kuat hingga mampu mengalahkan puluhan pria berbadan kekar? Di sela Leonardo bertanya-tanya, perempuan yang sedang berdarah-darah itu bergerak gusar. Menutup beberapa bagian tubuh yang tak terhalang busana. Leonardo melepas kemeja yang ia kenakan. Memberikan balutan kain itu pada perempuan yang belum ia ajak berkenalan. Lalu, “Apa kau bisa berjalan?” Leonardo bertanya. Menatap lekat manik mata perempuan di hadapannya. Perempuan itu menggeleng pelan. Spontan, Leonardo membawa perempuan itu dalam gendongan. Lagi-lagi hal aneh terjadi. Leonardo tak merasa berat sedikit pun. Padahal di masa depan, ia bahkan tak kuat mengangkat sekarung beras dengan berat dua puluh lima kilogram. Sedangkan perempuan itu, sudah pasti memiliki bobot dua kali lipat dari berat sekarung beras. Sembari menggendong, sesekali Leonardo melirik bagian tubuh miliknya. Tubuh yang tak lagi terhalang oleh lembar pakaian. Sejak kapan tubuhku berotot seperti ini? Leonardo bergumam pelan. Benar saja, tubuh ringkih yang dimiliki Leonardo, tiba-tiba berubah menjadi berotot. Bahkan, kulit menggelapnya berubah menjadi lebih eksotis. Sehingga, menyuguhkan pemandangan maskulin. Di sela Leonardo menerka-nerka keadaan yang menimpa dirinya, perempuan di dalam gendongan tersebut mulai mengeluarkan suara. “Namamu siapa?” Leonardo terperangah. Perempuan yang sedang ia gendong, menatap manik mata Leonardo dengan penuh keteduhan. Paras cantik perempuan itu, sontak membuat Leonardo menelan ludah dengan susah. “Na-namaku Leonardo,” Leonardo menyahut tergagap. Gugup setengah mati. “Leonardo?” “I-iya, Leonardo Mandela Lombogia.” Perempuan itu mengangguk singkat. Lalu, memperkenalkan dirinya. Menyebut nama Priscilla Sally Mattea. “Namamu bagus sekali,” Leonardo berkata. Memuji. Tak terasa sebuah gubuk tua menjadi tempat mereka singgah. Benar, ternyata Priscilla adalah seorang gadis yang tinggal seorang diri di sana. Tempat kumuh, tua nan reyot. Membuat Leonardo teringat pada tempat tinggalnya di masa depan. Leonardo membuka daun pintu; berukuran setinggi perempuan itu. Bahkan, Leonardo harus menunduk karena tinggi badannya tak bisa menjangkau daun pintu dengan mudah. “Terima kasih,” Priscilla berkata, sesaat usai Leonardo merebahkan ia di atas ranjang. Usai merebahkan Priscilla, Leonardo melirik ke arah lemari tua. Menghampiri. Membuka pintu lemari. Beberapa laba-laba keluar dari dalamnya. Seolah, lemari itu telah puluhan tahun tak terjamah. Leonardo mengeluarkan sebuah selimut tipis berwarna putih. Meletakkan selimut itu untuk membalut tubuh Priscilla. “Kau mau ke mana?” Priscilla berucap. Menghalangi langkah Leonardo yang hendak pergi tanpa mengeluarkan sepatah kata. “Aku ingin berjalan-jalan di luar. Aku ingin memastikan, jika aku tidak sedang bermimpi di sini. Dan, kau beristirahatlah,” Leonardo menyahut. Lalu, kembali melanjutkan langkah. Sesampainya di luar gubuk milik Priscilla. Leonardo mengedarkan pandangan. Ruang besi yang semula ia naiki, masih bertengger pada salah satu sudut pedesaan. Leonardo bernapas lega. Setidaknya, jika ia tak sedang bermimpi, ia masih bisa menjelajah waktu untuk kembali ke tempat asalnya. Yakni, masa depan. ****** Beberapa saat kemudian. Beberapa pemuda menghampiri gubuk tua milik Priscilla. Pemuda itu berjumlah lebih dari sepuluh orang. Mereka bertubuh kekar. Berbadan gempal dengan tampang menyeramkan. “Apa yang sedang kau lakukan di gubuk ini wahai pemuda?” Salah satu dari mereka bertanya. Leonardo menoleh ke arah daun pintu gubuk yang terbuka. Lalu, beralih menutup pintu reyot di sana. “Hal itu, bukan urusan kalian,” Leonardo menyahut lantang. Percaya diri. Tak diduga beragam pukulan didaratkan oleh para pemuda itu tanpa permisi. Menghujam diri Leonardo bertubi tanpa henti. Dan, beruntung Leonardo dapat membela diri. Berbagai jurus bela diri segera Leonardo layangkan. Dalam sekejap pemuda itu berhasil merontokkan tulang demi tulang para gerombolan lelaki bertubuh kekar. Anehnya, baku hantam tersebut tak membuat Leonardo menjadi terluka. Pukulan yang mereka tujukan, sama sekali tak meninggalkan rasa sakit, nyeri atau pun lebam di tubuh Leonardo. Sebenarnya, apa yang sedang terjadi padaku? Leonardo menerka. Raut di wajah dipenuhi gurat heran. Leonardo beralih mengusap bulir keringat. Kembali masuk ke dalam gubuk tua milik Priscilla. Namun, perempuan itu tak lagi terbaring di atas ranjang. Suara gemercik air terdengar, “Sepertinya, Priscilla sedang membersihkan tubuh di dalam kamar mandi,” Leonardo menyimpulkan. Sembari menunggu, Leonardo memusatkan netra. Menghampiri sebuah kaca berukuran sedang. Cermin itu terbelah menjadi dua. Retak pada bagian tengah. Seolah, telah lama dihujam pukulan keras oleh seorang pria. Leonardo melekatkan pandangan pada cermin. Memandang perubahan drastis yang ia alami. Yakni, perubahan bentuk tubuh. Apakah ini benar-benar aku? Leonardo bergumam di dalam hati. Menatap lekuk roti sobek di badan. Kulit menggelap yang lebih ekstotis. Semua bagian di tubuh menjadi berbeda seperti sedia kala. Kecuali, satu hal. Yaitu, perihal wajah yang buruk rupa. Paras itu sama sekali tak berubah. Selain perubahan fisik, ada hal lain yang juga Leonardo pertanyakan. Dan, perihal kemampuan bela diri, bagaimana aku bisa memiliki kemampuan itu? Bagaimana bisa, aku berhasil memenangkan baku hantam dengan banyak pria bertubuh kekar? 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD